David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.
Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 21) Istri Sang Penguasa
Hari demi hari berlalu.
Di sebuah aula termegah di jantung Sao Paulo, resepsi pernikahan digelar dengan kemewahan yang nyaris berlebihan. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lampu kristal berlapis emas yang memantulkan cahaya seperti hujan bintang. Tirai-tirai putih gading menjuntai anggun, diselipkan rangkaian anggrek dan mawar merah darah yang harum semerbak. Meja-meja bundar tertata simetris, diselimuti taplak sutra, dengan lilin-lilin tinggi yang apinya menari pelan.
Di sisi kiri aula, barisan hidangan internasional berjejer rapi. Minuman anggur berusia puluhan tahun tersimpan dalam lemari kaca transparan, siap dituangkan kapan saja.
Namun kemewahan itu bukanlah pusat perhatian malam ini. Yang membuat aula penuh sesak bukan hanya dekorasi atau makanan, melainkan nama besar sang mempelai pria yakni David Mendoza.
Para tamu berdatangan dalam balutan jas mahal dan gaun haute couture. Pebisnis papan atas, pejabat pemerintah setempat, hingga selebriti ternama berdiri berkelompok, tersenyum sopan sembari menyembunyikan rasa ingin tahu yang menggelitik.
Tujuan mereka jelas. Bukan sekadar menghadiri pesta. Mereka ingin melihat langsung wanita yang berhasil menjadi istri David Mendoza, si pria paling kejam dan berkuasa di Sao Paulo, dengan segala misteri kehidupannya.
Bisik-bisik pun mulai terdengar, mengalun seperti angin tipis yang menyusup di sela-sela musik instrumental.
"Tidak kusangka," ujar seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu mahal, menyesap sampanyenya. "Baru setahun lalu Tuan David ditinggal selamanya oleh kekasihnya. Sekarang malah sudah mengadakan resepsi pernikahan saja dengan wanita lain."
Wanita di sampingnya mengangguk pelan. "Iya, benar. Ditambah lagi, kematian kekasihnya itu masih jadi misteri."
Seorang pria lain menyahut dengan nada lebih pelan, seolah takut dinding ikut mendengar. "Rumor yang beredar mengatakan bahwa wanita itu meninggal karena sakit. Tapi ada juga yang bilang dia minum racun, karena tidak tahan tinggal serumah dengan David Mendoza."
Tawa kecil terdengar sumbang.
"Ya iyalah. Mana ada wanita yang berani serumah dengan serigala?" ucap seseorang dengan senyum miring. "Sudah begitu, membunuh pamannya sendiri lagi. Ketua kartel pula. Serumah dengannya, pasti bagai neraka."
Beberapa orang refleks menoleh, memastikan tak ada pengawal di dekat mereka.
"Intinya," lanjut pria itu, "hanya wanita mata duitan saja yang mau menjadi istrinya. Kekayaan Tuan David kan tidak terkira."
Seorang wanita bergaun merah menyela, menatap ke arah pintu utama aula. "Meski begitu, tak bisa dipungkiri jikalau Tuan David Mendoza adalah pria paling tampan, gagah, kaya, dan berpengaruh di Sao Paulo. Di era serba mahal begini, siapa sih yang tidak mau jadi istri, atau setidaknya simpanannya?"
"Aku jadi penasaran," bisik seorang selebriti muda sambil merapikan rambutnya. "Kira-kira secantik apa istrinya?"
Seolah menjawab rasa penasaran itu, lampu aula perlahan diredupkan. Musik berhenti sesaat, digantikan denting piano lembut yang menggema.
Pembawa acara melangkah ke tengah panggung dengan senyum profesional.
"Hadirin sekalian," suaranya bergema mantap, "malam ini adalah moment yang bersejarah. Dimana dengan penuh kebanggaan, mari kita sambut pasangan pengantin kita... Tuan David Mendoza dan Nyonya Laila Mendoza."
Pintu besar di ujung aula terbuka perlahan.
Semua kepala tertoleh.
Karpet merah membentang panjang. Para pengawal berbadan tegap berdiri di sisi kanan dan kiri, wajah mereka tanpa ekspresi. Musik orkestra mengalun megah. Petugas-petugas melemparkan petikan mawar ke udara, membuat kelopak merah berjatuhan seperti hujan cinta yang dramatis.
Dan mereka pun muncul.
David Mendoza melangkah lebih dulu. Ia mengenakan setelan jas putih yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya tersisir rapi, rahangnya tegas, sorot matanya tajam namun tenang. Setiap langkahnya sempurna, berwibawa, memancarkan aura kekuasaan yang tak perlu dipamerkan, sebab sudah sangat terasa kalau dia adalah sang penguasa.
Di sampingnya, berdiri Laila yang tampak merangkul lengannya.
Gaun putih gadingnya berkilau lembut, dihiasi detail renda halus yang menyatu sempurna dengan tubuhnya. Potongan gaun itu sederhana namun elegan, dengan ekor panjang yang diseret anggun di atas karpet merah. Rambutnya disanggul rapi, beberapa helai jatuh lembut membingkai wajahnya yang cantik.
Laila bukan lagi sekadar cantik. Ia anggun, berkelas, dan tenang. Kulitnya bercahaya diterpa lampu kristal, matanya besar dan dalam, seolah menyimpan cerita yang tak semua orang boleh tahu.
Aula mendadak hening.
