Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Baja dan Arena Bawah Tanah
Pria berbadan besar yang dipanggil bos itu meludah ke tanah. Namanya Borz, preman berwajah penuh codet. Temannya, Varek, tertawa meremehkan sambil memutar-mutar golok besarnya.
"Hei, Pakaian Perak," tunjuk Borz pada Bai Chen dengan ujung goloknya. "Serahkan koin emas kalian, lalu seret dua mayat hidup ini ke arena. Bos Xyros sedang butuh samsak baru untuk pertarungan malam ini."
Bai Chen menghela napas lelah. Jangankan bertarung, berdiri saja dia sudah kehabisan tenaga setelah menggunakan jimat teleportasi.
"Zian, kau bisa mengurus kecoa-kecoa ini?" tanya Bai Chen pelan. "Sihirku sedang kosong melompong."
Zian tidak menjawab. Pemuda itu hanya melangkah maju perlahan.
Lengan kanannya hancur dan berlumuran darah, terkulai lemas di sisi tubuhnya. Napasnya masih berat menahan sakit dari tulang rusuknya yang retak. Namun, mata Zian menatap Borz dan Varek seolah mereka adalah tumpukan sampah.
"Samsak?" suara Zian terdengar serak dan dingin. "Kebetulan sekali. Aku sedang butuh pelampiasan."
Melihat pemuda dengan satu tangan hancur berani melawan, Borz tertawa terbahak-bahak.
"Bocah cacat ini mau jadi jagoan rupanya!" ejek Borz keras. "Varek, potong kaki kirinya! Biar dia merangkak ke arena!"
Varek menyeringai buas. Preman tingkat Jenderal itu melesat maju. Golok besarnya menebas udara, mengincar lutut Zian dengan kecepatan mematikan.
Zian bahkan tidak berkedip. Dia tidak mundur seinci pun.
Saat bilah golok itu tinggal sejengkal dari lututnya, Zian mengangkat kaki kanannya dan menginjak bilah golok itu dengan telapak sepatunya.
Trang!
Golok baja itu tertahan telak di tanah. Varek terbelalak kaget. Dia mencoba menarik senjatanya, tapi kaki Zian terasa seperti gunung besi seberat puluhan ton yang menekan senjatanya. Gravitasi Kota Baja justru membuat injakan Zian semakin mengerikan.
"Terlalu lambat," bisik Zian.
Tanpa menggunakan lengan kanannya yang patah, Zian memutar pinggangnya. Dia melayangkan tinju kirinya lurus ke arah wajah Varek.
Bugh! KRAK!
Hantaman sonik meledak di lorong sempit itu. Hidung dan rahang Varek hancur seketika. Tubuh kekar preman itu terlempar ke belakang, menabrak dinding batu bata hingga retak, lalu jatuh pingsan dengan darah mengucur dari wajahnya.
Borz mematung. Tawa ejekannya tersangkut di tenggorokan.
Satu pukulan tangan kiri dari pemuda yang setengah mati mematahkan rahang anak buahnya!
"Sialan! Kau monster dari mana?!" umpat Borz panik. Dia mengangkat goloknya dengan kedua tangan, bersiap menyerang dengan seluruh energi elemen tanahnya.
Tapi Zian lebih cepat.
Bum!
Zian menendang tanah dan melesat ke depan. Tubuhnya menabrak dada Borz layaknya badak mengamuk. Borz tersedak saat bahu kiri Zian menghantam ulu hatinya.
Sebelum Borz bisa melawan, tangan kiri Zian melesat mencengkeram leher preman raksasa itu. Zian mengangkat tubuh Borz ke udara dengan satu tangan kosong.
"Di mana arena bawah tanah itu?" tanya Zian sedingin es. "Jawab, atau kupatahkan lehermu."
"D-di ujung jalan... belok kiri... bangunan atap hitam..." rintih Borz dengan wajah membiru kehabisan napas.
Zian mendengus pelan, lalu membanting Borz ke tanah berbatu dengan keras hingga preman itu ikut kehilangan kesadaran.
Lorong kembali sunyi. Hanya terdengar tetesan air kotor dari pipa berkarat.
"Luar biasa," suara tawa yang diselingi batuk darah terdengar dari belakang.
Jian, sang pedang gila, perlahan membuka matanya. Dia memegangi dadanya yang hancur, menahan sakit sambil bersandar ke dinding basah. Mata abu-abunya menatap Zian dengan kilat kekaguman yang aneh.
"Kau benar-benar gila, Zian," kekeh Jian sambil memuntahkan darah hitam. "Berani meninju wajah Kaisar Kuno, lalu sekarang membantai preman lokal dengan satu tangan tersisa."
Zian menoleh. Ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum buas.
"Kaisar Kuno itu pantas ditinju," jawab Zian santai. "Dan preman ini hanya pemanasan kecil."
Bai Chen memijat pangkal hidungnya. Utusan itu akhirnya bisa berdiri tegak setelah mengatur napasnya. Dia berjalan mendekati Zian dan Jian.
"Simpan obrolan gila kalian nanti," potong Bai Chen serius. "Kita punya masalah besar. Kita ada di Benua Tengah sekarang, dan kita tidak punya uang."
"Uang?" Zian mengerutkan kening. Dia merogoh sakunya. "Aku punya keping emas dari sekte..."
