Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar seperti dentuman di telinga Alisa. Ia mengerjapkan matanya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah protes dari tubuhnya yang hanya sempat mencicipi sepotong roti selama shift panjang di rumah sakit tadi. Alisa melirik ke samping. Di balik kegelapan, ia bisa melihat siluet tubuh Davino yang berbaring diam. Napas pria itu teratur, menandakan ia sudah terlelap jauh ke alam mimpi.
Dengan gerakan sepelan mungkin, Alisa menyingkirkan selimutnya. Ia turun dari ranjang, berjinjit melewati ujung kasur agar lantai kayu tidak berderit. Ia berhasil keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Di dapur, Alisa menyalakan lampu kecil di atas kitchen island. Cahaya temaram itu cukup baginya untuk memeriksa isi kulkas. Ada nasi sisa kemarin, beberapa butir telur, dan bumbu dasar yang sudah disiapkan Bi Ijah. Tanpa membuang waktu, Alisa mulai memanaskan wajan. Aroma bawang putih yang ditumis perlahan memenuhi ruangan, memberikan rasa nyaman yang aneh di tengah kesunyian malam.
"Bikin satu lagi."
Alisa tersentak hebat hingga sudip di tangannya hampir terlepas. Ia berbalik dan mendapati Davino sudah berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam dan kaos oblong putih yang sedikit ketat di bagian dada. Rambutnya berantakan, dan matanya tampak sedikit merah karena baru bangun tidur.
"Mas! Mengagetkan saja," bisik Alisa sambil mengelus dadanya. "Kenapa turun?"
"Tempat tidur terasa kosong. Aku bangun dan mencium aroma bawang," Davino melangkah mendekat, bersandar pada meja konter sambil memperhatikan gerakan tangan Alisa. "Buatkan aku juga. Aku lapar."
Alisa mendengus, namun ia tetap mengambil piring tambahan dan memecahkan satu butir telur lagi. "Mas ini seperti hantu. Muncul tiba-tiba, menghilang tiba-tiba."
"Itu bagian dari latihanku, Alisa," sahut Davino datar, namun ada nada santai yang jarang ia tunjukkan.
Beberapa menit kemudian, dua piring nasi goreng sederhana sudah tersaji di atas meja. Mereka makan dalam keheningan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada ketegangan, tidak ada perdebatan soal keamanan. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
"Enak," gumam Davino setelah suapan terakhir.
"Resep Bunda," jawab Alisa singkat, ada rona merah tipis di pipinya karena pujian sederhana itu.
Setelah membereskan piring kotor, mereka kembali naik ke lantai dua. Namun, alih-alih langsung tidur, keduanya justru terjebak dalam kesibukan masing-masing. Alisa duduk bersandar di kepala ranjang, asyik dengan tabletnya untuk meninjau jurnal medis terbaru, sementara Davino duduk di kursi meja rias dengan laptop di pangkuannya, jemarinya menari lincah di atas keyboard, kemungkinan sedang menyusun strategi untuk Satgas barunya.
Waktu menunjukkan pukul dua pagi. Mata Alisa mulai terasa berat. Huruf-huruf di layar tabletnya seolah mulai berdansa. Kepalanya beberapa kali terkulai ke samping, namun ia memaksanya kembali tegak. Hingga akhirnya, pertahanan Alisa runtuh. Tanpa sadar, kepalanya miring ke arah kanan, tepat mendarat di bahu kokoh Davino yang saat itu sedang bangkit untuk mengambil dokumen di dekat nakas.
Davino membeku. Ia merasakan beban lembut di bahunya. Ia menoleh perlahan dan melihat Alisa sudah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Wajahnya yang biasanya tegang karena lelah kini tampak sangat damai.
Davino terdiam cukup lama, menatap wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat. Ia mengulurkan tangan, menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Alisa dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut memecahkan porselen yang mahal.
"Cantik..." bisik Davino sangat pelan, hampir menyerupai hembusan angin.
Ia menutup laptopnya, lalu dengan gerakan cekatan yang terlatih, ia menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Alisa dan lengan lainnya di bawah punggungnya. Davino mengangkat tubuh Alisa dengan gaya bridal style. Tubuh dokter itu terasa sangat ringan di pelukannya. Ia membaringkan Alisa di atas bantal, menarik selimut hingga ke dada, dan memastikan suhu pendingin ruangan tidak terlalu dingin.
Davino berdiri sejenak di sisi ranjang, memperhatikan Alisa untuk beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya ia mematikan lampu dan berbaring di sisinya sendiri, membiarkan guling pembatas tetap berada di dalam laci bawah.
