NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:95.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Delapan

Hanin berusaha tetap terlihat santai. “Mungkin Mas Fahmi salah orang,” ucapnya cepat.

Ghania langsung menggeleng. “Tak mungkin.”

Ia menatap Hanin lebih tajam. “Mas Fahmi sepertinya sangat mengenalmu.”

Kata-kata itu membuat Hanin semakin gugup. Ia merasa seperti sedang berdiri di tengah ruangan tanpa tempat bersembunyi.

Tangannya tiba-tiba menjadi canggung ketika menyusun pakaian. Beberapa lipatan bahkan terlihat berantakan.

“Ah … mungkin cuma merasa pernah lihat saja,” ucap Hanin mencoba tertawa kecil.

Namun tawanya terdengar kaku. Ghania memperhatikannya tanpa berkedip.

Di dalam hati, ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Hanin tidak biasanya seperti ini.

Biasanya sahabatnya itu selalu tenang. Selalu punya jawaban yang jelas.

“Hanin,” panggil Ghania lagi.

“Iya?”

“Apa kamu dan Mas Fahmi ada hubungan?”

Pertanyaan itu seperti lemparan batu ke air yang tenang.

Hanin langsung menjawab cepat. "Tidak!”

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Bahkan sebelum Ghania selesai benar-benar menatapnya.

“Aku nggak dekat dengannya,” lanjut Hanin.

Nada suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Ghania mengangkat satu alis. “Kalau begitu,” ucapnya pelan, “kenapa tadi kamu bilang tak mengenalnya?”

Hanin terdiam. Ia sadar ucapannya mulai saling bertabrakan.

Beberapa detik ia hanya menunduk. Lalu ia berkata, mencoba terdengar santai. “Aku tak begitu dekat. Dan kami jarang bertemu.”

Ia mengangkat bahu kecil. “Jadi mungkin aku lupa kalau pernah kenal.”

Alasan itu terdengar dibuat-buat. Ghania tersenyum miring.

Senyum kecil yang jarang muncul di wajahnya. Di dalam hatinya, rasa curiga mulai tumbuh. Hanin jarang berbohong.

Dan kalau pun berbohong, biasanya ia tidak pandai menyembunyikan kegugupannya. Sekarang semua tanda itu terlihat jelas.

Ada sesuatu yang sahabatnya sembunyikan. Namun Ghania tidak langsung memaksanya.

Ia hanya menatap Hanin beberapa detik lebih lama. Sementara itu Hanin sudah merasa suasana kamar mulai terasa tidak nyaman.

Ia berdiri tiba-tiba. “Aku … mau ke kamar mandi dulu,” ucapnya cepat.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan menuju pintu kamar mandi di ujung koridor. Pintu itu tertutup di belakangnya.

Ghania masih duduk di lantai. Ia memandang ke arah pintu yang baru saja ditutup Hanin.

Ghania menarik napas pelan. Lalu bersandar ke sisi ranjang. “Sepertinya … ada cerita yang belum aku tahu,” gumamnya pelan.

Matanya kembali menatap pintu kamar mandi. Di dalam hatinya, sebuah tekad mulai terbentuk. Ia akan mencari tahu. Apa pun yang sebenarnya disembunyikan oleh Hanin.

**

Pintu kamar mandi menutup dengan bunyi pelan. Hanin berdiri beberapa detik di depan wastafel kecil yang menempel di dinding. Napasnya terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.

Ia membuka keran, membiarkan air mengalir sebentar, lalu membasuh wajahnya.

Air dingin itu sedikit membantu menenangkan kepalanya.

“Tenang, Hanin …,” gumamnya pelan pada bayangannya sendiri di cermin kusam.

Ia tahu Ghania mulai curiga.

Cara sahabatnya bertanya tadi terlalu tajam untuk sekadar penasaran biasa. Tapi Hanin juga tahu ia tidak boleh panik.

Ia sudah memilih jalan ini sejak lama. Menyimpan semuanya sendiri. Maka ia harus tetap kuat menjaga rahasia itu.

