Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tidka sampai satu jam Wulan sudah sampai di apartemen sahabatnya, Lidia. Tak lupa ia membawa pesana Lidia, rujak mangga muda. Wulan memakan bel dan tak lama pintu terbuka.
"Wulan." pekik Lidia senang langsung memeluk sahabatnya itu.
"Aku ga di suruh masuk nih." canda Wulan karna masih berdiri di sana pintu.
"Eh, sorry sorry lupa. Ato masuk, loe jadikan bawa pesana gue."
"Jadi dong, ini." Wulan mengangkat tentangan yang ia bawa.
"Makasih ya, Wulan. Loe emang sahabat terbaik gue." seklai lagi Lidia memeluk Wulan sebagi ucaoan terimaksih.
Lidia yang sudah tak sabaran merebut kantong bawaan Wulan dan segera membukanya. Matanya berbinar saat melihat mangga muda plus sambel kacang. Tak berkata apa - apa, Lidia langsung menikmati rujak. Wulan di buat ngeri melihat bagaimana Lidia begitu menikmati makananya.
"Enak ya, Lid?" tanya Wulan dengan wajah sulit di artikan.
"Kamu mau coba." Lidia menyodorkan sepotong mangga ke hadapan Wulan tapi wanita itu menolaknya.
"Ga ah, asem."
"Kata siapa asem, enak gini."
"Kamu kaya orang lagi ngidam, Lid?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Wulan membuat Lidia menghentikan suapanya dan menoleh menatap sahabatnya.
"Maksud kamu aku ini lagi hamil gitu?"
"Ya kurang lebihnya gitu sih, tapi kamu kan ga punya pacar. Jadi ga mungkin hamil dong." Sesaat wajah Lidia memucat tapi buru - buru ia rubah. Ia tak mau Wulan melihat perubahan wajahnya.
"Nah itu kamu tau. Harusnya yang hamil itu kamu, kamu kan punya suami jadi wajarlah." kekeh Lidia menyembunyikan rasa perih saat membayangkan Lidia dan Panca bercumbu.
"Gimana mau hamil, suamiku saja jarang di rumah. Aku jarang di belai, apalagi beberapa bualn ini mas Panca tak pernah menyentuh aku. Aku sempat berpikir jika mas Panca punya perempuan lain di luar sana." mendadak wajah Wulan menjadi mendung Lidia sebagai sahabat langsung memeluk Wulan.
Wulan menangis dalam pelukan Lidia, sedangkan Lidia makin di hantui perasan bersalah.
"Maaf aku cengeng ya?" Wulan mengurai pelukan ya setelah agak lega mengeluarkan beban dalam dadanya yang terasa menghimpit.
"Ga apa - apa, itu wajar kok."
"Makasih ya, Lid."
"Makasih buat apa?" tanya Lidia.
"Harusnya aku kemari nengokin kamu yang tengah kurang enak badan yang ada malah aku curhat tentang ruamh tanggaku." Wulan tertawa samar sambil membersihkan sisa air mata yang ada di pipinya. Cukup lama keduanya ngobrol tentang banyak hal. Kadang mereka tertawa ngakak terkadang hanya terbit senyuman.
Di tengah kebahagian itu ada hati yang perih, dada yang penuh sesak karna beban rasa bersalah.
Karna hari beranjak semakin sore, Wulan berpamitan pada Lidia. Ia tak mau saat suaminya pulang ia belum sampai di rumah.
"Ya, masih kangen tau." rengek Lidia manja, ia tak rela harus berpisah dengan sahabatnya. Rasanya baru sebentar mereka ngobrol bareng.
"Pengennya sih nginap di sini, tapi ga enak sama mas Panca. Aku sudah janji malam ini bakal nungguin dan makan malam bareng bersama kedua orang tuanya juga."
"Ya udah ga apa - apa, buruan gih pulang sana. Jangan sampai mertua kamu datang duluan."
"Iya, lain kali kita lanjutkan lagi." Wulan memeluk Lidia dan mencium pipinya baru pergi meninggalkan sahabatnya itu.
Setelah kepergian Wulan, Lidia merasa kesepian. Sendiri itu ternyat tak enak, untuk membunuh rasa bisanya Lidia memilih menonton drakor kesukaannya sambil rebahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semangat 💪👍🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?