NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, seorang yatim piatu yang kehilangan orang tuanya akibat kekejaman prajurit kerajaan, diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh. Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Singgasana Awan

Alam Dewa adalah hamparan keabadian yang membosankan. Begitulah kesan pertama yang dirasakan oleh sosok yang kini dikenal sebagai Sang Dewa Tanpa Nama.

Di tempat ini, matahari tidak pernah terbenam, namun cahayanya tidak menghangatkan; ia hanya bersinar dengan keangkuhan yang statis.

Istana-istana kristal melayang di atas samudera awan putih yang terlihat seperti kapas yang tidak bisa disentuh.

Wira Wisanggeni, atau sisa-sisa dari pemuda itu kini duduk di tepi sebuah balkon perak yang menjulang tinggi.

Ia mengenakan jubah sutra dewa yang secara otomatis menyesuaikan diri dengan auranya, memancarkan kilauan biru dan hitam yang samar.

Di belakangnya, Dewa Penjaga bernama Luhung berdiri dengan sikap tegak, tak berani mengangkat wajahnya.

"Gusti Dewa Baru, mengapa Anda terus duduk di tepi jurang awan itu? Para Tetua Langit sedang menunggu Anda di Aula Keagungan untuk menentukan gelar dan wilayah kekuasaan Anda," ucap Luhung dengan suara yang gemetar karena hormat.

Wira menoleh perlahan. Mata merah dan birunya masih ada, namun pendarannya kini lebih stabil, memberikan kesan mistis yang menakutkan sekaligus mempesona.

"Luhung, kau bilang tempat ini adalah puncak dari segala pencapaian, kan?" tanya Wira.

"Benar, Gusti. Tidak ada tempat yang lebih tinggi dari Alam Dewa. Di sini, waktu tidak lagi mengejar, dan kematian hanyalah dongeng lama," jawab Luhung dengan bangga.

Wira mendesah panjang. Ia mengangkat tangannya, mencoba menangkap gumpalan awan yang lewat, namun tangannya hanya menembus uap dingin yang tak berasa.

"Kalau begitu, mengapa pencapaian tertinggi ini terasa begitu hambar? Mengapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada keabadian ini? Dan yang paling penting... kau benar-benar tidak punya ubi bakar di dapur istana ini?"

Luhung ternganga, wajahnya menunjukkan kebingungan yang luar biasa.

"Gusti... di sini kami hanya mengonsumsi nektar sari pati bintang dan embun kehidupan. Makanan kasar seperti... ubi... itu hanya untuk makhluk-makhluk di ranah rendah yang masih terikat oleh nafsu ragawi." jawab Luhung.

Wira kembali menatap hamparan awan. Ia tidak ingat siapa dirinya. Ia tidak ingat nama Sekar, tidak ingat wajah Dewi Shinta Aruna, bahkan tidak ingat mengapa ia memiliki dendam pada seorang pria bernama Adipati Kalingga.

Namun, ada sebuah lubang besar di dadanya yang tidak bisa diisi oleh nektar bintang sekalipun.

Alasan mengapa Wira ditarik ke Alam Dewa bukanlah karena ia telah menyelesaikan tugasnya di bumi, melainkan karena hukum keseimbangan alam semesta yang kaku.

Ketika Wira melepaskan segel kedua dan menyatukan energi Iblis Purba dengan Energi Sukma Dewa, massa energinya menjadi terlalu padat untuk ditampung oleh dimensi manusia.

Bumi tidak lagi mampu menahan pijakan kakinya, setiap langkah Wira di Galuhwati sebenarnya mulai meretakkan struktur ruang di sekitarnya.

Alam Dewa, dengan gravitasi energinya yang masif, bertindak seperti magnet raksasa yang secara otomatis menghisap entitas yang kekuatannya sudah melampaui batas Ranah Emas Puncak.

Wira adalah sebuah anomali alam, sebuah kecelakaan yang dipaksa menjadi dewa sebelum ia sempat menyelesaikan urusan manusianya.

"Gusti, mohon segera bersiap. Tetua Langit, Dewa Brahma Wijaya, sudah mulai kehilangan kesabaran. Beliau ingin tahu mengapa seorang manusia bisa mendobrak gerbang surga tanpa melalui jalur reinkarnasi yang sah," desak Luhung lagi.

Wira bangkit berdiri. Gerakannya masih memiliki sisa-sisa kelincahan bocah hutan, namun kini dilapisi oleh keagungan yang berat.

"Baiklah, mari kita temui tetua-tetua yang suka mengatur itu. Mungkin mereka punya jawaban mengapa aku merasa sangat lapar padahal perutku sudah penuh dengan embun bintangmu yang aneh itu." jawab Wira tenang.

