NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Garis Keturunan Adinata

Hening.

Beberapa detik. Hening yang tajam, setajam pertanyaan Anjani yang hanya terucap dengan satu kata. “Ini?”

Satu kata.

Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan terasa semakin berat.

Sagara menjawab tanpa jeda.

“Ya, bukti yang Anda minta, sudah saya bawa, Nenek."

Tatapan Anjani tidak berpindah dari Shafiya.

Hanya sedikit menyempit.

"Mendekatlah!"

Perintah Anjani pelan, tapi tak memberi ruang untuk ditunda.

Shafiyya maju. Dua langkah ia berhenti.

Ada sinyal spontan dalam dirinya yang mengingatkan agar tak terlalu jauh dari Sagara.

"Namamu?"

Hanya ditanya nama, tapi Shafiya tahu, sesi interogasi dimulai.

"...Elara."

Tatapan Anjani tidak beralih.

Masih pada Shafiya.

Masih pada satu titik yang sama.

Lalu, dengan nada yang tetap tenang--

“Sudah berapa bulan?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tanpa penjelasan.

Namun justru di situlah letaknya.

Pertanyaan itu seolah merobek kembali luka Shafiya yang belum pernah disentuh dengan benar. Dosa yang harus ditanggung tanpa tahu sebabnya. Pernikahan impian yang gagal, dan...

Tapi ia tahu, di sini bukan waktunya meratap, apalagi merintih. Di sini adalah tempatnya memperjuangkan nama baik keluarga dan tempat ia lahirkan, dari beban dosa yang tak pernah ia pilih.

“Masih awal,” jawabnya pelan. Jawaban yang paling aman.

Bulan ke berapa. Atau trimester berapa, Shafiya tidak paham.

Anjani mengangguk kecil.

Seolah ia tidak hanya menerima jawaban itu, tapi juga menyimpan.

“Sudah periksa ke dokter?”

“Sudah.”

“Sendiri?”

Sunyi. Berjalan dalam satu detik.

Dua detik, dan--

“Tidak.”

Jawaban Shafiya keluar--dan langsung terasa, jawaban itu begitu diperhitungkan.

Anjani menyandarkan punggungnya.

Masih tenang. Masih tanpa garis ekspresi.

Namun sesuatu berubah.

Bukan di wajahnya

tapi di arah pertanyaannya.

“Cucu saya tidak suka ikatan yang rumit.”

Kalimat itu meluncur ringan.

Seolah hanya komentar biasa.

Namun maknanya… terlalu luas, dan mengunci.

“Kalau kamu berdiri di sini,” lanjutnya, kini sedikit lebih tegas, “pastikan kamu tidak membawa sesuatu yang akan menjadi masalah.”

Hening.

Shafiya tidak sepenuhnya faham apa maksudnya, tapi ia memilih diam. Sebagaimana Sagara yang juga tetap diam

Tidak memotong.

Tidak membantu.

Hening itu kemudian dipecahkan dengan satu kata.

“Menarik.”

Semua mata bergerak ke arah sumber suara.

Seorang pria bersandar santai di kursinya.

Rapi. Tenang. Senyum tipis yang tidak pernah benar-benar ramah.

Ravendra Adinata.

Dia putra mendiang Adinata dengan perempuan lain. Dalam arti kata dia anak tiri nyonya Anjani.

“Karena biasanya,” lanjutnya pelan, “hal sebesar ini tidak datang tanpa… kepastian.”

Ravendra tidak melihat Shafiya.

Tatapannya justru ke Sagara.

Langsung.

Sagara tidak membalas melihat, apalagi tersenyum. Menjawab saja, tidak.

Diamnya… adalah bentuk penolakan pertama.

Ravendra bangkit perlahan.

Langkahnya tenang saat mendekat beberapa langkah.

“Jangan salah paham,” katanya ringan.

“Kita semua tentu senang… jika kabar ini benar.”

Ia akhirnya menoleh pada Shafiya.

Sekilas. Tapi cukup.

“Karena ini bukan hanya soal pribadi.”

“Ini soal garis--"

Kalimat itu dibiarkan menggantung dengan Sengaja.

“Tapi saya rasa… kita semua berhak memastikan."

Sunyi jatuh setelah ucapan Ravendra.

Kali ini bukan karena tidak ada suara.

Tapi karena semua orang tahu--apa arti kalimat itu.

