NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Undangan Berdarah di Balik Kabut

​Matahari pagi tampak enggan menyinari Puncak Pedang Patah. Sinar pucatnya gagal menembus tirai kabut tebal yang menyelimuti area sekte, seolah langit pun tahu ada niat buruk yang sedang dirajut dalam kegelapan.

​Di ruang makan pelayan, suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Uap panas dari mangkuk-mangkuk bubur encer mengepul ke udara, namun tidak ada suara obrolan riuh seperti hari-hari sebelumnya.

​Setiap kali Shen Yuan menyendok buburnya, tatapan mata dari puluhan pelayan lain diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Tatapan itu bukan tatapan kagum, melainkan tatapan ngeri layaknya melihat mayat hidup yang sedang makan siang.

​Li Mu, yang duduk di seberang Shen Yuan, terus menundukkan kepalanya. Tangannya yang memegang sumpit bambu gemetar hingga terdengar suara klitik-klitik saat beradu dengan mangkuk keramik.

​"Yuan..." bisik Li Mu, suaranya nyaris tenggelam oleh suara angin di luar jendela. Ia tidak berani menatap wajah Shen Yuan. "Kau... kau sudah gila. Kabar dari Pelataran Bela Diri Luar menyebar sejak semalam. Lin Hai tidak bisa bangun dari ranjangnya. Tabib sekte bilang jalurnya bengkak parah."

​Shen Yuan menelan buburnya dengan tenang. Wajahnya tidak memancarkan emosi apa pun. "Itu kecelakaan, Mu. Lantainya sangat licin. Instruktur Han sendiri yang menyaksikannya."

​"Persetan dengan Instruktur Han!" Li Mu setengah mendesis, melirik panik ke sekeliling, takut ada yang mendengar umpatannya. "Instruktur Han memang melindungi nyawamu kemarin siang, tapi dia tidak akan menjagamu saat kau tidur! Keluarga Lin di pelataran luar sudah mengeluarkan ancaman tertutup. Tadi pagi, dua antek Lin Hai terlihat berbicara dengan Gou San di gerbang belakang."

​Gerakan menyendok Shen Yuan terhenti sepersekian detik.

​Gou San. Si Anjing Liar Gou San. Ia adalah murid luar tingkat rendahan yang usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Karena bakatnya mandek di Puncak Lapisan Keempat Kondensasi Qi, ia beralih profesi menjadi 'tukang pukul' dan pesuruh kotor bagi murid-murid kaya dari keluarga bangsawan. Ia terkenal kejam, licik, dan tidak pernah meninggalkan jejak.

​Jika Gou San dilibatkan, berarti Lin Hai tidak hanya ingin mematahkan kaki Shen Yuan. Lin Hai ingin nyawanya.

​"Terima kasih atas informasinya, Mu. Habiskan buburmu sebelum dingin," ucap Shen Yuan datar. Ia meletakkan sumpitnya, bangkit berdiri, dan berjalan membawa mangkuk kosongnya menuju area cuci. Di punggungnya, ia bisa merasakan tatapan iba dari Li Mu, seolah itu adalah perpisahan terakhir mereka.

​Di dunia kultivasi, simpati adalah barang mewah yang harganya terlalu mahal. Shen Yuan tidak menyalahkan Li Mu atau pelayan lain yang kini menjauhinya. Menjaga jarak dari orang yang akan mati adalah insting dasar manusia.

​Baru saja Shen Yuan melangkah keluar dari ruang makan, sesosok pria tegap menghalangi jalannya. Itu Mandor Zhao. Pria dengan bekas luka di pipi itu menatap Shen Yuan dengan ekspresi rumit—campuran antara rasa bersalah dan keputusasaan.

​"Mandor," Shen Yuan membungkuk hormat, seperti pelayan penurut pada umumnya.

​Mandor Zhao terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras sebelum ia akhirnya bersuara, suaranya serak dan pelan. "Shen Yuan. Persediaan Rumput Urat Es di Paviliun Alkimia hampir habis. Diakon Ma... secara khusus memerintahkan agar ada pelayan yang mencarinya hari ini di sekitar Air Terjun Beku di lereng utara."

​Angin berhembus kencang, menerbangkan beberapa helai daun pinus kering di antara mereka berdua.

​Lereng utara. Air Terjun Beku. Itu adalah area paling sepi, curam, dan terisolasi di seluruh Puncak Pedang Patah. Jika seseorang jatuh dan mati di sana, mayatnya baru akan ditemukan saat salju mencair enam bulan kemudian.

​Itu bukanlah sebuah tugas. Itu adalah undangan berdarah menuju lokasi eksekusi.

