NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

​Setelah kejadian penyerangan dan keputusan untuk tetap tinggal, Laura memang mendapatkan jeda dari ancaman fisik Lexi. Namun, Lexi telah berhasil menancapkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar ancaman: rasa ngeri bercampur kerinduan yang mematikan.

​Laura tidak takut lagi pada ancaman Lexi, justru sekarang ia takut pada dirinya sendiri.

Setiap kali ia mengingat sentuhan Lexi, terlepas dari kekejaman yang menyertainya, ada gejolak tak menyenangkan yang mengganggu perasaannya—rasa gairah yang brutal namun candu.

​Untuk menghindari pertempuran batin ini, Laura memutuskan satu hal: isolasi total dari Lexi.

​Pagi hari, saat Alex turun ke bawah untuk bersiap ke kantor, Laura memanggil Suster Diah (perawat pribadinya) dengan suara lemah.

​"Suster,aku sarapan dikamar saja,tolong ambilkan ya? Aku merasa mual sekali pagi ini," pinta Laura.

​"Tentu saja, Nyonya. Itu hal biasa bagi ibu hamil muda," jawab Suster Diah penuh pengertian.

​Alex menatap istrinya dengan cemas. "Ada apa, Sayang? Mual lagi?"

​"Maaf, Alex," Laura menyentuh perutnya. "Sepertinya anak kita menolak aroma makanan di ruang makan. Bau apa pun di sana, membuat perutku bergejolak. Aku tidak enak badan. Biarkan aku sarapan di sini, ya?"

​Alex, yang kini sangat berhati-hati terhadap segala hal yang bisa mengancam kehamilan Laura, langsung setuju. "Tentu, Sayang! Jangan paksakan diri. Kesehatanmu yang utama. Aku akan bilang pada Kak Lexi. Dia pasti mengerti."

Alex mengecup kening Laura dengan penuh kasih.

"Aku turun dulu,sarapan yang banyak ya?"

"Terimakasih sayang." Angguk Laura lega,setidaknya suaminya tidak keberatan dia tidak turun sarapan.

​"Laura tidak enak badan , Kak. Dia sering mual jika mencium banyak aroma makanan. Jadi, dia akan makan di kamar untuk sementara waktu," jelas Alex.

​Lexi mendengarkan, mengaduk kopinya dengan tenang. Matanya yang tajam sempat menatap kursi kosong di seberangnya, yang biasanya ditempati Laura.

​"Itu keputusan yang bagus," kata Lexi, nadanya acuh tak acuh. "Katakan padanya untuk fokus pada istirahat. Aku tidak ingin ada masalah dengan kehamilannya."

"Terimakasih kak,tadinya Laura merasa tidak enak karena makan di kamar."

"Santai saja,jangan dipaksa kan."

**

​Sejak saat itu, Laura mengisolasi diri di kamar. Sarapan dan makan malamnya disajikan di meja kecil di kamar. Ia selalu mengenakan pakaian tertutup, menutupi bekas gigitan Lexi yang masih samar. Alasan medis yang disamarkan—mual parah dan kelelahan—berfungsi sempurna.

Alex merasa bersalah karena telah membuat Laura kelelahan, sementara Lexi tampak puas, menganggap ini sebagai bentuk kepatuhan Laura untuk tidak 'mengganggunya'.

​Setelah Alex pergi ke kantor,dia berbaring di ranjang,namun tidak tidur.

Bayangan yang telah dilaluinya selama beberapa bulan ini menari nari di pelupuk nya,membuatnya melamun tinggi.

Hati dan pikirannya bertarung didalam.

Hatinya menolak bertemu dengan Lexi,namun pikirannya tidak berpaling dari pria yang sudah membuatnya hamil itu.

Keterasingan justru memperparah konflik dalam hatinya.

​Setiap malam, setelah Alex tidur, Laura akan berdiri di dekat jendela, memandang ke bawah. Ia akan melihat lampu ruang kerja Lexi yang masih menyala.

​Ia teringat janji kebebasan yang brutal itu: melahirkan anak ini adalah harga kebebasan abadi dari Lexi.

​Tetapi, ia juga teringat malam-malam awal perselingkuhan mereka, dan yang terbaru, malam penyerangan yang mengerikan. Anehnya, alih-alih hanya dihantui rasa jijik, Laura mulai dihantui oleh sensasi panas yang brutal.

​Aku membencinya, pikir Laura, mencengkeram jubahnya erat-erat. Dia menghancurkanku, dia memperlakukanku seperti objek.

​Namun, memori akan tatapan intens Lexi, kekuatan di tangannya, dan cara Lexi mengklaim dirinya sebagai 'wadah' justru memicu kerinduan yang memalukan.

Itu adalah hasrat yang terlarang, lahir dari ketakutan dan dominasi, namun sangat nyata.

Lexi telah merusak Laura sedemikian rupa sehingga Laura merindukan sentuhan dominan pria itu.

​Setiap kali pikiran itu muncul, Laura akan meraih kotak perhiasan kecilnya, tempat ia menyembunyikan kalung perak yang sudah dia lepas.

​"Tidak," bisik Laura pada dirinya sendiri, menyentuh perutnya yang masih rata. "Ini untuk Alex. Ini untuk kebebasan. Aku tidak boleh merindukannya. Aku membencinya."

​Ia menjaga jarak fisik, tetapi secara psikologis, Lexi telah merasukinya. Kerinduan yang tidak pantas itu adalah belenggu terakhir Lexi.