Shafiya menegang.

Jemarinya kembali saling mengunci. Lebih erat.

Saat itulah terlihat Sagara bergerak.

Bukan maju. Bukan mendekat.

Hanya sedikit menggeser posisi.

Dan baginya itu sudah cukup

Untuk menunjukkan satu hal:

Bahwa ia ada di sana.

Tatapannya beralih ke Ravendra.

Tatapan yang datar.

Tapi kali ini… tidak lagi netral.

“Cukup.”

Satu kata, yang diucap tidak dengan suara keras. Tapi itu cukup memutus alur.

Ravendra mengangkat alis tipis.

Seolah tidak tersinggung. Justru merasa tertarik.

“Belum,” jawabnya ringan.

Dan di situlah--Ketegangan benar-benar hidup.

Anjani belum bicara.

Sagara belum sepenuhnya turun tangan.

Ravendra belum selesai.

Dan Shafiya--berdiri di tengah semuanya.

Sendirian.

"Karena ini bukan hanya tentang kamu, Sagara. Tapi tentang garis keturunan Adinata." Ravendra kembali bersuara tenang. Bahkan diiringi senyuman.

"Harus terjamin bersih. Murni," lanjutnya.

Hening. Seakan waktu juga membiarkannya mengambil kendali.

"Dan kami semua yang di sini berhak untuk memastikan." Kalimat Ravendra tidak terdengar menyerang. Tapi menekan.

Sagara akhirnya menatapnya.

Menatap laki-laki yang secara garis keturunan ia panggil "paman" itu.

"Sejak kapan," ucapnya pelan.

"Hak itu berada di tangan, Anda?"

Tak ada emosi meledak. Tapi justru itu, kalimatnya terdengar lebih tajam.

Ravendra tersenyum tipis.

"Sejak keputusanmu, menyangkut semua orang di ruangan ini."

Sagara maju satu langkah, dan itu cukup mengubah posisi dominasi.

"Keputusan saya," suaranya tetap rendah.

"Tidak pernah membutuhkan persetujuan."

Hening. Tegang.

Semua orang tidak berani angkat suara.

"Cukup."

Anjani mengambil ruang. Bila sudah begitu, selain dia, suaranya tidak lagi diperlukan.

Tapi tidak dengan Sagara. Ia menatap sosok yang telah merampas keindahan masa kecilnya itu--dengan tuntutan hidup sebagai pewaris.

"Bukti yang saya bawa," ucapnya masih dengan suara rendah, tapi menekan.

"Tidak untuk dinegosiasikan."

Anjani menatapnya lurus.

"Kamu sangat yakin."

"Selalu." Sagara tak mengambil jeda.

Anjani mengangguk singkat.

Tatapannya lalu beralih ke Shafiyya yang masih diam--dengan cara yang sama.

"Elara.."

"..Iya."

"Kamu tidak keberatan diperiksa ulang?"

Pertanyaan yang membuat Ravendra tersenyum. Merasa menang.

Shafiya menunduk sesaat.

Saat kemudian mendongak, ia mengangguk. Tidak keras, tidak mantap. Hanya sebatas setuju tanpa disertai harap.

Anjani tidak langsung merespon anggukan itu. Ia hanya menatap Shafiya lebih lama.

Seolah memastikan--bukan pada jawabannya, tapi keberaniannya.

“Baik.”

Satu kata.

Cukup untuk mengubah arah ruangan.

“Persiapan dilakukan sekarang.” Ia memberi perintah tanpa perlu disebut dengan jelas pada siapa. Yang pasti, terlihat beberapa orang kepercayaannya langsung bergerak.

Tidak perlu breefing.

Tidak perlu bagi tugas.

Mereka sudah tahu pada bagiannya masing-masing, dan dilaksanakan secara bersamaan.

Ravendra bersandar lebih santai. Sudut bibirnya masih menyimpan sisa kemenangan.

Beberapa pasang mata mulai bergerak. Ada yang saling bertukar pandang. Ada yang diam, tapi jelas menunggu.

Ini bukan lagi wacana.

Ini eksekusi.

Sedangkan Sagara tidak bergerak.

Tatapannya masih pada Shafiya.

Bukan melindungi.

Juga bukan membela.

Lebih seperti… memastikan.

“Jangan membuat kesalahan.”

Asisten datang ke sisi Anjani, melaporkan bahwa ruang pemeriksaan dengan dokter kepercayaan sudah siap.

