NovelToon NovelToon
The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

The Spy Cultivator [Haneen And Shadow System]

Status: sedang berlangsung
Genre:Pembunuhan / Sistem / Pembaca Pikiran / Time Travel / Transmigrasi / Solo Leveling
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sands Ir

Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.

Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.

Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.

Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.

Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?

Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.

Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Jejak dan Pengejaran

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Perahu stealth itu meluncur membelah kegelapan Danau Kabut. Mesinnya berdengung sangat halus, hampir tidak terdengar di antara suara ombak kecil yang menghantam lambung perahu. Haneen duduk di kemudi, tangannya menggenggam erat setir dingin itu. Matanya tidak lepas dari panel instrumen yang menyala redup. Di sampingnya, Yan Ling sedang memeriksa kristal data yang mereka dapatkan dari markas Naga Merah.

"Kristal ini terkunci," lapor Yan Ling sambil memutar-mutar benda ungu itu di tangannya. Cahaya dari permukaan kristal memantul di wajahnya yang pucat karena kedinginan. "Ada formasi enkripsi tingkat tinggi. Kita tidak bisa membacanya begitu saja."

Haneen mengangguk pelan. Dia sudah menduga hal itu. Organisasi sekelas Naga Merah pasti melindungi rahasia mereka dengan lapisan keamanan ganda. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan sistem untuk membukanya?" tanya Haneen tanpa menoleh.

[Sedang menganalisis... Estimasi waktu: Dua jam. Biaya: 500 IP per menit.]

Haneen menghela napas. Dua jam berarti tiga ribu poin. Itu harga yang cukup mahal, tapi mereka tidak punya pilihan. "Mulai prosesnya," perintah Haneen dalam hati.

Sistem langsung bekerja. Cahaya biru tipis menyelimuti kristal yang dipegang Yan Ling. Wanita itu merasa getaran halus menjalar ke tangannya. "Sistem sudah mulai bekerja," kata Yan Ling. Dia menyimpan kristal itu ke dalam tas dimensi agar aman.

Tiba-tiba, sensor di perahu berbunyi nyaring. ‘Bip! Bip! Bip!’

"Ada yang mengikuti kita," kata Haneen tajam. Dia menekan tombol di panel kontrol. Layar radar menampilkan tiga titik merah yang bergerak cepat dari arah pulau yang baru saja mereka tinggalkan. "Mereka menggunakan Perahu cepat. Tiga unit."

"Mereka tidak menyerah," gumam Yan Ling. Dia berdiri dan berjalan ke bagian belakang perahu. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma air danau yang amis. "Seberapa cepat mereka?"

"Lebih cepat dari kita," jawab Haneen jujur. Dia meningkatkan kecepatan mesin perahu stealth. Perahu itu mendengung lebih keras, melaju lebih kencang di atas permukaan air. "Tapi kita punya keunggulan teknologi."

Haneen membuka menu sistem. Dia mencari item yang cocok untuk situasi ini. [Ranjau Air Terkendali. Harga: 300 IP per unit.]

Haneen membeli tiga unit ranjau. Benda kecil berbentuk cakram itu muncul di tangannya. Dia melemparkan ranjau itu ke belakang perahu. Ranjau tersebut melayang di permukaan air, tenggelam setengah bagian, dan menyala dengan lampu merah sangat kecil yang hanya terlihat melalui kaca malam.

"Siap-siap," perintah Haneen. Dia membelokkan perahu secara tiba-tiba ke arah kiri. Manuver itu membuat tubuh mereka terhentak ke samping.

Pengejar mereka mengikuti gerakan itu. Tiga perahu hitam berbentuk seperti ikan panah melesat mendekati mereka. Dari atas perahu musuh, terlihat beberapa orang menyiapkan panah energi.

"Mereka akan menyerang!" teriak Yan Ling. Dia sudah menyiapkan pedangnya, meski bertarung di atas perahu yang bergerak sangat berisiko.

"Tunggu sampai mereka masuk jarak efektif," kata Haneen tenang. Jarinya melayang di atas tombol detonator. Jarak di radar semakin mendekat. Lima ratus meter. Tiga ratus meter. Seratus meter.

