"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Seana menyadari bahwa hari sudah sangat malam, setelah mengecek jam di ponselnya. Kemudian dia mencari Adinda dikamar untuk mengambil dokumen identitasnya dan berpamitan.
Sementara itu, Adinda sedang merapikan tempat tidur karena berpikir Seana akan menginap dirumah ini. Tetapi dia harus kecewa ketika mendengar bahwa Seana akan pulang. "Kok buru-buru banget? Seharusnya kamu nginep dulu."
Seana menggelengkan kepalanya. "Aku ngga bisa, Kak. Aku besok harus kerja."
"Kamu ngambil dokumen? Buat apa, Dek?." Sebelumnya, Adinda tidak mengetahui bahwa kedatangan Seana ke sini untuk mengambil dokumennya.
"Perjalanan team building tahunan perusahaan diadain diluar negeri. Jadi, aku butuh ini buat bikin paspor." jawabnya, sengaja berbohong. Karena tidak ingin membuat Kakaknya khawatir. Seana mengarang kebohongan. Lagipula, pernikahannya dengan Sanzio itu palsu. Hubungan mereka tidak memiliki masa depan bersama seterusnya, dan perceraian pasti tak tak terhindarkan.
Adinda mengangguk, mengerti dan memberikan salah satu berkas penting kepada Seana. Seana menerimanya. "Kapan-kapan kalau aku ke sini lagi, aku balikin."
"Iya, kamu bawa aja dulu." Kata Adinda.
Seana membuka dokumen tersebut untuk memeriksa kelengkapannya. Hanya ada nama ibunya, Seana dan Adinda yang terdaftar dikartu keluarga itu. Lembar lain adalah akta kematian nenek dan ayah Seana. Kemudian Seana menoleh kearah Kakaknya, memperhatikan perut kakaknya yang terlihat agak buncit.
"Kapan Kakak bikin kartu keluarga yang baru? Bella udah masuk tk loh!."
Adinda tampak tegang mendengar pertanyaan Seana.
Dan Seana langsung mengerti apa yang sedang terjadi. Perlu biaya dan sedikit kerepotan untuk membuat sebuah kartu keluarga, Feri yang pemalas tidak akan mau memikirkan untuk membuat hal semacam itu.
Seana dapat melihat kesedihan di mata Adinda, lalu beralih memperhatikan Bella yang tadi berseru ingin tidur dengannya.
"Bella sekarang udah sekolah Tk. Kakak sebaiknya cari pekerjaan."
Pendidikan Adinda dibiayai oleh bea siswa, hal itu yang memungkinkannya lulus dari universitas terbaik. Dia seharusnya tidak dipaksa untuk hidup seperti sekarang. Terus terang saja, Seana berpikir bahwa kakaknya seharusnya tidak mengikuti perintah ibu mereka.
Adinda juga sebenarnya menyesali perbuatannya. Orang tua mungkin tidak selalu benar dalam banyak momen, tetapi Adinda sudah mempertimbangkan saran Seana. "Kakak juga pengennya gitu. Tapi nanti siapa yang antar jemput Bella ke sekolah. Bella udah sekolah sekarang, tapi ibu mertua kakak ngga mau nganterin Bella, sama sekali. Kakak udah pernah bahas ini sama beliau, tapi percuma."
"Kakak bawain Bella bekal makan siang. Ada banyak peluang diluar sana yang kerjanya bisa shift pagi atau malam." Kata Seana dengan serius.
Adinda menatap Seana, dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa dia masih ingin mengatakan sesuatu.
"Kakak hamil lagi?." Tanya Seana ketika memperhatikan perut kakaknya. "Ini bukan waktu yang tepat, kak."
Raut wajah Adinda memucat. Adiknya bisa menyadari hal itu, meski dia mengenakan baju daster yang besar. Sebenarnya Adinda juga tidak menginginkan anak kedua. Tidak ada yang membantunya jika dia memiliki anak lagi. Belum lagi, jika terjadi sesuatu yang salah pada anak itu, semua kesalahan akan di limpahkan padanya. Adinda juga sudah muak hidup setiap hari berjuang mencari harapan.
