NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: NEGOSIASI DI ATAS LUKA

Hotel Grand Oakhaven adalah satu-satunya bangunan yang tampak terlalu mewah untuk kota yang sedang sekarat ini. Arsitekturnya yang modern dengan dinding kaca setinggi langit berdiri angkuh di antara gedung-gedung tua yang kusam. Bagi Kai, masuk ke lobi hotel ini terasa seperti masuk ke dimensi lain—dimensi di mana uang bisa membeli kehangatan dan menyembunyikan kebusukan.

Sepatunya yang sedikit basah oleh salju meninggalkan jejak kotor di atas lantai marmer putih yang mengkilap. Ia merasa seperti noda di atas kanvas yang bersih.

Yudha sudah menunggu di restoran hotel. Ia duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah pelabuhan, sedang menikmati secangkir espresso kecil sambil menatap jam tangannya yang berkilau. Saat melihat Kai mendekat, ia tidak berdiri. Ia hanya mengangkat alisnya, memberikan gestur agar Kai duduk di hadapannya.

"Kau tepat waktu," ucap Yudha. "Oakhaven ternyata memberikanmu sedikit disiplin, ya?"

Kai duduk, namun ia tidak melepas mantelnya. Ia ingin pertemuan ini berakhir secepat mungkin. "Hentikan omong kosongnya, Yudha. Apa yang kau inginkan dariku? Jika ini hanya soal uang, kau tahu aku tidak punya apa-apa."

Yudha terkekeh, suara tawa yang kering dan tidak menyenangkan. "Uang? Kau pikir aku menempuh perjalanan lima jam menembus badai salju hanya untuk menagih recehan darimu? Aku tidak butuh uangmu, Kai. Tapi perusahaan membutuhkanmu."

"Perusahaan?" Kai mengerutkan kening. "Aku sudah lama mengundurkan diri. Aku sudah tidak bisa menggambar untuk mereka lagi."

"Secara teknis, kau masih terikat kontrak," Yudha memajukan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang tajam. "Ingat proyek 'Lumina'? Itu adalah proyek besar terakhir ayahmu sebelum dia... tiada. Dan kau adalah satu-satunya orang yang memegang kunci enkripsi untuk sketsa arsitektur aslinya. Sketsa yang belum sempat dipindahkan ke format digital secara lengkap."

Kai merasa tangannya mulai dingin. Ayahnya. Proyek itu adalah impian ayahnya yang hancur bersamaan dengan kecelakaan yang menimpa keluarga mereka. "Aku sudah membuang semuanya. Sketsa itu sudah tidak ada."

"Jangan berbohong padaku, Kai. Aku tahu kau menyimpannya di suatu tempat di apartemen kumuhmu itu." Yudha mengetukkan jarinya ke meja. "Begini kesepakatannya: Berikan aku sketsa asli Lumina, dan aku akan memastikan ibumu mendapatkan perawatan terbaik di pusat medis swasta. Aku juga akan menghapus semua catatan utang medis yang masih menunggak atas nama keluargamu. Kau bebas, Kai. Benar-benar bebas."

"Kenapa kau begitu menginginkannya?" tanya Kai penuh selidik. "Itu hanya sketsa bangunan tua yang tidak pernah dibangun."

"Bagi kau, itu hanya kenangan pahit. Bagi kami, itu adalah hak paten yang bernilai jutaan dolar. Arsitektur itu memiliki struktur yang kini dicari oleh pengembang asing," Yudha menyandarkan punggungnya kembali. "Pikirkan ibumu, Kai. Apakah kau tega membiarkannya menderita hanya karena egomu yang terluka?"

Kai terdiam. Di kepalanya, bayangan ibunya yang terbaring lemah bercampur dengan wajah Elara. Jika ia memberikan sketsa itu, ia mengkhianati wasiat terakhir ayahnya. Namun jika tidak, ia akan membiarkan ibunya mati dalam kesendirian.

"Aku butuh waktu," ucap Kai pelan.

"Kau punya waktu sampai besok pagi. Kereta menuju kota pusat berangkat pukul sembilan. Jika kau tidak ada di stasiun dengan membawa dokumen itu, anggap saja kesepakatan ini batal. Dan jangan harap kau bisa menemui ibumu lagi," Yudha berdiri, mengenakan sarung tangan kulitnya yang hitam. "Oh, satu lagi. Jangan pikirkan untuk lari bersama gadis pemain piano itu. Aku tahu di mana dia tinggal."

Darah Kai mendidih. Ia berdiri dengan cepat, hampir menjatuhkan kursinya. "Jangan pernah sentuh dia."

Yudha tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu, jadilah anak yang baik, Kai. Sampai jumpa di stasiun."