Hanin menarik napas panjang, lalu mengeringkan wajahnya dengan ujung handuk kecil. Setelah beberapa menit, ia akhirnya keluar dari kamar mandi.

Saat kembali ke kamar, Ghania sudah duduk di ranjang sambil membuka ponselnya. Wajahnya tampak lebih santai dibanding tadi.

Hanin sedikit lega. Ia duduk di ranjangnya sendiri dan mulai merapikan beberapa barang kecil dari tas.

Percakapan mereka setelah itu berjalan biasa saja. Ghania bercerita tentang keluarganya di rumah, tentang persiapan pernikahan yang mulai dibicarakan orang tuanya, juga tentang rencana sederhana setelah menikah nanti.

Hanin lebih banyak mendengarkan. Ia sesekali tersenyum, sesekali menanggapi singkat.

Namun di dalam hatinya, ada rasa lelah yang perlahan muncul. Hari itu terasa panjang.

Dan entah kenapa, ia merasa sesuatu akan berubah. Padahal semuanya terlihat berjalan seperti biasa.

Hari-hari berikutnya di pondok kembali mengikuti ritme yang sudah Hanin kenal.

Pagi dimulai dengan kegiatan mengaji bersama para santri kecil. Siang hari diisi dengan kelas pelajaran agama. Sore biasanya digunakan untuk kegiatan tambahan atau belajar mandiri.

Dan seperti beberapa hari sebelumnya, Arsenio kembali datang untuk belajar mengaji.

Kehadirannya tidak lagi membuat para santri kecil heboh seperti pertama kali. Mereka sudah terbiasa melihat lelaki itu datang hampir setiap sore. Jika sebelumnya jadwal pagi, saat ini berubah.

Mobil hitamnya sering berhenti di depan gerbang pondok. Lalu Arsenio berjalan masuk dengan pakaian yang rapi tapi sederhana.

Sore itu juga sama. Matahari mulai condong ke barat ketika Arsenio tiba di halaman pesantren.

Beberapa santri kecil yang sedang bermain bola di halaman langsung melambai.

“Bang Arsenio datang!” teriak salah satu dari mereka.

Arsenio tersenyum lebar.

“Iya, iya … nanti kita main lagi,” balasnya sambil mengacak rambut salah satu anak.

Ia lalu berjalan menuju ruang kecil yang biasa dipakai untuk belajar mengaji. Di dalam ruangan itu, Hanin sudah duduk dengan mushaf Al-Qur’an di pangkuannya.

Di sebelahnya ada Aisyah yang juga membantu mengajar. Begitu Arsenio masuk, Aisyah langsung tersenyum.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Arsenio sambil duduk di tikar.

Hanin hanya mengangguk kecil. "Mulai dari halaman kemarin?” tanya Hanin.

“Iya,” jawab Arsenio santai.

Pelajaran mengaji pun dimulai. Arsenio membaca dengan suara pelan tapi jelas. Beberapa kali ia berhenti ketika Hanin mengoreksi makhraj hurufnya.

“Huruf ‘ha’-nya masih kurang keluar,” ucap Hanin lembut.

Arsenio mengulanginya. Aisyah yang duduk di samping hanya sesekali menambahkan penjelasan.

Sekitar satu jam kemudian, pelajaran selesai. Arsenio menutup mushafnya pelan.

“Terima kasih, Hanin, Aisyah,” katanya tulus.

Hanin mengangguk.

“Terus dilatih bacaannya. Sudah jauh lebih baik.”

Arsenio tersenyum. “Berkat guru yang sabar.”

Aisyah langsung tertawa kecil. “Ah, bisa saja.”

Beberapa saat mereka hanya berbincang ringan. Lalu Arsenio berdiri.

“Kalau begitu saya pamit dulu,” katanya.

Namun sebelum melangkah keluar, ia kembali menoleh.

“Ustaz Hamid ada di pondok?”

Aisyah mengangguk. “Ada. Biasanya di kantor belakang.”

“Boleh saya bertemu beliau?”

“Tentu saja.”

Aisyah lalu menunjukkan arah menuju bangunan kecil yang menjadi kantor pimpinan pesantren. Arsenio mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke sana.

