NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 4

Aroma teh *Earl Grey* yang mengepul dari cangkir porselen tipis itu seharusnya memberikan ketenangan, namun di ruang tamu utama kediaman Eldersheath, uapnya justru terasa seperti kabut yang mencekam.

Ruangan itu begitu luas, dengan langit-langit yang dihiasi lukisan *fresco* para pahlawan kuno, namun keheningan yang menyelimuti tempat itu membuatnya terasa lebih sempit dari sel penjara.

Elisa Eldersheath duduk di kursi utama yang berukir kepala singa, punggungnya tegak lurus, memancarkan aura otoritas yang tidak tergoyahkan.

Di hadapannya, Elara duduk dengan tangan yang saling meremas di pangkuannya.

Ilwa telah dibawa pergi oleh seorang pelayan menuju kamar bayi, menjauhkan sang bayi dari ketegangan yang mulai merayap di udara.

Seorang pelayan masuk dengan langkah yang nyaris tak terdengar, meletakkan nampan perak berisi teko teh dan camilan kecil di atas meja marmer.

Begitu pelayan itu membungkuk dan menghilang di balik pintu ganda yang berat, kesunyian kembali menyergap, hanya menyisakan denting jarum jam besar di sudut ruangan.

Elisa menyesap tehnya perlahan, matanya yang tajam menatap lurus ke arah putrinya tanpa emosi.

"Jadi," suara Elisa memecah keheningan, dingin dan berwibawa. "Apakah sudah ada kabar darinya?"

Elara menundukkan kepalanya, helai rambutnya menutupi ekspresi wajahnya yang mulai goyah.

Ia tahu persis siapa yang dimaksud oleh ibunya. "Belum ada, Ibu. Surat terakhir yang kuterima sudah berusia berbulan-bulan yang lalu."

Elisa meletakkan cangkirnya ke piring kecil dengan denting logam yang tajam. "Jika dalam waktu satu tahun ke depan tidak ada satu pun kabar darinya, dia akan secara resmi dinyatakan mati oleh hukum keluarga. Dan setelah itu, kau akan segera bertunangan kembali."

Kalimat itu menghantam Elara seperti godam godam perang.

Ia mendongak dengan mata yang melebar, napasnya tertahan di tenggorokan. "Apa maksudmu, Ibu?! Menyatakannya mati? Dia sedang menjalankan tugas, dia sedang berjuang!"

Wajah Elisa mengeras. Matanya berkilat dengan kemarahan yang tertahan. "Jaga bicaramu, Di dalam ruangan ini, dan di hadapan dewan keluarga, panggil aku dengan sebutan **Matriark**. Ingat itu, Elara. Jangan biarkan ikatan darah membuatmu lupa pada hierarki."

Elara menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa... kenapa kau begitu ingin aku bercerai darinya, Matriark? Kenapa kau sangat membencinya?"

Sosok yang mereka bicarakan adalah **Rovelt**, suami Elara.

Seorang pria yang tidak memiliki gelar megah di belakang namanya, seorang ksatria berbakat namun berasal dari kalangan rakyat biasa yang berhasil memenangkan hati putri seorang Duke melalui keberanian dan ketulusannya.

Elisa mendengus, sebuah tawa kering yang penuh penghinaan keluar dari sela bibirnya. "Kau pikir aku sudi memiliki menantu seorang rakyat jelata sepertinya? Darah Eldersheath adalah darah murni, darah yang telah membangun kerajaan ini selama berabad-abad. Seharusnya kau bersyukur karena sebagai darah dagingku, aku masih memberikan izin bagi kalian untuk menikah sementara waktu waktu itu. Itu adalah kelemahan sesaatku sebagai seorang ibu, dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

"Tapi Rovelt mencintaiku! Dia adalah ayah dari Ilwa!" Elara berseru, suaranya bergetar karena emosi yang tidak lagi terbendung. "Kau tidak bisa seenaknya menyatakan seseorang mati hanya karena dia belum mengirim kabar dalam setahun!"

"Aku bisa, dan aku akan melakukannya," Elisa berdiri dari kursinya, bayangannya jatuh menutupi tubuh Elara yang tampak kecil di hadapannya.

"Ini adalah perintahku. Tahun depan, jika kabar tidak kunjung datang, kau akan bertunangan dengan putra mahkota dari **Keluarga Blackwood**. Mereka adalah satu-satunya keluarga Duke yang setara dengan kita dalam hal kekayaan dan kekuatan militer. Itu adalah persatuan yang dibutuhkan keluarga ini, bukan pernikahan sampah dengan ksatria kelas rendah."

"Aku tidak mau!" Elara berteriak, air mata kini mengalir deras membasahi pipinya. "Aku sudah punya anak! Aku punya Ilwa! Bagaimana mungkin aku menikah dengan orang lain dan mengkhianati suamiku sendiri?"

