NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15: Pengakuan Kaisar Pedang

Gerbang makam leluhur Sekte Teratai Hitam berdiri di hadapan mereka, terkubur jauh di bawah ngarai tersembunyi yang dikenal sebagai Lembah Keheningan. Pintu raksasa setinggi tiga puluh meter itu terbuat dari batu andesit kuno yang dipenuhi dengan ukiran bunga teratai yang tampak layu, namun memancarkan aura tekanan yang membuat napas Yue Yin terasa sesak.

​Li Chen berdiri di sampingnya, jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin. Setelah melahap energi dari tiga ahli Jiwa Baru dan Cermin Matahari Suci, aura Li Chen tidak lagi meledak-ledak. Sebaliknya, ia terasa seperti sebuah jurang yang dalam dan sunyi; jika seseorang menatap matanya terlalu lama, mereka akan merasa jiwa mereka tersedot masuk ke dalam kegelapan yang tak berujung.

​"Ini tempatnya," bisik Yue Yin. Tangannya yang memegang Kunci Inti Teratai gemetar. "Legenda mengatakan bahwa di balik pintu ini, terdapat 'Darah Dewa Teratai' yang bisa membangkitkan kembali kejayaan sekte kami. Tapi... aku merasa ada sesuatu yang salah, Li Chen."

​Li Chen tidak segera menjawab. Ia menatap ukiran teratai itu, namun matanya yang memiliki pupil bintang perak melihat lebih dari sekadar batu. Ia melihat jaring-jaring energi merah yang saling bertautan, membentuk segel yang sangat rumit—sebuah segel yang tidak hanya mengunci pintu, tapi juga menyegel kebenaran sejarah.

​"Masuklah, Nak. Waktunya kau mengetahui alasan mengapa dunia ini begitu membencimu," suara Kaisar Pedang terdengar di dalam benak Li Chen. Suaranya tidak lagi dingin atau sombong; ada nada penyesalan yang berat, seperti beban seribu tahun yang akhirnya harus diletakkan.

Li Chen menempelkan telapak tangannya pada pintu batu tersebut. Menggunakan Kunci Inti Teratai sebagai perantara, ia mengalirkan Qi hitamnya. Pintu itu bergetar hebat, mengeluarkan suara gemuruh yang meruntuhkan bebatuan di sekeliling ngarai. Perlahan, pintu itu terbuka, menyingkap sebuah lorong panjang yang dihiasi oleh obor api abadi yang menyala dengan warna ungu.

​Mereka berjalan masuk melewati ribuan kerangka yang duduk bersila di sisi kiri dan kanan lorong—para pengawal makam yang memilih mati demi menjaga rahasia ini. Di ujung lorong, terdapat sebuah aula bundar dengan kolam darah yang mengering di tengahnya. Di atas kolam itu, melayang sebuah pedang tanpa bilah, hanya gagang kuno yang terbuat dari tulang naga.

​"Itu... bukan pusaka Teratai," Yue Yin terperangah. "Itu adalah..."

​"Itu adalah Pedang Takdir Sembilan Bintang," potong suara Kaisar Pedang. Kali ini, bayangan transparan sang kaisar muncul di samping Li Chen, tampak lebih nyata dan padat dari sebelumnya.

​Yue Yin tersentak mundur, melihat sosok legendaris yang auranya mampu membuat ranah Jiwa Baru pun berlutut. "Kaisar Pedang...?"

​Kaisar Pedang mengabaikan Yue Yin. Matanya yang tajam menatap Li Chen. "Nak, selama ini kau bertanya-tanya mengapa orang tuamu, yang kau anggap hanya petani rendahan di pinggiran Sekte Azure, dibunuh oleh para ahli dari Benua Tengah. Kau pikir itu hanya karena peta makam ini?"

​Li Chen mengepalkan tangannya. "Katakan padaku."

