NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Us

---

Pukul 10.00 pagi, sinar matahari masuk melalui jendela ruang tamu rumah nomor 11, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu. Di sudut ruangan, Soo Young duduk di kursi goyang kesayangannya, sebuah keranjang anyaman di sampingnya berisi gulungan-gulungan benang berwarna-warni.

Di tangannya, dua jarum rajut bergerak lincah, menari di antara jari-jemarinya yang cekatan. Benang biru muda perlahan berubah bentuk, membentuk sebuah lingkaran kecil yang mulai menyerupai... sesuatu.

Endy masuk dengan dua cangkir kopi, meletakkan satu di meja samping Soo Young. "Masih rajut, Sayang? Udah dua jam."

Soo Young tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari rajutannya. "Sebentar lagi selesai. Ini tinggal bagian ujungnya."

Endy duduk di sofa, menyesap kopinya sambil mengamati istri. Ia sudah terbiasa melihat pemandangan ini akhir-akhir ini. Sejak tahu Jane hamil, Soo Young menghabiskan banyak waktu dengan rajutannya.

"Ini yang ke berapa?" tanya Endy.

"Keempat. Udah bikin dua pasang kaus kaki, satu topi, sama satu selimut kecil." Soo Young menunjukkan rajutannya. "Ini kaus kaki ketiga, buat cadangan."

"Wah, banyak banget. Jane sampe kebanjiran."

"Biarin. Yang penting calon bayi nya hangat." Soo Young tersenyum. "Di Korea, nenek-nenek selalu rajut perlengkapan bayi buat cucu-cucunya. Ini tradisi."

"Berarti kamu udah kayak nenek-nenek Korea."

Soo Young melempar gulungan benang ke Endy. "Kurang ajar."

Mereka tertawa. Endy mendekat, duduk di lantai di samping kursi Soo Young. Tangannya mengelus-elus benang-benang lembut itu.

"Ini bahannya bagus, ya. Lembut."

"Iya, aku beli yang khusus buat bayi. Nggak boleh yang kasar, nanti kulitnya iritasi."

Endy mengagumi ketelitian istrinya. Soo Young selalu seperti ini: teliti, penuh perhatian, dan melakukan segalanya dengan cinta.

"Cerita dong, tradisi rajut di Korea gimana?" pinta Endy.

Soo Young berhenti sejenak, matanya menerawang. "Waktu aku kecil, nenekku selalu rajut. Kaus kaki, syal, topi. Buat aku, buat saudara-saudaraku. Aku suka duduk di sampingnya, liatin jarum-jarum itu bergerak."

"Terus?"

"Terus nenek bilang, setiap tusukan jarum itu adalah doa. Semakin rajin dia rajut, semakin banyak doa yang masuk ke dalam rajutan itu." Soo Young tersenyum. "Waktu aku dewasa, nenek ngajarin aku ngerajut. Katanya, supaya tradisi ini nggak putus."

Endy meraih tangan Soo Young, mencium punggung tangannya. "Berarti ini lebih dari sekedar bikin baju bayi, ya."

"Iya. Ini caraku mendoakan bayi Jane. Setiap tusukan jarum, aku berdoa semoga dia lahir sehat, semoga dia tumbuh baik, semoga dia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya."

Endy terharu. "Kamu baik banget, Soo."

"Bukan baik. Dia keluarga."

---

Sore harinya, Soo Young berjalan ke rumah nomor 7. Ia membawa sebuah tas kecil berisi hasil rajutannya. Jane sedang duduk di teras, membaca buku sambil sesekali mengelus perut.

"Tante Soo Young!" sapa Jane ceria.

Soo Young duduk di sampingnya. "Ada yang mau aku kasih, Jan."

Jane penasaran. "Apa?"

Soo Young mengeluarkan isi tas satu per satu. Dua pasang kaus kaki mungil berwarna biru muda dan kuning pastel. Satu topi rajut dengan motif sederhana. Dan sebuah selimut kecil berwarna putih dengan pinggiran biru.

Mata Jane membelalak. "Tante... ini... Tante buatin ini semua?"

"Iya. Lumayan lama, tapi selesai juga." Soo Young tersenyum. "Ini buat calon bayimu. Semoga hangat dipakainya."

Jane mengambil kaus kaki mungil itu, tangannya gemetar. Ukurannya sangat kecil, hanya sepanjang jari telunjuknya. Ia membayangkan kaki mungil bayi yang akan memakainya.

"Tante... ini... aku nggak tahu harus bilang apa." Mata Jane berkaca-kaca. "Cantik banget."

"Coba, lihat detailnya." Soo Young menunjukkan bagian ujung kaus kaki yang dirajut dengan pola berbeda. "Ini pola tradisional Korea. Namanya 'sae dong'. Biasanya buat keberuntungan."

