NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Daripada penasaran, yuk mampir ><

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Melvin or Melvin?

Dan nyatanya

SUV hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di tepi tebing yang menghadap langsung ke jurang gelap. Suara deru angin malam yang menghantam dinding tebing menyatu dengan isak tangis Gaby yang pecah. Melvin tidak lagi tersenyum manis. Wajahnya kini adalah topeng obsesi yang murni.

Tanpa memedulikan teriakan ketakutan Gaby, Melvin mulai meraba setiap inci tubuh gadis itu dengan kasar. Ia mencari segala bentuk pelacak. Mulai dari anting, kalung, hingga perangkat kecil yang diselipkan di saku gaunnya. Satu per satu, barang-barang itu dilempar keluar jendela menuju kegelapan jurang, hilang ditelan malam.

Puncaknya, dengan satu tarikan bertenaga, Melvin merobek paksa gaun sutra Gaby yang indah hingga hancur berkeping-keping. Gaby meronta, memukul, dan menjerit memanggil nama Emrys, namun Melvin seolah tuli. Baginya, pakaian itu adalah simbol kendali Kaito yang harus ia singkirkan.

Setelah memastikan Gaby "bersih" dari segala teknologi pelacak, Melvin membuka kemeja hitamnya sendiri, menampilkan otot-otot atletisnya yang tegang di bawah cahaya remang kabin. Dengan gerakan paksa, ia menyelimuti tubuh Gaby yang bergetar hebat dengan kemejanya yang masih hangat oleh suhu tubuhnya.

"Diam, Gaby! Diam!" Melvin membentak, matanya menatap Gaby dengan binar nanar dan sedikit rasa kesal karena gadis itu terus meronta.

Melihat Gaby yang hampir histeris, Melvin mendengus pelan. Ia tidak ingin mendengar suara itu lagi. Dengan gerakan kilat dan presisi, ia menggunakan teknik titik tekan pada saraf karotis di leher Gaby. Sebuah tekanan tepat yang memutuskan aliran kesadaran dalam hitungan detik.

Gaby langsung terkulai lemas. Tubuh mungilnya jatuh pasrah ke dalam dekapan dada bidang Melvin.

Seketika, kegilaan di wajah Melvin menguap. Ia menarik napas dalam-dalam, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sembari mendekap Gaby erat. Perlahan, ekspresinya berubah. Senyum psikopatisnya hilang, digantikan oleh tatapan yang sangat dingin, datar, dan tak tersentuh. Sebuah cerminan sempurna dari tatapan yang biasa ditunjukkan oleh Emrys Aetherion Kaito.

"Sekarang kau milikku sepenuhnya, Gaby girl," bisik Melvin dingin. "Bahkan kakak bodohmu itu tidak akan bisa mencium jejakmu di tempat yang akan kita tuju."

SUV itu kembali meluncur, namun kali ini tanpa suara tangis. Hanya ada kesunyian yang mematikan di dalamnya.

Melvin telah bertransformasi menjadi versi yang lebih tenang namun jauh lebih berbahaya.

.

.

.

Sementara itu. Di tengah kesibukannya mengamankan data Aetherion, seorang anak buah kepercayaannya masuk dengan wajah sepucat mayat. Kalimat "Jejak Nona Gaby hilang di koordinat jurang Oxford" membuat dunia Emrys seakan berhenti berputar.

Tanpa sepatah kata, Emrys menyambar kunci mobilnya. Ia memacu Bentley-nya menembus kegelapan malam dengan kecepatan yang nyaris membunuh diri sendiri. Pikirannya dipenuhi bayangan Gaby yang menangis, Gaby yang ketakutan, dan Gaby yang... ia tidak sanggup melanjutkan pikiran itu.

Di Tepi Jurang, Pukul 03.00 Dini Hari

Hanya ada suara deru angin yang menghantam tebing saat Emrys tiba di lokasi. Lampu sorot mobilnya membelah kegelapan, menyinari tepian jurang yang curam. Dengan napas memburu, Emrys turun dan berlari menuju titik terakhir sinyal GPS adiknya.

Langkah kakinya terhenti. Di atas aspal yang kasar, ia menemukan pemandangan yang menghancurkan pertahanan dirinya.

Potongan gaun sutra Gaby yang robek paksa, berserakan tertiup angin.