​Kaisar Pedang menghela napas, dan bayangan di sekeliling aula mulai berubah, menciptakan proyeksi masa lalu. Li Chen melihat sebuah desa kecil yang damai, namun desa itu tiba-tiba dikepung oleh ribuan prajurit berjubah emas dari Sekte Pedang Langit dan berbagai faksi besar lainnya.

​"Ayahmu bukan hanya seorang petani," kata Kaisar Pedang lirih. "Namanya adalah Li Ye, jenderal terakhir dari klan pengawal garis keturunan Iblis Bintang. Dan ibumu... ibumu adalah Dewi Teratai, putri tunggal dari sekte yang sekarang sedang dicari oleh Yue Yin."

​Yue Yin menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir. "Jadi... Li Chen adalah... sepupuku? Pewaris sah yang sebenarnya?"

​"Bukan hanya itu," lanjut Kaisar Pedang. "Mereka dibantai bukan karena mereka jahat. Mereka dibantai karena kau lahir, Li Chen. Saat kau lahir, fenomena Sembilan Bintang Menelan Matahari terjadi di seluruh Benua Awan Sembilan. Langit bergetar, dan para Dewa di Langit Atas merasa terancam. Mereka mengirimkan titah ke seluruh sekte besar: Hancurkan benih Iblis Bintang sebelum ia mekar."

​Li Chen melihat proyeksi ibunya dalam visi itu. Seorang wanita cantik dengan senyum lembut yang sedang memeluk seorang bayi dengan tanda bintang di dahinya. Ia melihat ibunya menyerahkan bayi itu kepada seorang pelayan setia dan menyuruhnya lari ke perbatasan terjauh—Sekte Azure—sebelum ia sendiri meledakkan Inti Emas-nya untuk menahan ribuan pengejar.

​"Orang tuamu mengorbankan segalanya, termasuk martabat dan kekuatan mereka, hanya agar kau bisa hidup sebagai orang biasa dengan meridian yang dikunci," Kaisar Pedang menundukkan kepalanya. "Aku adalah orang yang membantu ayahmu menyegel meridianmu. Aku pikir, jika kau tidak bisa berkultivasi, kau akan aman dari mata Langit. Tapi takdir... takdir punya cara untuk menarikmu kembali ke jalurnya."

​Aula itu menjadi sangat sunyi. Li Chen berdiri terpaku, menatap bayangan ibunya yang perlahan memudar. Selama ini ia merasa dunia tidak adil padanya, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa keberadaannya sendiri adalah alasan mengapa orang-orang yang paling mencintainya harus mati dalam penderitaan.

​"Jadi," suara Li Chen terdengar serak, dipenuhi dengan kemarahan yang ditekan. "Sekte Pedang Langit, Sekte Azure, dan semua dewa yang duduk di atas sana... mereka semua adalah algojo keluargaku hanya karena mereka takut padaku?"

​"Ya," jawab Kaisar Pedang. "Dan alasan aku memilihmu di dasar jurang itu bukan karena kebetulan. Aku adalah penyebab kehancuran klanmu sepuluh ribu tahun yang lalu. Aku ingin menebus dosaku dengan menjadikanmu penguasa yang akan menghancurkan sistem yang busuk ini."

​Li Chen berjalan menuju gagang pedang tulang naga di tengah kolam. Setiap langkahnya membuat aula itu berguncang. Aura hitam di sekelilingnya kini bercampur dengan kilatan cahaya merah darah—manifestasi dari kebencian dan kehendak ibunya yang tersegel di dalam makam ini.

​"Mereka ingin menghancurkan benih ini sebelum mekar?" Li Chen menggenggam gagang pedang itu.

​Seketika, seluruh makam bergetar hebat. Darah kering di kolam itu mulai mengalir kembali, terserap masuk ke dalam tubuh Li Chen. Pedang Takdir Sembilan Bintang mengeluarkan bilah cahaya hitam-merah yang panjangnya mencapai tiga meter.