"Sekarang!" Haneen menekan tombol itu.

‘Boom! Boom! Boom!’

Tiga ledakan besar terjadi di belakang mereka. Air danau terhempas tinggi ke udara, menciptakan dinding ombak raksasa. Perahu musuh yang berada tepat di zona ledakan terlempar ke samping. Salah satu perahu langsung tenggelam karena lambungnya bocor. Dua lainnya sempat menghindari dampak langsung, tetapi kecepatan mereka berkurang drastis karena harus menghindari puing-puing.

"Itu akan memberi kita waktu," kata Haneen. Dia memutar kemudi kembali ke jalur lurus. "Mereka akan butuh waktu untuk memperbaiki formasi."

"Apakah mereka masih mengejar?" tanya Yan Ling. Dia melihat ke belakang. Asap hitam masih membubung dari lokasi ledakan.

"Masih ada dua unit," jawab Haneen. "Tapi mereka akan berpikir dua kali sebelum mendekat lagi."

Perahu mereka terus melaju selama satu jam penuh. Hutan di sekitar danau mulai menipis, digantikan oleh dataran rendah yang terang benderang. Itu adalah Kota Perdagangan Bebas. Tempat di mana semua orang diterima, dan tidak ada pertanyaan yang diajukan. Tempat sempurna untuk menghilang.

Haneen memarkir perahu mereka di dermaga swasta yang sepi. Dia membayar pemilik dermaga dengan batu spiritual tingkat tinggi agar tidak ada yang mencatat kedatangan mereka.

"Kita butuh tempat aman," kata Haneen saat mereka melangkah memasuki kota. Jalanan masih ramai meski malam sudah larut. Pedagang makanan masih membuka lapak. Penjudi masih berteriak di rumah perjudian.

"Aku tahu sebuah penginapan tua di distrik utara," saran Yan Ling. "Pemiliknya adalah teman lama ayahku. Dia bisa dipercaya."

Haneen mempertimbangkan itu. Menggunakan koneksi pribadi berisiko, tapi mereka butuh tempat yang benar-benar aman untuk menunggu proses dekripsi selesai. "Baik. Arakan jalan."

Mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit. Yan Ling memimpin jalan dengan pasti. Mereka sampai di sebuah bangunan kayu dua lantai yang terlihat sederhana. Papan nama di depan sudah pudar, bertuliskan 'Penginapan Bulan Sabit'.

Yan Ling mengetuk pintu tiga kali dengan pola tertentu. ‘Tok. Tok-tok. Tok.’

Pintu terbuka sedikit. Seorang pria tua dengan rambut putih muncul dari celah pintu. Matanya menyipit saat melihat Yan Ling. Wajahnya berubah dari curiga menjadi terkejut.

"Yan Ling?" suara pria itu bergetar. "Kau... kau masih hidup?"

"Paman Wu," sapa Yan Ling sambil membungkuk hormat. "Kami butuh tempat sembunyi. Hanya untuk satu malam."

Pria tua itu membuka pintu lebar-lebar. "Masuk. Cepat. Jangan berdiri di luar."

Mereka memasuki ruangan dalam yang hangat. Aroma teh dan kayu bakar menyambut mereka. Paman Wu menutup pintu dan menguncinya dengan beberapa gerendel besi.

"Apa yang terjadi?" tanya Paman Wu sambil menuangkan teh panas untuk mereka. "Aku mendengar kabar buruk tentang Sekte Pedang Langit. Dan ada desas-desus tentang Naga Merah."

Haneen menerima cangkir teh itu. Uap panas menghangatkan tangannya yang kaku. "Kami sedang mengumpulkan bukti untuk menjatuhkan mereka, Paman. Tapi kami sedang diburu."

Paman Wu terdiam. Dia menatap Haneen dengan pandangan menyelidik. "Kau bukan dari dunia kultivasi biasa, bukan? Cara bicaramu... berbeda."

Haneen tidak menjawab. Dia hanya meminum tehnya. "Bisakah kami menggunakan ruang bawah tanah? Kami punya pekerjaan yang tidak boleh terlihat."

