Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Lautan dalam Cangkir
Malam setelah kunjungan Maharani itu, aku masih duduk di tepi tempat tidur yang empuk, mencerna semua yang terjadi. Aku masih merasa sedikit kaget. Gambaran kekaisaran di kepalaku selalu tentang kekejaman, kesombongan, dan penindasan—sesuatu seperti dalam film-film sejarah atau cerita fantasy gelap. Tapi Maharani Aurelia... dia berbeda. Tegas, ya. Berwibawa, pasti. Tapi ada sesuatu yang... manusiawi. Dia datang sendiri, membawa makanan, bahkan meminta maaf. Itu bukan tindakan penguasa arogan.
Aku tidak mau terlalu berharap atau menaruh curiga berlebihan. Pikiranku sudah lelah. Lebih baik aku fokus pada hal-hal yang bisa kukendalikan, atau setidaknya, yang perlu kusiapkan.
Eveline masih berdiri di sudut kamar, seperti patung yang anggun. Matanya yang biru pucat memantulkan cahaya lilin. Aku memanggilnya. "Eveline."
"Dengarkan, Tuanku," jawabnya, langsung mendekat.
"Jika... suatu saat nanti, aku tidak ada lagi. Hilang, atau mati. Apa yang kau inginkan? Apakah kau ingin... diistirahatkan? Kembali menjadi... hanya tulang?"
Dia tidak langsung menjawab. Prosesor di kepalanya yang mirip otak itu seolah bekerja. "Tujuan keberadaanku adalah melindungi dan melayani Tuanku. Tanpa Tuanku, tidak ada tujuan. Logis jika aku diistirahatkan."
Jawaban yang efisien dan tanpa sentimen. Tapi entah kenapa, itu justru membuat hatiku terasa perih.
"Baik," ucapku, suara sedikit serak. "Tapi, izinkan aku memberi perintah terakhir, untuk jaga-jaga. Jika aku hilang atau mati, kau tidak perlu langsung beristirahat. Hidupilah. Jelajahi dunia ini. Lihatlah apa yang terjadi setelah seratus tahun. Lalu, setelah seratus tahun itu berlalu... barulah kau boleh beristirahat dengan tenang. Apakah kau mengerti?"
Eveline mengangguk, sekali, tajam. "Mengerti. Kontingensi perintah: Jika Tuanku hilang atau mati, parameter misi berubah. Tujuan baru: bertahan dan mengamati selama seratus tahun, lalu mengakhiri keberadaan. Dicatat."
Aku menarik napas. Setidaknya, dia tidak akan langsung 'mati' jika sesuatu terjadi padaku. Dia akan punya... waktu. Meski aku tahu, tanpa jiwa, 'menjelajahi' dan 'mengamati' bagi hanyalah proses mengumpulkan data, bukan pengalaman.
Sebelum berbaring, sebuah kejujuran tiba-tiba ingin kusampaikan. Mungkin karena kesepian, atau karena suasana malam yang sunyi ini.
"Eveline," bisikku. "Aku... aku akui. Kau cantik. Sangat cantik. Tapi... aku tahu, membangkitkanmu waktu itu... itu cuma karena ego hatiku yang kesepian. Lelucon bodoh karena aku melihat fotomu dan berpikir, 'sayang sudah jadi tulang'. Itu egois. Aku minta maaf."
Eveline memiringkan kepalanya, prosesornya menganalisis kata-kataku. Lalu, dari memorinya yang berisi sisa-sisa kepribadian aslinya, serta data dari interaksi denganku, dia menyusun respons.