Elisa melangkah mendekat, auranya begitu menekan hingga Elara merasa sulit untuk bernapas. "Jangan khawatirkan anak itu. Ilwa akan tetap tinggal di sini, tapi dia tidak akan berada di bawah asuhanmu lagi. Dia akan diberikan kepada salah satu pelayan senior di kediaman ini untuk dirawat dan dididik sebagai ksatria pelayan keluarga. Kau tidak akan memiliki hak asuh atasnya lagi setelah kau menikah dengan Blackwood."

Dunia seolah runtuh bagi Elara. Ia bangkit dari duduknya dengan kaki yang gemetar, menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya. "Kenapa... kenapa kau begitu kejam? Aku adalah ibu kandungnya! Bagaimana mungkin kau memisahkan seorang ibu dari anak yang baru saja ia lahirkan?"

"Karena kau harus fokus pada tugas barumu sebagai istri seorang Blackwood. Kita tidak butuh pengingat akan kesalahan masa lalumu yang memalukan itu berkeliaran di sekitarmu," Elisa berkata dengan nada yang sangat datar, seolah-olah ia sedang membicarakan bisnis logistik dan bukan tentang memisahkan seorang ibu dan anak.

"Keputusanku sudah bulat, Elara. Tidak ada ruang untuk negosiasi atau perdebatan. Bersiaplah, karena waktu satu tahun akan berlalu lebih cepat dari yang kau bayangkan."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Elisa membalikkan tubuhnya.

Jubah mahalnya berdesis di atas lantai saat ia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang mantap dan dingin, meninggalkan jejak kekuasaan yang tak tergoyahkan.

Begitu pintu tertutup, Elara jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin.

Isak tangisnya pecah, memenuhi ruangan yang sunyi itu dengan suara keputusasaan yang menyayat hati.

Ia memeluk dirinya sendiri, membayangkan wajah mungil Ilwa yang tidak tahu apa-apa tentang badai yang sedang disiapkan oleh neneknya sendiri.

Di dalam kamar bayi, sang legenda yang bereinkarnasi itu tidak tahu bahwa takdir barunya sedang ditarik ke dalam pusaran intrik yang bahkan lebih gelap daripada perang yang pernah ia lalui sebelumnya.

Seorang ibu yang hancur, seorang ayah yang hilang, dan seorang nenek yang merupakan iblis strategi—Ilwa kini berada di pusat dari sebuah tragedi yang baru saja dimulai.

----

Lantai marmer yang dingin seolah menyedot seluruh kehangatan dari tubuh Elara.

Isak tangisnya perlahan mereda, menyisakan napas yang tersengat dan mata yang sembab kemerahan.

Kepergian Elisa meninggalkan luka yang menganga, sebuah vonis yang lebih tajam dari bilah pedang mana pun.

Di rumah semegah ini, Elara merasa seperti burung dalam sangkar emas yang sedang menunggu sayapnya dipatahkan.

Ia masih terduduk bersimpuh, menatap kosong ke arah pintu yang tadi dilalui ibunya, sampai sebuah bayangan lembut menutupi cahaya lampu gantung di atasnya.

"Nyonya Elara..." suara seorang pelayan memecah keheningan dengan nada yang sangat hati-hati.

Elara mengusap air matanya dengan gerakan cepat, mencoba memulihkan martabat bangsawan yang masih tersisa dalam dirinya. "Ada apa? Bukankah sudah kubilang aku ingin sendiri?"

"Maafkan saya, Nyonya. Namun, ada seorang tamu agung yang baru saja tiba di gerbang. Beliau datang tanpa pengawalan besar, namun penjaga tidak berani menahannya," lapor pelayan itu dengan suara rendah.

Elara mengernyitkan dahi. Di tengah badai yang dibawa ibunya, siapa yang berani berkunjung tanpa janji? "Siapa dia?"

"Beliau adalah **Saint Benedictus von Aethelgard**, Yang Mulia dari Orde Cahaya Suci."

Mendengar nama itu, Elara terkesiap. Seluruh kesedihannya seolah tertutup oleh rasa hormat yang mendalam.

Benedictus bukan sekadar pemuka agama; ia adalah sosok yang dihormati di seluruh Benua Vera, seorang pria yang doanya konon didengar langsung oleh para dewa dan kekuatannya mampu menyembuhkan luka yang paling mematikan sekalipun.

Tanpa membuang waktu, Elara merapikan gaunnya dan bergegas menuju serambi depan.

---

Di depan pintu utama yang menjulang tinggi, berdiri seorang pria dengan perawakan yang memancarkan ketenangan luar biasa. Benedictus mengenakan jubah panjang berwarna putih gading dengan sulaman benang emas yang membentuk pola sayap di bagian dadanya.