Paman Wu mengangguk perlahan. "Ikut aku."

Dia membawa mereka ke dapur, lalu mengangkat sebuah karpet tua di lantai. Di bawahnya terdapat pintu trapdoor yang mengarah ke ruang bawah tanah. Ruangan itu kecil, tapi dilengkapi dengan meja kerja dan beberapa alat artefak tua.

"Tempat ini aman dari scan aura," jelas Paman Wu. "Dindingnya dilapisi batu penahan energi. Tidak ada yang bisa mendeteksi apa yang terjadi di sini."

"Terima kasih," kata Haneen. Dia langsung duduk di meja kerja. Kristal data sudah selesai diproses oleh sistem. Statusnya sudah siap dibaca.

Haneen menghubungkan kristal itu ke alat baca yang disediakan Paman Wu. Layar kaca di dinding menyala. Baris-baris teks dan gambar mulai muncul.

Yan Ling berdiri di belakang Haneen, membaca isi layar itu bersama. Wajah mereka semakin serius seiring berjalannya waktu.

"Ini..." Yan Ling menutup mulutnya dengan tangan. "Ini bukan hanya tentang Naga Merah."

Haneen menggeser layar ke bagian bawah. Ada daftar nama yang sangat panjang. Nama-nama tetua dari berbagai sekte besar. Nama-nama pejabat dari kota-kota utama. Dan di puncak daftar itu, ada sebuah cap resmi.

"Aliansi Kultivasi Tengah," baca Haneen pelan. Suaranya terdengar berat di ruangan sempit itu. "Mereka mendalangi semuanya."

Yan Ling merasa lututnya lemas. Dia harus bersandar pada meja agar tidak jatuh. "Kalau Aliansi yang terlibat... berarti tidak ada tempat yang aman bagi kita. Seluruh dunia kultivasi bisa menjadi musuh kita."

Haneen menutup layar itu. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang berputar cepat. Ini jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Korupsi bukan hanya terjadi di satu sekte atau satu organisasi kriminal. Ini adalah sistem yang sudah busuk dari atas sampai bawah.

"Justru karena itu," kata Haneen akhirnya. Dia menatap Yan Ling dengan mata yang berbinar tekad. "Kita harus menyebarkannya. Jika kita diam, mereka akan terus melakukannya. Mereka akan terus menghancurkan orang-orang kecil seperti kita."

"Tapi bagaimana caranya?" tanya Yan Ling putus asa. "Aliansi punya kekuatan untuk membungkam suara kita sebelum kita sempat bicara."

Haneen tersenyum tipis. Senyuman itu muncul setiap kali dia memiliki rencana gila. "Kita tidak akan bicara pada mereka. Kita akan bicara pada semua orang."

Haneen memanggil sistem. [Item Tersedia: Menara Siaran Global. Harga: 10000 IP.]

Itu harga yang sangat mahal. Hampir semua poin yang mereka kumpulkan selama ini akan habis. Tapi Haneen tidak ragu. Dia menekan tombol konfirmasi.

"Aku akan membeli alat untuk menyiarkan data ini ke seluruh benua," jelas Haneen. "Setiap kota, setiap sekte, setiap individu yang memiliki alat komunikasi akan menerima data ini secara bersamaan."

"Kau akan menghabiskan semua sumber daya kita?" tanya Yan Ling kaget. "Kita tidak akan punya apa-apa lagi setelah ini."

"Kita masih punya nyawa," jawab Haneen tegas. "Dan kita masih punya satu sama lain. Itu cukup untuk memulai lagi."

Paman Wu yang sedari tadi mendengarkan di sudut ruangan akhirnya bicara. "Jika kalian melakukan itu... kalian tidak akan bisa kembali hidup-hidup. Aliansi akan mengirim pemburu tingkat Dewa untuk membunuh kalian."

"Aku tahu," kata Haneen. Dia berdiri dari kursi. Tubuhnya terasa lelah, tapi semangatnya membara. "Tapi setidaknya kebenaran akan terungkap. Itu lebih penting daripada nyawa kami."