​Shen Yuan menatap tepat ke mata Mandor Zhao. Pria paruh baya itu memalingkan wajahnya, tidak sanggup menahan tatapan hitam legam milik pemuda di depannya. Mandor Zhao juga manusia biasa; ia hanya bidak yang ditekan oleh kekuasaan Diakon Ma. Menolak perintah Diakon berarti kehilangan pekerjaan, atau lebih buruk lagi, kehilangan nyawa.

​"Berapa keranjang yang dibutuhkan sekte, Mandor?" tanya Shen Yuan. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Tidak ada permohonan, tidak ada kemarahan.

​Mandor Zhao terhenyak. Ia menoleh kembali, menatap Shen Yuan dengan ketidakpercayaan. "K-Kau... tidak menolak? Air Terjun Beku sangat licin hari ini."

​"Jika itu perintah dari sekte, pelayan ini akan melaksanakannya." Shen Yuan membungkuk sekali lagi, mengambil keranjang bambu dari sisi dinding, lalu berbalik melangkah menuju kabut utara yang tebal.

​Mandor Zhao menatap punggung tipis itu perlahan menelan kabut. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan rasa muak pada dirinya sendiri dan pada kebusukan sekte ini. "Maafkan aku, Nak. Di kehidupan selanjutnya, janganlah lahir sebagai orang lemah," gumamnya getir.

​Perjalanan menuju Lereng Utara memakan waktu satu jam. Semakin jauh Shen Yuan melangkah dari pusat sekte, pepohonan pinus semakin jarang, digantikan oleh tebing-tebing batu hitam berlapis es yang tajam bagaikan gigi naga raksasa.

​Udara di sini begitu dingin hingga uap napas bisa langsung membeku menjadi kristal es kecil. Suara gemuruh air terjun yang biasanya memekakkan telinga kini lenyap, digantikan oleh pemandangan pahatan es raksasa yang menggantung dari tebing setinggi ratusan tombak. Indah, namun mematikan.

​Kres... Kres...

​Langkah kaki Shen Yuan menginjak salju tebal. Ia memegang sabit kecil pembelah rumput di tangan kanannya. Indranya yang telah mencapai Lapisan Kelima Kondensasi Qi dibiarkan terbuka lebar, menyatu dengan embusan angin dan getaran bumi.

​Ia tidak terkejut. Ia sudah tahu mereka mengikutinya sejak ia melewati batas gerbang utara.

​Tepat saat Shen Yuan melangkah ke tengah cekungan beku di dasar air terjun, tiga bayangan melesat keluar dari balik bongkahan batu es raksasa di sekitarnya, mengepungnya dalam formasi segitiga yang rapat.

​Dua orang di sisi kiri dan kanan adalah antek Lin Hai yang kemarin berada di pelataran. Mereka masing-masing memegang golok bergagang tebal yang memancarkan kilau perak di bawah cahaya suram.

​Sedangkan pria yang berdiri tepat di depan pintu keluar cekungan, menghalangi satu-satunya jalan pulang, adalah seorang pria jangkung dengan senyum miring yang memperlihatkan deretan giginya yang kuning. Bekas luka tebas menyilang dari dahi hingga ke dagunya. Gou San, Si Anjing Liar.

​"Ck, ck, ck," Gou San berdecak, mengetuk-ngetukkan punggung pedang besinya ke pundaknya sendiri. Matanya menatap Shen Yuan seperti melihat seekor kelinci yang terperangkap di sudut kandang. "Aku harus memujimu, Bocah. Kau tahu ini adalah jalan buntu, tapi kau tetap berjalan lurus kemari tanpa gemetar. Entah kau ini sangat berani, atau saraf takutmu sudah mati rasa."

​Shen Yuan berdiri diam. Ia menurunkan keranjang bambunya ke atas salju secara perlahan. Sabit kecil masih tergenggam longgar di tangannya. Matanya yang gelap menyapu ketiga orang itu satu per satu, menghitung jarak dan ancaman dengan kalkulasi yang nyaris tidak manusiawi.

​Dua antek di Lapisan Ketiga. Satu pembunuh di Puncak Lapisan Keempat.

​"Lin Hai sangat dermawan," ucap Shen Yuan datar, suaranya memantul di antara tebing es. "Berapa batu roh yang ia bayarkan pada Senior Gou San untuk mengotori tangan demi seorang pelayan sepertiku?"

​Gou San tertawa serak. "Dua puluh batu roh tingkat rendah, dan satu Pil Kondensasi tingkat menengah. Harga yang cukup mahal untuk menyembelih seekor babi yang terpeleset, bukan? Tapi Tuan Muda Lin Hai secara khusus meminta agar kami tidak membunuhmu dengan cepat."