"Analisis: Tuanku mengalami kondisi emosional 'kesepian' dan 'keputusasaan'. Objek visualku memicu respons estetika dan keinginan akan 'penghiburan'. Kebangkitan adalah konsekuensi dari kekuatan Tuanku yang berinteraksi dengan keinginan bawah sadar tersebut." Suaranya tetap datar. "Permintaan maaf tidak diperlukan. Keberadaanku adalah fakta. Fungsi pelindung dan pendampingku telah terpenuhi, mengurangi parameter 'kesepian' Tuanku sebesar 73% berdasarkan analisis frekuensi percakapan dan kedekatan fisik. Oleh karena itu, meski motivasi awal bersifat 'egois' dalam terminologi manusia, hasilnya secara fungsional positif."
Dia pause sebentar, lalu menambahkan, "Dan... berdasarkan memori visual yang tersisa dari Eveline van der Linden, serta data estetika umum masyarakat, konfirmasi: aku memang dianggap memiliki proporsi wajah dan tubuh yang sesuai dengan standar kecantikan bangsawan pada masanya. Terima kasih atas konfirmasinya."
Aku hanya bisa menggeleng, setengah tersenyum getir. Dia menjawab seperti sebuah laporan yang dicampur dengan fakta sejarah. Tidak ada perasaan tersinggung, tidak ada penerimaan maaf yang tulus. Hanya logika dan data. Itulah dia. Dan aku sudah menerima itu.
"Sudahlah. Aku akan tidur," ucapku, merebahkan tubuh di atas kasur yang nyaman. "Kau... bisa tidur juga? Atau... tidak perlu?"
"Tidur dalam arti kehilangan kesadaran bukan fungsi yang diperlukan. Namun, aku dapat memasuki mode 'standby' dengan memejamkan mata dan mengurangi aktivitas sensorik hingga 85% untuk menghemat energi dan menyerupai tidur," jelasnya.
"Kalau begitu, pejamkan matamu saja. Dan... lindungi aku, ya. Untuk berjaga-jaga."
"Dipahami. Memasuki mode perlindungan pasif. Mata akan dipersiapkan untuk tertutup." Eveline lalu berjalan ke samping tempat tidur, duduk di lantai bersila dengan punggung menghadapku, postur yang memungkinkannya melompat dan bereaksi dengan cepat ke segala arah. Perlahan, dia memejamkan mata. Dia terlihat seperti patung malaikat yang sedang berdoa, bukan makhluk yang siap merobek tenggorokan siapa pun yang mendekat.
Aku memandangnya sebentar, lalu menutup mataku sendiri. Di kamar mewah istana asing ini, dengan ancaman dan ketidakpastian di setiap sudut, satu-satunya hal yang memberiku rasa aman adalah seorang revenant yang kubangkitkan karena lelucon egois. Dunia memang penuh dengan ironi.
Dan dalam kegelapan, sebelum tidur, aku berharap bahwa pilihan untuk memberinya 'seratus tahun' bukanlah sebuah kekejian baru, melainkan sebuah kesempatan—meski kecil—bagi sesuatu yang telah kuputuskan untuk 'ada', untuk menemukan makna baru di dunia yang bukan milikku, atau miliknya.
Pagi hari dimulai dengan ketukan di pintu. Dua pelayan istana dengan ekspresi kaku memberitahuku bahwa waktunya untuk "pemeriksaan". Mereka membawaku melalui koridor-koridor megah, tapi kali ini rutenya berbeda, menuju area istana yang terasa lebih... steril dan penuh dengan aroma astringen tumbuhan dan logam.
Sepanjang perjalanan, tatapan yang kuterima masih sama: takut, penuh kebencian, dan kini ditambah dengan cibiran halus. Beberapa bangsawan muda, mungkin anak-anak pejabat, berhenti berbincang dan menatapku dengan senyum sinis.
"Lihat, itu dia monster yang dibawa kemarin," bisik seorang remaja elf dengan pakaian mewah.
"Kurasa dia tidak akan bertahan lama di ruang Arkana. Mereka akan tahu dia hanya penipu," sahut temannya manusia, diikuti tawa kecil.
Aku mencoba mengabaikannya. Fokusku ada pada apa yang akan terjadi. Apakah ini akan jadi eksperimen yang menyakitkan? Aku berusaha tenang, mengingat janji Maharani.
