Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Gema Penolakan di Taman Harapan
Seminggu telah berlalu sejak badai pengakuan itu meluluhlantakkan kedamaian di Dharmawangsa. Selama tujuh hari itu, Dimas benar-benar menepati janjinya untuk memberikan ruang bagi Kathryn. Ia tidak menelepon, tidak mengirim pesan singkat, meski setiap malam ia memarkir mobilnya di kejauhan hanya untuk menatap lampu kamar Kathryn yang menyala. Di sisi lain, ia menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas rumah sakit dan jadwal operasi yang padat, mencoba mengalihkan rasa rindu yang kian menyesakkan dada.
Siang itu, koridor kelas satu Rumah Sakit Medika Group tampak sibuk. Dimas baru saja selesai melakukan kunjungan bangsal pada pasien anak dari keluarga prasejahtera yang ia biayai seluruh perawatannya. Ia masih mengenakan jas putih dokternya, stetoskop melingkar di leher, dan wajah yang tampak sedikit tulus saat menghibur pasien kecil itu dengan sebuah balon dari sarung tangan medis.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti. Di ujung koridor, berdiri seorang gadis dengan blouse biru muda dan rok panjang putih. Wajahnya yang pucat namun tetap anggun membuat jantung Dimas berdegup kencang.
"Kathryn?" gumam Dimas, nyaris tak percaya.
Senyum lebar langsung mengembang di wajah Dimas. Ada binar kebahagiaan yang tak mampu ia sembunyikan. Ia mengira kedatangan Kathryn adalah tanda bahwa pintu maaf telah terbuka lebar. Ia melangkah cepat menghampiri gadis itu.
"Kamu di sini... Aku senang sekali kamu datang, Kathryn. Bagaimana kabar kamu? Apa kamu masih lemas?" tanya Dimas dengan nada suara yang penuh perhatian dan antusiasme.
Namun, reaksi Kathryn berbanding terbalik. Gadis itu tidak membalas senyuman Dimas. Ia berdiri dengan kaku, matanya menatap Dimas dengan tatapan datar yang menusuk hingga ke ulu hati.
"Mas Dimas," sapa Kathryn pelan, suaranya terdengar sangat formal dan dingin. "Aku datang ke sini bukan untuk menjenguk, atau membicarakan apa yang terjadi seminggu lalu."
Senyum Dimas perlahan memudar, digantikan oleh kerutan tipis di dahi. "Lalu? Ada apa, Kathryn?"
Kathryn menarik napas panjang, menguatkan hatinya yang sebenarnya masih bergetar hebat. "Aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Tolong... jangan temui aku lagi. Jangan datang ke rumah, jangan hubungi Kak Paul, dan jangan mencoba mencariku di kampus. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal lebih dari sekadar dokter dan keluarga pasien."
Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Dimas. Ia terpaku di tempatnya. "Kenapa? Berikan aku satu penjelasan, Kathryn. Apa karena kebohonganku semalam? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya?"
"Penjelasan tidak akan mengubah rasa asing yang kurasakan saat melihat Mas sekarang," jawab Kathryn tanpa emosi. "Permisi."
Kathryn berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar. Dimas, yang tidak rela kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya, tidak tinggal diam. Ia mengejar Kathryn, mengabaikan tatapan heran dari para perawat dan staf rumah sakit yang melihat atasan mereka berlari mengejar seorang gadis.
"Kathryn! Tunggu!" teriak Dimas.
Ia berhasil meraih lengan Kathryn tepat saat gadis itu hendak mencapai area parkir. Dengan gerakan tegas namun tetap hati-hati agar tidak menyakiti, Dimas menarik Kathryn menuju taman belakang rumah sakit sebuah area hijau yang sepi dan hanya dihuni oleh bangku-bangku taman di bawah pohon rindang.
"Lepaskan, Mas Dimas!" seru Kathryn, mencoba melepaskan cengkeramannya.
