David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 10) Gejolak
Sudah beberapa hari berlalu semenjak Dio keluar dari rumah sakit. Namun, tiada kebahagiaan terpatri di wajahnya. Ia selalu tampak murung. Bahkan Dio acapkali menangisi bingkai foto Laila. Bagaimana tidak? Wanita yang amat ia cintai, belum kunjung ada kabar. Seolah menghilang diterpa angin yang kencang.
Rumah yang dulu ramai dengan langkah-langkah kecil dan canda tawanya, seketika menjadi sunyi senyap. Ranjang yang ia tiduri berdua dengan Laila, kini menyisakan kehampaan disertai kenangan.
Dio memegang dadanya menahan sakit yang bergejolak. Air matanya mengalir deras, bersamaan dengan rintik-rintik hujan yang menghantam atap rumahnya.
Di luar terlihat mendung, suram dan gelap. Seakan tiada harapan. Sama seperti hati Dio yang gundah-gulana, entah dimana pujaannya itu berada.
"Nak..." lirih Mira menapak pundak Dio yang tengah bersandar dengan wajah penuh kesedihan, di dekat jendela kamarnya.
"Ayo makan. Sudah seharian ini, kau hanya merenung terus. Tolong jangan buat ibu khawatir," lanjut Mira.
Dio menoleh. Terlihat, kedua matanya nampak sayu dengan pinggir yang menghitam. Rambutnya acak-acakan. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Penampakannya sungguh kusut hampir seperti orang gila.
"Ibu... Aku sudah memutuskan." Ucap Dio dibalik tatapannya yang layu.
"Memutuskan apa, nak?" timpa Mira.
"Aku akan menyusul Laila ke Brazil," balas Dio, menunjukkan keteguhan hatinya.
Deggggh.
"Tapi nak, bukankah ke Brazil membutuhkan biaya yang cukup besar? Dari mana kita bisa mendapat uang sebanyak itu?" keluh Mira.
"Yaitu dengan bekerja ibu," jawab Dio. "Besok, aku mau mulai mencari pekerjaan. Tidak mungkin aku diam begini, sedangkan istriku entah apa kabarnya dia diluar negeri. Aku bahkan tidak tau dia ada dimana. Jadi, aku memutuskan untuk menyusulnya ke Brazil lalu mencari keberadaannya."
Mira cuma bisa terdiam. Kehendak putranya yang amat kuat tersebut, tidak dapat ia sanggah apalagi tolak. Sebab ia sendiri juga kepikiran soal menantunya, Laila.
"Kalau itu keputusanmu, ibu hanya mendukung sambil mendoakan yang terbaik untukmu, nak. Tapi, apa kau yakin? Kau kan baru saja pulih. Bagaimana jika penyakitmu kambuh lagi?"
"Itu takkan terjadi ibu. Sebab kehilangan pujaan hati, jauh lebih menyakitkan dibanding melawan penyakit." Tutur Dio, penuh tekad.
Hari-hari kian berjalan bagaikan laju kereta.
Di sebuah kedai kopi, Dio kelihatan duduk berhadapan bersama Aini di satu meja yang sama. Dari ekspresi yang tercurah, bisa disimpulkan bahwa obrolan mereka bukan sekedar berbagi cerita biasa. Melainkan tentang Laila.
Lantaran dari semua teman satu kerja Laila, hanya Aini yang Dio kenal. Gadis itulah yang seringkali dibawa Laila untuk main ke rumah.
"Silahkan diminum kopinya Ai," ajak Dio dengan ramah, menghunjuk kopi yang berada di atas meja.
Aini menganggukkan kepalanya sambil menangkup gelas kopinya, "iya kak. Nanti. Masih panas ini."
"Ohhh," sahut Dio singkat yang tiada lama keheningan melanda.
Suasana tampak canggung. Sehingga tak terasa jarum jam berputar-putar, berpindah dari angkah satu ke yang lain. Bahkan suara kendaraan yang tadinya tidak kedengaran karena keramaian, mulai samar-samar mengalun di telinga.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
"Aini..." Dio akhirnya membuka perbincangan.
"Iya kak?"
"Laila hilang kabar. Sudah hampir dua minggu. Terakhir kami kabar-kabaran sebelum aku menjalankan operasi. Saat siuman, bukannya dapat kabar baik... aku malah dihantam kenyataan jikalau istriku tiba-tiba tidak bisa dihubungi, setelah memilih bekerja di luar negeri demi menebus uang operasiku." Dio mencurahkan isi hatinya.
"Aku turut prihatin kak," lenguh Aini dengan wajah sedih.
"Orang yang terakhir bersama Laila adalah dirimu. Apa kau memang tidak tahu, dimana Laila bekerja dan kepada siapa?" satu pertanyaan yang membuat Aini berkecamuk.
Deggg.
Aini menundukkan muka, berusaha menyembunyikan kebenaran. "Maaf kak, aku tidak tahu. Laila tiada memberitahuku perihal itu secara detail. Yang jelas masih di sekitaran Sao Paulo, ibukota Brazil. Tempat terakhir kami bersama."