​"Kalau begitu," Li Chen mendongak, tatapannya menembus atap makam, menembus awan, seolah-olah menantang para dewa di balik langit. "Aku tidak akan hanya mekar. Aku akan menelan seluruh taman mereka dan mengubah surga mereka menjadi neraka!"

​BOOM!

​Tekanan energi dari tubuh Li Chen meledak, menghancurkan formasi segel terakhir di makam tersebut. Yue Yin terlempar mundur, namun ia melihat sesuatu yang membuatnya merinding. Di belakang Li Chen, sembilan bintang hitam muncul di udara, berputar membentuk lingkaran sempurna di belakang punggungnya.

​Ini bukan lagi ranah Inti Emas. Li Chen telah melompati batasan ranah dan menyentuh esensi dari Jiwa Iblis Bintang.

​Kedatangan Sang Matahari Murni

​Tepat saat pengakuan itu selesai, suara ledakan besar terdengar dari luar makam. Langit di atas Lembah Keheningan terbelah oleh cahaya keemasan yang jauh lebih kuat dari Cermin Matahari Suci.

​Sesosok pemuda mengenakan baju zirah emas murni turun dari langit, berdiri di atas naga cahaya yang memancarkan aura suci. Ia adalah Lin Feng, murid jenius nomor satu dari Sekte Pedang Langit, pemilik Tubuh Matahari Murni yang dikatakan sebagai reinkarnasi dewa perang.

​"Iblis Bintang," suara Lin Feng tenang namun membawa wibawa yang luar biasa. "Aku datang atas nama Langit untuk menyelesaikan apa yang gagal dilakukan para penatua di Lembah Racun. Serahkan nyawamu, dan aku akan memberikan pemakaman yang layak bagi makam leluhur ibumu."

​Li Chen melangkah keluar dari makam, menyeret pedang Takdir Sembilan Bintang yang meninggalkan goresan hitam di tanah. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan; hanya ada kedamaian yang mengerikan dari seseorang yang telah menerima takdirnya sebagai penghancur.

​"Lin Feng," kata Li Chen, suaranya bergema seperti ribuan jiwa yang menangis. "Kau bilang kau datang atas nama Langit? Bagus. Aku sudah bosan membunuh anjing-anjingnya. Mari kita lihat apakah 'Matahari' milikmu bisa bertahan saat aku menelan seluruh siangmu."

​Yue Yin berdiri di mulut makam, menggenggam Kunci Inti Teratai dengan erat. Ia menyadari bahwa pertempuran ini bukan lagi tentang sektenya, bukan lagi tentang pusaka. Ini adalah awal dari perang besar antara Kegelapan Abadi dan Cahaya Munafik yang telah memerintah benua ini selama puluhan ribu tahun.

​Kaisar Pedang kembali ke dalam liontin Li Chen, memberikan perintah terakhirnya. "Gunakan teknik Gerbang Ketujuh, Nak. Jangan beri dia kesempatan untuk bersinar."

​Li Chen menyeringai, memperlihatkan taring kecil yang mulai tumbuh di sudut bibirnya. "Aku tidak hanya akan menutup cahayanya, Senior. Aku akan memakannya sampai tidak tersisa satu percikan pun."

​Lin Feng mengangkat pedang emasnya, menciptakan matahari raksasa di atas kepalanya. "Matahari Murni: Penghakiman Surga!"

​Li Chen melesat ke langit, tubuhnya menjadi lubang hitam yang siap melahap matahari tersebut. "Seni Penelan Bintang: Sembilan Gerbang Pembantaian—Gerbang Ketujuh: Gerhana Abadi!"

​Kedua kekuatan paling ekstrem di Benua Tengah bertabrakan di atas Lembah Keheningan, menciptakan ledakan yang akan diingat oleh sejarah sebagai hari di mana siang hari berubah menjadi malam yang paling gelap selama tujuh hari tujuh malam.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!