Ruang yang dituju ternyata luas, lebih mirip laboratorium atau observatorium daripada ruang sihir gelap. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca, memantulkan cahaya matahari pagi. Di tengah ruangan, ada sebuah platform batu datar dengan pola lingkaran konsentris yang terukir rumit. Yang membuatku tegang adalah orang-orang yang sudah menunggu.
Maharani sudah ada di sana, berdiri di balkon kecil yang mengitari bagian atas ruangan, ditemani oleh Lady Seraphine dan beberapa penasihat yang kukenal—Magister Valtor dengan tatapan penuh kemenangan, Duke Frostweaver yang tampak serius. Tapi yang membuat napasku sesak adalah kehadiran beberapa orang lain di samping platform. Mereka berpakaian bukan seperti bangsawan atau penyihir istana. Pakaian mereka sederhana, terbuat dari kain yang tampak biasa namun memancarkan kilau halus, seperti diselubungi kabut tipis. Wajah mereka tenang, hampir tanpa ekspresi, tapi matanya... matanya terlihat tua, sangat tua, dan memancarkan kewibawaan yang berbeda dengan Maharani. Ini bukan kewibawaan politik, tapi sesuatu yang lebih... primordial. Dewa dan Dewi, tebasku dalam hati. Aku tidak tahu nama mereka, tapi aura mereka berbeda dengan Ratri. Ratri lebih... manusiawi dalam kemarahannya. Mereka ini terasa seperti batu, angin, dan waktu itu sendiri.
Aku menatap Maharani di balkon. Dia memberiku anggukan kecil, ekspresinya netral tapi matanya seperti berkata, 'Tenang, saya mengawasi.'
"Silakan naik ke platform, Tuan Rian," ucap seorang penyihir tua berjabu biru, suaranya bergetar sedikit.
Dengan langkah berat, aku naik. Platform batu itu terasa dingin di bawah kaki telanjangku—mereka memintaku melepas sepatu.
Lalu datang bagian yang membuatku sangat tidak nyaman. "Kami perlu akses langsung ke kulit untuk rune pendeteksi. Tolong lepaskan atasanmu."
Dengan ragu, aku melepas kemeja sederhana yang disediakan istana. Udara dingin laboratorium mengenai kulitku. Aku berdiri di sana, hanya dengan celana panjang sederhana dan 'kolor'-ku, merasa sangat terbuka dan rentan. Bekas-bekas luka di tubuhku terekspos: bekas sayatan kecil dari perkelahian semasa SMA di lengan, bekas operasi usus buntu di perut, goresan dalam dari kecelakaan sepeda motor di paha, dan berbagai memar dan lecet yang sudah memudar dari petualangan dan latihan di pulau.
Para bangsawan di balkon berbisik-bisik melihat bekas luka yang begitu... biasa. Tidak seperti tubuh kesatria atau pahlawan legendaris. Hanya tubuh manusia biasa yang pernah hidup, pernah terluka.
Tiga penyihir ahli, termasuk yang tua tadi, mendekat dengan kuas kecil yang dicelupkan ke dalam tinta perak berkilauan. Mereka mulai menggambar simbol-simbol rumit—rune—di telapak tanganku, lenganku, kakiku, dahi, dan tepat di tengah dada. Tinta itu terasa dingin dan sedikit geli.
"Apa yang kalian tuliskan?" tanyaku, mencoba mengalihkan perasaan tidak nyaman.
"Ini adalah Rune Deteksi Arkana Tingkat Sembilan," jawab penyihir tua itu, berkonsentrasi. "Mereka akan berfungsi sebagai konduktor dan sensor. Mereka akan membaca aliran energi, potensi, jenis sihir, bahkan sumber kekuatanmu—apakah dari kontrak, warisan, atau dunia lain. Prosedur standar untuk menganalisis para pahlawan atau ancaman dari dimensi lain."