Jane mengamati pola rumit itu. "Tante, Tante bikin ini semua dari benang? Nggak pake mesin?"

"Pake tangan aja. Dua jarum rajut dan benang."

"Wah, Tante hebat banget. Aku nggak bisa bayangin berapa lama Tante bikin ini."

"Beberapa minggu. Tapi santai aja, sambil nonton TV atau ngobrol sama Endy." Soo Young tersenyum. "Aku senang bisa bikin ini buat anakmu."

Jane memeluk Soo Young erat. "Makasih, Tante. Makasih banyak."

"Kamu hati-hati, jangan terlalu keras, nanti bayinya kaget." Soo Young tertawa, membalas pelukan Jane.

---

Mereka mengobrol panjang di teras. Jane bertanya tentang proses merajut, tentang pola-pola tradisional Korea, tentang kehidupan Soo Young sebelum pindah ke Indonesia.

"Tante, kangen Korea nggak?" tanya Jane.

"Kangen. Tapi sudah terbiasa." Soo Young tersenyum. "Aku sudah 15 tahun di sini. Indonesia sudah jadi rumah."

"Tante nggak pernah mau pulang ke Korea?"

"Pulang? Iya, kadang-kadang. Tapi tinggal di sana? Nggak." Soo Young menatap sekeliling. "Rumahku di sini. Keluargaku di sini."

Jane meraih tangan Soo Young. "Tante bagian dari keluarga kami."

"Iya, aku tahu. Makanya aku betah."

Mereka tersenyum. Di halaman depan, beberapa burung pipit bertengger di pagar, seolah ikut menikmati hangatnya sore.

---

Tak lama kemudian, Amora berlari ke arah mereka. "Tante Soo Young! Tante Soo Young!"

Soo Young membuka tangan lebar. "Amora, sini!"

Amora menghambur ke pelukannya. "Tante bawa apa? Amora lihat tas!"

Soo Young tertawa. "Ini, Tante bawa rajutan buat adik bayi Tante Jane."

Amora mengintip ke dalam tas, mengeluarkan kaus kaki mungil itu. Matanya berbinar.

"Cil!" serunya. "Kecil banget!"

"Iya, itu buat kaki bayi yang baru lahir."

"Kaki Amora dulu juga sekecil itu?"

"Iya, dulu pas lahir, kaki Amora juga sekecil itu."

Amora menatap kakinya sendiri, lalu membandingkan dengan kaus kaki mungil itu. "Wah, Amora dulu imut, ya."

Semua tertawa. Jisoo yang datang menyusul ikut tertawa melihat tingkah Amora.

"Ma, liat! Kaus kaki buat adik!" Amora menunjukkan.

Jisoo mengambil kaus kaki itu, mengamatinya dengan kagum. "Tante Soo Young, ini buatan tangan? Cantik banget."

"Aku yang rajut."

"Wah, Tante berbakat." Jisoo duduk di samping mereka. "Aku dulu juga sempat belajar, tapi nggak bisa-bisa. Akhirnya nyerah."

"Bisa kok, asal sabar. Mau aku ajarin?"

"Beneran? Tante mau ngajarin?"

"Tentu. Nanti kalau ada waktu, ke rumah aja. Aku kasih les gratis."

Mereka tertawa. Amora sibuk memainkan kaus kaki mungil itu, mencoba memasukkannya ke jari tangannya.

"Ma, ini jadi jari tangan Amora!" serunya.

Semua tertawa lagi. Sore itu penuh tawa dan kehangatan.

---

Malam harinya, di rumah nomor 11, Soo Young melanjutkan rajutannya. Endy duduk di sampingnya, membaca koran di ponsel.

"Sayang," panggil Endy.

"Hm?"

"Aku tadi nguping obrolan kamu sama Jane dan Jisoo. Kamu bilang rumahmu di sini, keluargamu di sini."

"Iya. Emang bener."

Endy meletakkan ponselnya, menatap Soo Young. "Kamu nggak pernah nyesel nikah sama aku? Nggak pernah pengen pulang ke Korea?"

Soo Young berhenti merajut. Ia menatap suaminya dengan lembut.

"Endy, kalau aku pengen pulang ke Korea, aku udah pulang dari dulu. Tapi aku milih di sini. Milih sama kamu."

"Aku tahu, tapi..."

"Nggak ada tapi." Soo Young meraih tangan Endy. "Aku cinta kamu. Aku cinta hidup kita di sini. Aku cinta tetangga-tetangga kita. Ini rumahku."

Endy tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Makasih, Soo. Makasih udah milih aku."

"Bukan milih kamu doang. Aku milih hidup ini. Hidup yang kita bangun bersama."