"Begitu ya," ujar Dio, muram. Setelahnya ia melanjutkan, "ngomong-ngomong, apa perusahaan tempat kau bekerja ada lowongan?"
Aini tersentak. Berpikir sesaat lalu berkata, "kebetulan belum ada kak. Namun aku akan coba mencari-tahu kepada relasi-relasiku. Siapa tahu mereka mau membantu. Kirimkan saja CV dan surat lamaran kerjamu, di nomorku."
"Baik Aini. Terima kasih sebelumnya. Dan tolong beri aku kabar secepatnya," ucap Dio berharap.
Aini pun mengiyakan dengan senyuman.
Sementara Dio bergulat dengan pikirannya. "Aku harus mendapatkan pekerjaan secepatnya. Menabung sedikit demi sedikit gaji-gajiku, lalu pergi menyusul Laila ke Sao Paulo."
Dio menghela nafasnya dengan berat. Sedangkan lubuk hatinya terdalam, mengalunkan doa-doa agar keinginannya tersebut terkabulkan.
**********
Sang mentari mulai terbenam, pelan-pelan rembulan pun menyapa. Di depan meja riasnya yang berhiaskan emas, Laila merenung sambil memandangi layar ponselnya.
"Haaah," ia berulang kali mendenguskan nafasnya kasar. Seperti terbebani suatu hal.
"Disaat-saat luang kaya gini, curhat sama Aini adalah solusi terbaik." Gumamnya meluapkan apa yang tertera dalam pikirannya. "Tapi sayang sekali. Aku malah lupa meminta kembali nomor teleponnya di pertemuan terakhir kami."
Laila menopang dagunya dengan kedua tangan. Menatap dirinya yang memantul di kaca. "Dio... Kau apa kabar? Aku sangat merindukanmu."
Laila menitikkan air mata sebagai luapan atas kerinduannya kepada sang pujaan.
"Nyonya..." tiba-tiba kedatangan Mia, mengagetkannya dari lamunan.
"Ah, Mia..."
"Air mandinya sudah saya siapkan. Silahkan langsung ke bilik kamar mandi ya, Nyonya..." tutur Mia dengan ramah seraya membungkukkan badan.
"Oh iya, baiklah Mia. Terima kasih..." Laila langsung beranjak. Melangkahkan kakinya dengan gemulai menuju kamar mandi.
Sesampainya disana, ia melucuti seluruh pakaiannya yang menempel di tubuh indahnya. Menggerai rambutnya, lalu kemudian berendam ke dalam bathtub yang dipenuhi busa dan petikan-petikan bunga mawar.
"Hari ini benar-benar gerah, layaknya di neraka." Batin Laila sembari menggosok-gosok lengannya dengan busa sabun.
"Entar sehabis mandi, langsung tidur saja lah..." begitulah rencananya, sebelum pada akhirnya gembruman mobil menggema di halaman kediaman Mendoza.
Bruuum.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat dengan kilat yang menyambar, menepi rapi di halaman. Dari dalamnya, sesosok paling berkuasa di kediaman itu menongolkan dirinya. Siapa lagi kalau bukan David Mendoza.
Leo yang sudah kian menunggu di tangga menuju pintu masuk kediaman, seketima menghampiri sang tuan.
"Selamat datang kembali, tuan muda..." sapa Leo meringkuk.
David membuka kacamata hitamnya. Mengedarkan pandangan, dan hanya ada para pelayan yang tengah menjejerkan diri dengan kepala tertunduk hormat, di tangga.
"Dimana istriku?" tanya David, menyipitkan matanya.
Leo menjawab, "nyonya sedang mandi, tuan muda."
David melebarkan seringainya, "begitu ya. Rupanya dia tengah mempersiapkan diri, untuk menyambut kepulangan suaminya tercinta."
Dengan percaya diri, David memasuki kediamannya. Melangkahkan kakinya ke lantai dua, menuju kamar Laila.
"Se--selamat malam, tuan muda..." ucap Mia yang sedang menjaga di depan pintu kamar Laila, seketika memberi tundukan hormat kala tuannya itu muncul tiba-tiba.
Dengan wajah datar hampir tanpa ekspresi, David menggerakkan ujung matanya. Mengarahkan Mia untuk membuka pintu kamar.
Mia yang paham akan isyarat itu, langsung membuka pintu dengan gelagat kikuk. Tentunya tanpa basa-basi lagi, David pun masuk.
Brakkk.
David mengunci pintu. Supaya tidak ada satupun orang masuk, kecuali dirinya. Hanya dia dan Laila yang kini berada dalam kamar.
David melihat sekelilingnya. Tiada lama, ia memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma wangi yang merasuk penciumannya.
"Ini memang bau istriku... Laila..." batinnya tersenyum licik, dan segera menuju bilik kamar mandi. Dimana disana, Laila yang bertelanjang bulat masih tampak membersihkan dirinya.