Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Lomba Masak Antar Kamar
Ide itu bermula dari Gendis yang sedang bosan dengan rutinitas diet ketatnya dan Dira yang ingin merayakan kesembuhan Sari dengan cara yang lebih meriah daripada sekadar makan bersama. Namun, entah bagaimana mekanismenya dalam obrolan grup WhatsApp kos yang tak pernah berhenti berdenting, ide "makan-makan cantik" itu bermutasi menjadi "Lomba Masak Antar Kamar Wisma Lavender". Dan yang lebih buruk lagi bagi Arka, dialah satu-satunya penghuni pria yang tersisa di akhir pekan itu—setelah dua penghuni pria lainnya pulang kampung—menjadikannya target empuk untuk kursi juri tunggal yang paling tidak diinginkan.
"Kenapa harus gue? Gue bahkan nggak tahu bedanya merica bubuk sama ketumbar bubuk kalau sudah dicampur!" protes Arka saat melihat meja panjang di ruang tengah sudah dialasi taplak putih bersih, lengkap dengan segelas besar air hangat dan air mineral galon di sampingnya—sebuah pertanda nyata bahwa ia akan membutuhkan banyak bantuan untuk sekadar menelan apa pun yang akan disajikan para gadis itu.
"Karena lidah mekanik itu jujur dan tanpa prasangka, Arka. Kalau oli saja kamu bisa bedain mana yang sintetis mana yang mineral cuma lewat baunya, harusnya membedakan rasa garam dan gula jauh lebih gampang, kan?" seloroh Ziva sambil mengenakan celemek merah muda bergambar stroberi yang tampak terlalu bersih dan baru untuk seseorang yang mengaku sedang bergelut di dapur.
Maka, dimulailah penderitaan fisik dan batin Arka. Ada lima belas kamar di Wisma Lavender, dan entah mengapa hari itu semuanya mendadak memiliki ambisi setinggi langit untuk menjadi Chef de Cuisine berikutnya, meski sebagian besar dari mereka biasanya hanya tahu cara menyeduh mi instan.
Peserta pertama adalah Ziva. Dengan senyum penuh percaya diri, ia menyodorkan piring berisi sesuatu yang berwarna hijau neon dengan tekstur yang mencurigakan dan sedikit bergetar. "Ini 'Pasta Pesto Keberuntungan', Ka. Hijau artinya kemakmuran dan kesehatan," jelasnya bangga. Arka menyuap satu garpu kecil dengan ragu. Begitu menyentuh lidah, matanya mendadak melotot hingga hampir keluar. Rasanya seperti menelan sejumput rumput tetangga yang baru dipotong, lalu dicampur dengan pasta gigi rasa mint yang sangat kuat. "Ziv... ini pesto atau masker wajah yang kadaluarsa? Kenapa rasanya dingin, tajam, dan... kenapa ini berbusa di mulut gue?" "Oh, aku tambahin sedikit soda kue supaya teksturnya 'fluffy' dan lebih modern," jawab Ziva tanpa dosa. Arka segera meraih gelas air mineral dan menenggaknya hingga setengah botol hanya untuk menghilangkan sensasi 'fluffy' yang tertinggal di tenggorokannya.
Peserta berikutnya tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Penghuni kamar nomor 09 menyajikan "Ayam Bakar Bumbu Hitam" yang ternyata benar-benar hitam legam karena gosong total akibat ditinggal bermain ponsel, bukan karena penggunaan kluwek atau tinta cumi. Arka merasa seperti sedang mengunyah arang kayu jati yang diberi sedikit rasa kecap.
Lalu ada penghuni kamar nomor 12 yang membuat sebuah inovasi yang menurut Arka seharusnya dilarang oleh konvensi internasional mana pun: "Salad Buah Sambal Matah". Perpaduan antara potongan semangka yang manis dengan irisan cabai rawit dan bawang merah mentah yang menyengat membuat sistem saraf Arka mengalami error seketika.
Lidah Arka mulai mati rasa pada hidangan kedelapan: sebuah sup krim yang teksturnya lebih mirip lem kertas yang sudah mengental daripada makanan cair yang bisa dinikmati. Perutnya mulai mengeluarkan bunyi protes yang dalam, sebuah peringatan dini dari sistem pencernaannya bahwa ia sedang diserbu oleh zat-zat asing yang tidak teridentifikasi secara medis maupun kuliner.
"Lo kelihatan pucat, Ka. Muka lo sudah kayak warna kertas hvs. Masih kuat?" tanya Dira yang berdiri di samping meja juri sambil menahan tawa sekuat tenaga melihat Arka yang terus-menerus memegang ulu hatinya dengan wajah menderita.
"Gue rasa... piston di lambung gue mulai macet karena deposit kerak yang nggak jelas, Dira," bisik Arka lemas, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Namun, ia tidak bisa mundur sekarang. Sari, yang baru saja sembuh dan tampak segar, kini berdiri di depan meja dengan piring porselen kecil berisi "Bubur Sumsum Rempah" yang aromanya sangat menenangkan. Ini adalah bentuk balasan sekaligus apresiasi atas bubur jahe buatan Arka saat ia sakit tempo hari.
Arka mencoba bubur buatan Sari dengan gerakan pelan. Rasanya lembut, tingkat manisnya pas, dan ada kehangatan jahe serta kayu manis yang seolah membelai dinding lambungnya yang baru saja tersiksa. Untuk sesaat, rasa mual akibat pasta hijau neon Ziva dan salad buah aneh tadi menghilang, digantikan oleh rasa nyaman yang tulus. "Ini... ini pemenangnya. Tanpa perlu perdebatan lagi," gumam Arka tulus, matanya terpejam menikmati sisa rasa bubur itu.
Namun, drama kuliner ini belum berakhir. Masih ada lima kontestan lagi yang mengantre dengan kreasi yang tak kalah "ajaib" dan provokatif. Seorang penghuni baru menyodorkan "Soto Tanpa Kuah" yang ternyata hanya berupa tumpukan tauge mentah, potongan kol, dan suwiran ayam yang kering kerontang dengan taburan serbuk koya yang sangat tebal. Saat Arka mencoba menyuapnya, serbuk koya itu terhirup ke saluran pernapasannya, membuatnya tersedak hebat hingga wajahnya memerah padam dan air mata mulai mengalir.
Setelah hidangan kelima belas—sebuah puding cokelat yang tampak normal namun ternyata berisi potongan cabai rawit utuh di tengahnya sebagai "kejutan artistik"—Arka akhirnya menyerah total. Ia bangkit dari kursi juri dengan langkah gontai yang tidak stabil, satu tangannya masih setia menekan perut yang kini terasa sekeras batu dan seperti sedang diaduk semen basah di dalamnya.
"Selamat untuk Sari, kamu menang secara aklamasi dan mutlak. Sekarang, tolong... siapa pun yang punya sedikit rasa kemanusiaan, belikan gue obat sakit perut dosis tinggi atau panggilkan ambulans kalau gue pingsan di sini," rintih Arka sebelum akhirnya ambruk di sofa ruang tengah yang empuk. Ia dikelilingi oleh lima belas gadis yang tertawa riuh rendah, menyadari bahwa juri kebanggaan mereka—pria yang paling tangguh di Wisma Lavender—baru saja dikalahkan secara telak oleh eksperimen kuliner paling gagal dalam sejarah kos tersebut.