"Tidak sebelum kamu bicara jujur padaku!" balas Dimas. Ia memegang kedua bahu Kathryn, memaksa gadis itu untuk menatap matanya. "Kenapa kamu melakukan ini? Kamu menghukumku seolah-olah aku melakukan kejahatan besar, padahal aku hanya mencintaimu!"
Kathryn terdiam, bibirnya terkatup rapat. Matanya yang mulai berkaca-kaca menatap ke arah lain, enggan bertemu pandang dengan Dimas.
"Kathryn, lihat aku," bisik Dimas, suaranya kini melunak, penuh dengan keputusasaan. "Aku mencintaimu. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu di IGD, saat kamu datang dengan panik menggendong Sean yang sedang demam tinggi. Aku melihat ketulusanmu, caramu memeluk anak itu seolah dia duniamu... di saat itulah aku sadar, aku ingin menjadi bagian dari duniamu."
Dimas menarik napas dalam, pengakuannya mengalir deras. "Semua kekayaan ini tidak ada artinya jika aku tidak bisa membaginya denganmu. Aku rela melepaskan semua ini jika itu yang kamu mau. Aku mencintaimu, Kathryn. Sangat mencintaimu."
Keheningan menyelimuti taman itu selama beberapa saat. Harapan Dimas membubung tinggi, menunggu satu kata manis atau setidaknya satu pelukan dari gadis di depannya.
Namun, Kathryn perlahan mendongak. Air mata jatuh membasahi pipinya, tapi sorot matanya tetap keras. "Mas mencintaiku? Atau Mas mencintai rasa kagum yang kuberikan saat Mas berpura-pura menjadi orang susah?"
"Kathryn, bukan begitu.."
"Cukup, Mas Dimas," potong Kathryn. Ia melepaskan tangan Dimas dari bahunya dengan perlahan. "Mas bilang mencintaiku sejak di IGD? Itu berarti sejak awal, Mas sudah menanam kebohongan di atas perasaan itu. Mas membiarkan aku mengasihani Mas, membiarkan aku memberikan tabunganku yang tidak seberapa itu, hanya untuk memuaskan ego Mas yang ingin 'dicintai apa adanya'?"
Kathryn menggelengkan kepala dengan sedih. "Cinta yang dimulai dengan sandiwara tidak akan pernah menjadi nyata bagiku. Aku tidak bisa mencintai pria yang identitasnya berganti secepat pakaian yang ia kenakan. Aku menolak... aku tidak bisa menerima cinta Mas."
Setelah mengucapkan kalimat yang menghancurkan seluruh harapan Dimas, Kathryn berbalik. Kali ini, ia benar-benar berlari meninggalkan taman.
"Kathryn! Kathryn, dengarkan aku dulu!" teriak Dimas parau. Ia mencoba mengejar, namun langkahnya terhenti di batas taman. Ia melihat Kathryn masuk ke dalam taksi yang segera melesat pergi.
Dimas berdiri sendirian di tengah taman, di bawah bayang-bayang rumah sakit megah miliknya sendiri. Ia merogoh saku jas putihnya, menyentuh buku tabungan kecil milik Kathryn yang selalu ia bawa ke mana pun. Buku tabungan yang dulu ia anggap sebagai janji masa depan, kini terasa begitu berat dan menyakitkan.
"Kenapa, Kathryn?" gumamnya pada angin sore. "Kenapa ketulusanmu justru menjadi dinding yang memisahkan kita?"
Dimas menengadah ke langit, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Ia memiliki segalanya kekuasaan, harta, dan nama besar namun di hadapan gadis sederhana bernama Kathryn Danola, ia merasa seperti pria paling miskin di muka bumi. Ia baru saja menyadari bahwa uang miliaran rupiah bisa membeli kesetiaan banyak orang, tapi tidak bisa membeli kembali kepingan kepercayaan yang telah pecah.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