Sebuah stola berwarna merah darah tersampir di bahunya, melambangkan pengorbanan dan perlindungan.

Wajahnya tampak paruh baya, dengan janggut rapi yang mulai memutih dan mata berwarna biru jernih yang tampak seperti danau yang tenang.

Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah tongkat kayu tua yang di puncaknya tertanam kristal mana murni yang bersinar redup. Atmosfer di sekitarnya terasa begitu suci, seolah-olah udara yang ia hirup pun telah disucikan.

"Saint Benedictus," Elara membungkuk dalam-dalam, sebuah penghormatan yang tulus. "Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa. Maafkan saya karena tidak menyambut Anda dengan layak di gerbang."

Benedictus tersenyum, sebuah senyuman yang begitu hangat hingga Elara merasa beban di dadanya sedikit terangkat. "Bangunlah, Nak. Aku datang bukan sebagai pejabat Orde, melainkan sebagai seorang musafir yang ingin berbagi berkat. Kudengar dari angin sepoi bahwa sebuah nyawa baru telah mekar di keluarga Eldersheath. Aku merasa berdosa jika tidak datang menjenguknya."

Elara terenyuh. "Anda sangat baik, Yang Mulia. Mari, silakan masuk. Anak saya, Ilwa, sedang berada di kamarnya."

---

Sementara itu, di lantai atas, di dalam kamar bayi yang tenang, Ilwa—jiwa Albus—sedang menatap langit-langit dengan dahi berkerut. Matanya yang tajam tidak mencerminkan jiwa seorang bayi.

"Elisa sudah begitu tua..." pikirnya

berulang-ulang.

"Jika dia yang dulunya berada di puncak masa mudanya kini telah menjadi seorang Matriark yang keriput, maka teori 'reinkarnasi instan' milikku sudah pasti salah. Aku tidak hanya mati; aku menghilang dari dunia ini untuk waktu yang sangat lama."

Albus mencoba mengingat-ingat catatan sejarah.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi seorang penyihir setingkat Elisa untuk menua secara alami jika ia tidak menggunakan sihir keabadian?

*Tiga puluh tahun? Empat puluh tahun?* Hatinya mencelos. *Jika sudah empat puluh tahun berlalu, maka musuh-musuhku yang lain mungkin sudah mati karena usia, atau mereka telah menjadi monster yang tak tersentuh. Kerajaan-kerajaan yang aku hancurkan mungkin sudah bangkit kembali. Emelegrand yang kukenal... mungkin sudah tidak ada lagi.*

Pikiran itu membuatnya kesal. Ia benci ketidaktahuan.

Ia merasa seperti seorang jenderal yang terbangun di medan perang yang sudah berubah total petanya.

Tiba-tiba, telinga tajamnya menangkap suara langkah kaki yang mendekat.

Suara langkah ibunya yang ringan, dibarengi dengan langkah lain yang terasa sangat berat namun stabil—langkah kaki seseorang yang memiliki kontrol mana yang sempurna.

*Pintu terbuka.*

"Sebelah sini, Saint," suara Elara terdengar lembut.

Ilwa menolehkan kepalanya.

Matanya langsung tertuju pada pria berjubah putih yang melangkah masuk di belakang ibunya.

Detik itu juga, insting Albus berteriak. Ia merasakan kehadiran mana yang sangat murni, jenis mana yang biasanya hanya dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidupnya pada kuil dewa.

*Seorang Saint?* batin Ilwa waspada. *Seorang pastor tingkat tinggi di kamar bayiku?"

Elara mendekati ayunan, lalu dengan lembut mengangkat Ilwa ke dalam pelukannya. Ia memperlihatkan putra kecilnya itu kepada sang tamu dengan wajah bangga yang tersisa di balik sisa-sisa kesedihannya.

"Ini adalah anakku, Yang Mulia. Namanya Ilwa," ucap Elara dengan nada penuh kasih.

Saint Benedictus melangkah maju. Ia meletakkan tongkatnya dan mencondongkan tubuh, menatap langsung ke dalam mata Ilwa. Ilwa mencoba bersikap senatural mungkin, namun ia merasa tatapan pria tua ini seolah-olah sedang menguliti setiap lapisan rahasianya.

Benedictus terdiam cukup lama, senyumnya tidak memudar, namun matanya menunjukkan kilatan rasa ingin tahu yang mendalam.

Di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti berputar saat dua jiwa dari spektrum yang berbeda—seorang suci yang diberkati dan seorang 'iblis' yang terlahir kembali—saling menatap dalam keheningan yang menyesakkan.

"Ilwa..." bisik Benedictus pelan, suaranya seperti gema di dalam kepala Ilwa. "Nama yang unik untuk jiwa yang... sangat kuat."

Ilwa hanya bisa terdiam

Bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!