NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Penjaga Hati Di Wisma Lavender

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.

Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Indigo di Pojok Kamar

Malam di Wisma Lavender biasanya hanya diisi oleh suara ketikan skripsi Arka yang monoton atau sayup-sayup suara dialog drama Korea dari kamar Manda yang sering kali tertidur dengan televisi menyala. Namun, malam ini, keheningan itu terasa berbeda, seolah-olah udara sendiri memiliki berat yang menekan. Dingin yang merayap bukan lagi berasal dari hembusan pendingin ruangan yang berderit, melainkan sebuah hawa statis yang ganjil, jenis dingin yang membuat bulu kuduk Arka berdiri tegak tanpa alasan fisik yang jelas, seakan ada sepasang mata tak kasatmata yang sedang memindai setiap gerakannya.

Saat Arka sedang menyeduh teh di dapur—sebuah upaya sia-sia untuk menenangkan sendi-sendinya yang masih terasa pegal linu akibat empat jam menjadi sandaran curhat Sherly—ia berpapasan dengan Tia. Tia adalah penghuni yang paling jarang bicara, sosoknya sering kali luput dari perhatian jika ia tidak sedang berdiri mematung di sudut ruangan. Matanya yang sayu selalu tampak seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di belakang pundak lawan bicaranya, menembus dimensi yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa.

Tia berhenti tepat di depan Arka, menghalangi jalannya menuju rak gelas. Matanya yang biasanya redup mendadak menajam, melebar, dan menatap dengan intensitas yang mengerikan pada area kosong tepat di samping telinga kiri Arka.

"Arka," bisik Tia, suaranya sedingin es yang retak di tengah danau beku. "Kamu jangan sering-sering melamun di pojok kamar itu. Konsentrasimu yang kosong adalah undangan bagi mereka yang kesepian."

Arka tertawa hambar, mencoba mengusir rasa cemas yang mulai membelit dadanya. "Kenapa, Ti? Takut skripsi gue nggak selesai-selesai ya? Tenang aja, hantunya juga pasti bosen nungguin revisian gue."

Tia tidak tersenyum. Ia justru melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Arka terpojok ke arah kulkas yang bergetar rendah. "Ada Noni Belanda di kamarmu, Arka. Dia sudah di sana sejak sore tadi. Bajunya berwarna putih gading yang sudah kusam, rendanya sudah robek-robek di bagian lengan, tapi wajahnya... dia cantik sekali untuk ukuran seseorang yang sudah tidak bernapas selama lebih dari seratus tahun."

Jantung Arka seolah melompat ke tenggorokan, berdegup kencang seperti genderang perang. "Hah? Noni apa? Jangan bercanda deh, Ti. Gue lagi nggak siap buat konten horor."

"Dia naksir kamu, Arka," lanjut Tia dengan nada datar yang justru membuatnya terdengar sepuluh kali lebih mengerikan daripada teriakan. "Katanya, kamu sangat mirip dengan tunangannya, seorang opsir muda yang hilang di Pelabuhan Tanjung Priok dulu. Sejak tadi sore, dia duduk dengan tenang di atas lemarimu, menjuntaikan kakinya yang pucat, sambil terus-menerus mengelus rambutmu setiap kali kamu tertidur karena kelelahan di meja kerja."

Arka merasa leher belakangnya mendingin secara instan, sebuah sensasi nyess yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Ia teringat kejadian tadi sore; ia memang merasa kepalanya sangat berat dan ada sensasi sentuhan halus yang dingin di ubun-ubunnya. Saat itu, ia mengira itu hanyalah hembusan angin dari jendela yang lupa ditutup atau sekadar efek kelelahan saraf. Kini, penjelasan Tia memberikan konteks yang jauh lebih gelap.

"Dia bilang, dia bosan menunggu sendirian di lorong-lorong rumah ini. Dia mau mengajakmu 'pulang' ke rumahnya yang besar di bawah tanah, tempat di mana waktu tidak lagi berarti dan kamu tidak perlu lagi memikirkan skripsi," ucap Tia terakhir kali sebelum ia berbalik dengan gerakan lambat dan masuk ke kamarnya, meninggalkan Arka yang membeku di dapur dengan cangkir teh yang bergetar hebat di tangannya hingga airnya nyaris tumpah.

