ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Samar
Pernikahan mereka kini sudah berjalan hampir 10 bulan. Sampai saat ini mereka hanya bisa memasrahkan diri untuk mendapatkan momongan
ayra keluar dari kamar mandi dengan wajah gusar. Suaminya yang sedang berdiri di depan kamar mandi hanya bolak balik dengan tatapan cemas.
kesekian kalinya ayra mencoba memakai benda pipih itu. Ayra memeluk suaminya dengan isak tangis yang lirih. Suaminya yang paham hanya bisa menenangkan sang istri.
"gapapa sayang. Belum rezeki kita" ucap Rega menenangkan
ayra melepaskan pelukannya lalu memberikan test pack itu ke rega.
Garis dua
tapi samar
"sayang? ini garisnya 2" ucap rega yang masih melihat benda itu dengan tatapan tidak percaya
Ayra menatap rega dengan tatapan lembutnya dan wajahnya kini dihiasi senyum manisnya.
"tapi mas aku takut itu salah" lirih ayra
"nanti siang kita periksa ya ke dokter" ucap rega pada istrinya lalu mengelus rambutnya dengan lembut
"bukannya hari ini kamu harus meeting mas?" tanya ayra
"iya tapi aku usahakan selesai lebih cepat. Sekarang kita siap-siap sarapan ya" jawab rega
di meja makan.
Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. suasananya cukup dramatis pagi itu.
deringan telpon dari ponsel ayra berbunyi. terlihat panggilan video menampilkan nama arven abang ayra
"aya gimana kabar kamu?" tanya arven di sebrang sana
"abang hiks..." lirih ayra kembali menangis. ntah kenapa ayra merasa dirinya sensitif
"hey kenapa?"
"aya kangen. Abang kapan kesini hikss..."
"sabar ya... nanti abang kesana. Disini lagi banyak kerjaan yg gabisa abang tinggal."
"abang telpon kamu karna perasaan abang gelisah banget takut kamu kenapa-kenapa"
"aya baik kok. Ini aya lagi sarapan sama mas rega"
"boleh kasih ke rega? mas mau ngobrol sebentar"
Ayra mengangguk lalu memberikan ponselnya ke rega. Rega memilih menjauh dari ayra.
kini semakin hening. Ada perasaan hampa dan gelisah. Mbok sumi menghampiri ayra yang termenung di meja makan
"non ada apa? masih pagi non kenapa ngelamun?" tanya mbok sumi. terlihat wajahnya khawatir kepada majikannya
ayra tersadar lalu menoleh ke mbok sumi. Mata ayra kini sudah sembab akibat menangis.
"non yang tabah ya. Anak itu rezeki. Mungkin non dikasih waktu untuk ngabisin waktu berdua dulu" ucap mbok sumi
Wanita paruh baya itu yang sudah bekerja dari awal ayra dan rega menikah. Ayra sudah menganggapnya sebagai orang tua nya di rumah.
"tapi mbok. Setiap liat mas rega, hati aya sakit karna belum bisa ngasih keturunan untuknya." lirih ayra
Mbok sumi mendekat lalu mengelus punggung ayra dengan pelan untuk menenagkannya
"aya udah cek tadi pagi. Hasilnya samar" ucap ayra lalu memberikan benda itu ke mbok sumi
"non... ini mah positif" ujar mbok sumi dengan nada tingginya matanya berbinar
Rega yang mendengar suara mbok sumi langsung menutup telponnya dan menghampiri mereka di meja makan
"ada apa?" tanya rega dengan raut wajah khawatir
"mas... kata mbok sumi hasilnya positif" ucap ayra dengan binaran matanya dan senyumnya
"mbok bener?!!" tanya rega
"iya pak. waktu anak saya hamil juga begitu hasilnya samar, pas di cek beneran hamil. Selamat ya non aya dan pak rega" jawab mbok sumi memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua
Rega menghubungi gio untuk mengubah jadwal meetingnya menjadi esok hari.