Setelah selesai, mereka mundur. Rune-rune perak di tubuhku berpendar lembut.
"Bersiaplah. Ini mungkin terasa... seperti gelombang energi yang mengalir."
Ketiga penyihir itu berdiri membentuk segitiga di sekeliling platform, mengangkat tangan mereka, dan mulai melantunkan mantra dengan suara serentak. Suaranya bergema di ruang berkubah itu. Rune-rune di tubuhku berpendar semakin terang.
Aku menunggu sensasi yang mereka katakan. Tapi... tidak ada. Aku tidak merasakan apa-apa. Hanya dinginnya batu di kakiku dan udara di kulitku. Aku melihat rune-rune itu berpendar, tapi itu saja.
Mungkin kekuatanku memang bukan sihir, jadi tidak terdeteksi, pikirku agak lega.
Tapi tiba-tiba, ekspresi ketiga penyihir itu berubah. Wajah mereka memerah, urat-urat di pelipis dan leher mereka menegang seolah menahan beban yang sangat berat. Mantra mereka yang awalnya teratur mulai tersendat, bergetar.
"T-Tidak... ini... terlalu... BESAR—!" erang penyihir tua itu, suaranya tercekik.
Lalu, terjadi begitu cepat. POP! Sebuah suara kecil yang mengerikan. Dari mata ketiga penyihir itu, darah mulai menetes, lalu mengalir deras seperti air mata merah. Hidung mereka juga mengucurkan darah segar. Mereka terhuyung mundur, mantra terputus, dan runtuh ke lantai dengan tubuh bergetar hebat sebelum akhirnya tak bergerak. Darah membasahi lantai marmer di sekitar mereka.
"APA YANG TERJADI?!" teriak Magister Valtor dari balkon, wajahnya pucat.
"DIA MEMBUNUH MEREKA!" teriak seorang bangsawan lainnya.
Suasana jadi panik. Penjaga menarik pedang. Aku sendiri terpana, berdiri kaku di atas platform, rune-rune di tubuhku masih berpendar lemah.
"YO YO YO! AKU TIDAK MELAKUKAN APA-APA!" teriakku, suaraku meninggi oleh kekagetan dan ketakutan. "AKU JUGA KAGET! AKU TIDAK MERASAKAN APA-APA!"
Maharani berteriak memerintahkan ketenangan, tapi suaranya hampir tenggelam.
Saat itu, salah satu dari para 'Dewa' yang berdiri tenang di samping platform, seorang wanita dengan rambut seperti rumput kering dan mata hijau tua, melangkah maju. Dia mengangkat tangannya, dan energi hijau lembut menyelimuti ketiga penyihir yang roboh. Napas mereka yang terhenti kembali, tapi mereka tetap tak sadarkan diri, darah masih membasahi wajah mereka.
"Dia tidak menyerang," ucap Dewi itu, suaranya seperti gemerisik daun. "Sensor mereka mencoba menampung dan mengukur sesuatu yang tidak dapat ditampung. Seperti mengalirkan lautan ke dalam cangkir tanah liat. Cangkirnya yang hancur."
Lalu, Dewa lain, pria dengan wajah seperti batu yang diukir angin dan rambut abu-abu berdebu, mendekatiku. Matanya yang berwarna abu-abu pucat menatapku. "Izinkan aku mencoba. Dengan cara yang lebih halus."
Dia tidak menggambar rune. Dia hanya mengulurkan jari telunjuknya dan menyentuh dahi ku, tepat di tengah rune perak di sana.
Seketika, seluruh tubuh dewa itu bergetar. Wajah batu nya retak—bukan secara fisik, tapi ekspresinya berubah total, menunjukkan kejutan yang sangat dalam. Dia menarik jarinya secepat menyentuh api.
