Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Resonansi Sunyi
Detak ribuan jam di dinding bengkel itu tidak pernah terdengar sesunyi ini. Biasanya, suara itu adalah musik bagi Sora, sebuah pengingat bahwa hidup terus berjalan. Namun malam ini, setiap denting tik-tok terasa seperti ejekan. Seolah-olah setiap mesin kecil di sana sedang menghitung berapa banyak waktu yang telah Sora sia-siakan untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak melihatnya sebagai tujuan.
Sora menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Matanya pedih, bukan hanya karena cahaya lampu meja yang terlalu terang, tapi karena kebenaran yang baru saja ia telan bulat-bulat.
Ia mengambil arloji Liora yang baru saja selesai ia bersihkan kacanya. Di bawah cahaya lampu, inisial E & L di bagian dalam logam itu berkilat, seolah menertawakan jemari Sora yang baru saja mempercantik barang milik saingannya.
"Kenapa aku tidak bisa berhenti?" bisik Sora pada keheningan.
Tiba-tiba, suara ketukan di kaca depan bengkel mengejutkannya. Sora menoleh. Di luar, hujan turun semakin deras, memburamkan pemandangan jalanan kota yang mati. Namun, ia mengenali bayangan tinggi yang berdiri di balik pintu kaca.
Bukan Ezra. Bayangan itu terlalu tegap dan diam.
Sora berdiri dan membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit dan hujan langsung menyerbu masuk. Hael Arlo berdiri di sana dengan jaket denim yang basah kuyup, memegang dua gelas kopi kertas yang masih mengepulkan uap.
"Toko antikku sudah tutup sejak dua jam lalu, tapi lampumu masih menyala," ucap Hael tanpa basa-basi. Suaranya berat, kontras dengan denting jam yang tipis.
Sora menepi, memberi jalan bagi Hael untuk masuk. "Aku harus menyelesaikan ini sebelum pagi. Ezra berangkat besok."
Hael mendengus, ia meletakkan kopi itu di meja kerja Sora—tepat di samping arloji Liora. "Ezra lagi. Kamu tahu, Sora? Kadang aku bingung, kamu ini kurator jam atau kurator perasaannya yang patah?"
Sora tidak menjawab. Ia meraih salah satu kopi, merasakan kehangatan gelas itu merambat ke telapak tangannya yang kaku. "Ini pekerjaan, Hael. Dia membayarku."
"Dia membayarmu dengan harapan kosong, dan kamu menerimanya seolah itu emas batangan," balas Hael tajam. Ia menarik sebuah kursi, duduk tanpa diminta, dan menatap arloji di atas meja. "Jam milik Liora Thalassa. Balerina yang membuat sahabatku—yang malangnya kau cintai—menjadi gila."
Sora menyesap kopinya. Pahit. Persis seperti hatinya malam ini. "Hael, berhenti bersikap seolah kamu tahu segalanya."
"Aku tahu satu hal yang tidak kamu sadari," Hael mencondongkan tubuh, matanya yang gelap menatap Sora dengan intensitas yang membuat Sora ingin berpaling. "Kamu begitu sibuk memastikan waktu Ezra tidak berhenti, sampai kamu lupa bahwa waktumu sendiri sudah membeku sejak lama."
Hael merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah koin tua yang permukaannya sudah halus karena usia. Ia meletakkannya di depan Sora.
"Ini koin dari tahun 1920. Zaman di mana orang-orang masih menghargai perpisahan dengan hormat, bukan dengan cara menggantung seseorang di ruang tunggu," kata Hael. "Simpan itu. Saat kamu merasa waktumu benar-benar habis untuknya, lempar koin itu. Jika kepalanya yang muncul, berhentilah. Jika ekornya, berlarilah lebih jauh—tapi jangan ke arah Ezra."
Sora menatap koin itu, lalu menatap Hael. "Kenapa kamu melakukan ini?"
"Karena aku benci melihat barang bagus rusak. Dan bagiku, kamu adalah satu-satunya hal yang paling berharga di jalanan tua ini yang sedang rusak parah," ucap Hael sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu.
Begitu Hael pergi, kesunyian kembali menyergap. Sora menggenggam koin itu erat-hadap. Dingin.
Pukul empat pagi. Sora akhirnya merebahkan kepalanya di meja kerja, di antara koin pemberian Hael dan jam milik Liora. Ia tertidur dalam lelah yang teramat sangat, bermimpi tentang sebuah panggung balet di Paris di mana ia berdiri di tengah kegelapan, sementara Ezra sedang memasangkan arloji ke tangan Liora di bawah cahaya lampu sorot yang megah.
Dalam mimpi itu, Sora ingin berteriak, tapi suaranya kalah oleh detak jam yang tiba-tiba berhenti serentak.