Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Suapan Maut
"Singkirkan mangkuk murahan itu dari hadapanku, Harper!" bentak Dominic sambil menatap tajam mangkuk berisi bubur instan di atas meja dengan kengerian luar biasa.
Harper bersedekap, menatap bosnya dengan tatapan kosong yang jauh lebih mematikan dari ancaman pemecatan. "Makan. Bubur ini mengandung karbohidrat dan cairan hangat yang sedang dibutuhkan oleh tubuh lemahmu itu. Setelah buburnya habis, kau harus langsung meminum obatnya."
"Tolong hargai kasta lambungku! Lagipula, tanganku lemas total. Tulang-tulangku serasa dicabut paksa dari dagingnya. Aku bahkan sama sekali tidak kuat mengangkat sendok plastik sialan ini," keluh Dominic pelan.
Dia sengaja menjatuhkan kedua tangannya ke sisi kursi kulitnya yang empuk, berlagak persis seperti orang lumpuh total. "Lihat sendiri kan? Saraf tanganku sudah berhenti berfungsi akibat serangan bakteri ganas ini."
"Jangan banyak alasan aneh. Tanganmu baru saja kau gunakan untuk menggebrak meja saat marah-marah tadi. Cepat pegang sendoknya sekarang," balas Harper sangat tajam tanpa belas kasihan.
"Tidak mau. Aku butuh disuapi oleh perawat profesional berlisensi kelas atas!"
Harper menarik napas panjang, berusaha keras menahan dorongan untuk menumpahkan kuah kaldu bubur itu langsung ke wajah tampan bosnya yang kelewat menyebalkan. Dia meraih sendok plastik bening dari dalam mangkuk, lalu mengaduk bubur kental yang masih mengepulkan asap itu dengan gerakan kasar.
"Buka mulutmu lebar lebar," perintah Harper galak sambil menyodorkan sendok.
Dominic membelalakkan mata melihat ujung sendok itu. "Kau mau meracuniku pelan pelan pakai makanan aneh ini?"
"Buka mulutmu sekarang juga, Dom, atau sendok plastik ini akan kumasukkan paksa lewat lubang hidungmu!"
Ancaman barbar sang sekretaris sukses membuat nyali Dominic ciut. Pria angkuh itu langsung membuka mulutnya. Harper meraup sesendok penuh bubur panas dan menjejalkannya ke dalam mulut Dominic tanpa peringatan.
"Panas! Astaga, ini panas sekali!" seru Dominic tertahan.
Matanya melotot kaget. Lidahnya serasa melepuh terkena kuah kaldu instan yang jelas jelas baru saja diseduh dengan air mendidih dari dispenser pantri.
"Telan saja langsung. Panas itu sangat ampuh membunuh bakteri manja yang sedang bersarang di tenggorokanmu," ucap Harper sangat santai, sama sekali tidak merasa bersalah melihat bosnya kepanasan.
Dominic mengipasi mulutnya dengan telapak tangan kanan, sementara matanya berair menahan perih. Anehnya, dia tidak berniat memuntahkan makanan itu.
Perutnya memang keroncongan parah sejak rapat dewan direksi pagi tadi. Sensasi gurih kaldu ayam instan terasa lumayan enak di lidah mati rasanya.
Terlebih, melihat Harper bersedia menyuapinya memberikan perasaan hangat janggal di dada. Dia suka diperhatikan sekretaris sedingin es kutub ini.
"Suapan kedua, buka mulut," Harper menyodorkan sendok lagi.
Kali ini Dominic membuka mulut tanpa banyak protes. Dia mengunyah gumpalan nasi hancur instan itu pelan pelan sambil menatap wajah sekretarisnya lekat lekat.
"Pelan sedikit, wanita barbar. Lidahku bukan aspal jalan raya yang tahan panas," protes Dominic setelah menelan suapan kedua. "Tiuplah sedikit sebelum makanan itu dimasukkan ke dalam mulutku."
"Kau ini seorang pemimpin perusahaan besar atau balita umur tiga tahun?" Harper mendengus kesal.
Meskipun begitu, Harper tetap meniup suapan berikutnya beberapa kali dengan sabar sebelum menyodorkannya kembali ke mulut Dominic.
Satu mangkuk bubur instan habis dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Dominic bersandar ke sandaran kursi dengan perut penuh. Napasnya masih sedikit berat karena hidungnya mulai tersumbat parah.
Harper merobek bungkus obat warung berwarna hijau terang itu, lalu mengeluarkan satu butir tablet. Dia meletakkan obat itu tepat di atas telapak tangan Dominic beserta segelas air putih hangat.
"Minum sekarang," titah Harper mutlak.
Dominic menatap pil kecil itu dengan pandangan ragu. "Ini benar benar aman? Kau yakin tidak ada efek samping mematikan dari obat murahan ini?"
"Efek samping utamanya adalah kau akan diam, tidur pulas, dan berhenti mengganggu pekerjaanku di luar," jawab Harper ketus.
Tanpa berani membantah lagi, Dominic segera menelan pil kecil itu dan meneguk air putih sampai tandas. Harper mengambil mangkuk plastik kosong serta gelas kotor dari atas meja kerja.
"Tidur di sofa sana. Jangan di kursi kerja. Tulang punggungmu nanti bisa sakit lalu kau pasti akan mengeluh memintaku mendatangkan ahli tulang kemari," perintah Harper sambil menunjuk sofa panjang berbahan kulit asli di sudut ruangan.
Dominic menurut patuh. Tubuhnya terasa lelah dan berat akibat flu mendadak ini. Dia bangkit berdiri, berjalan gontai menyusuri karpet tebal menuju sofa, lalu membaringkan tubuh jangkungnya di sana. Dia menarik bantal sofa untuk menyangga kepalanya.
Harper berbalik dan melangkah berjalan menuju pintu, bersiap kembali ke meja kerjanya yang ada di luar.
Obat flu murahan itu rupanya memiliki efek samping kantuk yang luar biasa cepat dan kuat. Belum sempat tangan Harper menyentuh gagang pintu kayu, mata Dominic sudah tertutup sangat rapat. Napas pria itu mulai teratur lambat meski sesekali diselingi dengkuran halus akibat hidung meler yang belum sembuh.
Langkah Harper mendadak terhenti saat mendengar gumaman pelan dari arah sofa kulit. Dia menoleh dan melangkah mendekat. Dominic terlihat sangat damai tertidur. Wajah angkuhnya hilang sama sekali.
"Jangan pergi, Harper," gumam Dominic tiba-tiba dalam tidurnya. "Kalau kau pergi, nanti siapa yang marahi aku?"
Mendengar gumaman konyol namun terdengar sangat jujur itu, Harper seketika tertegun diam menatap lekat wajah bos arogannya itu.
cerita kk yg ini bnr2 bikin hipertensi ,,
perlu cek darah aq kak abis ini ,,
tkut drah tinggi ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kak bisa gx ad scene si Dominic tenggelam di laut trus ilang bertahun2 sampai si Harper nikah sama dokter Ryan ,,
🤭🤭🤣🤣🤣
sebel aq tuh sama si domba ,, banyak tingkah gengsi segede bulan ,, /Smug//Smug//Smug/
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