ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT III
“Bukankah aneh kalau tidak?” Karina bereaksi tak acuh, asyik saja menyendok kuah sup beningnya. “Maka itu kuminta kalian bersaksi setiap dia berulah. Dengan begitu aku bisa menurunkan tingkat kelasnya di semester kedua.”
Helen mencondongkan kepalanya, membalas dengan wajah serius. “Kali ini lebih gawat, Rina. Karinn, gadis tingkat kelas 4 datang dan membela Irene.”
“Karinn? Si Sherlock?”
Ketiganya serempak mengangguk, mulai bercerita. “Ya, kau tahu? Kita semua bahkan tidak menyadari kapan dan bagaimana dia bisa ada di sana. Tahu-tahu dia sudah berada di antara kerumunan dan berlagak seperti pahlawan dengan memotret menggunakan kamera mininya.”
“Lalu setelah itu dia menghampiri Giselle dan menarik rambutnya.”
“Wah, puas sekali aku melihatnya. Aku yakin yang lain juga bereaksi hal yang sama.”
“Tapi, di sinilah situasi genting sebenarnya. Kak Ayaa ... Dia datang dan melihat semua kekacauan.”
“Ketika dia berjongkok di depan Karinn dan melihat hidungnya terluka, wajahnya benar-benar tampak tidak bersahabat. Kau tahu dia punya mata monolid, kan? Yah, bayangkan saja bagaimana dia menatap dengan mata itu.”
“Seperti seekor serigala. Seram.”
Kini bergantian Laure mencondongkan kepalanya, berkata lirih, “Rina, kurasa sepertinya cepat atau lambat perundungan di kelas kita akan diketahui oleh pihak luar. Bukankah kita harus menyelesaikannya lebih dulu sebelum itu terjadi?”
Karina membisu, tak menyangkal bahwa kekhawatiran teman sekelasnya benar-benar akan datang suatu saat nanti. Namun baik Irene maupun Giselle, sampai sekarang dia belum menemukan jawaban dari perseteruan di antara mereka. Pikirnya hanya itulah satu-satunya cara untuk menyelesaikannya—hanya itu.
Selagi termenung dalam lamunan, atensinya bergerak kemudian tertuju pada salah satu meja kafetaria—seorang gadis yang beberapa saat lalu muncul di benaknya; Irene.
“Oi, beruang laser.” Karinn menyikut lengan seseorang di sebelahnya.
“Kau mau mati?” Irene menoleh cepat, matanya terpicing tajam sembari menggenggam sebuah garpu di tangan kanannya dengan posisi agak ganjil.
“Kau punya masalah apa dengan Giselle? Wajahmu mengatakan kau bukanlah lawan yang cocok untuk dirundung.”
“Tidak ada.” Jawaban yang diberikannya terdengar tak acuh. Ia bahkan dengan santainya menyendok nasi beserta potongan daging ayam, menikmati istirahat pertamanya tanpa mengindahkan eksistensi orang yang sedang bertanya di sebelahnya. Sesekali, itu membuatnya berpikir bahwa gadis itu benar-benar maniak penasaran. Tidak heran dia cepat memahami kalau ada sesuatu yang salah hanya dengan sekali lihat—seperti kasusnya misalnya. “Apa menurutmu aku terlihat seperti orang yang suka cari masalah?”
Karinn mengangguk tanpa ragu.
“Sial! Kaulah yang cari masalah denganku.” Irene menyalak galak, menjauhkan wajah Karinn yang masih menatapnya dari dekat.
“Oi, kenapa kau marah?! Walau itu benar, tapi lawanku adalah kau. Mana mungkin kubiarkan.”
“Nah, mungkin seperti itu jugalah yang Giselle pikirkan.”
Karinn ber-oh lirih; jawaban yang masuk akal. Biasanya para pengganggu memang sering membuat alasan konyol demi kepentingan berbeda-beda, namun letak kesamaan di antara mereka adalah fakta bahwa mereka hanyalah seorang pecundang yang berlagak keren. “Tapi tetap saja itu tidak mengubah pandangan orang-orang yang melihatnya termasuk teman-teman sekelasmu ... bahwa kau dirundung,” lanjutnya. “Oi, seandainya kau melawan seperti melempar sepatu atau men-tackle kakinya—”
“Itu berbeda,” sela Irene.
