Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kamar lamaku. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku terbangun tanpa rasa sesak yang menghimpit dada. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat suara tawa bariton yang sangat kukenal terdengar dari arah ruang tamu.
Aku segera turun ke lantai bawah dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Di sana, seorang pria jangkung dengan jaket bomber dan tas laptop yang masih tersampir di bahu sedang memeluk Bunda.
"Bang Haris?" panggilku tidak percaya.
Pria itu menoleh. Mas Haris, kakak laki-lakiku satu-satunya, baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah perjalanan bisnis panjang di Singapura. Dia adalah orang yang paling mengamuk saat tahu aku dikhianati Arlan dulu—bahkan dia hampir menyusul ke Jogja untuk menghajar pria itu jika saja aku tidak menahannya.
"Hei, Ratu Es," Haris menyeringai, memanggilku dengan julukan yang sama dengan rekan kantor, namun nadanya penuh kasih sayang. Dia mendekat dan merangkul kepalaku dengan lengannya yang kuat. "Tumben menginap di sini? Kangen masakan Bunda atau lagi kabur dari kerjaan?"
Aku hanya tersenyum tipis, menikmati kehadiran sosok pelindungku ini. "Dua-duanya."
Namun, raut wajah Haris berubah serius saat pandangannya beralih ke arah Ayah yang sedang menyesap kopi di meja makan. "Tadi Ayah sudah cerita sedikit. Katanya si pengecut itu balik lagi ke kehidupanmu, Ran?"
Aku terdiam, memilih duduk di kursi makan. Haris ikut duduk di sampingku, menatapku tajam dengan mata elangnya.
"Arlan jadi rekan kerjaku, Bang. Sebenarnya dia bawahanku di proyek baru ini," jelasku pelan.
"Bagus kalau begitu," Haris mendengus, jemarinya mengetuk meja dengan ritme teratur. "Pastikan kamu injak dia secara profesional. Kalau dia berani macam-macam atau mencoba mendekatimu lagi dengan cara yang nggak sopan, kasih tahu Abang. kapan Abang harus mendepaknya keluar dari perusahaan itu,
"Haris, sudah... jangan bikin adikmu makin pusing," tegur Bunda sambil meletakkan piring nasi goreng di depan kami.
"Aku serius, Bun. Rania sudah kerja keras buat sukses begini, jangan sampai sampah dari masa lalu itu mengganggu lagi," Haris menoleh padaku, ekspresinya melunak. "Oh iya, tadi di depan ada kurir yang mau masuk gerbang pas Abang baru sampai. Dia bawa buket bunga Lily putih. Katanya buat kamu. Bukan dari si pengecut itu, kan?"
Jantungku berdegup kencang. Pesan Harva semalam.
"Bukan, Bang. Itu dari... klien kantorku. Harva Widjaya, teman kuliahku dulu," jawabku, mencoba terdengar sedatar mungkin.
Haris menaikkan satu alisnya. "Harva? Si kutu buku yang pernah kamu ceritain dulu? Wah, sekarang jadi CEO Vantara Group itu ya? Abang pernah dengar namanya di Singapura. Dia pemain besar sekarang."
Haris memperhatikanku lamat-lamat, ada senyum penuh arti di wajahnya. "Setidaknya seleramu sudah membaik. Lily putih jauh lebih berkelas daripada bunga liar yang sering dibawa Arlan dulu."
Aku tidak membalas. Aku segera menghabiskan sarapanku, berpamitan pada Bunda, Ayah, dan Haris yang masih asyik membahas Harva.
Saat aku melangkah menuju mobil, aku melihat buket bunga Lily putih itu tergeletak cantik di kursi teras. Harva tidak berbohong. Bunga ini tidak berteriak minta perhatian seperti mawar merah Rendra, namun kehadirannya terasa sangat elegan dan menenangkan.
Aku membawanya masuk ke mobil. Pagi ini, aku kembali ke kantor dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena ada Haris yang menjagaku dari jauh, tapi karena aku tahu, di meja perundingan nanti, ada seseorang yang sedang menungguku dengan cara yang sama sekali baru.