NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAGI SETELAH

Ada perbedaan antara pagi hari yang biasa dan pagi hari yang terasa seperti pertama dari sesuatu yang baru.

Arsa menyadari perbedaan itu ketika ia terbangun di sofa studio Wren — sofa kecil yang tidak dirancang untuk ditiduri orang dewasa tapi yang entah kenapa cukup nyaman semalam karena tidak ada yang ingin mengakhiri malam itu — dengan cahaya pagi masuk miring dari celah tirai yang tidak pernah menutup sempurna.

Celah tirai yang sama yang tidak pernah diperbaiki Wren karena ia suka cahayanya.

Dari dapur terdengar suara yang sudah sangat familiar — cangkir, air mendidih, bunyi laci yang ditutup dengan pelan. Aroma teh yang mulai mengisi ruangan.

Ia duduk. Meregangkan lehernya. Menatap ruangan yang sudah sangat ia kenal tapi terasa berbeda pagi ini — bukan berbeda asing, tapi berbeda seperti ruangan yang sudah pernah dikunjungi dan sekarang pertama kali benar-benar dihuni.

Kotak kayu ada di meja. Sudah kosong sekarang — semua dua belas amplop sudah dibuka. Kotak yang dimulai segalanya.

Wren muncul dari dapur dengan dua cangkir. Ia melihat Arsa sudah bangun dan tidak terkejut. "Tidur bagaimana?"

"Sofa Anda menyiksa."

"Saya sudah bilang ada kasur di kamar."

"Anda bilang itu sudah jam satu pagi, saya sudah setengah tidur.

Wren duduk di beanbag ungu — posisi yang terasa natural, posisi yang sudah punya penghuni tetap. Menyerahkan satu cangkir teh. "Hari ini ada apa di jadwal Anda?"

"Bertemu Ibu Sari untuk review rekonstruksi. Sore." Arsa menerima teh itu. "Pagi kosong."

"Mau ke toko Pak Suryadi?"

"Apakah Pak Suryadi sudah tahu tentang kemarin malam?"

"Pak Suryadi tahu segalanya tentang rumah ini tanpa pernah diceritakan." Wren menyesap tehnya. "Ia akan berpura-pura tidak tahu sambil tersenyum sepanjang pagi."

Arsa tersenyum ke cangkirnya. "Itu kedengarannya tepat."

Mereka duduk dalam diam pagi yang berbeda dari diam-diam malam mereka yang sebelumnya — lebih ringan, lebih bersih, seperti diam yang tidak menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang ada sudah menemukan jawabannya. Yang tersisa adalah hal-hal ke depan, dan itu terasa seperti ruang terbuka daripada ketidakpastian.

"Wren," kata Arsa.

"Hm?"

"Surat Raka yang terakhir — ini surat terakhir yang aku tulis tanpa mengirim. Setelah ini, kalau aku punya hal yang ingin kamu tahu — aku akan bilang langsung. "Arsa menatap kotak kayu yang kosong. "Ia memutuskan itu. Tapi tidak sempat melakukannya."

Wren mendengarkan.

"Saya ingin melakukannya," kata Arsa. "Untuk dia juga. Melakukan yang tidak sempat ia lakukan — bukan sebagai pengganti, tapi sebagai — sebagai cara menghormati keputusan yang ia buat." Ia mengangkat matanya ke Wren. "Tidak ada kotak lagi yang tidak dibuka. Tidak ada kata-kata yang tersimpan karena takut salah timing."

Wren menatapnya cukup lama.

"Raka akan suka kamu," katanya akhirnya.

Kalimat yang sederhana tapi efeknya tidak. Arsa merasakan sesuatu di dadanya yang tidak bisa ia namai tapi yang terasa seperti sebuah lingkaran yang akhirnya menutup — bukan berakhir, tapi lengkap.

"Saya rasa Dito juga," katanya.

Enam minggu sebelum pembukaan pameran — yang dijadwalkan di sebuah galeri kecil di Cikini yang sudah lama tidak digunakan dan yang ditemukan Ibu Sari melalui kenalannya, bangunan tua dengan dinding bata yang terasa tepat untuk kisah yang akan diceritakan di dalamnya — Arsa dan Wren masuk ke mode yang tidak pernah ada di deskripsi pekerjaan keduanya tapi yang ternyata sangat cocok untuk cara mereka bekerja.

Arsa mengerjakan teks — narasi dinding, teks panel, urutan kisah yang akan membawa pengunjung dari satu ruang ke ruang berikutnya. Wren mengerjakan audio — bukan hanya rekaman suara untuk dipasang di speaker, tapi desain pengalaman suara yang akan mengisi setiap sudut galeri secara berbeda. Ruang foto Dito akan punya suara berbeda dari ruang surat Raka, ruang jurnal Pak Wahyu berbeda lagi, dan ruang Akhirnya di ujung — ruang menulis surat — akan punya ketenangan yang disengaja.