“Kau bilang berbeda? Maksudmu aku dan Giselle?”
Erica yang duduk di kursi seberang Karinn, menyenggol kakinya menggunakan ujung sepatu. Dia tersenyum, menunjukkan isyarat supaya dirinya berhenti bersikap penasaran. Beruntungnya Karinn mengerti, jadi ia menurut saja dan lanjut menyantap makanannya walau sambil cemberut.
“Kenapa kelihatannya kau sangat kesal?” tanya Irene tanpa menolehkan kepalanya ke kursi sebelah.
Tahu pertanyaan itu ditujukan padanya, Karinn langsung menyalak, “Kesal? Maksudmu aku kesal pada perundungan yang terjadi diam-diam di kelasmu? Ck, tidak. Daripada itu, aku justru kesal padamu.”
Sampai di situlah percakapan mereka berakhir; ditutup dengan wajah saling berkontak mata, membisu bersamaan. Waktu yang berputar di sekeliling mereka seolah melambat beberapa detik, memberikan ruang sejenak sehingga terciptalah titik balik yang agak tidak bersahabat.
“...Aku harus ke toilet.” Irene bangkit dari kursinya, pergi meninggalkan meja makan.
“Kau cepat menyadari ada yang salah hanya dengan sekali lihat.” Erica membuka suara, memecah lamunan kosong Karinn juga pandangan nanarnya pada seorang gadis yang baru saja pergi. “Omong-omong, aku penasaran, bagaimana dan dari mana kau mengenal Giselle?”
Karinn mengangguk. “Aku melihatnya di cafe sekitar dua bulan lalu. Kudengar ... mereka memanggilnya dengan nama itu.”
Pada hari yang dikisahkannya, sebenarnya dia dapat mengingat orang asing itu bukan karena pada beberapa kesempatan sebelumnya ia telah mengetahui bahwa gadis itu adalah perundung, melainkan karena hari itu dia melihatnya datang untuk bertemu seseorang—dua orang tepatnya.
“Satu es latte dengan sedikit gula.” Sembari menyebutkan pesanan, Karinn mengeluarkan uang pecahan kecil dari dompetnya, membayar tunai agar orang di antrean berikutnya tidak kesal karena barista tidak memiliki cukup uang kembalian.
Selagi menunggu, ekor matanya melirik ke sana kemari mencari sesuatu yang dapat menarik atensinya; salah satu meja di sisi kiri tubuhnya. Dua gadis yang duduk di sana melambaikan tangan dan menyebut nama ‘Giselle’ saat seorang gadis lainnya datang melewati pintu. Saat itu, sebenarnya dia bisa saja mengabaikan apa yang dilihatnya baik dua gadis tersebut maupun gadis lainnya yang baru tiba. Namun dia melihat di depan matanya sendiri, bahwa ujung benang merah di antara mereka saling terhubung—saling mengenal satu sama lain. Jelas itu aneh.
“Mereka yang kau maksud, apakah Kak Villy dan Kak Ayaa?”
Karinn tersedak minumannya sendiri. Buru-buru ia menyeka mulutnya sembari bertanya, “Hu? Bagaimana kau bisa tahu?”
Sudah buat si lawan bicaranya penasaran, Erica malah bereaksi tersenyum sembari mengangkat bahu, memilih menyimpan jawabannya untuk sendiri.
Terlepas dari itu, dapat dipastikan ia juga tahu bahwa apa yang dilihatnya bukanlah pemandangan biasa. Senior dan junior bertemu di luar sekolah? Mereka bertemu sebagai teman sekamar saja rasa canggungnya tidak bisa digambarkan melalui kata-kata. Yah, kalaupun sebagian kecil ada hubungan yang berhasil terjalin sebagai teman, biasanya salah satu di antara mereka berbohong. Dan itu betulan terjadi.
Bagaimanapun ... inilah sisa puing-puing yang masih dapat ditemukan dari perpecahan antara kubu senior dan junior beberapa tahun ke belakang. Senioritas merebak bersamaan dengan para junior yang suka memberontak, menciptakan awan gelap pembawa kabar buruk.
Pada malam itu ... awan tersebut seolah berada tepat di atasnya. Menjadikan malam yang tinggi sebagai tempat terakhirnya merasakan dingin—tercatat sebagai kasus belum terpecahkan.