Mereka berpelukan lama. Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga dari kebun Soo Young.

---

Seminggu kemudian, Soo Young kedatangan tamu istimewa. Jisoo datang dengan membawa tas berisi benang dan jarum rajut.

"Tante, aku datang buat les!" sapa Jisoo ceria.

Soo Young tersenyum lebar. "Masuk, masuk! Aku udah siapin peralatan."

Mereka duduk di ruang tamu, Soo Young dengan sabar mengajarkan Jisoo teknik dasar merajut. Jisoo, dengan jari-jari yang kaku, berusaha mengikuti instruksi.

"Bukan gitu, Jis. Jarumnya harus masuk dari sini, terus lilitkan benangnya ke jarum satunya."

"Gini?"

"Iya, hampir. Coba lagi."

Prosesnya lambat dan penuh kesalahan. Jarum jatuh, benang kusut, pola salah. Tapi mereka terus tertawa.

"Tante, aku kayaknya nggak berbakat deh," keluh Jisoo.

"Semua orang bisa, asal sabar. Waktu aku pertama belajar, juga sering salah." Soo Young tersenyum. "Yang penting terus coba."

Dua jam kemudian, Jisoo berhasil membuat sebuah persegi panjang kecil yang sedikit miring dan bolong di sana-sini. Tapi ia sangat bangga.

"Tante, ini buat apa?" tanyanya.

"Itu buat jadi selimut kecil. Nanti kalau udah bisa, kamu bisa bikin selimut buat Amora."

Jisoo memandangi hasil karyanya dengan takjub. "Amora pasti seneng. Dia suka barang-barang buatan tangan."

"Nah, itu motivasinya."

Mereka mengobrol panjang, ditemani teh hangat buatan Soo Young. Jisoo bercerita tentang Amora, tentang pekerjaannya, tentang mimpinya suatu saat bisa membuka usaha kecil-kecilan. Soo Young mendengarkan dengan sabar, sesekali memberi saran.

Sore itu, ikatan mereka semakin erat. Bukan hanya sebagai tetangga, tapi sebagai dua wanita yang saling mendukung.

---

Jane mendapat kado spesial dari Soo Young di hari lain: sebuah buku catatan kecil berisi foto-foto semua rajutan yang sudah Soo Young buat, lengkap dengan keterangan dan doa.

"Kaus kaki pertama: untuk langkah pertamanya kelak."

"Kaus kaki kedua: agar kakinya selalu hangat."

"Topi: untuk melindungi kepalanya."

"Selimut: agar mimpinya indah."

Jane membacanya dengan mata berkaca-kaca. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan Soo Young:

"Untuk calon buah hati Jane dan Mario. Semoga tumbuh sehat, cerdas, dan dikelilingi cinta. Dari Tante Soo Young, yang sudah menganggap kalian keluarga."

Jane menutup buku itu, memeluknya erat. Mario yang melihat dari kejauhan mendekat.

"Sayang, kenapa?"

Jane menunjukkan buku itu. Mario membacanya, lalu tersenyum.

"Tante Soo Young... dia luar biasa."

"Iya, Mas. Kita dikelilingi orang-orang baik."

Mario memeluk istrinya. "Iya. Kita beruntung."

Malam itu, sebelum tidur, Jane meletakkan kaus kaki mungil itu di samping tempat tidurnya. Ia menatapnya lama, membayangkan kaki mungil yang akan memakainya.

"Nak, ini dari Tante Soo Young. Beliau merajutnya dengan penuh cinta. Kamu nanti harus sayang sama Tante Soo Young, ya."

Dari dalam perut, terasa satu tendangan kecil.

Jane tersenyum. "Iya, Bunda tahu. Kamu juga sayang."

Di rumah nomor 11, Soo Young menyelesaikan rajutannya yang terakhir: sebuah gantungan mainan berbentuk awan dan bintang. Ia menggantungnya di jendela, tersenyum puas.

Endy mendekat, memeluknya dari belakang. "Udah selesai?"

"Udah. Ini yang terakhir."

"Cantik."

"Ini buat bayi Jane. Biar dia lihat awan dan bintang sebelum tidur."

Endy mencium puncak kepala Soo Young. "Kamu baik banget, Sayang."

Soo Young tersenyum. "Bukan baik. Ini caraku mendoakan dia. Setiap tusukan jarum adalah doa."

Di luar, bintang-bintang mulai terlihat. Di Griya Asri, cinta terus mengalir dalam bentuk yang paling sederhana: sepasang kaus kaki mungil, sebuah topi rajut, selimut kecil yang hangat. Semua adalah doa. Semua adalah cinta.

Cinta dari seorang tetangga yang sudah menjadi keluarga.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!