Ibu Sari mengurus logistik dengan efisiensi yang sudah menjadi bahasanya. Sari mengurus koordinasi dengan galeri. Ibu Ratna, yang berkunjung ke Jakarta dua kali selama persiapan ini, memberikan kontribusi yang tidak ada di job description manapun: ia duduk di galeri yang masih kosong dan bercerita kepada Arsa tentang hal-hal kecil tentang Raka yang tidak ada di dokumen manapun. Cara Raka menyusun sepatunya selalu dengan ujung rata ke dinding. Cara ia selalu mengambil buku dari rak dari bawah ke atas, bukan dari kiri ke kanan. Hal-hal yang tidak akan masuk ke teks panel tapi yang membuat Arsa menulis semuanya dengan lebih hidup.

Foto-foto Dito dicetak dalam berbagai ukuran — tujuh belas foto, dipilih bersama oleh Arsa dan Wren dan Ibu Sari dalam sesi tiga jam yang dimulai sebagai rapat tapi berakhir sebagai sesuatu yang lebih mirip ritual. Setiap foto ada ceritanya. Setiap foto ada alasan dipilihnya.

Foto langit melalui sela daun — dipasang di pintu masuk ruang pertama. Foto bintang tunggal di sudut atas — di dinding paling jauh yang pertama terlihat ketika masuk. Foto hujan dengan siluet di pojok bawah — di posisi yang membuat pengunjung harus berhenti dan melihat lebih dekat untuk menemukannya.

Wren yang memilih posisi foto itu.

"Di posisi ini," katanya sambil menunjuk dinding, "orang akan melihat foto hujannya dulu. Baru setelah dua atau tiga langkah mendekat, mereka akan melihat siluet di pojok. Seperti cara mereka menemukan Raka dalam cerita ini — ada dari awal, tapi perlu diperhatikan untuk terlihat."

Arsa menatap dinding kosong itu, membayangkan foto di sana.

"Sempurna," katanya.

Di tengah persiapan itu, ada satu hari Rabu ketika Arsa dan Wren berada di galeri kosong sampai larut malam — bukan karena ada yang harus diselesaikan tapi karena mereka ingin duduk diam di ruang yang akan menjadi pameran sebelum ia menjadi pameran.

Duduk di lantai kayu tua galeri dengan lampu kerja yang seadanya, dengan sketsa tata letak di antara mereka dan kopi dingin yang tidak ada yang minum lagi.

"Wren," kata Arsa.

"Hm?"

"Setelah pameran ini selesai." Ia menatap dinding yang masih kosong. "Proyek rekonstruksi berikutnya sudah ada yang menghubungi saya. Keluarga dari Surabaya."

"Dan?"

"Dan saya akan ambil." Ia berpaling ke Wren. "Tapi saya tidak mau mengambilnya dan kemudian tidak bertemu kamu selama tiga bulan karena tenggelam dalam kisah orang lain lagi."

Wren menatapnya. "Saya tidak pergi kemana-mana, Arsa."

"Saya tahu. Tapi saya sudah terlalu lama hidup dengan cara masuk ke dalam kisah orang lain dan meninggalkan kisah saya sendiri di pause." Ia menarik napas. "Saya tidak mau pause lagi."

Wren diam sebentar. Lalu ia berpindah posisi — duduk lebih dekat, bahu mereka hampir menyentuh di lantai galeri itu. "Saya juga tidak mau anonim terus."

"Sudah tidak, kan?"

"Di podcast masih."

"Tapi di kehidupan nyata?"

Wren tersenyum ke depan — ke dinding kosong galeri. "Di kehidupan nyata sudah sangat tidak anonim." Ia menoleh ke arah Arsa. "Dan itu ternyata tidak se-menakutkan yang saya pikirkan."

Arsa menatapnya dalam cahaya lampu kerja yang kuning dan tidak sempurna.

"Wren Amara," katanya — nama lengkapnya, yang pertama kali ia sebut seperti ini.

"Arsa Kalandra," balas Wren dengan nada yang sama.

"Terima kasih sudah menemukan kotak itu."

Wren tertawa — tawa kecil yang hangat, jenis tawa yang tidak punya pretensi. "Terima kasih sudah membalas komentar itu adikku tengah malam."

Arsa tersenyum. Di galeri kosong yang akan menjadi penuh, di kota yang tidak tidur di luar, dengan kisah empat orang yang berbeda yang akan segera bisa disentuh oleh jutaan orang yang tidak mengenal satu pun dari mereka secara langsung —

Dua orang duduk bahu-bahu di lantai dan tidak ingin pergi ke mana-mana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!