“Aku dan Irene bertemu di kelas 10-2.” Erica membuka suara lagi, kali ini bercerita tentang sobat dekatnya. “Bahkan saat pertemuan pertama pun, dia menutup diri dan sulit diajak berkomunikasi. Karena itu, butuh waktu lama bagiku untuk memahaminya.”
“Apa yang berhasil kau pahami darinya?”
“Alasan dia bersikap agresif. Dia yang tiba-tiba marah, membentak, melempar sesuatu atau semacamnya. Akhirnya aku tahu dia melakukannya hanya sebagai bentuk pengalihan.”
“Dari apa?”
“Kecemasannya.”
Karinn menelan ludah, sedikit tersentak. Benar, itulah jawabannya. Itulah alasan si gadis garang itu bersikap mencurigakan pada malam pertukaran kamar. Bukan tanpa sebab tubuhnya bereaksi, bukan tanpa sebab juga dia bermonolog atau bergumam sendiri seperti yang Niana ceritakan. Sebaliknya, dia melakukan itu tanpa sadar karena sedang mencemaskan sesuatu.
“Dia juga bukan tipe yang suka berterus terang tentang dirinya sendiri,” lanjut Erica lagi. “Maka itu setelah aku sadar ada hal besar yang dicemaskannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih menceritakan sesuatu lain agar aku tidak mencampuri urusannya.”
“Bagaimana hubungannya dengan keluarganya?”
“Hubungan mereka sangat baik, mungkin ... dengan ibunya. Ibu Irene bekerja sebagai penjual lauk pauk di pasar tradisional di ujung kota ini, jadi mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk memasak. Kedengarannya seru setiap kali dia bercerita tentang liburannya di sana.” Tanpa sadar Erica menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tersenyum. Terbesit dalam benaknya betapa cerewetnya gadis itu saat mulai membuka mulut dan membicarakan segala hal di dunia, sangatlah berbeda dari bayang-bayang beruang laser. “Dia tidak punya adik. Ibunya sudah empat kali keguguran karena cukup sibuk dengan pekerjaannya. Karena itu akhirnya dia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan selalu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya tanpa bantuan orang lain. Dia ... Dia agak payah sebenarnya.” Maksudnya payah dalam memahami dirinya sendiri. Tak heran dia—Irene—membuat batasan agar urusan pribadinya tak mencampuri kehidupannya yang sedang berjalan.
Baginya, batu yang terikat tali dan diseret menggunakan pundaknya itu tak boleh ditinggalkan hanya karena berat menyulitkan kakinya melangkah. Dia berpikir mungkin setelah melewati beberapa jalan dan menempuh jarak sekian, ia dapat menemukan titik balik yang membuatnya merasakan batu tersebut seringan kapas. Hingga pada akhirnya dia bisa merelakan fakta bahwa batu tersebut selalu mengikuti kemana bayangannya pergi.
“Kenapa kau baru mencoba mengenalnya saat SMA?” Karinn melontarkan pertanyaan lain, menunjukkan betapa keingintahuan dirinya tentang si gadis garang itu.
“Irene berada di tingkat kelas 1 saat SMP, kita belum bertemu saat itu,” jawabnya.
Karinn mengangguk-angguk. Benar juga, sejak SD gadis itu memang selalu berada di tingkat 1. Wajahnya bahkan bisa ditemukan di mana-mana; banner dan papan pengumuman.
Ketika itu, Irene adalah kebanggaan sekolah. Dia pintar secara akademik dan atletis secara fisik. Walau dia lebih banyak mengikuti perlombaan Sains daripada perlombaan olahraga, ia selalu pulang dengan tangan berisi. Piala bertuliskan namanya pun berjejer rapi di lemari kaca, berdiri bersebelahan dengan namanya.
Ketika itu ... alias sebelum Erica, Karinn sudah lebih dulu bertemu Irene. Mereka juga sering berada di ruang perlombaan yang sama dan berfoto bersama para peserta lain. Namun faktanya, mereka hanya saling berkontak mata alih-alih berkenalan sebagai sesama peserta.
“Kalau saat SMP dia berada di tingkat 1 karena nilai, apa itu artinya sekarang dia berada di tingkat 2 karena...”
