"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat yang Menggemaskan
Gisel akhirnya berhasil melarikan diri dari kepungan dua karyawan tadi setelah memberikan janji suci untuk membantu mereka. Dengan langkah cepat dan setengah mengendap-endap agar tidak berpapasan dengan Budi, ia menaiki tangga darurat menuju rooftop gedung. Ia benar-benar butuh asupan oksigen segar untuk mendinginkan otaknya yang sudah overheat.
Begitu Gisel membuka pintu besi rooftop, semburan angin langsung menerpa wajahnya. Ia menghela napas lega dan melangkah maju. Namun, kelegaan itu hanya bertahan selama tiga detik.
Tepat di dekat pembatas kaca, berdiri sosok jangkung yang sangat tidak ingin ia temui saat ini.
Adrian sedang berdiri membelakanginya, menatap hamparan langit kota dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Gisel langsung mematung. Baru saja ia berniat untuk berbalik dan kabur lagi, suara bariton Adrian yang sangat familier sudah lebih dulu memecah kesunyian.
Adrian tanpa berbalik badan, sudut bibirnya terangkat "Mau kabur ke mana lagi, Sela? Kamu baru saja sampai."
Gisel menghentikan langkahnya yang sudah terjinjit. Ia mengembuskan napas frustrasi, sadar bahwa radarnya Adrian jauh lebih kuat dari dugaannya. Dengan bibir yang langsung mengerucut sebal, ia melangkah mendekat namun tetap menjaga jarak aman.
"Bapak ngapain sih di sini?! Bapak hobi banget ya ngikutin saya?!" Kata Gisel berbasa-basi.
Adrian akhirnya berbalik badan. Ia menatap Gisel dengan tatapan yang sangat hangat, sama sekali tidak ada sisa-sisa amarah saat di toilet tadi.
"Saya tidak mengikuti kamu. Saya hanya tahu kalau kamu panik atau malu, kamu pasti mencari tempat sepi yang tinggi untuk mencari angin. Dan tebakan saya benar lagi, kan?" Kata Adrian dengan tenang.
Pipi Gisel otomatis kembali menghangat. Ia langsung membuang muka, pura-pura menatap tanaman hias di pojok rooftop.
"Sok tahu banget! Saya ke sini mau... mau mastiin kalau angin di atas sini nggak bikin jemuran orang mabok! Lagian Bapak ngapain sih nyusul ke sini? Masih mau lanjutin 'pembuktian teori' yang tadi?!" Ucap Gisel
Mendengar celetukan blak-blakan dari Gisel, Adrian terkekeh pelan. Ia melangkah maju dua langkah, membuat Gisel refleks mundur selangkah.
"Kenapa? Kamu takut terpesona lagi sama ciuman saya yang tadi? Bukannya tadi kamu diam saja dan menikmati?" Ucap Adrian.
Gisel melotot dengan sempurna, menunjuk Adrian dengan jari telunjuknya "Heh! Enak aja! Siapa yang menikmati?! Saya itu cuma... cuma kaget! Sistem motorik saya mendadak lag gara-gara diserang tiba-tiba sama Bos Modus kayak Bapak!"
"Oh, jadi sistem motorik kamu kalau lag itu efeknya memejamkan mata dan menikmati ritme ya?" goda Adrian dengan senyuman miring yang sangat menyebalkan sekaligus tampan.
"BAPAK!!! Stop bahas itu! Sumpah ya, harga diri saya sebagai Macan Gudang beneran hancur lebur gara-gara Bapak!" Kata Gisel
Adrian menghentikan langkahnya. Tatapan matanya yang tadi menggoda perlahan berubah menjadi sangat lembut dan tulus. Ia menatap lekat-lekat mata bulat Gisel.
"Saya tidak berniat menghancurkan harga dirimu, Sela. Saya hanya ingin memastikan kalau perasaan saya tersampaikan dengan baik pada kamu. Dan soal dua karyawan di toilet tadi... mereka mencegatmu untuk minta tolong kan?" Ucap Adrian dengan tenang.
Mendengar peralihan topik yang tiba-tiba, Gisel sempat mengerjapkan matanya linglung sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan bibir yang masih cemberut.
