NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Gedung fakultas farmasi yang megah dan beraroma khas antiseptik kini menjadi rumah keduaku. Jas laboratorium putih yang kukenakan bukan lagi sekadar seragam, melainkan simbol bahwa aku sedang meramu masa depanku sendiri, tetes demi tetes, dalam tabung reaksi harapan yang baru Fakultas Farmasi

Di sela-sela praktikum yang padat, aku duduk di bangku taman kampus, menatap amplop cokelat dari Ayah yang masih kusimpan di tas—bukan lagi di laci yang gelap. Hari ini, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah berani kulakukan selama delapan tahun terakhir: berdamai.

Aku mengambil ponsel dan mendial nomor yang selama ini kublokir.

"Halo, Yah?" suaraku stabil, tidak ada lagi getaran kebencian yang meledak-ledak.

"Nara? Ini beneran kamu, Nak?" suara di seberang sana terdengar parau, penuh ketidakpercayaan.

"Iya. Nara cuma mau bilang... uang tabungan itu Nara pakai untuk biaya praktikum semester ini. Makasih, Yah," aku menarik napas panjang, menatap gelang pemberian Arkan di pergelangan tanganku. "Nara nggak janji semuanya bakal balik kayak dulu. Tapi Nara nggak mau lagi hidup sambil bawa batu besar di punggung. Nara maafin Ayah, buat ketenangan hati Nara sendiri." 

Hening sejenak di seberang sana, sebelum terdengar isak tangis pelan yang sangat tulus. Aku memutus sambungan dengan perasaan yang luar biasa ringan. Tembok itu tidak lagi runtuh karena hancur, tapi karena aku sendiri yang memilih untuk membongkarnya dan menggantinya dengan jendela yang luas.

Ting!

Arkan P: Ra, asisten dosen gue bilang struktur maket gue hari ini 'perfect'. Gue langsung kepikiran lo. Lo oke di kampus? Jangan lupa kedip pas liat mikroskop!

Aku tersenyum lebar, mengetik balasan dengan jemari yang terasa hangat.

Nara: Gue baru aja ngelepas 'beban' paling berat di hidup gue, Kan. Gue udah telpon Ayah. Makasih ya udah jadi semen yang bikin gue cukup kuat buat ngelakuin ini.

Arkan P: GILA! Bangga banget gue sama lo! Ini namanya progres asuransi tingkat platinum, Ra. Tunggu gue balik, kita rayain di markas pakai piza paling mahal!

Malamnya, aku bercerita pada Mama dan Kak Pandu. Mama memelukku lama, matanya berkaca-kaca melihat putrinya sudah benar-benar dewasa. Kak Pandu hanya menepuk bahuku sambil tersenyum bangga. "Arkan pasti senyum-senyum sendiri di Jakarta denger kabar ini. Dia emang beneran dapet 'proyek' terbaiknya di lo, Ra." 

Aku menyadari bahwa berdamai bukan berarti melupakan, tapi melepaskan kendali masa lalu atas kebahagiaan masa depanku. Farmasi mengajarkanku tentang dosis yang tepat; dan dosis kebahagiaan yang diberikan Arkan serta dukungan keluarga ternyata adalah penawar paling ampuh untuk racun trauma masa lalu.

Aku siap untuk bab selanjutnya. Bab di mana aku tidak lagi takut menjadi bahagia.

Keesokan paginya, aku melangkah ke kampus dengan perasaan yang jauh berbeda. Rasanya seolah gravitasi tidak lagi menarik pundakku sekuat kemarin. Aku tidak lagi menunduk saat melewati lorong gedung Fakultas Farmasi universitas ; aku mulai berani menatap mata orang-orang dan membalas sapaan teman-teman angkatanku.

Ternyata, memaafkan bukan tentang memberikan kesempatan kedua bagi orang yang menyakiti kita, tapi memberikan kebebasan bagi diri sendiri untuk terus melangkah .

"Arkan terimakasih sudah terus ada dan membangun fondasi yang kokoh,sekarang gue sudah bisa berdamai dengan luka itu''

Satu bulan kemudian, libur semester yang dinanti akhirnya tiba. Aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke Solo, melainkan menetap beberapa hari lebih lama di Yogyakarta. Ada janji yang harus ditepati.