Arka tidak berani kembali ke kamarnya. Kamar yang biasanya menjadi tempat perlindungan kini terasa seperti jebakan maut. Bayangan seorang wanita pucat dengan gaun kuno dan tatapan melankolis yang menunggunya di atas lemari kini memenuhi setiap jengkal imajinasinya. Setiap sudut gelap di koridor kini tampak seperti lipatan gaun yang melambai, dan setiap suara derit kayu terdengar seperti langkah kaki yang ragu-ragu. Sastra malamnya kali ini bukan lagi tentang algoritma, baris kode, atau teori sosiologi, melainkan tentang potongan doa-doa pendek yang ia rapalkan dengan kecepatan cahaya, mencampuradukkan semua mantra perlindungan yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

Akhirnya, dengan sisa keberanian yang hampir menyentuh angka nol, Arka berlari kecil menuju kamar Sari. Ia mengetuk pintu kamar sang ketua kos dengan kepanikan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

"Sari! Sari! Buka pintunya, Sar! Penting banget!" seru Arka saat Sari akhirnya membuka pintu dengan wajah kusut dan mata mengantuk, tampak sangat kesal karena jam istirahatnya yang berharga diganggu.

"Arka, apa-apaan sih? Ini sudah jam satu malam! Kamu mau demo atau apa?" bentak Sari, suaranya serak karena baru bangun tidur.

"Tia bilang ada hantu Noni Belanda naksir gue dan dia nungguin di atas lemari kamar gue, Sar! Gue beneran nggak berani tidur sendirian! Tolonglah, kali ini aja, gue boleh numpang tidur di karpet depan kamar lo nggak? Atau kita tidur di ruang tamu rame-rame?" Arka memohon dengan wajah yang sudah pucat pasi, nyaris kehilangan warna kulit aslinya.

Sari menghela napas panjang, sebuah desahan frustrasi yang menunjukkan betapa ia lelah menghadapi drama penghuni kosnya. Ia menatap Arka yang tampak seperti anak kecil yang baru saja menonton film horor kelas berat tanpa sensor. "Arka, Tia itu cuma terlalu banyak baca novel sejarah kolonial dan mungkin dia lagi kurang tidur. Logika, Arka! Gunakan logikamu. Kembali ke kamarmu dan tidur."

"Nggak mau! Logika gue bilang kalau Tia nggak pernah bohong soal ginian! Dia bilang hantunya lagi duduk manis di atas lemari, Sar! Gimana kalau pas gue tidur dia beneran narik gue ke bawah tanah?"

Malam itu, Arka berakhir tidur di sofa ruang tamu dengan posisi yang sangat tidak ergonomis. Semua lampu di lantai bawah dinyalakan terang benderang hingga suasana dapur dan ruang tengah tampak seperti siang hari. Ia membungkus dirinya dengan selimut tebal sampai ke lubang telinga, tidak membiarkan satu senti pun kulitnya terekspos ke udara dingin. Tangannya memegang sapu lidi di pelukannya—sebuah senjata tradisional yang tentu saja sama sekali tidak berguna melawan entitas metafisika dari abad ke-19, namun entah bagaimana memberinya sedikit rasa aman yang semu.

Di Wisma Lavender, Arka menyadari satu kenyataan pahit lainnya: musuh terbesarnya di rumah ini bukan hanya aturan birokrasi Sari yang kaku, kemarahan Dira yang steril, atau kejahilan si kembar Nia dan Nio. Musuh terbesarnya adalah penghuni-penghuni tak terlihat yang ternyata memiliki selera tinggi terhadap mahasiswa tingkat akhir yang malang dan sedang tidak berdaya. Ia terjaga hingga subuh, setiap kali matanya terpejam, ia seolah mendengar suara nyanyian lamat-lamat dalam bahasa Belanda yang memanggil namanya dari kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!