"Iya. Mereka nangis-nangis takut dipecat. Bapak jangan pecat mereka ya? Mereka emang julid dan nyebelin banget, tapi kasihan kalau harus kehilangan kerjaan gara-gara mulutnya." Ucap Gisel
"Kenapa kamu malah membela orang yang sudah memfitnahmu habis-habisan?" Tanya Adrian
"Ya... karena saya berhati emas dan tidak sombong!" jawab Gisel asal sambil berkacak pinggang. "Lagian, kalau Bapak pecat mereka, gosipnya malah makin panjang! Please, dengerin omongan sekretaris Bapak yang cantik ini sekali aja."
Adrian terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Baiklah. Saya tidak akan memecat mereka demi kamu. Tapi sebagai gantinya..."
Adrian kembali mengikis jarak di antara mereka, membuat punggung Gisel kini mentok di pembatas kaca. "...kamu tidak boleh kabur lagi dari saya seperti tadi. Deal?" Lanjut Adrian
Gisel menelan ludahnya dengan susah payah melihat wajah Adrian yang kini kembali berada dalam jarak yang sangat berbahaya.
Mendengar syarat "tidak boleh kabur" yang diajukan Adrian dengan jarak yang terlampau dekat, Gisel buru-buru meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Adrian. Ia mendorongnya pelan hanya untuk memberi sedikit ruang bernapas bagi jantungnya yang kembali berulah ugal-ugalan.
Gisel mendongak, menatap Adrian dengan mata bulatnya yang menyipit penuh selidik. Sebelum ia mengiyakan kesepakatan itu, ada satu hal yang sangat mengganjal di otaknya.
"Bentar, bentar! Sebelum kita deal-dealan, saya mau interogasi Bapak dulu. Kok Bapak bisa tahu kalau dua karyawan julid tadi mencegat saya di koridor darurat? Bapak pasang cip pelacak ya di baju saya?!" Kata Gisel
Adrian yang dadanya baru saja didorong pelan justru terkekeh. Ia tidak mundur sama sekali, melainkan tetap berdiri kokoh di depan Gisel sambil menatap gadis itu dengan tatapan geli.
"Cip pelacak? Imajinasi kamu terlalu banyak menonton film fiksi ilmiah, Sela." Kata Andrian dengan santai
"Ya terus Bapak tahu dari mana?! Jangan bilang Bapak punya kekuatan indigo ya?!" kata Gisel
Adrian menyilangkan kedua tangannya di dada, senyum miringnya yang sangat mempesona kembali terukir.
"Saya tidak perlu jadi indigo untuk tahu hal itu. Pertama, saya tahu kamu pasti tidak langsung kembali ke ruangan HRD atau gudang. Kedua, koridor darurat lantai ini adalah jalan pintas paling sepi menuju rooftop. Dan yang ketiga..." kata Adrian
Adrian sengaja menggantung kalimatnya, membuat Gisel semakin penasaran.
"...Mami kesayangan kamu, si Budi, baru saja mengirimkan laporan pandangan mata lewat WhatsApp lengkap dengan foto paparazzi saat kamu dikepung sambil nangis-nangis bombay oleh dua karyawan itu. Dia bahkan mengirim pesan teks: 'Pak Bos, Jeng Gisel lagi ditagih utang sama lampir toilet! Tolong diselamatkan pangeranku!'" Adrian lalu membaca pesan dari Budi.
Mendengar nama Budi disebut sebagai dalang di balik semua ini, mata Gisel langsung melotot sempurna.
Gisel mengepalkan tangannya ke udara dengan gemas "BUDIIIII!!! Sumpah ya itu anak, hobi banget jadi mata-mata! Nggak ada kapok-kapoknya bikin gosip dan ngedrama!" Gumam Gisel pelan namun dapat didengar oleh Adrian.
Adrian tertawa lepas mendengar gerutuan Gisel. Suara tawa yang renyah dan jarang terdengar itu seketika membuat emosi Gisel kembali mencair. Sial, tawa Adrian benar-benar merdu di telinganya.
"Jadi, bagaimana? Pertanyaanmu sudah terjawab, kan? Sekarang giliran kamu menjawab syarat saya yang tadi. Deal untuk tidak kabur lagi dari saya?" Ucap Adrian.
Melihat tawa lepas Adrian yang begitu renyah dan tulus, sudut bibir Gisel otomatis ikut tertarik ke atas. Ia tersenyum tipis, menatap pemandangan langka di depannya dengan perasaan hangat yang menjalar di dada.