Sementara itu, di Alam Bumi, tepatnya di reruntuhan Desa Galuhwati yang kini sunyi senyap, Sekar Arum tidak lagi menangis.

Matanya yang sembab kini digantikan oleh tatapan baja yang dingin. Di depannya, tertanam dalam di tanah, adalah Pedang Pemutus Takdir yang ditinggalkan Wira.

Pedang itu terus berdenyut, memancarkan aura biru-hitam yang seolah-olah memanggilnya.

Sekar mencoba memegang gagangnya, namun sebuah sengatan energi murni melontarkannya mundur hingga tangannya melepuh.

"Belum cukup... aku belum cukup kuat bahkan untuk memegang peninggalannya," gumam Sekar.

Tiba-tiba, sesosok wanita dengan gaun putih yang memancarkan aroma bunga hutan muncul dari balik kabut. Itu adalah Dewi Shinta Aruna. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak penuh kecemasan.

"Dewi Shinta!" seru Sekar sambil bersujud. "Tolonglah Wira! Dia ditarik ke atas! Dia tidak mengingatku!" lanjutnya.

Ia mengenali Dewi Shinta karena pernah melihatnya sekali saat berada di hutan terlarang bertemu Wira, Ia pun juga sedikit mendapat cerita tentang Dewi Shinta dari Wira.

Dewi Shinta menghela napas, menatap pedang yang menancap di tanah dengan sedih.

"Itu adalah risiko dari kekuatan yang ia ambil, Sekar. Wira dipaksa melompati takdirnya. Alam Dewa bukanlah tempat yang ramah bagi mereka yang masuk dengan cara paksa. Para dewa di sana sangat picik, mereka akan mencoba menghapus kemanusiaan Wira agar ia bisa dikendalikan sebagai alat perang mereka."

Sekar pun bangkit dengan marah.

"Lalu kita biarkan saja? Dia belum menghukum Adipati Kalingga! Dia belum mendamaikan kerajaan-kerajaan yang berperang karena ulah manusia-manusia serakah itu!" ucap Sekar dengan sedikit emosi.

Dewi Shinta menatap Sekar dengan tajam. "Hanya ada satu cara. Seseorang dari bumi harus naik ke sana dan mengingatkannya siapa dia sebenarnya. Tapi untuk naik ke Alam Dewa tanpa ditarik oleh kekuatan, kau harus mencapai Ranah Emas Puncak dalam waktu sesingkat mungkin. Apakah kau siap menghadapi penderitaan yang melampaui kematian?"

Sekar mengepalkan tangannya.

"Bahkan jika aku harus merangkak ke langit dengan kuku-kukuku, aku akan melakukannya. Wira adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di dunia yang gelap ini." jawabnya dengan tatapan bertekad kuat.

"Bagus," ucap Dewi Shinta. "Ambil pedang itu. Jika kau bisa mencabutnya, maka kau adalah murid keduaku. Kita akan memulai latihan yang akan membuat neraka sekalipun terlihat seperti taman bermain."

Kembali ke Alam Dewa, Wira kini berdiri di tengah Aula Keagungan. Aula itu sangat luas, dengan pilar-pilar yang terbuat dari berlian abadi.

Di atas singgasana tertinggi, duduk tiga Tetua Langit dengan jubah yang memancarkan cahaya menyilaukan.

"Manusia bernama Wira Wisanggeni," suara Dewa Brahma Wijaya menggelegar, membuat pilar-pilar aula bergetar.

"Kau telah melanggar hukum semesta. Kau membawa energi kegelapan ke tempat yang suci ini. Mengapa kami tidak menghancurkan intimu sekarang saja dan melemparmu kembali ke siklus reinkarnasi sebagai cacing?"

Wira mendongak. Di depan tekanan aura yang setara dengan seribu gunung itu, ia tidak berlutut.

Sebaliknya, ia malah mengorek telinganya dengan santai, sebuah kebiasaan lama yang entah bagaimana masih terbawa.

"Pertama, namaku mungkin Wira, aku tidak terlalu ingat. Kedua, tempat ini terlalu silau, apa kalian tidak punya lampu yang lebih redup? Dan ketiga..."

Wira melangkah maju satu langkah, membuat lantai berlian itu retak di bawah kakinya. "Kalian bicara seolah-olah kalian punya pilihan. Aku masuk ke sini bukan karena izin kalian, tapi karena gerbang kalian yang terlalu lemah untuk menahan kekuatanku. Jadi, berhentilah menggertak, Kakek Tua."

