Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
"Mingkem, Yud." Nara mencolek pipi Yuda.
Risna berdehem. Ia memandangi menantunya yang duduk di seberangnya. Tidak menyangka Rama adalah putra dari pengusaha. Penampilannya terlihat biasa-biasa saja.
"Aku harap ibu dan bapak percaya bahwa itu tuduhan palsu. Aku nggak pernah melakukan hal buruk itu," kata Rama.
Rahmat menepuk paha Rama.
"Bapak percaya, selama mengenal kamu nggak pernah neko-neko. Bapak juga ingat, Gita pernah bilang kalau pacaran sama kamu nggak asik."
"Ngapain ngomongin Gita, Pak?" Risna protes. Nama Gita bagai serbuk racun, malas sekali mendengarnya.
Rahmat lantas menjelaskan, kalau Rama lelaki mesum pasti sudah menggauli Gita. Karena Gita mudah dirayu dan murahan.
"Benar juga, sama Dewa aja mau. Padahal belum nikah," tukas Risna.
"Tolong dirahasiakan ya," pinta Nara.
"Kamu juga, Yud. Awas kalau sampai keceplosan. Nggak ada jatah uang jajan lagi."
"Iya, iya, pokoknya aman." Yuda menggerakkan jari di depan bibirnya.
"Apa keluargamu tahu, kamu menikahi Nara?" tanya Risna.
"Sudah tahu, Buk." Rama menjawab.
"Tas itu pemberian ibunya Mas Rama, terus kalung ini hadiah dari Omanya," jelas Nara mengusap kalung minimalis.
Risna mendekatkan wajahnya ke leher Nara. Mengamati kalung yang terlihat imut dan indah.
"Bapak harap masalah di keluargamu cepat selesai. Bukan karena ingin hartamu, tetapi hidup tanpa masalah besar lebih tenang," kata Rahmat.
Risna juga merasakan sedikit kekhawatiran. Tetapi mengetahui perhatian dari ibunya Rama dan omanya, Risna lega. Setidaknya itu bentuk kasih sayang.
"Ini apa, Mbak?" Yuda meraih paper bag.
"Isinya pakaian, Yud. Ini untuk kamu, ini untuk bapak, ini untuk ibuk." Nara membaginya.
"Dari Mas Rama semoga suka."
Rama menatap istrinya, kedua alisnya terangkat. Itu adalah ide istrinya, sebelum ke rumah mertua sempat mampir ke toko pakaian dan toko buah.
Nara tersenyum saja menanggapi pertanyaan yang tersirat di wajah suaminya.
Setelah makan siang, Nara dan Rama berpamitan. Saat keluar rumah, tampak rumah sebelah cukup ramai. Ada tenda yang dipasang. Kata Risna, ada selamatan pernikahan dan besok acara siraman.
Nara naik ke motor. "Kami pulang, Buk!"
"Iya, hati-hati." Risna melambaikan tangan.
Nara memeluk pinggang suaminya. Motor berjalan pelan karena berpapasan dengan mobil di jalan yang agak sempit.
Mobil itu dikendarai Dewa. Karena jendela terbuka, Nara juga melihat Harmi dan Ganjar, orang tuanya Dewa.
Rama merasa motornya dipepet karena kaca spion terkena badan mobil. Refleks, Rama memukul mobil.
"Yang bener kalau nyetir!"
Mobil itu berhenti. Dewa keluar, dan langsung mencaci maki Rama.
"Dasar mental miskin! Masih luas itu! Bisa jalan! Ngapain mukul mobil!??"
"Luas matamu!" balas Rama yang menoleh ke belakang sembari menahan motor yang agak miring.
Suara klakson dari kendaraan lain terdengar. Meminta mobil Dewa segera jalan karena menimbulkan kemacetan. Dewa menatap tajam kemudian masuk ke dalam mobil, segera melajukan kendaraannya.
"Sudah, Mas. Ayo pulang...." Telapak tangan Nara mengusap-usap dada Rama. Khawatir suaminya ngamuk.
Rama menarik napas dalam-dalam. Tidak boleh terbawa emosi, akan merugikan diri sendiri.
"Maaf, Nara." Rama mengusap paha istrinya, lalu memacu kendaraan.
...****************...
"Ibumu menemui istrinya Rama?" Restu berkacak pinggang. Dia mengetahuinya dari Handoko, papa mertuanya sendiri.
Sekar yang sedang menata kasur dan bantal di boks bayi, hanya menjawab, "iya."
"Aku tidak mengerti dengan kamu dan ibumu. Itu sama saja memberikan angin segar untuk Rama!"
Sekar membalikkan badan. Mulai muak karena suaminya terus menerus memojokkan Rama. Padahal Rama adalah anak kandungnya sendiri.
