Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Resep yang Mengguncang Dunia
Ruangan itu senyap. Wajah Tetua Sun berubah dari terkejut, menjadi serius, lalu menjadi penuh antisipasi. Seorang pemuda yang mampu mengidentifikasi Rumput Tulang Naga Bayangan tidak mungkin menawarkan resep pil biasa.
"Tuan Muda Jiang, silakan ikut saya ke ruang dalam," kata Tetua Sun dengan hormat, mengabaikan tatapan tidak percaya dari semua orang di sekitarnya. Ini adalah percakapan yang tidak boleh didengar oleh sembarang orang.
Jiang Chen mengangguk dan mengikuti Tetua Sun ke sebuah ruangan pribadi yang elegan di lantai dua, diiringi oleh Liu An yang mengikuti dengan wajah cemberut. Liu An tidak percaya tuannya begitu mudah ditipu oleh seorang bocah, tetapi ia tidak berani membantah perintah.
Setelah teh disajikan, Tetua Sun langsung ke pokok permasalahan. "Tuan Muda Jiang mengatakan ingin menjual resep pil. Boleh saya tahu pil jenis apa itu?"
Jiang Chen menyesap tehnya dengan tenang, seolah tidak merasakan ketegangan di ruangan itu. "Aku tidak akan menjualnya. Aku akan menawarkannya sebagai bentuk kerja sama. Yang ingin aku tawarkan adalah versi perbaikan dari pil yang paling umum dan paling menguntungkan di pasaran."
"Maksudmu... Pil Pengumpul Qi?" Liu An tanpa sadar menyela, nadanya sinis. "Resep Pil Pengumpul Qi sudah ada selama ratusan tahun. Semua orang tahu cara membuatnya. Apa yang bisa diperbaiki?"
Pil Pengumpul Qi adalah pil tingkat terendah, digunakan oleh para kultivator di Alam Pengumpul Qi untuk mempercepat akumulasi energi. Karena permintaannya sangat besar, pil ini menjadi tulang punggung pendapatan setiap toko obat.
Jiang Chen tersenyum tipis. "Justru karena semua orang tahu, tidak ada yang mempertanyakan kekurangannya. Katakan padaku, apa masalah terbesar saat mengonsumsi Pil Pengumpul Qi dalam jangka panjang?"
Tetua Sun merenung sejenak sebelum menjawab, "Akumulasi racun pil. Meskipun setiap pil hanya mengandung sedikit sekali kotoran, setelah mengonsumsi ratusan atau ribuan pil, kotoran itu akan menumpuk di meridian, memperlambat kecepatan kultivasi di masa depan dan bahkan dapat menyebabkan penyumbatan permanen."
Ini adalah masalah yang diketahui semua kultivator, tetapi tidak ada solusinya. Itu dianggap sebagai harga yang harus dibayar untuk kemajuan yang cepat.
"Tepat," kata Jiang Chen. "Resep yang aku tawarkan ini, aku menamakannya 'Resep Pil Sembilan Pemurnian'. Pil Pengumpul Qi yang dihasilkan tidak hanya 30% lebih efektif daripada yang ada di pasaran, tetapi yang terpenting, tingkat kemurniannya mencapai lebih dari 99%. Hampir tidak ada racun pil."
Gedebuk!
Cangkir teh di tangan Tetua Sun jatuh ke meja, isinya tumpah ruah. Matanya membelalak tak percaya. Liu An, yang tadinya sinis, kini mulutnya ternganga, benar-benar tercengang.
"Tidak mungkin!" seru Liu An. "Tingkat kemurnian 99%? Bahkan alkemis tingkat master di ibu kota kekaisaran pun tidak bisa mencapainya untuk pil tingkat rendah! Kau pasti membual!"
Pil tanpa kotoran? Efektivitas 30% lebih tinggi?
Jika itu benar, ini bukan lagi sekadar versi perbaikan. Ini adalah resep yang akan merevolusi seluruh pasar pil tingkat rendah! Paviliun Seribu Ramuan akan mampu menghancurkan semua pesaing mereka dan memonopoli pasar di seluruh wilayah!
Napas Tetua Sun menjadi berat karena kegembiraan. Dia menatap Jiang Chen dengan tajam. "Tuan Muda Jiang... ini bukan lelucon, kan?"
"Mengapa aku harus bercanda?" Jiang Chen dengan tenang mengambil kuas dan kertas yang ada di meja. "Aku tidak akan memberikan resep lengkapnya, tapi aku akan menunjukkan kesalahan fatal dalam resep kalian saat ini."
Dengan gerakan cepat dan percaya diri, ia menuliskan daftar bahan untuk Pil Pengumpul Qi. Kemudian, ia mencoret salah satu bahannya: Bunga Roh Embun.