Ponsel yang hancur terlindas, seolah sengaja dihina.

Anting berlian pemberiannya yang kini tergeletak tak bernyawa di dekat bibir jurang.

Emrys berlutut, memungut secercah kain sutra yang masih menyisakan aroma parfum vanilla kesukaan Gaby. Tangannya bergetar hebat, sebuah pemandangan yang tak pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya. Sang Naga, penguasa Aetherion yang tak kenal takut, kini tampak hancur di bawah rembulan.

"Gaby..." bisiknya parau, suaranya hilang ditelan angin malam.

Ia menatap ke arah jurang yang hitam pekat. Untuk sesaat, ketakutan terburuk melintas di benaknya. Apakah Melvin membuangnya ke sana? Namun, insting predatornya segera mengambil alih. Tidak ada jejak kecelakaan, tidak ada bekas ban yang merosot ke bawah. Ini adalah pembersihan. Melvin Jabulani-Blackwood tidak hanya menculik Gaby. Dia sedang menghapus eksistensi Gaby dari radar Emrys.

Emrys berdiri perlahan. Wajahnya yang semula panik kini berubah menjadi sangat datar. Jenis kedataran yang menandakan badai kehancuran akan segera datang. Ia meremas potongan kain gaun itu hingga buku jarinya memutih.

"Kau pikir kau bisa menyembunyikannya dariku, Melvin?" suara Emrys terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman dari dasar neraka. "Aku akan membakar seluruh London jika itu perlu untuk menemukannya. Dan saat aku menemukanmu, mati pun tidak akan cukup bagimu."

Emrys meraih ponsel satelitnya, menghubungi seluruh jaringan intelijen Kaito di Eropa tanpa terkecuali.

"Aktifkan Protokol Blackout. Tutup semua akses keluar Inggris. Pelabuhan, bandara, jet pribadi. Tidak ada satu pun lalat yang boleh keluar tanpa izinku. Cari setiap properti milik Blackwood yang tidak terdaftar."

Adik sepupunya hilang. Dan bagi Emrys, perang ini bukan lagi soal bisnis atau aset. Ini adalah tentang nyawa yang menjadi pusat dunianya.

.

.

.

Kelopak mata Gaby terasa seberat timah saat ia perlahan tersadar. Aroma kayu cedar yang terbakar di perapian dan bau apek khas bangunan tua menyapa indranya. Ia mencoba menggerakkan tangan, namun tubuhnya terasa lemas, sisa dari tekanan saraf yang dilakukan Melvin sebelumnya.

Gaby menyadari ia berbaring di atas tempat tidur canopy raksasa dengan tiang-tiang kayu ek yang mengukir sejarah kelam. Di tubuhnya, hanya tersampir kemeja hitam milik Melvin yang kebesaran, menutupi kulitnya yang masih gemetar karena trauma semalam.

Di sudut ruangan yang remang, diterangi oleh jilatan api dari perapian, Melvin duduk di sebuah kursi wingback kulit. Ia sudah mengenakan kemeja baru yang bersih, menyesap segelas scotch dengan tenang. Tatapannya lurus ke arah Gaby..datar, namun dalam.

"Kau sudah bangun, Starshine," suara Melvin terdengar sangat normal, seolah mereka baru saja melewati malam yang romantis, bukan penculikan brutal di tepi jurang.

Gaby mencoba duduk, menarik selimut beludru untuk menutupi tubuhnya lebih rapat. Suaranya serak saat ia bertanya, "Di mana aku, Melvin? Di mana Kak Emrys?"

Melvin terkekeh lembut, bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Ia meletakkan gelasnya di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur, jemarinya yang dingin membelai pipi Gaby yang pucat. Gaby refleks menghindar, namun Melvin menahan tengkuknya dengan lembut namun posesif.

"Emrys sedang sibuk memunguti sampah di tepi jurang, Gaby. Biarkan dia bermain dengan hantu masa lalunya," Melvin tersenyum, jenis senyuman yang membuat bulu kuduk Gaby berdiri. "Di sini, di Kastil Blackwood, tidak ada Kaito. Tidak ada pengawal. Hanya ada aku... dan kau."