Selama ini, di mata Gisel dan seluruh karyawan sekantor, Adrian Bramantyo adalah sosok yang kaku, dingin, dan gila kerja. Ibarat benda, Adrian itu persis seperti kanebo kering keras, kaku, dan sama sekali tidak ada fleksibelnya! Tapi siang ini, di atas rooftop ini, kanebo kering itu mendadak jadi begitu hidup dan penuh warna.
Seolah-olah bisa membaca isi pikiran Gisel yang sedang keheranan menatapnya, tawa Adrian perlahan mereda. Ia menatap Gisel dengan tatapan mata yang sangat dalam dan damai. Tanpa perlu Gisel bertanya, Adrian membuka suara untuk memberikan penjelasan yang sangat tidak terduga.
Adrian mengembuskan napas panjang, tersenyum kecil "Kamu pasti bingung kenapa saya bisa tertawa lepas seperti ini, kan?" Tanya Adrian dengan nada lembut.
Gisel sedikit terkejut karena tebakannya tepat sasaran, tapi ia hanya mengangguk pelan sambil terus mendengarkan.
Adrian nenatap langit kota sejenak sebelum kembali menatap Gisel "Sejak kecil, hidup saya sudah diatur dengan sangat kaku, Sela. Harus jadi penerus yang sempurna, harus selalu jaga wibawa, dan tidak boleh menunjukkan emosi berlebih. Saya merasa hidup saya sangat monoton dan penuh kepura-puraan. Sampai akhirnya... saya bertemu dengan kamu."
Gisel terdiam, mendengarkan setiap untaian kata yang keluar dari bibir pria yang biasanya sangat irit bicara itu.
Adrian melangkah lebih dekat, suaranya melembut "Kamu itu berisik, emosian, hobi membantah, dan sama sekali tidak jaim di depan saya. Tapi anehnya, sejak ada kamu di dekat saya, hidup saya yang kaku ini mendadak terasa jauh lebih bebas. Saya tidak perlu berpura-pura menjadi CEO yang sempurna di depan kamu. Saya bisa menjadi diri saya sendiri."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan mendalam dari bibir Adrian, jantung Gisel kembali berdegup kencang. Kali ini bukan karena panik atau malu, melainkan karena rasa haru dan debaran cinta yang semakin nyata menguasai hatinya.
Gisel tidak menyangka bahwa kehadirannya yang serampangan dan suka bikin rusuh ini justru menjadi tempat beristirahat yang paling nyaman bagi seorang Adrian Bramantyo.
Gisel menatap Adrian lekat-lekat. Sinar matahari sore yang mulai menjingga menerpa wajah tampan sang CEO, membuat tatapan matanya terlihat berkali-kali lipat lebih hangat. Gisel tersenyum sangat manis. Kali ini bukan senyum mengejek atau senyum terpaksa, melainkan senyuman tulus yang memancarkan rasa sayang yang mulai tumbuh subur.
Dengan keberanian yang entah terkumpul dari mana, Gisel mengikis jarak di antara mereka. Ia mengulurkan kedua tangannya, lalu dengan lembut menggenggam tangan besar Adrian yang biasanya terasa sedingin es.
Adrian sempat tertegun menatap tangan mungil Gisel yang kini menangkup tangannya dengan begitu hangat.
Gisel mendongak menatap Adrian dengan mata berbinar jenaka "Kalau gitu, biar saya yang jadi pawang pribadi Bapak mulai sekarang. Saya janji bakal terus bikin rusuh di hidup Bapak biar Bapak nggak balik lagi jadi kanebo kering yang kaku dan membosankan."
Adrian terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyuman lebar yang sangat menawan terbit di bibirnya. Ia membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman tangan Gisel dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Itu adalah tawaran terbaik yang pernah saya terima seumur hidup saya, Sela." Ucap Adrian
Adrian menarik lembut tangan Gisel, membuat tubuh gadis itu kembali mendekat ke arahnya. Namun kali ini, Adrian tidak mengurung atau menciumnya secara tiba-tiba.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Adrian melepaskan satu tangannya lalu menaruhnya di pinggang ramping Gisel. Ia menarik Gisel masuk ke dalam pelukan hangatnya.
Gisel sempat menahan napas karena terkejut, namun sedetik kemudian ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian yang berdegup sama kencangnya dengan jantungnya sendiri. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan kehangatan tubuh Adrian terasa begitu menenangkan.