Sore itu, Stasiun Tugu tampak riuh. Aku berdiri di dekat pintu kedatangan, memilin ujung jas almamater yang tersampir di lenganku. Jantungku berdebar, bukan karena cemas seperti saat menghadapi ujian praktikum titrasi, melainkan karena antusiasme yang membuncah.

"Nara!"

Suara itu. Suara yang selama beberapa bulan ini hanya bisa kudengar lewat speaker ponsel, kini terdengar nyata membelah kebisingan stasiun.

Sesosok laki-laki jangkung dengan jaket hitam dan tas carrier besar di punggungnya berlari kecil ke arahku. Wajahnya tampak sedikit lelah khas mahasiswa arsitektur Jakarta yang kurang tidur, tapi matanya berbinar sangat cerah. Begitu sampai di depanku, ia tidak berhenti—ia langsung menarikku ke dalam pelukan singkat yang hangat. Aroma parfum maskulin bercampur wangi khas kereta api langsung menyerbu indra penciumanku.

"Asuransi lo pulang, Ra," bisik Arkan tepat di telingaku.

Aku tertawa, melepaskan pelukannya pelan sambil menatap wajahnya. "Selamat datang di Jogja, Arkan. Ternyata lo nggak berubah, tetep berisik."

"Dan lo tetep galak," Arkan nyengir, lalu matanya tertuju pada gelang perak Daisy di pergelangan tanganku yang masih melingkar manis di sana. "Masih dipakai? Gue kira udah lo buang karena udah nggak aesthetic buat anak Farmasi."

"Ini jimat pelindung, inget?" balasku sambil menaikkan sebelah alis.

Kami tidak pergi ke piza mahal seperti yang ia katakan di chat. Sebaliknya, Arkan mengajakku ke sebuah kedai kopi kecil di daerah Kaliurang yang memiliki pemandangan langsung ke arah Gunung Merapi. Di atas meja, ia mengeluarkan sebuah gulungan kertas kalkir dari tabung gambarnya.

"Ra, ini progres 'proyek' terjauh gue," ucapnya serius.

Ia membentangkan denah bangunan di hadapanku. Kali ini bukan tugas kuliah, melainkan sebuah sketsa yang ia beri judul: "The Oasis of Nara & Arkana". Di sana, ia merancang sebuah apotek modern di lantai bawah dengan taman tanaman obat yang asri, dan sebuah studio arsitektur di lantai atas dengan jendela besar yang menghadap matahari terbenam.

"Gue di Jakarta belajar cara bangun fondasi gedung yang tahan gempa, Ra. Tapi di sini, bareng lo, gue belajar cara bangun masa depan yang tahan badai masa lalu," Arkan menatapku dengan intensitas yang membuatku merasa menjadi satu-satunya orang di dunia ini. "Lo udah berdamai sama luka lo, sekarang biarin gue yang jadi pelengkap bahagianya."

Aku menyentuh garis-garis sketsa itu. Gemetar di jariku bukan lagi karena takut akan masa depan, melainkan karena rasa syukur.

"Dosis kebahagiaannya pas, Arkan," kataku lirih.

"Nggak akan ada overdosis kalau soal bahagia bareng gue, Ra," candanya sambil mengacak rambutku—kebiasaan lama yang kini terasa sangat menenangkan.

Sore itu, di bawah langit Yogyakarta yang bersemburat jingga, aku menyadari satu hal. Masa lalu dengan Ayah di Solo mungkin adalah bab pahit yang merobek halaman-halaman awal hidupku. Tapi Arkan, dengan segala keberisikannya, telah menjadi benang yang menjahit kembali sobekan itu menjadi sesuatu yang lebih indah.

Aku bukan lagi Nara yang menarik diri. Aku adalah Nara yang berani menatap masa depan.

"Arkan," panggilku saat kami berjalan beriringan menuju parkiran.

"Ya, Tuan Putri?"

"Makasih ya, udah mau jadi asuransi paling nekat di dunia."

Arkan merangkul bahuku, menarikku lebih dekat di tengah embusan angin pegunungan yang dingin. "Sama-sama, Ra. Dan inget, asuransi ini masa berlakunya... seumur hidup."

Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahunya. Di kejauhan, Gunung Merapi berdiri kokoh, sama kokohnya dengan fondasi yang kini kami miliki. Bab ini resmi berakhir, dan aku sudah tidak sabar untuk mulai menulis bab selanjutnya.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!