NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Tentang Rahasia di Balik Seragam dan Bau Toko Kue

Sekolah setelah bel istirahat pertama adalah tempat yang paling malas untuk ditinggali, tapi sekaligus tempat yang paling sayang untuk dilewatkan. Suasananya seperti sebuah pasar yang baru saja digerebek petugas; berantakan, bau keringat, tapi ada rasa lega karena beban pelajaran baru saja diangkat selama lima belas menit. Saya masih duduk di kursi saya, menatap lubang kecil di meja kayu yang sepertinya dibuat oleh penghuni kelas ini sepuluh tahun yang lalu menggunakan jangka. Saya bertanya-tanya, apakah orang yang membuat lubang ini sekarang sudah jadi pejabat atau malah jadi tukang parkir yang masih hobi melamun seperti saya.

"Bumi, pinjam pulpen."

Tanpa menoleh pun saya tahu itu suara siapa. Suara yang punya frekuensi khusus yang hanya bisa ditangkap oleh radar di telinga saya. Saya merogoh kantong seragam, mengambil pulpen yang tutupnya sudah hilang entah ke mana, dan menyerahkannya ke belakang tanpa melihat.

"Tutupnya mana?" tanya Kayla.

"Hilang, Kay. Diambil paksa oleh takdir," jawab saya asal.

"Dasar aneh. Makanya kalau punya barang itu dijaga, jangan dibiarin telanjang begini. Nanti tintanya kering," omelnya. Dia kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja saya, lalu duduk di kursi kosong di sebelah saya. Kursi milik Togar yang orangnya sedang sibuk pamer otot di lapangan basket.

Kayla mulai mencoret-coret di pinggiran buku tulisnya menggunakan pulpen saya yang malang itu. Dia menggambar bunga-bunga kecil yang tidak simetris. Saya memperhatikannya. Mata saya mengikuti setiap gerak tangannya. Jemari Kayla itu kecil-kecil, bersih, dan selalu terlihat sibuk.

"Tadi Pak Subagyo beneran marah ya sama kamu?" tanya Kayla tanpa mengalihkan pandangan dari gambarnya.

"Beliau tidak marah, Kay. Beliau cuma sedang mengekspresikan rasa sayangnya lewat hukuman berdiri. Mungkin beliau takut saya kurang tinggi, jadi disuruh berdiri terus supaya tulang saya memanjang."

Kayla tertawa kecil. Dia menoleh ke arah saya, dan untuk beberapa detik, saya merasa seperti sedang berada di dalam sebuah film dokumenter tentang keindahan alam. Matanya yang jernih itu menatap saya dengan cara yang membuat saya ingin menceritakan semua rahasia hidup saya, termasuk rahasia bahwa saya sebenarnya masih suka nonton kartun kalau hari Minggu pagi.

"Kamu itu ya, selalu punya alasan buat jadi nakal. Padahal kalau kamu serius sedikit saja, kamu pasti bisa jadi juara kelas. Kamu kan pintar, Bumi. Cuma malasnya itu yang sudah level internasional."

"Menjadi juara kelas itu membosankan, Kay. Semua orang akan berharap banyak sama kamu. Kalau saya jadi orang biasa saja, orang tidak akan kecewa kalau saya melakukan kesalahan. Itu namanya manajemen ekspektasi," kata saya sambil menyandarkan punggung ke kursi.

Kayla mencibir, tapi dia tidak membantah. Dia kembali fokus pada gambar bunganya. Sore itu, cahaya matahari masuk dari celah ventilasi, mengenai rambutnya yang berwarna cokelat gelap. Ada helai-helai rambut kecil yang berdiri di puncak kepalanya, dan entah kenapa, itu terlihat sangat lucu. Saya ingin sekali menyentuhnya, merapikannya, tapi saya tahu itu adalah wilayah terlarang yang bisa membuat persahabatan kami berubah jadi canggung dalam sekejap.

"Kay," panggil saya pelan.

"Hmm?"

"Kenapa kamu mau temenan sama saya? Maksud saya, kamu kan cantik, pintar, banyak yang suka. Kenapa kamu malah betah dengerin ocehan saya yang tidak bermutu ini setiap hari?"

Kayla menghentikan gerakan pulpennya. Dia terdiam cukup lama, seolah sedang mencari jawaban di antara kelopak bunga yang dia gambar. Dia lalu menatap ke luar jendela, ke arah lapangan sekolah yang mulai sepi karena siswa mulai masuk ke kelas masing-masing.

"Karena cuma kamu yang tidak pernah minta apa-apa dari saya, Bumi," jawabnya pelan. "Orang lain mendekati saya karena ingin nyontek tugas, karena ingin terlihat keren jalan sama saya, atau karena hal-hal lain yang melelahkan. Tapi kamu... kamu cuma ada di sini. Kadang nyebelin, kadang bikin malu, tapi kamu selalu ada. Kamu itu seperti kursi tua di teras rumah. Tidak mewah, tapi paling nyaman buat diduduki kalau lagi capek."

Saya tertegun. Saya tidak tahu harus merasa senang atau sedih disebut sebagai 'kursi tua'. Tapi kalau itu artinya saya adalah tempat nyamannya, saya rela jadi kursi tua yang reyot sekalipun, asal dia tidak pernah memutuskan untuk membeli kursi baru yang lebih modern.

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dengan kasar. Arkan masuk dengan gaya yang—seperti biasa—terlalu bersemangat. Dia membawa dua botol minuman dingin di tangannya.

"Kay! Ini, tadi aku beli di kantin. Takut kamu haus habis debat sama Pak Subagyo tadi," kata Arkan sambil meletakkan botol minuman itu di atas meja, tepat di atas gambar bunga yang dibuat Kayla.