Mendengar jawaban yang apa adanya itu, seluruh dewa di aula itu terkesiap, karena belum pernah ada yang berani bicara seperti itu pada Brahma Wijaya.

"Kau sombong sekali, Manusia!" teriak tetua lainnya.

"Kau pikir karena kau memiliki sedikit energi sukma, kau bisa menantang kami? Kau ditarik ke sini agar kami bisa mengurungmu sebelum kau mengacaukan alam manusia lebih jauh!" lanjutnya dengan nada yang sedikit lebih tinggi.

"Mengacaukan?" Wira tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar.

"Di bawah sana, orang-orang saling bunuh. Anak-anak kehilangan orang tuanya karena keserakahan pejabat. Mayat hidup merangkak keluar dari tanah. Di mana kalian saat itu? Oh, aku lupa... kalian terlalu sibuk minum embun bintang dan memuji diri sendiri di sini." jawab Wira menyindir terang-terangan di hadapan para dewa.

Brahma Wijaya menyipitkan matanya. Ia bisa merasakan bahwa di dalam diri Wira, ada benih pemberontakan yang sangat besar. Namun ia juga melihat potensi, jika Wira bisa dicuci ingatannya sepenuhnya, ia akan menjadi senjata terhebat untuk menekan faksi pemberontak di Alam Dewa sendiri.

"Kami akan memberimu kesempatan," ucap Brahma Wijaya dengan suara yang lebih tenang namun penuh tipu daya.

"Kau akan ditempatkan di Paviliun Sunyi untuk memurnikan energimu selama seratus tahun surgawi. Jika kau berhasil, kau akan diangkat menjadi Jenderal Langit. Jika tidak, kau akan menjadi budak abadi di tambang energi."

Mendengar perkataan itu, membuat Wira tersenyum dingin.

"Seratus tahun? Itu terlalu lama. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Beri aku akses ke perpustakaan rahasia kalian untuk mencari tahu siapa aku, dan aku akan mempertimbangkan untuk tidak menghancurkan aula cantik ini." jawab Wira tak mau kalah licik.

"Kau bernegosiasi denganku?!" Brahma Wijaya bangkit dari singgasananya, auranya meledak menjadi api emas yang panas.

Namun Wira tidak mundur. Ia memanggil aura hitam dan birunya. Pertemuan dua kekuatan besar itu menciptakan badai di dalam aula.

Dan di tengah ketegangan itu, Wira tiba-tiba terdiam. Ia mencium sesuatu. Bukan aroma nektar, bukan aroma bunga surgawi.

Itu adalah aroma asap kayu jati dan ubi yang terbakar.

Aroma itu berasal dari arah luar aula, dari arah pintu gerbang masuk yang kini sedikit terbuka.

Di sana, seorang dewi pelayan sedang membawa sesaji untuk tetua lainnya. Tapi bagi Wira, aroma itu memicu sebuah ledakan di kepalanya.

"Sekar..." gumam Wira lirih.

Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Ia tidak tahu siapa itu, tapi nama itu membuat jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. Rasa sakit itu memicu kemarahan yang luar biasa.

"Aku tidak mau menunggu seratus tahun!" teriak Wira kemudian.

Ia lalu melesat, bukan ke arah Tetua Langit, melainkan ke arah pintu keluar. Ia ingin kembali ke bawah.

Ia merasa ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang lebih berharga daripada singgasana awan ini.

"Tangkap dia! Jangan biarkan Dewa Liar itu melarikan diri!" perintah Brahma Wijaya.

Puluhan Jenderal Langit dengan senjata-senjata pusaka mulai mengepung Wira, namun melihat itu malah membuat Wira tertawa gila dengan rambut peraknya berpendar terang.

Ia telah menjadi dewa, namun jiwanya tetaplah seorang pengembara yang merindukan rumah.

Di Bumi, Adipati Kalingga yang ternyata selamat dari ledakan, namun kehilangan seluruh kekuatannya, kini sedang merangkak di dalam gua gelap, menemui sesosok bayangan yang jauh lebih kuno dari para dewa.

"Tuan... Wisanggeni sudah naik... rencana kita berhasil," bisik Kalingga dengan suara parau.

Sosok di kegelapan itu hanya tertawa kecil. "Biarkan dia naik. Biarkan dia mengacaukan surga. Sementara itu, kita akan mengubah bumi menjadi singgasana iblis yang sesungguhnya. Dan saat ia turun nanti, ia tidak akan menemukan apa pun kecuali abu. Hahaha" jawabnya dengan di ikuti tawa yang menggelegar.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!