Lalu tepuk tangan bergemuruh, memecah keheningan dengan penuh kekaguman.
Beberapa tamu bahkan tak sadar menahan napas. "Luar biasa…" bisik seseorang. "Dia sangat cantik."
"Ternyata bukan wanita mata duitan sembarangan," gumam yang lain, tak mampu mengalihkan pandangan.
Laila berjalan selaras dengan David. Senyumnya terukir tipis, terkesan tidak terlalu berlebihan dan lebar.
Sementara David, sesekali melirik ke arahnya. Sorot matanya sedikit melunak ketika memandang Laila, kontras dengan tatapan dinginnya kepada dunia.
Mereka naik ke altar. Lampu kembali menyorot terang. Musik mereda, menyisakan denting biola yang lirih.
Ketika telah berdiri berdampingan di altar, Laila mendadak merasakan napasnya tak teratur.
"Ukhh..." Jantungnya berdetak terlalu cepat. Tangannya yang merangkul lengan David sedikit mengencang tanpa ia sadari.
Bagaimana tidak? Semua mata tertuju padanya. Kelihatan sekali bahwa ratusan orang itu menilai, membandingkan dan menghakimi dirinya walau Laila tak mendengar secara jelas suara-suara mereka.
Kepalanya perlahan tertunduk. Pandangannya jatuh ke ujung gaunnya sendiri.
David merasakannya. Tanpa menoleh terlalu jelas, ia menepuk pelan punggung tangan Laila yang melingkar di lengannya. Sentuhan itu hangat dan tegas.
Ia sedikit mendekat, berbisik rendah hanya untuk Laila. "Tidak apa-apa," katanya pelan. "Semua akan baik-baik saja."
Suara David dalam, stabil, menenangkan. Senyum teduh yang jarang diperlihatkan kepada siapa pun, terukir di wajahnya.
Laila mendongak perlahan. Ia membalas dengan senyum kecil. Namun di dalam hatinya, badai bergejolak.
Batinnya yang merasa bersalah tiada henti berbisik. "Maafkan aku, Dio..."
"Sandiwara ini hanya berlangsung selama setahun..." Laila menutup kedua matanya. Seakan menahan perasaannya yang terombang-ambing. "Lalu setelah itu, aku akan kembali ke pelukanmu. Aku melakukannya juga demi dirimu."
"Sekali lagi, maafkan aku Dio..."
Nama itu berseru bagaikan luka yang belum kering. Di tengah kemegahan aula, dan di antara cahaya lampu kristal serta tepuk tangan meriah, Laila justru merasa seperti berdiri di tepi jurang.
Dio.
Wajah pria itu terlintas jelas di benaknya, bersamaan dengan segala kenangan indah yang telah mereka lewati bersama.
Suara pembawa acara kembali terdengar, menariknya dari lamunan.
"Pasangan yang begitu serasi," katanya penuh pujian. "Simbol kekuatan dan keanggunan."
Para tamu mengangguk setuju.
David menatap sedikit ke arah Laila. Ujung matanya mengamati wajah wanita itu dengan saksama, seolah membaca sesuatu yang tersembunyi.
"Apa kau lelah?" tanyanya pelan tanpa mengubah ekspresi.
Laila cepat-cepat menggeleng. "Tidak."
"Kalau kau ingin duduk sebentar, katakan." Ucap David tegas namun dengan nada halus.
Laila mengangguk kecil.
Di bawah altar, para fotografer berebut mengabadikan momen. Kilatan kamera menyala tanpa henti.
Salah satu pejabat tinggi kota mendekat untuk memberi selamat. "Tuan Mendoza, selamat atas pernikahannya."
David menjabat tangan pria itu dengan senyum tipis yang sewajarnya saja. "Terima kasih sudah datang."
Pejabat itu menoleh pada Laila. "Nyonya Mendoza, Anda benar-benar beruntung."
Laila tersenyum sopan. "Terima kasih."
Satu per satu tamu penting naik ke altar untuk memberi selamat. Pujian demi pujian dilontarkan. Tidak sedikit wanita memandang Laila dengan rasa iri yang tak tersembunyi.
Sementara di sudut aula, bisik-bisik masih berlanjut.
"Apa menurutmu, wanita itu tahu masa lalu David?"
"Entahlah. Kan yang penting bukan masa lalunya, tetapi uangnya."
"Lagipula, kalau semakin diperhatikan, dia sepertinya bukan berasal dari sini."
"Kau benar. Bisa jadi, dia mulanya cuman seorang turis biasa, yang tiba-tiba kepincut ketampanan tuan Mendoza."
"Ataupun dia adalah wanita yang dijual sebagai penebus hutang."
Spekulasi berputar seperti angin malam.
Namun di atas altar, David berdiri tegak bak benteng yang tak tergoyahkan.
Setiap kali Laila sedikit bergeser menjauh karena menyapa tamu, David tanpa sadar akan kembali mendekatkan jarak mereka. Tangannya sesekali menyentuh punggung Laila, seolah memastikan wanita itu tetap di sisinya.
Sebuah sikap posesif yang tipis, nyaris tak terlihat tetapi Laila merasakannya.
Bagi David, malam ini bukan sekadar resepsi. Melainkan sebuah deklarasi bahwa Laila adalah miliknya. Dan seluruh Sao Paulo harus tahu.
Sedangkan Laila merasa sebaliknya. Ia amat tertekan dan berharap acara kelar secepatnya.