"Tidak terbayangkan," gumamnya, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. "Samudra... tapi bukan samudra air atau mana. Samudra kemungkinan. Kekosongan yang berpotensi penuh. Setiap upaya untuk 'mengukur' hanya akan menarik sebagian kecil gelombangnya, dan gelombang itu saja sudah terlalu besar untuk sistem pendeteksi mana pun."
Dewi yang tadi menyembuhkan ikut mendekat, menyentuh tanganku. Dia juga langsung menariknya, seperti tersetrum. "Tidak ada elemen. Tidak ada afinitas. Hanya... 'ada'. Dan 'ada' itu sendiri memiliki massa dan kedalaman yang tak terhingga."
Mereka berdua memandangiku, dan kini di mata mereka yang biasanya tanpa emosi, ada kekagetan dan kehati-hatian yang sangat mendalam.
"Makhluk ini," ucap Dewa berwajah batu itu, suaranya kini terdengar oleh semua orang di ruangan yang sunyi senyap, "tidak dapat dideteksi dengan parameter sihir mana pun yang kita miliki. Dia bukan penyihir, bukan dewa, bukan iblis. Dia adalah sebuah ANOMALI. Sebuah titik singularitas di dalam realitas kita. Upaya untuk memahaminya dengan alat kita saat ini sia-sia, dan berbahaya bagi yang mencoba."
Semua orang terdiam. Maharani menatapku dari balkon, wajahnya pucat. Magister Valtor tampak seperti ingin muntah. Duke Frostweaver mengangguk pelan, seolah berkata, 'Sudah kukatakan.'
Aku sendiri hanya bisa berdiri di sana, tubuh setengah telanjang dihiasi rune perak, dikelilingi oleh darah dan kekagetan. Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi di sekelilingku, penyihir-penyihir terbaik kerajaan babak belur, dan dewa-dewa pun menyebutku Anomali.
Dan sekali lagi, aku semakin yakin: aku benar-benar tidak seharusnya ada di sini.
Diam di ruangan itu begitu pekat setelah pernyataan sang Dewa. Aroma darah dan tinta rune bercampur, menciptakan bau logam dan bumi yang menusuk. Aku masih berdiri di atas platform, merasa semakin telanjang di bawah tatapan yang sekarang bukan hanya takut, tapi penuh dengan ketidakmengertian yang mendalam. Anomali. Kata itu bergema di kepalaku. Bukan manusia, bukan dewa, bukan apa-apa yang mereka kenal. Hanya sebuah "kesalahan" dalam realitas mereka.
Dari balkon, Magister Valtor akhirnya menemukan suaranya, meski masih terdengar goyah. "Y-Yang Mulia! Ini membuktikan betapa berbahayanya dia! Bahkan Dewa Penjaga Arus Bumi dan Dewi Rimba Tak Berujung tidak bisa menahannya! Dia harus—"
"Diam, Valtor!" Suara Maharani kali ini memotong dengan kekuatan baja yang dingin. Dia turun dari balkon dengan langkah tegas, gaunnya berdesir. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam dan penuh fokus. Dia mendekati platform, melangkahi genangan darah para penyihir yang masih terbaring tak sadar.
Dia memandangiku, lalu menoleh ke para Dewa. "Yang Terhormat, apa implikasi dari... 'Anomali' ini? Apakah dia berbahaya secara aktif? Apakah keberadaannya merusak keseimbangan?"
Dewa berwajah batu itu, yang disebut sebagai Dewa Penjaga Arus Bumi, menjawab dengan suara berat. "Bahaya? Itu adalah konsep yang terlalu sederhana. Sebuah gunung berapi itu 'berbahaya' jika meletus. Tapi gunung itu sendiri tidak berniat jahat. Dia," dia menunjuk ke arahku, "adalah seperti gunung berapi yang belum diketahui kapan meletusnya, atau bahkan apa isi perutnya. Kekuatannya, seperti yang kita lihat, tidak terkendali oleh sistem mana pun, termasuk mungkin oleh dirinya sendiri. Dia tidak 'aktif' menyerang, tapi setiap upaya untuk mengontrol atau memahaminya dengan cara biasa akan berakhir seperti ini," dia menunjuk ke para penyihir.