Gaby menatap sekeliling ruangan yang luas dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela sempit yang tertutup rapat. "Kau gila, Melvin. Kakakku akan menemukanmu. Dia akan menghancurkan tempat ini."

"Mungkin. Tapi butuh waktu berhari-hari untuk menembus protokol keamanan keluarga kami di sini," Melvin mencondongkan tubuh, hidungnya bersentuhan dengan hidung Gaby. "Dan selama waktu itu, aku akan memastikan kau lupa bahwa kau pernah memiliki seorang kakak. Aku ingin kau melihatku, Gaby. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai satu-satunya orang yang memilikimu sekarang."

Ia meraih tangan Gaby dan mengecup telapak tangannya dengan sangat sopan, namun tatapan matanya tetap terlihat seperti predator yang baru saja memenangkan lotre.

"Selamat datang di rumah barumu, Gaby girl. Mari kita buat sarapan yang tenang, layaknya pasangan normal, sebelum badai itu tiba."

.

.

.

Di dalam kamar luas dengan arsitektur gotik yang mencekam, Melvin duduk di kursi tinggi layaknya seorang raja di singgasananya. Namun, di pangkuannya, ia mendekap Gaby dengan posesif. Mengunci tubuh kecil gadis itu dalam kungkungan lengannya yang kuat. Meja di depan mereka dipenuhi sarapan mewah, namun aroma makanan itu tertutup oleh aroma maskulin Melvin yang kini terasa menyesakkan bagi Gaby.

Dengan gerakan yang sangat tenang namun menuntut, Melvin menyendokkan makanan dan mengarahkannya ke bibir Gaby.

"Makanlah, Gaby girl. Aku janji kakakmu akan baik-baik saja jika kau mau mendengarkanku," ucap Melvin, suaranya lembut namun mengandung ancaman yang presisi.

Gaby memalingkan wajah, napasnya memburu karena amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. "Apa yang akan kau lakukan padanya?!"

"Hmm..." Melvin menyesap kopinya sejenak, matanya menatap perapian dengan kilat jenaka yang gelap. "Dia cukup gila untuk menghancurkan London demi mencarimu. Itu merepotkan."

"Kau lebih gila!" teriak Gaby, suaranya bergema di langit-langit kastil yang tinggi.

"Ya, aku gila... Kurasa aku memang gila..." Melvin terkekeh, suara tawa yang rendah dan serak itu membuat bulu kuduk Gaby merinding. Tiba-tiba, ia menarik dagu Gaby dan mengecup bibir gadis itu dengan cepat. Sebuah ciuman yang terasa seperti klaim kepemilikan. "Aku gila karenamu."

Gaby tersentak, matanya melotot tajam penuh kebencian pada pria yang dulu ia anggap sebagai teman desain yang manis. Transformasinya menjadi monster Blackwood begitu sempurna hingga Gaby nyaris tidak mengenalinya.

"Jangan melotot seperti itu, Sayang. Matamu akan sakit," gumam Melvin lembut. Ia kemudian mengecup kelopak mata Gaby satu per satu secara bergantian, sebuah gestur yang tampak sangat menyayangi namun terasa sangat mengintimidasi.

"Ayo makan, Gaby girl. Kau hanya belum tahu bahwa kekuasaan Blackwood jauh lebih gelap daripada Aetherion-Kaito. Emrys bermain dengan hukum, tapi keluargaku... kami adalah hukum itu sendiri di tanah ini."

"Melvin..." Gaby berbisik parau, mencoba mencari sisa-sisa kebaikan di mata pria itu.

"Dengarkan aku, Gaby girl. Dengarkan--aku." Melvin memiringkan kepalanya, menatap Gaby dengan intensitas yang mengerikan, seolah ia sedang menguliti jiwa gadis itu hanya dengan pandangan mata.

Gaby menelan ludah dengan susah payah. Di bawah tatapan predator itu, ia menyadari bahwa perlawanan fisik hanya akan membuatnya semakin terluka. Dengan tangan gemetar, ia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan dari Melvin.

"Good girl," puji Melvin dengan senyum miring yang puas. Ia menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sisa makanan di bibir Gaby. Bibir yang semalam telah berani menggigit lehernya hingga berdarah. Bekas luka di lehernya masih memerah, namun Melvin justru mengelusnya seolah itu adalah tanda cinta paling berharga.

1
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!