"Rama darah dagingmu! Kamu rawat sejak dalam kandungan. Kamu tahu, Rama tidak pernah berbuat masalah! Tidak ada bukti pelecehan," balas Sekar.
"Kamu tidak pernah objektif!"
"Sekar...."
"Seharusnya kamu menyelidiki, bukan hanya berpihak pada menantu kesayanganmu itu!" Sekar membuang napas kasar.
"Aku tidak tahu apa yang menutup logika dan hatimu."
Restu terdiam.
"Perempuan bisa sangat jahat dan manipulatif. Daya tariknya bisa membuatmu tersesat, Tuan Besar," imbuh Sekar, kembali menata bantal. Diujung kanan diletakkan boneka. Sebentar lagi, Bianca pulang. Karena kondisinya baik dan bayi juga sehat.
Kamar itu serba merah muda. Permintaan Bianca mengecat dinding full warna yang identik dengan perempuan. Si bayi tidak bersalah, walaupun belum ada ikatan batin, Sekar akan memperlakukan Nindy penuh kasih.
"Mulailah melihat dari dua sisi, Pa," ucap Sekar yang amarahnya mulai surut.
"Itu tidak akan merugikan diri sendiri, bukan?"
"Nyonya, mobil yang menjemput Nyonya Bianca sudah sampai," ucap Jia memberitahu sang majikan.
Sekar berjalan keluar dari kamar yang berada di lantai bawah. Restu mengikuti di belakangnya.
Pintu pagar rumah masih terbuka lebar saat mobil hitam berhenti di depan rumah. Sekar membantu Bianca turun dari kendaraan. Sementara Karina yang menggendong si kecil.
"Kamar Nindy sudah siap," kata Sekar.
Bianca menginginkan kamar Rama digunakan untuk kamar bayi, tetapi tidak diizinkan oleh Sekar. Hingga mengalah pindah kamar lantai bawah.
Mendadak, seorang perempuan yang berdiri dekat pagar menyapa ramah.
"Apa kabar, Sih? Lama nggak ketemu."
Sekar membalikkan badannya, melihat perempuan berbaju lusuh membawa karung.
"Ibu bicara dengan siapa?"
"Dengan Marniasih, Bu." Perempuan itu menunjuk Bianca.
"Teman SD dulu di desa. Halo Sih, aku Santi. Ingat nggak?"
"Kamu salah orang, namanya Bianca," ucap Karina.
"Pak satpam, tutup pintu pagarnya!" suruh Bianca.
"Aduh...."
"Maaf, remote nya macet. Harus manual. Eh, kamu! Minggir!" hardik si penjaga rumah.
"Aku nggak mungkin salah orang. Kamu mungkin lebih putih dan cantik....." Santi berkata dengan suara kencang.
"Ayo, masuk." Sekar menggandeng Bianca, sementara matanya memberikan kode pada Jia. Melirik ke arah pagar.
Jia paham, gadis itu memilih lewat pintu pagar lain agar tidak mencolok.
"Di dunia ini, katanya ada tujuh kembaran," kelakar Karina.
"Maksudku wajah yang mirip."
"Kamu benar," tukas Sekar.
"Apakah Radit akan pulang juga?" tanya Karina.
"Tentu saja. Mungkin minggu depan, aku harus menyiapkan kamar di bawah karena Radit belum bisa jalan dan mengandalkan kursi roda," jelas Sekar.
"Aku sudah mempekerjakan pengasuh, besok mulai kerja."
"Mama, aku......"
"Aku berhak memilih pengasuh untuk cucuku," tegas Sekar.
Sementara itu, Jia berlari mengejar Santi. Diraihnya lengan perempuan itu.
"Mbak Santi, tunggu."
"Ada apa?" Santi menghentikan langkahnya.
Jia mengatur napas. Belum sempat bicara, dia melihat Desi. Jia menarik cepat Santi ke halaman rumah tetangga yang belum berpagar dan belum berpenghuni. Desi adalah salah satu asisten rumah tangga yang cukup dekat dengan Bianca.
"Ada apa, kok aku ditarik-tarik?" protes Santi, yang bisa masuk ke perumahan itu karena melompati pagar tembok.
"Maaf, ini buat beli es." Jia memberikan uang seratus ribu rupiah.
"Kamu kenal Bianca tadi? Memang sekolah di mana?"
"Terima kasih duitnya. Kami sekolah di SD negeri Rejowangun. Asih pindah sekolah karena diadopsi. Itu yang aku tahu. Tetapi benar ya namanya Bianca?"
"Namanya memang Bianca," jawab Jia.
"Oh, aku salah orang. Karena dari samping sangat mirip......"
*
*
*
*
*
Sedikit dulu yaaa 🙏 selamat hari senin. Selamat beraktivitas. Semangat puasanyaaa 🤗
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