Kayla mendongak, matanya berbinar. "Wah, makasih Arkan! Tahu aja aku lagi haus banget."

"Sama-sama. Oh, ada Bumi juga. Mau?" Arkan menawarkan satu botol lagi ke arah saya.

Saya menatap botol itu. Dinginnya sampai menguap keluar. Saya memang haus, tapi harga diri saya jauh lebih besar daripada rasa haus ini. "Tidak, makasih. Saya lagi diet air dingin. Kata dokter bisa bikin perut buncit," bohong saya seserius mungkin.

Arkan mengangkat bahu, lalu duduk di meja di depan kami, menghadap ke arah Kayla. Mereka mulai bicara. Bicaranya tentang hal-hal yang tidak saya mengerti. Tentang acara pensi bulan depan, tentang siapa yang jadi guest star, tentang anggaran, tentang rapat yang akan diadakan sepulang sekolah.

Saya yang tadinya merasa seperti 'kursi tua yang nyaman', tiba-tiba merasa seperti debu di atas kursi itu yang sedang dibersihkan dengan kemoceng. Saya masih di sana, duduk di sebelah Kayla, tapi jarak kami rasanya sudah ribuan kilometer. Mereka punya frekuensi baru, frekuensi 'organisasi' dan 'tanggung jawab' yang tidak pernah saya miliki.

"Eh, Bumi, kamu ikut dong jadi panitia pensi. Kita butuh orang buat bagian keamanan atau perlengkapan," Arkan mengajak saya, mungkin karena dia merasa tidak enak melihat saya cuma diam seperti patung selamat datang.

"Keamanan? Muka saya ini lebih cocok jadi orang yang diamankan daripada jadi tim keamanan, Kan," jawab saya ketus.

Kayla tertawa, tapi kali ini tertawanya terasa berbeda. "Bumi memang gitu, Arkan. Dia tidak suka keramaian. Dia lebih suka di belakang layar, atau bahkan di luar layar sekalian."

Kalimat Kayla itu benar, tapi entah kenapa terdengar menyakitkan saat diucapkan di depan Arkan. Seolah dia sedang mengukuhkan bahwa saya adalah orang yang 'berbeda' dan tidak akan pernah bisa masuk ke dalam dunianya yang baru bersama Arkan.

Sepanjang sisa jam pelajaran, saya tidak banyak bicara. Saya hanya mendengarkan suara mereka yang saling sahut-menyahut, suara tawa Kayla yang sekarang lebih sering meledak karena candaan Arkan, dan suara hati saya yang mulai berisik dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya.

Saya menyadari bahwa SMA bukan lagi tentang siapa yang paling lama kenal, tapi tentang siapa yang paling relevan dengan kehidupanmu saat ini. Dan saat ini, Arkan terlihat jauh lebih relevan bagi Kayla daripada saya.

"Bumi, nanti pulang sekolah aku rapat dulu ya. Kamu duluan saja," kata Kayla saat bel pulang berbunyi.

"Oh, oke. Rapatnya lama?" tanya saya sambil memasukkan buku ke tas dengan gerakan lambat, berharap dia akan bilang 'tidak lama kok, tungguin ya'.

"Mungkin sampai maghrib. Kasihan kalau kamu nungguin. Bareng Arkan aja nanti akunya, dia juga kan rapat," Kayla menjawab sambil sibuk merapikan rambutnya di depan cermin kecil.

Saya mengangguk. "Ya sudah. Hati-hati. Jangan lupa makan, nanti maag-mu kambuh."

"Siap, bos!" Kayla memberikan jempolnya.

Saya keluar kelas dengan langkah gontai. Di parkiran, saya melihat Arkan sedang memanaskan motor besarnya. Dia terlihat sangat siap untuk menjadi pahlawan bagi Kayla sore ini. Saya menaiki Si Kumbang, menyalakannya dengan sekali tendang—tumben dia tidak mogok—lalu pergi meninggalkan sekolah.

Di jalan, saya tidak langsung pulang. Saya mampir ke sebuah warung pinggir jalan yang menjual es kelapa muda. Saya duduk sendirian di pojok, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Saya berpikir, mungkin menjadi Bumi itu memang tugasnya hanya untuk diam diam melihat matahari terbit dan terbenam, tanpa pernah bisa menyentuhnya.

Kayla adalah matahari saya. Dan sekarang, dia sedang menyinari sisi bumi yang lain. Sisi yang bernama Arkan.

Saya mengambil pulpen dari saku—pulpen yang tadi dipinjam Kayla. Saya melihat bekas gigitan kecil di ujung pulpen itu. Itu bekas gigitan Kayla saat dia sedang berpikir tadi. Saya tersenyum tipis. Ternyata, meski dia mulai jauh, dia masih meninggalkan jejak-jejak kecil di hidup saya. Dan untuk sekarang, jejak itu sudah cukup untuk membuat saya bertahan sampai besok pagi.

Malamnya, saya tidak bisa tidur. Saya membayangkan Kayla sedang duduk di kafe atau di ruang OSIS, tertawa bersama Arkan, sementara saya di sini cuma bisa menghitung jumlah putaran kipas angin di plafon kamar. Saya merasa ada sesuatu yang pelan-pelan sedang lepas dari genggaman saya, dan saya tidak tahu bagaimana cara menggenggamnya kembali tanpa terlihat seperti orang yang putus asa.

"Besok," gumam saya pada kegelapan. "Besok saya harus cari cara supaya dia ingat lagi kalau kursi tua ini masih ada di sini."

Dan di luar sana, bintang-bintang tetap bersinar, tidak peduli seberapa galau pun perasaan seorang anak SMA bernama Bumi.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!