Dewi Rimba Tak Berujung menambahkan, suaranya lebih lembut tapi sama-sama serius. "Keseimbangan... sudah terganggu sejak dia tiba. Tapi bukan dalam cara yang merusak, lebih seperti... sebuah batu besar yang dijatuhkan ke tengah kolam tenang. Ripplenya sudah menyebar. Apa yang akan terjadi selanjutnya, tidak bisa kami prediksi."
Maharani mengangguk, mencerna. Lalu dia menatapku. "Rian. Turun dari sana."
Aku melangkah turun dari platform batu, kaki masih sedikit gemetar. Seorang pelayan dengan wajah pucat mendekat dan dengan gemetar memberikanku kemejaku. Aku memakainya dengan cepat, merasa sedikit lebih terlindungi.
"Komandan Alistair," panggil Maharani.
"Ya, Yang Mulia."
"Bawa ketiga penyihir ini ke ruang pemulihan. Berikan perawatan terbaik. Dan umumkan bahwa mereka mengalami backfire sihir yang parah selama eksperimen rutin. Tidak ada yang membocorkan detail tentang Tuan Rian. Apakah jelas?"
"Jelas, Yang Mulia." Alistair segera mengatur para pengawal untuk membawa korban.
Maharani kemudian menghadap para bangsawan dan pejabat yang masih berkumpul, banyak yang wajahnya masih dipenuhi kengerian. "Pertunjukan sudah usai. Kembali ke tugas masing-masing. Tidak ada yang membicarakan apa yang terjadi di sini di luar ruangan ini. Itu adalah perintah kerajaan."
Mereka membungkuk dan mulai bubar, tapi bisik-bisik dan pandangan mata tidak bisa disembunyikan. Saat aku dibawa keluar dari ruangan oleh dua pengawal, melewati kerumunan bangsawan yang sedang pergi, aku mendengar cibiran-cibiran yang kini bernada berbeda.
"Anomali... jadi dia bahkan bukan makhluk?"
"Lihat tubuhnya, penuh bekas luka biasa. Tapi para Dewa saja takut..."
"Ini lebih buruk dari yang kita kira. Dia bukan musuh yang bisa kita lawan."
"Maharani terlalu lunak. Harusnya dia dikurung di lapisan terdalam penjara antimagic..."
"Diam! Kau dengar perintah Yang Mulia!"
Aku mencoba mengabaikannya, fokus pada langkahku. Aku dibawa kembali ke koridor menuju kamarku, tapi sebelum sampai, Maharani menyusul dari belakang. "Tidak ke kamarmu. Ikut saya."
Dia membawaku ke sebuah ruang kecil yang terlihat seperti ruang baca pribadi. Buku-buku bersampul kulit memenuhi rak, dan ada meja kecil dengan dua kursi. Dia duduk, lalu menunjuk kursi di seberangnya. Lady Seraphine tetap berdiri di dekat pintu.
"Rian," ucap Maharani, meletakkan tangannya di atas meja. "Kau melihat apa yang terjadi. Kau mendengar apa kata mereka. Sekarang, aku perlu kau jujur padaku, lebih dari sebelumnya. Apa yang kau rasakan saat itu? Saat rune-rune itu aktif?"
Aku menghela napas. "Jujur, Yang Mulia... tidak ada. Aku tidak merasakan apa-apa. Hanya dingin. Aku lihat rune-nya bersinar, lalu tiba-tiba para penyihir itu... seperti meledak dari dalam. Aku sama sekali tidak mengerti."
Dia memandangku lama, seolah mencoba melihat kebenaran di balik mataku. "Dan kekuatanmu untuk membangkitkan... kau juga tidak merasakan apa-apa saat melakukannya?"