​Gou San memberi isyarat dengan lirikannya. Kedua antek di sisi Shen Yuan segera menyeringai kejam, melangkah maju sambil mengangkat golok mereka.

​"Dia meminta kami untuk mematahkan kedua lenganmu, memotong lidahmu, lalu melemparmu ke dasar lembah agar kau mati membeku perlahan-lahan sepanjang malam," lanjut Gou San, menikmati ketakutan yang—menurutnya—seharusnya mulai merayapi wajah Shen Yuan.

​Namun, alih-alih berlutut memohon ampun, Shen Yuan hanya menghela napas panjang. Napas putihnya mengepul ke udara, panjang dan tenang. Aura ketakutan seorang pelayan rendahan yang selama tiga tahun menjadi topengnya... perlahan-lahan mengelupas bagaikan cat usang yang tersiram air keras.

​"Hukum rimba memang tidak pernah berubah," gumam Shen Yuan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kalian datang ke sini dengan niat membunuh, maka jangan salahkan langit jika kalian tidak kembali."

​"Banyak omong! Putuskan kakinya!" teriak salah satu antek, melesat maju menebaskan goloknya lurus ke arah paha kanan Shen Yuan. Kecepatan Lapisan Ketiga cukup untuk membelah kayu tebal dalam sekejap.

​Di mata Gou San, pelayan bodoh itu sudah tamat. Sabit kecil pemotong rumput tidak akan bisa menahan tebasan golok besi.

​Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat pupil mata Gou San menyusut hingga sebesar ujung jarum.

​Shen Yuan tidak menangkis. Ia bahkan tidak mengangkat sabitnya.

​Dalam sepersekian detik sebelum mata golok itu menyentuh kain celananya, benih hitam di dalam Dantian Shen Yuan berputar ganas. Energi emas gelap meledak, membanjiri meridian kakinya dengan kekuatan yang nyaris merobek ototnya sendiri.

​Langkah Penghancur Bayangan.

​BOOM!

​Bukan suara langkah kaki yang terdengar, melainkan suara ledakan sonik yang tumpul. Es tebal yang diinjak Shen Yuan hancur berkeping-keping, menciptakan kawah kecil sedalam satu kaki.

​Tubuh Shen Yuan menghilang dari pandangan si antek. Golok itu hanya menebas udara kosong.

​"A-apa—?"

​Kalimat antek itu tidak pernah selesai. Sebelum otaknya sempat memproses ke mana targetnya menghilang, sebuah siluet iblis telah muncul tepat di sisi kirinya, terlalu dekat hingga ia bisa merasakan panas tubuh yang mengerikan.

​Tangan kiri Shen Yuan—yang tidak memegang senjata—melesat dengan kecepatan kilat, mencengkeram wajah antek itu dengan kasar. Kelima jarinya menancap seperti cakar elang, dan tanpa ampun, Shen Yuan membanting kepala pemuda itu ke arah tebing es yang ada di belakangnya.

​KRAK!

​Bunyi retakan tulang tengkorak yang beradu dengan dinding es menggema di penjuru cekungan. Darah segar menyembur, mewarnai putihnya salju menjadi merah menyala. Tubuh antek itu seketika lemas, merosot ke bawah bagaikan boneka yang putus talinya. Mati seketika tanpa sempat menjerit.

​Sisa salju yang beterbangan akibat langkah Shen Yuan baru saja turun menyentuh tanah.

​Hening.

​Angin berhenti melolong. Waktu seolah membeku.

​Gou San dan satu antek yang tersisa berdiri mematung. Napas mereka tertahan di tenggorokan. Tangan Gou San yang memegang pedang besar mulai bergetar di luar kendalinya. Mata pria bermuka parut itu membelalak ngeri, menatap siluet Shen Yuan yang kini berdiri santai di samping mayat temannya.

​Bukan hanya karena kecepatan siluman yang baru saja diperlihatkan pemuda itu. Tetapi karena aura dominan dan menindas yang kini memancar tanpa ditutup-tutupi dari tubuh sang pelayan.

​Itu bukan aura Lapisan Ketiga. Itu bahkan lebih tebal dan mengerikan daripada aura Tuan Muda Lin Feng.

​"L-Lapisan Kelima..." suara Gou San bergetar, lututnya tiba-tiba terasa lemas. Rahasianya terbongkar. Monster yang bersembunyi di balik jubah pelayan rendahan telah membuka matanya di tengah badai salju.

​Shen Yuan memutar lehernya, membunyikan persendiannya dengan suara kretek yang pelan. Ia menoleh ke arah Gou San. Matanya tidak memancarkan kemarahan, hanya ketenangan absolut seorang algojo yang sedang melaksanakan tugasnya.

​"Satu," hitung Shen Yuan pelan, melangkah maju. "Sisa dua."

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!