Anjani mengangguk. Menatap Shafiya sekali lagi. "Ikuti saya, Elara!"

Shafiya mengangguk. "Baik."

Ruang pemeriksaan itu berbeda.

Lebih tenang. Lebih tertutup. Lebih… steril dalam arti yang sesungguhnya.

Tidak ada banyak alat terbuka. Semuanya tersusun rapi. Disiapkan, bukan dipertontonkan.

Seorang dokter perempuan berdiri di sana. Usianya sekitar pertengahan empat puluhan. Wajahnya tenang, tanpa banyak ekspresi. Tatapannya tajam--terbiasa melihat lebih dari sekadar gejala.

Ia mengangguk hormat pada Anjani.

“Nyonya.”

Anjani hanya membalas dengan anggukan singkat. “Lakukan.”

Shafiya berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya mengikuti instruksi dokter.

Tangannya sempat dingin.

Tapi ia tidak menolak.

Tidak bertanya.

Pemeriksaan dimulai.

Tenang.

Sistematis.

Setiap langkah dilakukan tanpa tergesa, tanpa celah.

Dokter itu bekerja seperti seseorang yang tidak hanya memeriksa--tapi memastikan.

Tidak ada percakapan yang tidak perlu.

Hanya instruksi singkat.

“Tarik napas.”

“Tahan.”

“Lepaskan.”

Anjani berdiri mengawasi, dengan kontrol penuh. Tak satupun gerakan dokter yang luput dari pandangannya.

Karena yang ia tunggu bukan hanya sekadar informasi.

Tapi keputusan.

Beberapa menit yang terasa lebih lama dari seharusnya. Dokter berhenti. Pemeriksaan selesai.

Matanya beralih pada monitor. Meneliti sekali lagi untuk lebih memastikan.

Baru kemudian ia menoleh.

“Kehamilan terkonfirmasi.”

Suasana tidak berubah.

Tapi udara terasa lebih berat.

Dokter itu melanjutkan, tetap dengan nada yang profesional.

“Perkiraan usia kehamilan berada di awal trimester pertama.”

Ia menyebut angka dengan jelas. Terukur. Tidak berlebihan.

“Kurang lebih… lima hingga enam minggu.”

Hening.

Bukan karena tidak ada yang ingin bicara.

Tapi karena hasil itu--cukup untuk mengubah segalanya.

Shafiya tidak langsung bereaksi.

Ia hanya diam.

Tatapannya kosong beberapa detik, seolah otaknya menolak menyusun makna dari apa yang baru saja ia dengar.

Lalu perlahan napasnya berubah.

Lebih berat. Lebih dalam.

Tangannya bergerak, refleks, menyentuh perutnya sendiri.

Seolah memastikan.

Seolah berharap dokter itu salah.

Tapi tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang bisa dibantah.

Tidak ada yang dapat ditarik kembali.

Ini faktanya, ia hamil. Benar-benar hamil. Dan kepastian itu kini didengarnya sendiri.

Air mata Shafiya jatuh. Tanpa suara.

Tanpa isak.

Hanya mengalir… seolah sudah lama tertahan.

Dokter yang melihatnya tidak ikut campur.

Ia sudah terbiasa dengan arah.

Ia tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam.

Dan ini--bukan bagian yang membutuhkan penjelasan medis.

Anjani tetap berdiri di tempatnya.

Menatap Shafiya,

Bukan dengan tatapan iba, atau pun mengecam keras.

Tapi dengan ketenangan seseorang yang melihat kenyataan sebagai sesuatu yang harus diterima--bukan ditangisi.

Beberapa detik berlalu.

Cukup bagi Anjani untuk memastikan--tangisan Shafiya itu nyata. Bukan rekayasa.

Tangannya terangkat.

Menepuk pundak Shafiya.

Pelan. Singkat.

“Jika ada keluhan, beritahu dokter.”

Hanya itu. Tidak ada kalimat lain.

Tidak ada pertanyaan.

Seolah hasil pemeriksaan itu--sudah cukup. Dan ia tak perlu tahu apa yang Shafiya rasakan.

Anjani berbalik.

Melangkah keluar.

Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan tenang.

Dan ia kembali ke ruang utama--tempat semua orang masih menunggu.

Masih menanti jawaban

yang akan menentukan arah kekuasaan.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!