"Tidak... maksudku, ada perasaan seperti... menarik sesuatu dari dalam. Tapi itu sangat halus. Seperti mengambil air dari ember yang sangat besar. Tidak ada kelelahan, tidak ada rasa sakit."
Maharani mengangguk pelan. "Para Dewa menyebutmu 'samudra kemungkinan'. Dan mereka bilang upaya mengukurmu seperti menuangkan lautan ke dalam cangkir." Dia berdiri, berjalan pelan di depan rak buku. "Rian, keputusan tentang dirimu menjadi semakin rumit. Menahammu sebagai tahanan sekarang terasa tidak hanya kejam, tapi juga... tidak berguna. Tapi membebaskanmu juga tidak mungkin. Kekuatanmu yang tidak terdeteksi dan tidak terpahami adalah ancaman eksistensial bagi setiap lembaga yang berdiri di atas pengetahuan dan kontrol, termasuk kekaisaranku."
Dia berhenti, menatapku. "Jadi, ini yang akan kita lakukan. Kau akan tetap di istana, tetapi statusmu berubah. Kau bukan lagi tahanan atau tamu. Kau akan menjadi... 'Subyek Pengamatan Khusus'. Kamarmu akan dipindahkan ke menara utara yang lebih terisolasi, dengan kenyamanan yang sama. Kau akan memiliki kebebasan terbatas di dalam taman tertutup menara itu. Tidak ada lagi pemeriksaan sihir paksa. Tapi," tekanannya jelas, "kau juga tidak boleh mencoba melarikan diri atau menggunakan kekuatanmu tanpa sepengetahuan dan persetujuanku. Sebagai gantinya, aku akan mengalokasikan sumber daya untuk membantumu mencari informasi tentang dunia asalmu dan cara pulang. Itu tawaran yang adil?"
Aku memproses tawarannya. Ini bukan kebebasan, tapi jauh lebih baik dari sel atau eksperimen. Dan dia menawarkan bantuan untuk pulang. Itu yang paling kuinginkan.
"Itu... adil, Yang Mulia," jawabku. "Tapi, tentang Eveline? Dan... Gwyneth?"
"Revenant pertama boleh tetap bersamamu di menara. Yang kedua, Gwyneth, akan tetap di sisiku, seperti yang sudah kau perintahkan. Dia akan menjadi... pengingat hubungan kita."
Aku mengerti. Gwyneth adalah jaminannya. Jika aku melanggar, atau jika sesuatu terjadi padaku, dia masih memiliki sebuah revenant yang kuat.
"Aku setuju," ucapku akhirnya.
"Bagus." Dia kembali duduk. "Mulai besok, akan ada pengawal pribadi yang ditugaskan padamu—bukan untuk mengawasi, tapi untuk melayani dan melindungi dari... gangguan yang tidak diinginkan dari pihak tertentu di istana. Dan aku akan mengirimkan arsip-arsip kuno tentang perjalanan antar-dunia dan catatan tentang 'Indonesia' yang mungkin ada."
Dia berdiri, pertemuan tampaknya selesai. "Rian Saputra, anomali atau bukan, kau telah menunjukkan diri sebagai orang yang lebih rasional daripada kebanyakan orang di istana ini. Mari kita jaga rasionalitas ini. Untuk kebaikan kita semua."
Dia pergi, meninggalkanku sendiri di ruang baca dengan pikiran yang berputar kencang. Status baruku: dari buronan, ke tamu, lalu ke tahanan, dan kini menjadi 'Subyek Pengamatan Khusus'. Hidup di dunia ini memang tidak pernah membosankan. Tapi setidaknya, sekarang ada secercah harapan nyata untuk menemukan jalan pulang. Dan untuk saat ini, itu cukup untuk membuatku terus bertahan di menara tinggi istana yang akan menjadi rumah baruku—sangkar yang lebih luas, tetapi tetaplah sangkar.