"kenapa di undur ga?" tanya gio dari sebrang sana
"ada keperluan lebih mendesak! nanti gua hubungi lagi!" jawab rega dengan lantang dan memutuskan sambungannya
...***...
Mereka sudah sampai di rumah sakit. Rega mendaftar untuk istrinya dan mengambil nomer antrian. walaupun rega seorang konglomerat. Antri itu masih ia terapkan hingga kini
"atas nama nyonya ayra" panggil perawat
ayra yg mendengar itu langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
"ibu ayra, apa yang di rasa?" tanya dokter itu
ia menyerahkan benda pipih itu ke dokter.
"mari kita periksa lebih lanjut" ucap dokter
rega membantu ayra menuntunnya hingga naik ke atas kasur untuk dilakukan USG.
"ini sudah terlihat ada kantongnya ya bu, pak" jelas dokter
"usianya sekitar 8 minggu. Artinya masih di tahap trimester pertama" ucap dokter
mata ayra berbinar, rega terus menggenggam tangan istrinya menyalurkan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka
suara detak jantung dari calon anaknya. membuat ayra terenyuh dan meneteskan air mata tidak percaya jika di dalam sana ada kehidupan lain.
"biasanya trimester pertama ngalamin mual, cepat lelah, lebih sering buang air kecil. Apa yang di rasakan bu?" tanya dokter itu
"kalo mual ngga dok, cuma nafsu makan aja yang turun dan juga sensitif" jawab ayra
"itu hal wajar ya bu. Untuk pola makan harus di jaga. Saya resepkan vitamin untuk penguat kandungannya dan tetap saya resepkan untuk pereda mual nya" jelas dokter sambil menuliskan resepnya
"kalo berhubungan gimana dok? tetap bisa?" tanya rega yg di balas tatapan tajam oleh ayra
"gapapa bu. Biasanya para suami menanyakan hal yang sama" ucap dokter dengan kekehannya
...***...
setelah memeriksa kandungannya. mereka pergi ke supermarket untuk membeli susu ibu hamil dan beberapa buah
"sayang... kalo butuh apa-apa bilang ya" ucap rega. pancaran mata berbinar itu masih belum redup
wajah mereka terlihat sangat bahagia.
ayra mengangguk lalu kembali melihat foto USG nya.
sesampainya di supermarket mereka langsung berkeliling. Rega dengan sigap menjaga ayra. Dia berubah menjadi Protektif dan menurut ayra itu wajar karna takut terjadi hal yang tidak menyenangkan.
"kita kasih tau keluarga nanti aja ya. Mereka lagi hectic menyiapkan pernikahan resa dan niko." ucap ayra dan rega mengangguk setuju
mereka berbelanja dengan perasaan bahagia. Hingga di kejauhan ada seseorang yang mereka kenal. Arda dia kembali muncul setelah ayra membatalkan kerja sama nya.
"mas..." lirih ayra
Arda menuju mereka dan menyapanya
"hallo aya apa kabar?" sapa arda
"mau apa?" tanya rega sengit
"saya cuma nyapa aja dan mau minta maaf perihal kejadian itu" jawab arda
sorotan matanya tidak menunjukan kebohongan. hanya ada penyesalan dan ketulusan dari arda
"saya gabisa hubungi aya karna nomer saya di blokir. Mau dateng ke rumah kalian tapi saya gak enak dan kebetulan ketemu disini, saya mau menyelesaikannya hingga tuntas. Karna setelah ini saya akan meninggalkan indonesia." jelas arda
"saya sudah maafin kamu" ucap ayra dingin
Arda melihat keranjang milik ayra dan rega. Terdapat susu ibu hamil dan membuat arda tersenyum.
"dulu aku sempat bermimpi kita akan menikah dan mempunyai keluarga yang bahagia. Ternyata kamu lebih bahagia dengannya. Selamat untuk kalian... Saya pamit undur diri" ucap arda lalu berlalu pergi dari hadapan mereka
Lega.
itu yang mereka rasakan. setidaknya beban mereka satu persatu mulai hilang dan meringankan untuk mereka jalani kehidupan berikutnya.