Pagi harinya, cahaya matahari yang cerah menyiram wajah Alisa. Ia menggeliat, merasakan kehangatan kasur yang sangat nyaman. Namun, kesadarannya pulih seketika saat ia menyadari sesuatu.
Aku di kasur? Seingatku tadi malam aku masih baca tablet...
Alisa terduduk tegak dengan panik. Ia memeriksa pakaiannya. Masih utuh. Ia kemudian menoleh ke samping dan mendapati Davino sedang duduk di tepi ranjang, sedang memakai jam tangannya.
"Mas!" seru Alisa, suaranya sedikit meninggi karena kaget.
Davino menoleh dengan ekspresi datar yang menyebalkan. "Pagi, Dokter."
"Kenapa... kenapa aku bisa di kasur? Dan kenapa Mas... Mas melakukan apa padaku semalam?" Alisa menarik selimut hingga menutupi lehernya, matanya menatap Davino dengan penuh kecurigaan.
Davino mengangkat sebelah alisnya. Ia melihat kepanikan di wajah Alisa dan mendadak muncul keinginan untuk menggoda istrinya yang kaku ini. Ia berdiri, lalu melangkah mendekat ke arah Alisa hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan, Alisa?" tanya Davino dengan suara rendah yang serak khas bangun tidur. "Kamu tidur seperti log kayu semalam. Bahkan kalau aku membawamu ke markas Polda pun, kamu mungkin tidak akan bangun."
"Tapi... tapi Mas mengangkatku?" tanya Alisa dengan wajah memerah sempurna.
Davino menyeringai tipis—sebuah senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan. "Tentu saja. Kamu mendengkur di pundakku dan membuat bajuku basah. Aku tidak punya pilihan selain memindahkanmu agar aku bisa bekerja."
"Aku tidak mendengkur!" protes Alisa malu.
"Oh, ya? Kamu bahkan menggumamkan nama pasienmu berkali-kali," bohong Davino dengan wajah sangat serius. Ia condong lebih dekat lagi, membuat Alisa semakin terdesak ke kepala ranjang. "Kenapa? Kamu takut aku melakukan sesuatu? Kita ini suami istri, ingat? Secara hukum, tidak ada yang salah kalau aku melakukannya."
"Mas Davino!" Alisa mendorong dada Davino, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.
Davino tertawa rendah, suara tawa yang terdengar jantan namun penuh godaan. "Tenanglah, Dokter. Aku tidak tertarik pada wanita yang tidur dengan mulut terbuka. Mandilah, Maura sudah menunggu di bawah untuk sarapan. Dan jangan lupa... sandiwara kita dimulai dalam lima menit."
Davino berbalik dan berjalan keluar kamar dengan langkah santai, meninggalkan Alisa yang masih terpaku di atas kasur dengan jantung yang berdegup kencang. Ia melempar bantal ke arah pintu yang sudah tertutup itu.
"Dasar polisi menyebalkan!" gerutu Alisa, meskipun ada rasa lega sekaligus rasa aneh yang mulai merayap di hatinya.
Di luar pintu, Davino bersandar di tembok sebentar. Ia menyentuh bahunya yang semalam menjadi sandaran Alisa. Senyum tipisnya tidak hilang. Ia tahu, ia tidak boleh jatuh cinta. Perjanjian satu tahun itu adalah bentengnya. Tapi pagi ini, benteng itu terasa sedikit lebih rendah dari sebelumnya.
Di bawah, Maura sedang asyik menata meja makan saat Davino turun. "Pagi, Kak! Wah, segar banget mukanya. Kak Alisa mana?"
"Masih bersiap," jawab Davino singkat, kembali ke mode 'dingin' khasnya.
"Semalam aku dengar suara di dapur jam dua pagi," Maura menyipitkan mata, menatap kakaknya dengan penuh selidik. "Kalian berdua kencan tengah malam ya?"
"Bukan urusanmu, Maura. Cepat habiskan sarapanmu," potong Davino, namun ia tidak membantah, yang justru membuat Maura semakin yakin bahwa sandiwara romantis kakaknya mungkin mulai menjadi kenyataan.
Namun, di balik keceriaan meja makan itu, ponsel Davino bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk: "Nasi gorengnya terlihat enak, Kapten. Sayang, kehangatan itu tidak akan lama."
Rahang Davino mengeras. Ancaman itu nyata, dan ia tahu, momen-momen manis seperti semalam adalah hal yang paling ingin dihancurkan oleh musuhnya.
Bersambung