Tidak lama kemudian, Sanzio kembali menelpon Seana dan mengatakan bahwa dia sedang menunggu Seana di luar gang. Gang yang kecil membuat mobilnya tidak bisa masuk.
Seana tidak menyangka bahwa Sanzio akan menjemputnya. Setelah menutup sambungan telepon, Seana menatap kakaknya, lalu memberikan uang sebesar lima juta padanya.
Adinda menolaknya. "Rico kemarin minta uang ke kakak. Nanti kalau dia tahu kakak punya uang, dia pasti minta lagi. Lebih baik, kamu simpan aja buat kamu sendiri."
Ya, Rico adalah adik tiri mereka. Ibu mereka mengira bahwa Adinda akan terjamin hidupnya setelah menikah dengan Feri dan karena itu dia sering meminta bantuan pada Adinda untuk menghidupi putranya yang dimilikinya bersama pria yang tak jelas identitasnya.
Tetapi kenyataannya, Adinda tidak memiliki apa pun. Jadi terkadang dia diam-diam meminta bantuan pada Seana. Jika Adinda terang-terangan meminta bantuan pada Seana, Rico akan semakin berani seiring waktu dan sekarang langsung meminta uang pada Seana.
Seana kehilangan kesabarannya ketika topik pembicaraan mereka membahas adik tirinya yang tidak becus itu. "Dia lagi magang sekarang. Kakak ngga perlu nurutin semua permintaannya. Walaupun ibu yang nyuruh."
Seana jadi ingat, ketika beberapa hari yang lalu, Rico menghubunginya, tetapi karena kesal, Seana langsung mematikan teleponnya. Dan telepon dari Sanzio datang setelah itu. Ketika Seana mengingatnya, dia menyadari bahwa dirinya belum memberikan Rico uang sepeser pun selama hampir tiga bulan.
Adinda merasa seperti terjebak diantara dua pilihan yang sulit. "Kamu tau kan gimana sikapnya Ibu? Kalau aku berhenti kasih Rico uang. Ibu pasti dateng ke sini dan bikin keributan."
Hal itu sudah pernah terjadi sebelumnya, histeria ibu mereka, membuat Adinda takut.
Apalagi setelah itu, Adinda menjadi bahan gosip ibu mertuanya dan para tetangga.
Raut wajah Seana terlihat muram. "Tapi kakak ngga bisa kayak gini terus."
"Udah jangan bahas ini lagi. Kakak capek!." Kata Adinda dengan tegas.
"Ya udah kalau gitu, aku harus pulang."
Sanzio juga sudah menunggunya. Tidak ada waktu bagi Seana untuk mengobrol lama. Tidak ada yang pernah berjalan lancar jika nama Rico disebut dalam pembicaraan. Adinda mengangguk dan memutuskan untuk menyiapkan makan, untuk dibawa Seana pulang.
Seana menolak, tetapi kakaknya tahu betapa sulitnya menyiapkan makan malam yang nikmat setelah pulang dari kantor. Itulah mengapa Adinda membekalinya makanan agar bisa langsung dibawa. Dengan begitu, setidaknya Seana bisa menikmati makanan hangat saat sampai di apartemen.
Adinda ingin mengantar Seana sampai ke halte didepan gang, tetapi Seana menolaknya dengan alasan Bella yang sedang sakit akan sendirian di rumah jika di tinggal. Namun alasan yang sebenarnya, mengapa Seana menolak adalah karena dia tidak ingin Adinda bertemu dengan Sanzio.
Malam sudah semakin gelap gulita ketika Seana berjalan dibawah lampu jalan yang redup dengan kotak bekal di tangannya. Di ujung gang, sebuah maybach hitam menunggu ketika akhirnya Seana keluar dari gang.
Sanzio terlihat bersandar di pintu mobil sembari merokok.