"Emas dari benua buangan itu tidak laku di sini, Zian," sela Bai Chen cepat. "Di sini kita memakai Koin Kristal Darah. Dan percayalah, menyembuhkan tulang hancurmu dan rusuk Jian butuh obat tingkat tinggi yang sangat mahal."
Jian terbatuk lagi. "Berapa lama waktu kita sampai Turnamen Kematian dimulai?"
"Satu bulan," jawab Bai Chen. "Kalau dalam satu bulan kau tidak sembuh dan Zian tidak menembus batas Tulang Asuranya, kalian berdua hanya akan jadi pakan monster di arena turnamen."
Zian melirik lengan kanannya yang mati rasa. Tulangnya memang hancur, tapi dia bisa merasakan sel-sel Asuranya sedang kelaparan, berteriak meminta nutrisi dan tekanan yang lebih besar untuk proses penempaan ulang.
Mata Zian kemudian beralih ke arah tubuh Borz yang tergeletak pingsan di dekat kakinya. Pemuda itu teringat ucapan preman itu tadi.
"Preman ini bilang soal arena bawah tanah," ucap Zian datar. Matanya menatap Bai Chen. "Apakah tempat itu menghasilkan uang?"
Bai Chen tersenyum tipis. Dia membuka kipas peraknya perlahan.
"Sangat banyak," angguk Bai Chen. "Arena Darah Kota Baja. Tempat para buronan, monster liar, dan kultivator bayaran saling bunuh demi koin kristal. Tidak ada aturan. Tidak ada wasit. Hanya ada hidup dan mati."
"Bagus," Zian melangkah ke arah Varek yang pingsan. Dia menarik kerah baju preman itu dengan tangan kirinya, lalu menendang tubuh Borz agar bangun.
"Bantu aku menyeret mereka," perintah Zian pada Bai Chen. "Kita jadikan dua anjing ini tiket masuk kita."
Sepuluh menit kemudian, ketiganya berdiri di depan sebuah bangunan bawah tanah yang luar biasa besar. Bangunan itu terbuat dari batu obsidian hitam legam. Bau anyir darah dan keringat menguar pekat dari pintu masuknya. Suara sorak-sorai liar terdengar bergemuruh dari dalam.
Mereka melangkah masuk. Melewati lorong gelap yang dijaga puluhan pria berwajah sangar.
Di ujung lorong, ada sebuah meja besi. Seorang pria bermata satu dengan bekas luka bakar di separuh wajahnya duduk di sana. Namanya Xyros, pengelola pendaftaran arena yang terkenal sangat kejam.
Xyros menatap rombongan Zian dengan tatapan meremehkan. Mata satu pria itu tertuju pada lengan kanan Zian yang hancur dan Jian yang masih terbatuk darah ditopang oleh Bai Chen.
"Tempat pendaftaran rumah sakit ada di jalan seberang, Bocah," usir Xyros kasar sambil memutar pena besinya. "Ini tempat orang dewasa mencari mati."
Brak!
Zian melemparkan tubuh Borz yang babak belur tepat ke atas meja besi Xyros. Meja itu penyok seketika.
Xyros terlonjak kaget. Matanya melebar melihat preman tangguhnya terkapar dengan dada hancur.
"Aku tidak butuh rumah sakit," suara Zian terdengar sangat tenang, tapi menekan seluruh udara di sekitar meja pendaftaran.
Zian menatap mata satu Xyros dengan sorot sedingin jurang maut. Tangan kirinya mencengkeram pinggiran meja besi itu hingga melengkung.
"Aku butuh uang. Masukkan namaku di pertandingan sekarang juga," tuntut Zian.
Xyros mengertakkan gigi. Amarahnya tersulut melihat kesombongan pemuda berbaju compang-camping di depannya. Tapi melihat kekuatan tangan kiri Zian yang membengkokkan meja besi padat, Xyros menyeringai licik.
"Nyali yang besar untuk orang cacat," Xyros mengambil sebuah stempel berdarah dari laci mejanya. "Baiklah. Kebetulan petarung utama kami malam ini sedang kehabisan lawan."
Xyros mencap sebuah kertas perkamen lusuh dan melemparnya ke arah Zian.
"Kau masuk ke kandang kematian nomor satu. Pertandingan dimulai lima menit lagi. Jika kau bisa bertahan hidup selama sepuluh menit, kau dapat seribu Koin Kristal Darah."
"Siapa lawanku?" tanya Zian sambil meraih kertas itu.
Sebelum Xyros sempat menjawab, suara raungan monster yang luar biasa menggelegar dari dalam arena utama. Dinding obsidian bangunan itu bergetar hebat. Bau busuk mayat menyengat hidung semua orang di sana.
"Kau akan bertarung melawan Gorgon Hitam," Xyros tersenyum sadis. "Monster mutasi tingkat Raja Puncak yang sudah memakan tiga puluh kultivator dalam seminggu terakhir."
Bai Chen mengerutkan kening. "Zian, lengan kananmu belum bisa dipakai. Menghadapi monster kulit baja tingkat Raja Puncak dengan satu tangan terlalu..."
"Bawakan aku minum yang dingin," potong Zian santai. Dia melemparkan kertas pendaftaran itu ke dada Xyros.
Zian membalikkan badan, berjalan tenang menuju lorong gelap yang mengarah langsung ke dalam kandang kematian yang bersimbah darah.
"Satu tangan sudah lebih dari cukup untuk mencabut kepalanya."
cuma tinju asal ajaaa