NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Zira dan Nathan memasuki kamar untuk beristirahat. Zira menatap Nathan sejenak dan berkata dengan nada menyindir, "Ternyata mantanmu itu sopan sekali ya, tutur katanya lembut."

Nathan yang merasa disindir segera merespons, "Dek, kamu nyindir mas, ya? Mas kan sudah minta maaf. Mas janji nggak akan mengulanginya lagi." Sambil berkata begitu, Nathan memberi Zira sebatang cokelat.

"Nggak usah sungkan, Mas. Tapi, makasih untuk cokelatnya," ujar Zira singkat. Kemudian, ia teringat sesuatu. Ia harus menepati janjinya untuk menceritakan semuanya kepada Nathan.

"Mas, karena aku sudah janji sama kamu, aku mau cerita semuanya tanpa ditutup-tutupi," ucap Zira dengan nada serius. "Aku juga orangnya nggak bisa marah terlalu lama, jadi aku sudah maafin kamu. Tapi tolong, jangan diulangi lagi ya, Mas."

Nathan menghela napas lega sambil tersenyum tipis. "Makasih, Dek. Mas bakal selalu ingat itu. Ayok cerita, Mas siap jadi pendengar terbaik kamu," jawabnya tulus.

Zira mulai bercerita dari awal hingga akhir. "Mas... benar yang dibilang jamaah wanita itu, kalau aku ini dulu Nana. Aku dulu bercadar dan menutup aurat. Semua itu kulakukan supaya Papa nggak menanggung dosa dari auratku. Tapi suatu hari, aku tahu Papa mengkhianati Mama—dia selingkuh, Mas. Hatiku sakit sekali," Zira terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara bergetar.

"Papa adalah panutanku sekaligus cinta pertama buatku sebagai seorang anak perempuan. Tapi pengkhianatan itu menghancurkan segalanya. Saat itu aku putus asa... Aku memutuskan untuk berubah. Dari yang selalu menutup aurat jadi enggak lagi. Aku ingin beliau menanggung sendiri dosa-dosaku."

Nathan yang menyimak cerita Zira terkejut sekaligus sedih. Baginya cerita istrinya membuat hatinya pilu, tapi di sisi lain ada kebahagiaan karena ia berjodoh dengan wanita yang sejak dulu dikaguminya.

"Itu ceritaku, Mas. Maaf kalau selama ini sikapku kurang berkenan," kata Zira lirih.

"Mas ikut sedih mendengar semua itu," balas Nathan sambil memegang tangan Zira dengan lembut. "Aku ngerti sekarang kenapa kamu marah kalau aku bersikap terlalu akrab sama wanita lain, apalagi kalau itu mantan Mas sendiri. Kamu takut sejarah buruk itu terulang lagi, ya?"

"Betul, Mas. Aku nggak mau itu terjadi lagi. Nauzubillah,” jawab Zira berat.

Nathan menatap Zira penuh keyakinan. "Nauzubillah. Insyaallah Mas nggak akan seperti itu, Dek. Mas akan selalu ada di dekat kamu," ucapnya meyakinkan.

Mendengar janji Nathan, Zira tersenyum lega. "Mas juga mau cerita, boleh?" Nathan bertanya pelan.

"Boleh," jawab Zira penasaran.

Nathan menarik napas dalam dan mulai bercerita. "Dulu Mas pernah mengagumi seorang wanita. Wanita sholehah yang cantik, dengan mata teduh yang menenangkan hati sejak pertemuan pertama."

Zira langsung menatap suaminya tajam. "Haish... Mas! Aku kan sudah bilang jangan sampai ngelakuin hal kayak Papa Alex! Aku nggak terima!" sergah Zira spontan.

"Tunggu dulu, Dek... dengar dulu sampai selesai," kata Nathan dengan lembut. "Kamu mau tahu siapa wanita yang Mas kagumi?"

"Ah, siapa lagi kalau bukan Ning Salwa," jawab Zira dengan nada penuh dugaan.

"Bukan," jawab Nathan sambil tersenyum. "Wanita itu sekarang sudah jadi mahram Mas."

"Hah? Jadi Mas sudah menikah sebelum kita?!" tanya Zira terbelalak.

Nathan tertawa kecil sambil menggeleng. "Nggak, Dek. Pernikahan pertama dan satu-satunya buat Mas adalah sama kamu hingga maut memisahkan kita."

Zira mendengar jawaban Nathan dengan penuh kebingungan tetapi juga penasaran. Ia merasa ada yang belum diceritakan suaminya secara gamblang.