"Ini," katanya sambil menunjuk ke nama yang dicoret. "Ini adalah sumber utama dari racun pil. Bunga Roh Embun memiliki energi yang lembut dan membantu menstabilkan Qi dari bahan lain. Tapi sifatnya yang 'lembut' ini justru mengunci sebagian kecil kotoran dari ramuan lain di dalam pil, mencegahnya keluar selama proses pemurnian."
Mata Tetua Sun terpaku pada kertas itu. Logika ini... sangat berlawanan dengan teori alkimia konvensional, tetapi entah kenapa terdengar sangat masuk akal! Selama ini, semua orang menganggap Bunga Roh Embun adalah bahan penstabil yang sangat diperlukan. Tidak ada yang pernah berpikir bahwa bahan inilah biang keladinya.
"Lalu... apa penggantinya?" tanya Tetua Sun dengan suara bergetar.
"Buah Akasia Berduri," jawab Jiang Chen. "Energinya lebih liar dan sulit dikendalikan, tapi sifat 'liar' inilah yang akan memaksa semua kotoran keluar selama tahap pemurnian terakhir. Tentu saja, ini membutuhkan teknik kontrol api yang jauh lebih presisi dan urutan penambahan bahan yang berbeda."
Jiang Chen kemudian menjelaskan secara singkat tiga perubahan urutan dan dua titik kontrol suhu yang krusial. Penjelasannya begitu mendalam, logis, dan elegan, seolah-olah ia telah membuat pil ini jutaan kali.
Tetua Sun mendengarkan dengan napas tertahan. Setiap kata yang diucapkan Jiang Chen membuka dunia baru baginya. Keraguan di hatinya benar-benar lenyap, digantikan oleh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. Pemuda di hadapannya ini bukan bocah biasa. Dia adalah seorang grandmaster alkimia yang menyamar!
"Luar biasa... Luar biasa!" seru Tetua Sun, wajahnya memerah karena gembira. "Tuan Muda Jiang, Paviliun Seribu Ramuan bersedia bekerja sama! Katakan syaratmu!"
Jiang Chen tersenyum. Semuanya berjalan sesuai rencana.
"Syaratku sederhana," katanya. "Pertama, aku ingin 30% dari semua keuntungan bersih yang dihasilkan dari penjualan pil baru ini. Kedua, sebagai uang muka, aku butuh seratus ribu koin perak sekarang. Ketiga, aku ingin token VIP Paviliun Seribu Ramuan, memberiku hak untuk mengambil ramuan apa pun yang aku butuhkan, yang akan dipotong dari bagian keuntunganku di masa depan."
Setiap syarat yang ia ajukan membuat Liu An menahan napas. Ini adalah permintaan yang sangat besar.
Namun, Tetua Sun setuju tanpa ragu sedikit pun. "Setuju! Tiga puluh persen adalah harga yang pantas untuk resep yang menentang surga ini! Seratus ribu koin perak akan segera disiapkan!"
Baginya, ini adalah investasi termurah yang pernah ia buat. Keuntungan yang akan mereka peroleh dari resep ini tidak terbayangkan.
Satu jam kemudian, Jiang Chen berjalan keluar dari Paviliun Seribu Ramuan. Di sakunya, ada beberapa kantong berat berisi koin perak dan sebuah token giok hitam yang mengkilap.
Saat ia melangkah ke jalanan yang ramai, sebuah kereta kuda mewah berhenti tidak jauh darinya. Dua sosok familier turun dari kereta.
Satu adalah seorang gadis cantik dengan gaun sutra, wajahnya angkuh. Itu adalah mantan tunangannya, Hong Mengyao.
Yang lainnya adalah seorang pemuda tampan dengan pakaian mahal, yang jelas berasal dari keluarga besar.
"Mengyao," kata pemuda itu sambil tersenyum, "Lihat, bukankah itu mantan tunanganmu yang sampah? Kenapa dia keluar dari Paviliun Seribu Ramuan? Apa dia mencoba menjual beberapa rumput liar yang dia petik di jalanan?
Hong Mengyao melirik Jiang Chen dengan tatapan dingin dan jijik, seolah melihat sesuatu yang kotor. "Jangan sebut namanya. Dia tidak ada hubungannya lagi denganku."
Jiang Chen mendengar komentar mereka, tetapi ia bahkan tidak menoleh.
Baginya, mereka hanyalah kerikil di pinggir jalan. Seekor feniks tidak akan pernah peduli pada pendapat semut di bawahnya.
Dengan langkah mantap, ia berjalan menjauh, meninggalkan Hong Mengyao dan rekannya yang menatap punggungnya dengan cemoohan.