NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tidak Terduga

Pagi itu langit kota masih tertutup awan tipis. Matahari belum sepenuhnya muncul, namun gedung-gedung tinggi di pusat bisnis sudah mulai dipenuhi aktivitas.

Di lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran besar, ruang rapat utama perusahaan Adrian terlihat lebih sibuk dari biasanya.

Beberapa staf keluar masuk membawa berkas, laptop, dan dokumen presentasi.

Hari itu bukan hari biasa.

Hari itu adalah hari pertemuan dengan Hartono Group, salah satu perusahaan investasi terbesar di kota.

Jika kerja sama ini berhasil, perusahaan Adrian akan mendapatkan suntikan dana yang sangat besar.

Namun jika gagal…

Banyak proyek mereka bisa terhenti.

Di dalam ruang rapat, Adrian duduk di kursi utama di ujung meja panjang.

Jas hitamnya rapi seperti biasa. Rambutnya tersisir sempurna. Wajahnya tetap tenang, hampir tanpa ekspresi.

Namun sebenarnya pikirannya tidak sepenuhnya fokus.

Di atas meja di depannya terdapat sebuah map berisi dokumen kerja sama.

Di halaman pertama terdapat informasi tentang perwakilan Hartono Group yang akan datang hari ini.

Seorang direktur proyek.

Wanita.

Adrian menatap halaman itu beberapa detik.

Semalam ia sempat melihat foto kecil yang tercetak di sana, tapi kualitasnya buruk. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas.

Yang ia ingat hanya satu hal.

Rambut panjang.

Dan siluet wajah yang terasa sangat… familiar.

Adrian menghela napas kecil lalu menutup map itu.

“Mereka akan tiba dalam sepuluh menit,” kata salah satu sekretaris yang berdiri di dekat pintu.

Direksi lain di ruangan itu tampak tegang.

Beberapa dari mereka berbicara pelan satu sama lain.

Clara duduk di kursi di sisi kanan Adrian. Ia mengenakan gaun kerja yang elegan dengan blazer putih.

Sebagai kepala divisi pemasaran, ia juga harus hadir dalam rapat ini.

Clara melirik Adrian.

“Kau terlihat sangat serius hari ini,” katanya sambil tersenyum tipis.

Adrian tidak menjawab.

Clara mengangkat bahu kecil.

“Baiklah. Semoga direktur dari Hartono Group itu tidak terlalu sulit diajak bekerja sama.”

Tidak ada yang tahu bahwa beberapa menit lagi, sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan akan terjadi.

Di luar gedung, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan pintu utama perusahaan.

Petugas keamanan segera membuka pintu mobil.

Beberapa orang turun lebih dulu.

Seorang pria dengan jas abu-abu yang membawa tas dokumen.

Seorang wanita dengan tablet di tangannya.

Dua orang lain yang terlihat seperti staf hukum.

Terakhir, seseorang turun dari kursi belakang mobil.

Seorang wanita.

Ia mengenakan blazer hitam elegan dengan kemeja putih di dalamnya. Rok kerja yang sederhana namun rapi mengikuti langkahnya ketika ia berjalan.

Sepatu hak tinggi yang ia kenakan menghasilkan suara lembut setiap kali menyentuh lantai marmer di lobi gedung.

Rambut panjangnya terurai rapi di belakang punggung.

Wajahnya tenang.

Namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat orang-orang yang melihatnya merasa sedikit terintimidasi.

Resepsionis di meja depan segera berdiri.

“Selamat pagi, apakah Anda dari Hartono Group?”

Wanita itu mengangguk kecil.

“Ya.”

Suaranya lembut, tapi jelas.

“Kami sudah dijadwalkan bertemu dengan Direktur Adrian.”

Resepsionis segera tersenyum gugup.

“Silakan ikut saya.”

Beberapa staf yang berada di lobi mulai berbisik pelan.

“Itu direktur dari Hartono Group?”

“Masih muda sekali…”

“Tapi kelihatannya sangat profesional.”

Wanita itu berjalan melewati mereka tanpa memperhatikan bisikan tersebut.

Ekspresinya tetap tenang.

Seolah semua tatapan orang lain tidak berarti apa-apa.

Di lantai dua puluh tiga, pintu ruang rapat terbuka.

Sekretaris masuk lebih dulu.

“Tim dari Hartono Group sudah tiba.”

Semua orang di ruangan itu langsung duduk lebih tegak.

Beberapa detik kemudian, rombongan Hartono Group masuk.

Mereka berjalan menuju sisi meja rapat yang kosong.

Adrian mengangkat kepalanya.

Ia melihat beberapa orang yang masuk.

Lalu seseorang masuk terakhir.

Saat itu terjadi, waktu seakan berhenti.

Wanita itu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tenang.

Rambut panjang.

Wajah yang sangat ia kenal.

Rania.

Adrian membeku.

Selama beberapa detik, ia bahkan tidak yakin apakah matanya sedang menipunya.