Kai meninggalkan hotel dengan perasaan hancur. Ia berjalan menembus angin dingin tanpa arah, hingga kakinya membawanya kembali ke taman kota yang sepi. Ia duduk di sebuah bangku kayu yang tertutup salju, membiarkan rasa dingin meresap ke dalam tulangnya.

Ia mengeluarkan kunci perak dari Elara. Logam kecil itu terasa sangat berat sekarang. Elara adalah satu-satunya hal indah yang ia temukan di Oakhaven, namun kehadirannya justru menjadi titik lemah yang bisa digunakan Yudha untuk menghancurkannya.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di atas salju.

"Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu," suara itu milik Elara.

Kai mendongak. Elara berdiri di sana, tanpa instrumen, tanpa buku. Ia hanya mengenakan mantel tipisnya, wajahnya tampak pucat di bawah langit yang semakin gelap.

"Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Kai.

"Aku punya firasat," Elara duduk di samping Kai, tidak mempedulikan salju yang membasahi mantelnya. "Pria itu... dia mengancammu, bukan?"

Kai menatap lurus ke depan, ke arah pepohonan yang merana. "Dia menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Dan dia mengancam akan menyakitimu jika aku tidak menurut."

Elara terdiam sejenak. Ia mengambil tangan Kai yang gemetar dan menggenggamnya erat. "Jangan khawatirkan aku, Kai. Aku sudah terbiasa dengan ancaman. Tapi jangan biarkan dia mengambil bagian dari dirimu yang masih tersisa."

"Tapi ibuku—"

"Ibumu tidak akan bangga jika dia tahu kau menyerahkan impian ayahmu kepada orang seperti itu," potong Elara lembut namun tegas. "Ada jalan lain, Kai. Pasti ada."

"Apa jalan itu?" tanya Kai putus asa. "Aku hanya seorang pelukis yang bahkan tidak bisa melihat warna. Aku tidak punya kekuatan untuk melawannya."

Elara menatap mata Kai dalam-dalam. "Kau punya aku. Dan kau punya bakatmu. Mungkin kau tidak bisa melihat warna, tapi kau bisa melihat kebenaran di balik garis hitam dan putih. Pakailah itu."

Malam itu, Kai kembali ke apartemennya. Namun ia tidak tidur. Ia membongkar tumpukan kotak tua di bawah tempat tidurnya yang selama ini tidak pernah ia sentuh. Di dasar kotak terakhir, ia menemukan sebuah gulungan kertas besar yang diikat dengan pita kain yang sudah lapuk.

Sketsa Lumina.

Ia membuka gulungan itu di atas meja. Garis-garis arsitektur yang rumit, detail yang sangat presisi—itu adalah mahakarya ayahnya. Namun, saat Kai memperhatikannya lebih dekat dengan matanya yang kini "terlatih" untuk melihat detail kecil sejak ia belajar dari Elara, ia menyadari sesuatu.

Ada pesan tersembunyi di balik garis-garis struktur bangunan itu. Ayahnya telah menyembunyikan sesuatu di dalam desain tersebut. Bukan sekadar hak paten, tapi sebuah bukti kecurangan yang dilakukan oleh perusahaan Yudha bertahun-tahun yang lalu—kecurangan yang mungkin menjadi penyebab sebenarnya dari kebangkrutan ayahnya dan kecelakaan yang terjadi.

Tangan Kai bergetar. Arang di tangannya mulai bergerak, bukan untuk menggambar, tapi untuk menyoroti rahasia tersebut.

"Jadi ini sebabnya..." bisik Kai. "Kau bukan menginginkan desainnya, Yudha. Kau ingin menghancurkan buktinya."

Kai menghabiskan sisa malam itu dengan bekerja. Ia membuat salinan dari bagian-bagian penting, menyembunyikan yang asli, dan menyiapkan sebuah rencana. Ia tahu risikonya sangat besar. Jika ia gagal, ia akan kehilangan segalanya. Namun jika ia tidak mencoba, ia akan selamanya menjadi budak dari masa lalunya.

Pukul delapan pagi, Kai sudah berdiri di balkonnya untuk terakhir kalinya. Ia menengadah ke langit. Salju berhenti turun, meninggalkan langit abu-abu yang sangat bersih.

Ia mengambil tas ranselnya, memasukkan dokumen-dokumen itu, dan menyelipkan kunci perak Elara ke dalam saku yang paling dalam.

"Aku pergi, Oakhaven," gumamnya. "Tapi aku pasti akan kembali untuk warnaku."

Ia melangkah keluar, menutup pintu apartemennya dengan rapat. Di kepalanya, ia bisa mendengar Elara memainkan sebuah nada yang penuh semangat—sebuah lagu tentang keberanian yang muncul dari sisa-Sisa kehancuran.

Kai berjalan menuju stasiun, tempat Yudha dan takdirnya sudah menunggu. Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Kai tidak akan membiarkan dunianya tetap abu-abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!