Dari caranya memandang Seana, membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
Seana berjalan mendekat. "Malam, Pak Zio."
"Sudah bawa dokumen-dokumen penting kamu?."
Seana mengangguk. "Ada didalam tas."
Sanzio berbalik, dan membukakan pintu penumpang. "Ayo masuk."
Seana menegang ketika menyadari tindakan Sanzio. Tak disangka bosnya sendiri mau membukakan pintu mobil untuknya. Ia menjadi semakin deg-degan ketika dia hendak masuk kedalam mobil.
Sementara itu, sudut bibir Sanzio terangkat ketika menyadari bahwa Seana sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Kamu kenapa?."
"Hm... Pasti Pak Zio sibuk. Saya bisa pulang sendiri." Kata Seana, dia berpikir bahwa Sanzio datang ke daerah ini pasti karena ada urusan bisnis di sini.
"Saya ke sini karena mau jemput kamu!." Suara Sanzio terdengar sangat dalam.
Seana terdiam. Jantungnya berdebar kencang.
Pria itu datang ke sini untuk menjemputnya? Seana tak kuasa menahan perasaan gugup dibawah tatapan Sanzio.
Sanzio mengangkat sebelah alisnya, seolah memberi isyarat agar Seana cepat masuk kedalam mobil. Sementara itu, Seana kebingungan, haruskah ia masuk atau tidak. Rasanya tidak benar jika ia tidak naik. Tetapi itu tidak sepertinya tidak sopan. Pada akhirnya, Seana menyerah dibawah tatapan tajam Sanzio.
Pintu mobil ditutup setelah Seana masuk, dan Sanzio berjalan memutar ke kursi pengemudi. Seana memang asistennya, tetapi dia adalah wanita pertama yang duduk dimobil Sanzio dan disampingnya.
Mobil itu sangat bersih dan harum, tidak seperti mobil lain yang selalu mengeluarkan bau yang tidak dapat dijelaskan.
Saat menyalakan mesin mobil, Sanzio melihat kotak makan di tangan Seana. "Apa itu buatan kakakmu?."
Seana mengangguk. "Ya, kakak selalu bawain makanan yang terbaik buat saya."
Selama diperjalanan, sama sekali tidak ada obrolan yang terdengar dari keduanya. Hingga mereka akhirnya sampai di penthouse Starlight.
Seana tidak tahu mengapa Sanzio membawanya ke sini. "Apa bapak butuh bantuan dari saya?." Tanya Seana dengan cemas. Ia berpikir bahwa mungkin dirinya akan bekerja lembur hari ini. Lagipula, mengikuti jam kerja atasannya yang tidak mengenal waktu adalah tanggung jawabnya sebagai asisten.
Pertanyaan Seana, membuat Sanzio menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyadari telah membawa Seana pulang bersamanya. "Ngga, tapi mulai hari ini dan seterusnya kamu harus tinggal bareng saya."
Jantung Seana berdebar kencang. Apakah dia tidak salah dengar? Tinggal disini mulai sekarang? Tidak mungkin Seana bisa melakukan itu, dia belum siap. "Tapi, Pak--"
Sanzio membuka pintu mobil, sebelum keluar, dia menoleh kearah Seana. "Ini adalah pernikahan demi kepentingan bersama. Tapi, kamu tetap harus tinggal di sini." Sanzio tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Kata-katanya terdengar seperti perintah, tidak memberi ruang bagi Seana untuk menentangnya.
Seana mencengkeram kotak makannya erat-erat saat kepanikan melanda dirinya. Harus menghadapi Sanzio di tempat kerja saja sudah membuatnya sangat takut, dan sekarang dia harus berada didekat pria itu setiap hari.
Apa yang harus Seana lakukan? Dia tidak ingin menghabiskan setiap malam dengan mengkhawatirkan dirinya sendiri!
"Keluar dari mobil." Seana mendengar suara Sanzio dari luar mobil.
Dan sekali lagi, Seana tidak bisa melakukan apa-apa.