Sementara itu Hanin kembali merapikan mushaf-mushaf yang tadi digunakan. Ia tidak terlalu memikirkan tujuan Arsenio menemui Ustaz Hamid.

Mungkin soal bantuan pembangunan seperti yang pernah ia sebutkan sebelumnya.

Di sisi lain pondok, Arsenio berjalan menuju bangunan kantor. Bangunan itu sederhana. Dindingnya dicat putih, dengan teras kecil di depan.

Pintu kayu sedikit terbuka. Arsenio mengetuk pelan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam. Silakan masuk.”

Suara Ustaz Hamid terdengar dari dalam.bArsenio membuka pintu dan masuk.

Di dalam ruangan itu, Ustaz Hamid duduk di belakang meja kayu tua. Beberapa buku tebal tersusun rapi di sampingnya.

Ustaz Hamid mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Oh, Arsenio.”

Arsenio menunduk hormat.

“Assalamu’alaikum, Ustaz.”

“Wa’alaikumussalam. Silakan duduk.”

Arsenio duduk di kursi yang ada di depan meja. Beberapa detik mereka berbincang ringan tentang kegiatan pondok dan pelajaran mengaji.

Lalu Arsenio mulai menyampaikan maksud kedatangannya.

“Ustaz … sebenarnya ada satu hal yang ingin saya bicarakan.”

Ustaz Hamid memperhatikan wajahnya.

“Apa itu?”

Arsenio sedikit merapikan posisi duduknya.

“Saya ingin membicarakan rencana pembangunan untuk pesantren ini.”

Ustaz Hamid mengangguk. Percakapan mereka tentang pembangunan berlangsung cukup lama.

Ustaz Hamid menanyakan detail rencana tersebut, dan Arsenio menjawab semuanya dengan tenang.

Namun sebenarnya, ada hal lain yang sejak tadi ingin ia sampaikan. Dan hal itu justru terasa jauh lebih berat untuk diucapkan.

Beberapa detik suasana ruangan menjadi lebih hening. Arsenio menarik napas perlahan.

“Ustaz .…”

“Iya?”

“Ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan.”

Ustaz Hamid menatapnya penuh perhatian. “Apa itu?”

Arsenio terdiam sebentar.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke pondok ini, ia terlihat benar-benar gugup. Ia menggosok kedua tangannya pelan.

Lalu akhirnya berkata dengan suara lebih serius. “Ini … hal yang cukup pribadi.”

Ustaz Hamid tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunggu. Arsenio kembali menarik napas.

“Saya datang ke pondok ini bukan hanya untuk belajar mengaji.”

Ustaz Hamid sedikit mengernyit, tapi masih diam.

Arsenio melanjutkan. “Sejak awal saya masuk, ada seseorang yang memeriksa perhatian saya.”

Ia berhenti sejenak. Matanya terlihat lebih tegas sekarang.

“Seseorang yang menurut saya sangat baik, sabar, dan memiliki akhlak yang luar biasa.”

Ustaz Hamid mulai memahami arah pembicaraan itu. Namun ia tetap tidak memotong.

Arsenio akhirnya berkata dengan jelas. “Saya ingin meminta izin … untuk melamar Hanin.”

Kalimat itu jatuh di ruangan kecil itu dengan sangat jelas. Ustaz Hamid benar-benar terkejut. Wajahnya sedikit berubah.

1
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Hikari_민윤기: iyupss itu nyata,
but, keliru...
total 3 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
Ilfa Yarni
loh fahmi ngapain datang ke kuburannya orangtua hanin apa tujuannya
ken darsihk: Mungkin Fahmi mau minta maaf ke makam abi da umi nya Hanin
Karena secara tidak langsung penyebab kematian orang tua nya Hanin ya dia dan mama nya Fahmi
total 1 replies
Oma Gavin
ngapain fahmi datang ngga ngaruh sama hanin
Lela Angraini
hohohoooo,,ada apakah ini?🤔🤔 sprtiny ada sesuatu disini,,knp fahmi tba" muncul? hayo hayoooo
dyah EkaPratiwi
ngapain Fahmi Dateng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!