Namun wanita itu benar-benar berdiri di sana.

Rania.

Istri yang pernah ia usir dari rumah tiga tahun lalu.

Namun sekarang…

Ia terlihat sangat berbeda.

Tidak ada lagi ekspresi lembut yang dulu sering terlihat di wajahnya.

Tidak ada lagi tatapan penuh harapan.

Yang ada sekarang hanyalah ketenangan… dan jarak.

Salah satu direksi berdiri untuk menyambut mereka.

“Selamat datang di perusahaan kami.”

Ia menunjuk ke arah Rania.

“Ini adalah Direktur proyek dari Hartono Group yang akan menangani kerja sama ini.”

Beberapa orang di ruangan itu mulai memperhatikan Rania dengan lebih serius.

Namun Clara yang duduk di samping Adrian tiba-tiba menegang.

Matanya melebar.

Ia juga mengenali wanita itu.

“Rania…?” bisiknya hampir tanpa suara.

Rania tersenyum tipis dengan sikap profesional.

“Terima kasih atas sambutannya.”

Lalu ia menoleh ke arah Adrian.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya satu detik.

Namun detik itu terasa sangat panjang.

Tidak ada keterkejutan di wajah Rania.

Seolah ia sudah mempersiapkan diri untuk momen ini.

Ia mengulurkan tangan secara formal.

“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Adrian.”

Nada suaranya sopan.

Resmi.

Seperti seseorang yang sedang berbicara dengan rekan bisnis biasa.

Bukan mantan suaminya.

Adrian menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya berdiri.

Ia menjabat tangan Rania.

Sentuhan itu singkat.

Namun cukup untuk membuat banyak kenangan lama muncul di pikirannya.

“Senang bertemu dengan Anda juga,” jawab Adrian akhirnya.

Suasana ruangan terasa sedikit aneh.

Beberapa orang merasa ada sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Namun rapat tetap harus dimulai.

Beberapa menit kemudian, lampu presentasi menyala.

Layar besar di depan ruangan menampilkan logo Hartono Group.

Rania berdiri di depan meja rapat dengan sebuah remote kecil di tangannya.

“Terima kasih atas waktu yang Anda berikan kepada kami hari ini.”

Nada suaranya stabil.

Profesional.

Ia mulai menjelaskan proposal kerja sama.

Tentang investasi.

Tentang rencana pengembangan proyek.

Tentang pembagian saham dan keuntungan.

Setiap kalimatnya jelas.

Terstruktur.

Semua orang di ruangan itu mulai memperhatikannya dengan serius.

Bahkan beberapa direksi yang awalnya meragukan kemampuannya kini mulai mengangguk setuju.

Adrian tetap duduk di kursinya.

Namun pandangannya hampir tidak pernah lepas dari Rania.

Wanita itu sangat berbeda dari yang ia ingat.

Dulu, Rania selalu berbicara dengan hati-hati di depannya.

Seolah takut mengatakan sesuatu yang salah.

Namun sekarang…

Ia berdiri di depan seluruh ruangan dengan kepercayaan diri yang luar biasa.

Setiap kata yang ia ucapkan membuat orang lain mendengarkan.

Adrian merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Sementara itu Clara menggenggam pulpen di tangannya sedikit terlalu kuat.

Ia tidak suka melihat Rania berdiri di sana.

Tidak suka melihat bagaimana semua orang mulai menghormatinya.

Rapat berlangsung hampir satu jam.

Pada akhirnya, presentasi selesai.

Lampu ruangan kembali menyala.

“Terima kasih atas penjelasannya,” kata salah satu direksi.

“Kami akan mempelajari proposal ini dengan lebih detail.”

Rania mengangguk.

“Tentu.”

Semua orang mulai berdiri dari kursinya.

Beberapa staf mengumpulkan dokumen.

Beberapa direksi keluar lebih dulu.

Dalam beberapa menit, ruang rapat mulai kosong.

Rania juga mengambil map dokumennya.

Ia berbalik menuju pintu.

Namun ketika melewati kursi Adrian, langkahnya berhenti sebentar.

Adrian yang masih berdiri di dekat mejanya menoleh ke arahnya.

Rania menatapnya dengan ekspresi tenang.

“Sudah lama tidak bertemu,” katanya pelan.

Nada suaranya datar.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Hanya… jauh.

Adrian tidak langsung menjawab.

Rania tersenyum tipis.

“Semoga kerja sama ini berjalan lancar, Tuan Adrian.”

Setelah mengatakan itu, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu.

Pintu ruang rapat tertutup perlahan di belakangnya.

Ruangan itu kembali sunyi.

Adrian masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Rania.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…

Ia merasa kehilangan kendali atas sesuatu.

Wanita yang dulu ia anggap tidak penting.

Wanita yang pernah ia usir dari hidupnya.

Sekarang kembali…

Sebagai seseorang yang bahkan tidak bisa ia jangkau lagi.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!