​Tes..!

Air mata Laura jatuh ke pipinya.

Sudah dua hari dia tidak melihat pria itu.

Rasa rindunya semakin tidak terbendung lagi.

Laura jadi frustasi sendiri.

Rasa sesak didadanya semakin membuatnya tersedu sedu.

"Nyonya,, tolong jangan menangis,karena kalau nyonya menangis apalagi sampai stress,akan berpengaruh buruk pada janin," Peringat perawat pribadinya.

Tidak sengaja memergoki Laura menangis pilu.

"Tolong keluar sus,aku ingin sendiri,,jangan khawatir,aku tidak akan membahayakan bayiku,aku hanya sedih saat ini," Isaknya menyedihkan.

Suster itu sangat kasihan melihat Laura yang begitu sedih.

Saat suster Diah keluar dari kamar Laura ,berpapasan dengan Lexi yang baru datang dari luar.

"Laura sudah meminum susunya?" Tanya Lexi datar pada suster Diah.

Suster itu menggeleng lemah,"nyonya tidak pernah minum susu hamil tuan,karena tidak sanggup dengan baunya,"

"Apa dia tidur?"

Tany Lexi lagi.

Suster itu tampak ragu mengatakan yang sebenarnya,namun setelah beberapa detik akhirnya suster Diah mengatakan juga.

"Nyonya Laura sedih dan menangis didalam,saya tidak tahu apa penyebab nya,saya disuruh nyonya keluar."

Lexi menatap pintu kamar Laura.

"Pergilah,jangan ke kamarnya,biarkan dia sendiri." Titahnya dingin.

"Baik tuan." Angguk sang suster lalu pergi.

Lexi menatap pintu kamar Laura yang tertutup rapat.

Setelahnya dia berjalan menuju kamarnya.

***

​Puas menangis,akhirnya Laura tertidur.

Menjelang sore dia terbangun,saat perutnya keroncongan minta diisi.

Laura bermaksud turun kebawah mencari makanan.

Sayup sayup dia mendengar Lexi berbicara di telepon di koridor bawah. Suara Lexi keras dan tegas, khas seorang eksekutif yang sedang bernegosiasi.

​Laura tahu ia seharusnya tetap di kamar atau fokus pada tujuannya. Tapi, dorongan yang tidak bisa ia kendalikan membawanya ke pintu. Ia membuka sedikit celah, mengintip.

​Lexi berdiri di ujung koridor, membelakanginya, berbicara tentang investasi besar. Postur tubuhnya yang tegap, bahunya yang lebar, dan suara baritonnya yang dalam—semua itu memicu gelombang panas di perut Laura.

​Aku merindukannya. Aku merindukan kekuatan itu.

​Laura menggelengkan kepala, menutup matanya erat-erat. Ia memegang dadanya, merasakan jantungnya berdetak kencang, bukan karena takut, tetapi karena sensasi yang memalukan.

​"Aku adalah istri Alex. Aku adalah ibu dari anak Alex," bisik Laura menekan perasaannya. Ia menarik napas dalam-dalam.

​Ia kembali ke ranjang, mengambil kunci perak yang disembunyikannya, dan mencengkeramnya. Kunci itu kini tidak lagi terasa dingin. Ia terasa panas.

Laura tidak jadi turun mau makan,mendadak rasa laparnya raib entah kemana,digantikan dengan rasa rindu yang meletup letup.

Sakit sekali rasanya bagi Laura.

Dia dekat dengan orang yang dirindukan nya,tapi dia tidak bisa menjangkaunya.

"Lexi,,aku membenci mu.." Laura mendoktrin otaknya agar membenci pria itu.

Namun dia tetap gagal melakukannya,membuatnya semakin frustasi.

***

​Malam itu, saat Lexi mengirim pesan singkat yang formal dan dingin tentang janji temu dokter berikutnya, Laura tidak memotretnya sebagai bukti. Ia membaca pesan itu berulang kali, menghayati setiap kata.

​[NOMOR TIDAK DIKENAL]: Janji temu dengan Dr. Runa, hari Jumat, pukul 11.00. Aku akan mengantar kalian berdua.

​Laura merasakan kemenangan yang memalukan. Meskipun ia menjauhkan dirinya, Lexi masih memantau, masih ada, dan masih memimpin. Ia adalah ratu yang terisolasi, yang merindukan tuannya.

​Laura tahu, ia tidak bisa membiarkan kerinduan ini menjadi nyata. Ia harus fokus pada satu hal: menyelamatkan pernikahan dan dirinya sendiri. Dan satu-satunya cara adalah dengan bertahan, melahirkan, dan kemudian memutuskan segala ikatan psikologis yang telah diciptakan Lexi.

Laura tidak membalas.

Dibiarkan pesan itu tanpa balasan.

Bukan karena tidak menyukai isi pesannya,tapi dia sedang berusaha membentengi perasaannya terhadap pria itu.

Jangan sampai dia goyah karena kerinduan yang merayap dihatinya.

(NOMOR TIDAK DIKENAL.) :Susu dan vitamin sebentar lagi akan datang ke kamarmu,pastikan kamu meminumnya, aku tidak ingin pewaris ku tidak sehat.

Laura tetap tidak membalas nya.

Namun air matanya perlahan jatuh.

Benteng yang dia bangun dihatinya perlahan roboh dan hancur,digantikan oleh rasa sesak karena rindu.

​Bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!