"Jadi... aku? Tapi rasanya nggak mungkin, Mas! Bukannya kamu kenal aku sebagai sosok Zira yang... ya gitu lah! Bukan Nana yang sholehah!" ujar Zira bingung

"Apakah kamu masih ingat, Dek, waktu ada acara di Masjid Istiqlal Jakarta? Saat itu, kamu menjadi pengisi kajian, dan kita bertemu secara tidak sengaja begitu unik hingga kita bertabrakan. Aku melihat kamu berjalan tergesa-gesa dengan air mata yang perlahan turun dari matamu yang teduh. Dari situlah, aku mulai kagum padamu, Aku sempat mencoba menghubungi kamu melalui asistenmu karena mas ingin kamu menghadiri  kajian di pesantren ini. Namun, Maura berkata bahwa kamu sedang tidak bisa menerima kajian karena suatu alasan. Waktu itu, niatku sebenarnya ingin mengajakmu taaruf, tapi ternyata kamu tidak dapat hadir. Aku pun pasrah, memikirkan bahwa mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama. Tapi takdir memiliki rencana lain kita akhirnya dipertemukan dengan cara yang tak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku benar-benar bahagia, karena kini aku telah menikahi seorang wanita yang sejak awal sudah aku cintai." Ujar Nathan panjang lebar

Zira mendengarkan penjelasan panjang lebar Nathan dengan perasaan campur aduk dan pipi yang mulai memerah. "Jadi, Mas mencintai aku?" tanyanya ragu.

"Iya, Dek. Mas sudah mencintai kamu sejak saat mas membaca akad di depan Papamu. Waktu itu, Mas juga sudah siap menerima segala konsekuensinya," jawab Nathan dengan tulus.

"Jika memang mencintaiku, kenapa Mas tidak meminta apa yang menjadi hak Mas dariku?" tanya Zira dengan nada lembut namun penuh rasa ingin tahu. Nathan menatap istrinya dengan penuh pengertian, lalu berkata, "Mas tahu kamu masih menyimpan trauma akibat kejadian itu. Mas tidak mau memaksa kamu untuk apapun. Mas ingin, saat kita melaksanakan kewajiban sebagai suami istri, itu murni berlandaskan cinta kita satu sama lain, bukan karena paksaan."  Mendengar jawaban itu, Zira sedikit tersenyum." Kini kan sudah jelas kalau kita saling cinta, apakah Mas masih tetap tidak ingin meminta apa yang menjadi hak Mas?" ujarnya sambil perlahan duduk di pangkuan Nathan, memeluknya erat, dan menggoda suaminya dengan manja. Nathan hanya bisa membalas pelukan istrinya dengan senyum lembut, memahami perasaan wanita yang menjadi pendamping hidupnya tersebut.

Nathan menatap Zira dengan senyum tipis di wajahnya, suaranya terdengar berat saat berbicara, mencerminkan kombinasi antara kehangatan dan godaan. "Apa aku boleh meminta hakku sekarang, hmm?" ucapnya pelan, mengarah pada istrinya yang duduk di pangkuannya dengan ekspresi main-main.

Zira, yang sejak tadi memperhatikan suaminya dengan sorot mata jenaka, menjawab dengan santai namun penuh kehangatan. "Sebagai istri yang baik, tentu saja boleh," balasnya sambil tersenyum, memberikan persetujuan yang halus namun tegas.

Mendengar jawaban yang selama ini ia tunggu, Nathan tanpa ragu mendekati Zira. Dengan gerakan lembut namun pasti, ia menggendong sang istri sebelum merebahkannya di atas tempat tidur. Wajah Nathan terlihat serius namun penuh cinta ketika ia membungkuk mendekat. "Kamu sudah siap, Dek? Karena Mas nggak akan berhenti di tengah jalan," ucapnya dengan suara rendah namun penuh makna.

Zira hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dirinya siap berbagi momen spesial bersama suaminya. Melihat anggukan itu, Nathan tidak langsung melanjutkan. Sebaliknya, ia justru menghentikan sejenak kegiatannya untuk mengajak istrinya melakukan sesuatu terlebih dahulu. "Sebelum kita lanjutkan, yuk kita baca doa dulu supaya semua ini mendapatkan berkah dari Allah," katanya dengan nada tulus, menciptakan suasana yang lebih dalam dan penuh makna.

Zira menatap Nathan dengan tatapan hangat, menganggukkan kepala dan berkata lirih, "Iya, Mas, ayo." Mereka lalu secara bersamaan melafalkan doa dengan penuh khidmat, "Bismillāhi, Allāhumma jannibnasy-syaithāna wa jannibisy-syaithāna mā razaqtanā."

Begitu selesai membaca doa, Nathan bangkit dari posisinya dan perlahan mematikan lampu utama. Kini hanya cahaya redup dari lampu kamar tidur yang menemani ruangan itu, menciptakan atmosfer intim dan tenang. Dalam suasana malam yang penuh kedamaian itu, Nathan dan Zira saling mencurahkan perasaan cinta dan kasih sayang mereka, mempererat ikatan yang selama ini telah mereka bangun dengan penuh kesungguhan dan kehangatan. Malam itu menjadi momen berharga di mana cinta mereka menemukan manifestasi dalam kebersamaan yang tulus.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!