Adrian menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama dan penuh perasaan di puncak kepala Gisel.
Adrian berbisik tepat di telinga Gisel dengan suara baritonnya yang lembut "Terima kasih sudah hadir di hidup saya yang membosankan ini, Macan Gudang kesayangan saya."
Gisel tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya tersenyum lebar di dalam dekapan Adrian dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu, mempererat pelukan mereka di bawah langit sore yang menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang berbeda kutub ini.
Adrian perlahan merenggangkan pelukannya, namun kedua tangannya masih bertengger dengan nyaman di pinggang ramping Gisel. Ia menatap gadis di depannya dengan tatapan yang dipenuhi binar kebahagiaan.
Tiba-tiba, memori Adrian berputar kembali pada kesepakatan (deal) yang baru saja mereka setujui beberapa menit lalu: Gisel tidak boleh kabur lagi darinya.
Adrian tersenyum tipis. Ada satu hal lagi yang sangat penting dan mengganjal di kepalanya yang harus ia sampaikan kepada sang pawang barunya ini. Ia tidak ingin Gisel berubah hanya karena hubungan mereka mulai melangkah ke arah yang lebih serius.
Adrian menangkup wajah Gisel lagi dengan satu tangannya, mengusap lembut pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Tatapannya berubah menjadi sangat serius namun dipenuhi ketulusan.
"Sela, karena kamu sudah menerima deal untuk tidak kabur lagi dari saya... ada satu permintaan tambahan yang ingin saya minta dari kamu." Ucap Adrian dengan nada lembut.
Gisel mengerjapkan matanya yang bulat, mendongak menatap Adrian dengan raut wajah penasaran.
"Permintaan apa lagi, Pak? Jangan aneh-aneh ya, kuota kesabaran saya hari ini udah tipis gara-gara tanding gulat di toilet tadi!"
Adrian terkekeh pelan mendengar protes spontan itu. Ya, justru gaya bicara spontan inilah yang ia maksud.
Adrian menatap lekat-lekat mata Gisel, suaranya melembut "Saya mau kamu tetap menjadi Sela yang sekarang. Tetaplah menjadi Sela yang badass, hobi ceplas-ceplos, dan tanpa filter di depan saya."
Gisel sempat tertegun mendengar ucapan Adrian. Ia mengerutkan keningnya sedikit, tidak menyangka syaratnya akan seperti itu.
"Eh? Bapak serius? Saya ini kan kalau ngomong suka nggak disaring, suka ngegas, hobi ngatain Bapak kanebo kering , beruang kutub, kulkas 1000 pintu, Bos Modus. Bapak nggak mau saya berubah jadi sekretaris yang lemah lembut, penurut, dan anggun gitu biar serasi sama Bapak?"
Adrian menggelengkan kepalanya dengan tegas. Senyuman tipis yang sangat menawan kembali terukir di bibirnya.
"Sama sekali tidak. Di luar sana, sudah terlalu banyak orang yang bersikap manis, jaim, dan penuh kepura-puraan di depan saya hanya untuk mengambil hati saya. Saya tidak butuh robot penurut lainnya. Sela, saya hanya butuh kamu Sela Macan Gudang" ucap Adrian dengan sangat lembut.
Adrian mendekatkan wajahnya sedikit, menatap Gisel dengan sorot mata yang begitu dalam.
"Saya jatuh cinta pada Macan Gudang yang berani mendobrak pintu dunia saya yang kaku ini. Jadi, tetaplah jadi dirimu sendiri yang apa adanya. Jangan pernah kurangi kadar kegalakanmu itu sedikit pun, hm?"
Mendengar pengakuan yang begitu jujur, manis, dan menerima dirinya apa adanya, hati Gisel benar-benar menghangat sampai ke level maksimal. Ia tersenyum sangat lebar dan mengangguk pasti.
"Siap laksanakan, Pak Bos Kulkas, beruang kutub, kanebo kering. Jangan nyesel ya kalau nanti telinga Bapak makin panas denger omelan tanpa filter saya setiap hari!" Ucap Gisel seadanya menyebabkan Adrian tertawa ringan.
“Siap Macanku” ucap Adrian, mendengar itu Gisel tertawa lepas bersama Adrian.
to be continue