“Entahlah, aku juga payah sebagai temannya. Hanya sedikit yang kutahu tentangnya.”
“Menurutmu, apakah mungkin dia mencemaskan nilainya?”
Erica mengangkat bahu, namun kepalanya memberi satu anggukan kepala. “Teman-temanku sering bercerita kalau Irene menggunakan beasiswa untuk melanjutkan jenjang sekolahnya. Dia memimpikan universitas negeri yang bagus di pusat kota. Itu sebabnya dia dan keluarganya bermigrasi ke sini.”
“Biar kutebak, dia pasti mengeluarkan tatapan beruang lasernya saat kau bertanya tentang masalah pribadinya.”
Erica mengangguk. “Dari sanalah julukan itu muncul. Aku yang pertama-tama mengatakanya.”
“Jadi yang kulihat kemarin (keributan di kamar) itu sungguhan dirinya?”
Erica mengangkat bahu, tidak yakin. “Dia jadi agresif sejak melihat data pertukaran kamar. Wajahnya masam dan bertambah masam setelah kau menginjakkan kaki ke lantai kamar yang sedang dibersihkannya.”
Karinn terkekeh, dipikir-pikir memalukan juga keributan konyol kemarin. Dia menundukkan kepalanya sambil menyantap kembali makan siangnya, bermonolog, “Kalau saja aku bisa jujur lebih awal, mungkin suaraku tidak hanya dapat didengar olehku sendiri. Irene ... suaramu telah didengar oleh setidaknya satu orang.”
“Karinn..” panggil Erica, ini yang ketiga kalinya setelah yang pertama dan kedua. Tahu ada yang tidak beres dengan si pemilik nama, ia pun segera pindah tempat ke kursi Irene. “Ada apa? Kau melamun lagi?” tanyanya sembari mengangkat paksa dagunya.
“...Hu? ...Tidak.”
“Matamu memerah. Ada apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?”
Karinn menggeleng, menundukkan pandangannya. “...Kuah sup bening ini terciprat ke mataku, rasanya agak perih dan sedikit gatal.”
“Tidak.”
“Hu?”
“Apakah kau sering melakukannya?”
“...Melakukan apa?”
“Berbohong pada dirimu sendiri.”
Pintu toilet terbuka keras. Karinn masuk dengan langkah tergesa-gesa seolah jiwanya digerakkan bukan karena keinginannya sendiri. Dia membuka kran wastafel, mencuci pergelangan tangannya selama dua menit. Napasnya memburu dan atmosfer di sekitarnya tampak tidak baik seolah ada sesuatu yang mengukung dirinya dari luar dan dalam. “Sial!” umpatnya.
“Oi, ada apa denganmu?” Terdengar suara seseorang dari sisi sebelah kanannya. Irene yang kebetulan keluar dari bilik toilet langsung menarik keluar kedua telapak tangan Karinn dari wastafel. “Kau gila? Apa yang salah denganmu? Kenapa kau melakukan ini?”
Mencuci tangan memang hal biasa, namun bila dilakukan secara terus-menerus dan menggosoknya terlalu keras seperti yang Karinn lakukan, itu bukanlah tindakan yang dapat dianggap wajar. Goresan kuku yang kemudian membekas menjadi kemerahan dan memberikan sensasi perih, jelas mengatakan sesuatu. Jelas ini tidak seperti seseorang yang dibayangkannya.
“Lepaskan!” Karinn mulai memberontak, berusaha menarik paksa tangannya dari genggaman Irene.
“Kau menyakitinya!”
“Bukan urusanmu! Lepaskan tanganku!”
Tenaga Karinn bukan main saat memberontak, tampaknya dirinya sudah dikuasai oleh amarah. Maka itu Irene pun menarik tubuhnya dengan satu kali tarikan, membawanya ke dekapannya. “Kubilang kau menyakitinya. Kau tidak paham, hu?”
Walau Karinn tetap mencoba kembali memberontak, namun perlahan-lahan dirinya mulai melunak. Napasnya pun berangsur-angsur tenang dan barulah saat itu rasa perih di telapak tangannya menyadarkannya tentang hal konyol yang dilakukannya barusan.
Selagi merasakan perubahan frekuensi detak jantung si lawan bicaranya, atensi Irene tertuju pada sebuah botol putih di samping kran wastafel—tertera nama Benzodiazepin pada labelnya. “Kau...” Dia mendorong sedikit bahu Karinn, melepaskannya dari dekapannya. “Gadis waktu itu ... kau?”
