Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan beratnya langkah kaki Nadine. Di depan gerbang besi raksasa Mansion Pratama yang menjulang angkuh, Nadine berdiri dengan identitas barunya yaitu Mona.
Setelah berpamitan dengan putranya, Nadin langsung pergi untuk bekerja di rumah suaminya sendiri.
Penyamarannya nyaris sempurna. Wajahnya yang putih kini terlihat kusam keabu-abuan akibat polesan bedak yang sengaja ia buat tidak rata. Bibirnya yang merah alami sengaja ia sapu dengan concealer pucat hingga tampak pecah-pecah. Kacamata berbingkai hitam tebal bertengger di hidungnya yang mancung... menyembunyikan binar matanya yang cerdas. Ia mengenakan seragam pelayan lusuh yang ukurannya agak kebesaran, membuat tubuhnya terlihat lebih bungkuk dari aslinya.
Ibu Tina, kepala pelayan yang terkenal bertangan besi, berdiri di depan Nadine dengan tangan bersedekap. Ia memandang Nadine dari ujung rambut yang tertutup oleh jilbab yang menutupi dada hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
"Jadi, kamu yang direkomendasikan oleh penyalur tenaga kerja dari desa itu? Namamu siapa tadi?" tanya Ibu Tina dengan suara melengking.
"M-mona, Bu... Panggil saja Mona," jawab Nadine dengan suara yang sengaja dibuat serak dan sedikit gagap. Ia menunduk dalam, menatap lantai marmer yang begitu bersih hingga ia bisa melihat pantulan wajah "jelek"-nya sendiri.
"Wajahmu... suram sekali. Apa kamu sedang sakit?" Ibu Tina mendekat, mengerutkan kening melihat kulit Nadine yang tampak kasar.
"Hanya... kurang tidur, Bu. Saya butuh pekerjaan ini untuk biaya sekolah adik saya di kampung," dusta Nadine, tangannya meremas ujung seragamnya untuk menyembunyikan gemetar yang sebenarnya..ia terus beristighfar dalam hati karena berbohong.
"Ya sudah. Di sini tidak butuh wajah cantik, yang penting kerjaanmu beres. Tugasmu berat. Kamu akan bertanggung jawab membersihkan paviliun sayap kanan, termasuk kamar dan ruang kerja Tuan Muda Aditya. Dia orang yang sangat sulit, jangan pernah membuat kesalahan atau kamu akan ditendang keluar saat itu juga!"ucap ibu Tina dengan suara tegasnya.
"... insya Allah saya siap"sahut Nadine dengan hormat.
"hari ini juga kamu langsung bekerja..."seru ibu Tina dengan tegas.
Nadine membungkuk hormat" baik bu".
Nadine mulai bekerja. Ia membawa ember dan kain pel menuju sayap kanan. Setiap langkahnya di mansion itu membangkitkan memori menyakitkan tentang kecelakaan empat tahun lalu. Saat ia sedang berlutut membersihkan ukiran kayu di pegangan tangga besar, suara langkah sepatu kulit yang tegas bergema di lorong.
Deg.
Jantung Nadine seolah berhenti berdetak. Ia mengenali irama langkah itu.
Aditya muncul dari arah kamar utama. Ia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, kancing kerah atasnya terbuka, menampilkan kesan pria yang sedang dalam tekanan hebat. Wajahnya tetap tampan, namun garis-garis kemarahan dan kedinginan tampak jelas di dahinya.
Nadine segera menunduk, merapatkan tubuhnya ke dinding tangga, berusaha menjadi tak terlihat, walaupun dadanya berdebar hebat saat berdekatan dengan laki-laki yang sangat ia rindukan ternyata ada di dekatnya, namun ia tidak bisa meraihnya...
"Siapa kamu?" suara berat Aditya menghentikan langkahnya tepat di samping Nadine.
Nadine menelan ludah yang terasa pahit. "P-pelayan baru, Tuan Muda. Nama saya Mona."
Aditya terdiam sejenak. Ia menatap ke arah pelayan yang tampak lusuh dan berantakan itu. Anehnya, meski wajah wanita di depannya terlihat kusam dan tidak menarik, aroma sabun mandi melati yang lembut dari tubuh Nadine sempat tercium olehnya, aroma yang sama dengan yang selalu menghantui mimpinya selama empat tahun ini.
"Kenapa kamu tidak menatapku saat bicara?" tanya Aditya dingin, ia mengangkat dagu Nadine dengan ujung jari telunjuknya.
Nadine terpaksa mendongak. Di balik kacamata tebalnya, ia menatap mata pria yang dulu selalu menatapnya dengan penuh cinta, namun kini hanya ada kehampaan dan rasa jijik di sana.
Aditya mengernyitkan dahi melihat wajah Mona yang kusam dan bibirnya yang pucat. "Wajahmu mengganggu pemandanganku. Pastikan kamu sudah selesai membersihkan ruanganku sebelum aku kembali dari kantor. Dan satu lagi... jangan pernah masuk ke ruang kerja pribadiku jika tidak kupanggil.... setidaknya wajah seperti mu itu lebih cocok dengan pekerjaan mu yang sekarang"
Aditya melepaskan dagu Nadine dengan kasar, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Ia berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Nadine mematung di tangga, air mata hampir saja jatuh merusak riasannya. Ia meraba dagunya yang baru saja disentuh Aditya. “Mas... ini aku. Nadine. Meskipun wajahku berubah, tidakkah hatimu mengenali getaran jiwaku?” bisiknya dalam hati yang hancur.