...• • • • •...
Menjadi satu-satunya yang tersisa di atas meja makan memanglah membosankan. Sepuluh menit yang lalu Irene pergi ke toilet, lalu setelah itu Karinn juga pergi menyusul. Tinggallah dirinya sendiri duduk berhadapan dengan makanannya tanpa selera.
“Ke mana yang lain?” Seseorang menarik kursi, duduk di kursi kosong sebelahnya.
“Toilet,” jawab Erica.
“Kau tidak ikut?” tanya Karina lagi.
Erica menggeleng, kepalanya masih menempel di permukaan meja sembari membatin basa-basi si ketua kelas juga tidak kalah membosankan daripada menunggu dua temannya yang tak kunjung datang kembali.
“Kudengar ada keributan di kelas.”
“Mereka (Karinn dan Ayaa) teman sekamarku. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak punya firasat buruk tentang itu.” Erica mengangkat kepalanya, berkontak mata dengan Karina. “Kenapa kau datang ke sini? Ada seseorang yang mau kau bicarakan?”
“Apa terlihat jelas?”
Erica mengangguk. “Siapa lagi kali ini?”
“Teman sekamarmu, si Sherlock.”
“Seberapa banyak kau mengenalnya?”
“Kau penasaran?”
Erica mengangkat bahu, tidak yakin.
“Hmm, entahlah. Walau dia tampak mencolok, aku selalu merasa dia tidak lebih dari gadis misterius yang sedang mencoba bersembunyi. Biasanya orang seperti itu memiliki rahasia besar.”
“Kau juga.”
“Hu? Aku?”
Sembari menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kedua lengannya ke dada, Erica berkata, “Kau bisa bilang begitu karena kau juga tidak jauh berbeda darinya, kan?”
“Aih, apa maksudmu? Kenapa aku?”
“Kemarin ... kau menghampiriku (di Fe-Mart) dan membicarakan Kak Villy. Setelah kau buat aku penasaran, kau pergi tanpa melanjutkan. Kau sengaja melakukannya, kan?”
Karina menggeleng.
“Kau sengaja. Kau ingin membuatku waspada terhadapnya. Kenapa? Apa karena kau tahu aku ahlinya sebagai pengamat? Kau takut akan terjadi sesuatu? Atau kau punya alasan lain?”
Karina menelan ludah, sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Benar juga, bahkan tanpa ia datang untuk membicarakan si senior itu pun, Erica pasti sudah lebih dulu mengamati dalam diam.
“Erica!”
Pada hari pertukaran kamar, tepatnya saat Erica dan Irene berbincang-bincang perihal seseorang di atap, Villy memanggilnya untuk datang ke balkon.
“Ini kali kedua kita jadi teman sekamar. Tidak kusangka kau masih mengenaliku,” katanya.
Erica terkekeh malu. Lalu sembari menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk merekam tugas videonya, dia membalas, “Aku punya ingatan cukup tajam. Apa yang kulihat, itulah yang kemudian tersimpan di kepalaku.”
“Kau bilang ... kau melihatku menggunakan tangan kiri saat itu.”
Erica mengangguk. “Kau pandai melakukannya. Tulisanmu sebagus kau menggunakan tangan kanan.”
“Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk padamu?”
“..Hu?”
Keduanya saling berkontak mata, bingung dengan pertanyaan dan respons yang didapat. “...Lupakan. Bukan apa-apa.”
Erica menoleh ke sebelahnya, kursi yang tadi diduduki Karina sudah kembali kosong. Melihatnya langsung pergi tanpa mengatakan sesuatu, makin membuatnya berpikir dia sama misteriusnya dengan Karinn yang dibicarakannya.
Villy ... Sejujurnya ia juga merasakan hal tidak biasa saat mengobrol di balkon kala itu. Tapi ingatannya pada saat mereka jadi teman sekamar tidaklah istimewa, juga tidak ada bedanya dengan pertukaran kamar sebelumnya. Melakukan sesuatu yang buruk?; hanya bagian itu yang tidak dimengertinya. Hahh, sepertinya ... terlalu banyak orang-orang yang menyimpan misteri.
...• • • • •...