Dari kejauhan, melalui kamera CCTV yang sudah diretas, Noah yang berada di rumah kontrakan mengepalkan tangan kecilnya. "Sabar, Ibu. Noah akan bantu Ibu buat Ayah ingat lagi," gumamnya sambil jarinya menari di atas keyboard.
___
Di kamar pelayan yang sempit dan pengap di pojok lantai bawah, Nadine, yang kini dikenal sebagai Mona, menutup pintu kayu yang sudah mulai lapuk itu dengan perlahan. Begitu ia masuk dan mengunci pintunya, seluruh pertahanan yang ia bangun sejak pagi runtuh seketika.
Tubuhnya merosot di balik pintu. Ia membekap mulutnya sendiri agar isakannya tidak terdengar sampai ke lorong. Bayangan mata Aditya yang dingin, yang menatapnya penuh kejijikan seolah ia hanyalah debu di lantai marmer, menghujam jantungnya lebih sakit daripada kecelakaan empat tahun lalu.
Nadine menghapus air matanya dengan kasar, merusak polesan bedak kusam di pipinya. Ia segera mengambil air wudhu di wastafel kecil yang airnya mengalir tersendat. Setelah itu, ia membentangkan sajadah lusuh yang ia bawa dari desa.
setelah salat...Ia bersujud. Lama sekali.
"Ya Allah... hamba tidak menyangka akan seberat ini," rintihnya dalam hati. Melihatnya ada di depan mata, namun jiwanya sejauh bintang di langit." Berikan hamba kesabaran, ya Allah. Jangan biarkan amarahnya menghancurkan tekad hamba untuk mengembalikan ayah bagi Noah."
Air matanya menetes membasahi kain sajadah. Di dalam sujud itu, Nadine merasa hanya Allah, lah yang mengenali wajah aslinya, bukan Mona yang buruk rupa, melainkan Nadine, sang hafizhah yang sedang berjuang di jalan cinta yang terjal.
Baru saja Nadine bangkit dari sujudnya dan hendak melipat sajadah, pintu kamarnya digedor dengan sangat keras.
BRAKK! BRAKK! BRAKK!
"Nona! Buka pintunya! Apa kamu tuli?!" teriak Bu Tina,
Nadine tersentak. Dengan cepat ia menyambar kacamatanya, dan memastikan wajah kusamnya kembali terpasang. Ia membuka pintu dengan kepala menunduk.
"M-maaf, Bu Tina... saya sedang..."
"Sedang apa?! Tidur?!" potong Bu Tina sambil berkacak pinggang. Matanya yang tajam menatap sinis ke arah sajadah yang belum sempat disembunyikan Nadine. "Oh, jadi kamu sok suci ya? Berdoa lama-lama di jam kerja?"
"Ini waktu istirahat saya, Bu. Saya hanya shalat sebentar," jawab Nadine dengan suara serak yang dibuat-buat.
Bu Tina melangkah masuk ke kamar sempit itu, hidungnya mengendus udara. "Bau apa ini? Kenapa kamarmu wangi melati? Pelayan rendahan seperti kamu tidak pantas memakai parfum mahal!"
Nadine terdiam. Itu bukan parfum, itu adalah aroma alami tubuhnya yang tetap terjaga meskipun ia memakai baju lusuh. "Itu... mungkin bau sabun murah dari pasar, Bu."
"Cih! Jangan banyak alasan! Tuan Muda Aditya sedang mengamuk di ruang kerjanya karena kopi yang dibuat pelayan lain tidak sesuai seleranya. Sekarang kamu pergi ke dapur, buatkan kopi hitam tanpa gula, dan antarkan langsung ke ruangannya. Kalau dia makin marah, kamu yang saya pecat hari ini juga! Cepat!"
Bu Tina mendorong bahu Nadine hingga ia nyaris tersungkur. "Sana! Jangan sampai wajah jelekmu itu membuat Tuan Muda makin sakit kepala!"
Nadine berjalan menuju dapur dengan tangan gemetar. Ia tahu persis bagaimana selera kopi suaminya. Aditya tidak suka kopi instan, ia suka kopi yang digiling manual dengan sedikit aroma kayu manis, persis seperti yang sering Nadine buatkan di ruko mereka dulu.
Saat ia meracik kopi itu di dapur, para pelayan lain berbisik-bisik.
"Lihat si Mona itu, berani-beraninya mau menghadap Tuan Muda yang lagi marah besar. Bisa habis dia dimaki-maki."
Nadine tidak peduli. Ia membawa nampan perak itu menuju lantai atas. Di depan pintu ruang kerja yang besar, ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak sambil membisikkan doa... lalu mengetuk pintu.
Tok... tok... tok...
"Masuk!" suara Aditya terdengar seperti guntur.
Nadine masuk dengan kepala menunduk. Ia meletakkan cangkir kopi itu di atas meja kerja yang penuh dengan cetak biru mesin otomotif. Tanpa sepatah kata pun, ia hendak berbalik pergi, namun tangan Aditya tiba-tiba menghentikannya.
"Tunggu," ucap Aditya. Ia menyesap kopi itu sedikit. Matanya yang tajam seketika membelalak. Rasa ini... aroma kayu manis ini...
Aditya menatap Mona dengan pandangan menyelidik. "Siapa yang mengajarimu membuat kopi seperti ini?"