Yan Ling menatap Haneen lama. Dia melihat ketegangan di rahang wanita itu. Dia tahu tidak ada yang bisa mengubah keputusan Haneen sekali dia memutuskan sesuatu.

"Aku akan membantumu," kata Yan Ling pelan. Dia meletakkan tangannya di atas bahu Haneen. "Di mana pun kau pergi, aku akan ikut. Sampai akhir."

Haneen menatap tangan Yan Ling, lalu menatap wajahnya. Dia mengangguk kecil. "Terima kasih."

Mereka menghabiskan sisa malam itu untuk menyusun rencana siaran. Haneen membutuhkan lokasi tinggi untuk memancarkan sinyal. Menara tertinggi di benua ini ada di Ibu Kota Aliansi. Itu adalah tempat paling berbahaya yang bisa mereka kunjungi.

"Kita butuh waktu tiga hari untuk sampai ke Ibu Kota," hitung Haneen di atas peta. "Dan kita harus melewati lima pos pemeriksaan utama."

"Itu seperti berjalan masuk ke mulut naga," komentar Paman Wu. Dia menggelengkan kepala. "Kalian benar-benar gila."

"Mungkin," aku Haneen. Dia melipat peta itu dan memasukkannya ke tas. "Tapi naga itu harus mati."

Fajar mulai menyingsing di luar. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela kecil di ruang bawah tanah. Debu-debu menari di dalam sinar itu.

Haneen berjalan menuju tangga. "Kita harus berangkat sekarang. Semakin lama kita menunggu, semakin besar kemungkinan mereka melacak kristal itu."

Yan Ling mengikuti Haneen naik ke lantai atas. Mereka mengucapkan terima kasih pada Paman Wu tanpa banyak bicara. Pria tua itu hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat keberanian kedua wanita muda itu.

Saat mereka melangkah keluar dari penginapan, udara pagi terasa segar. Kota Perdagangan Bebas mulai bangun. Suara pedang mulai ramai.

Haneen menarik tudung jubahnya untuk menutupi wajah. Yan Ling melakukan hal yang sama. Mereka menyatu dengan kerumunan orang yang berjalan menuju gerbang kota.

Di saku Haneen, sistem bergetar pelan. [Misi Utama Diperbarui: Siarkan Kebenaran ke Seluruh Benua. Tingkat Kesulitan: Ekstrem.]

Haneen mengabaikan peringatan itu. Dia sudah terbiasa dengan kesulitan. Dia sudah terbiasa menjadi pihak yang lemah yang harus melawan raksasa.

"Yan Ling," panggil Haneen tanpa menoleh.

"Ya?" jawab Yan Ling di sampingnya.

"Kalau kita berhasil... apa yang ingin kau lakukan setelah semuanya selesai?" tanya Haneen. Pertanyaan itu terdengar aneh di tengah situasi genting seperti ini.

Yan Ling terdiam sebentar. Dia memikirkan pertanyaan itu sambil menghindari seorang pedagang yang membawa keranjang ikan. "Aku ingin membuka sekolah bela diri pedang. Mengajarkan orang biasa cara melindungi diri mereka sendiri. Agar tidak ada lagi yang menjadi korban seperti kita."

Haneen tersenyum. Itu tujuan yang bagus. Lebih bagus dari sekadar balas dendam. "Aku akan membantumu," janji Haneen.

"Mimpi yang besar," kata Yan Ling tertawa kecil.

"Kita sudah melalui hal yang lebih gila," balas Haneen.

Mereka sampai di gerbang kota. Penjaga memeriksa setiap orang yang keluar. Haneen menahan napas. Penyamaran mereka masih aktif, tapi kewaspadaan penjaga sangat tinggi.

Penjaga itu menatap mereka sebentar. Lalu mengangguk, mengizinkan mereka lewat.

Mereka melangkah keluar dari gerbang. Jalan besar membentang di depan mereka. Jauh di ufuk utara, terlihat siluet menara-menara tinggi Ibu Kota Aliansi.

Itu tujuan mereka. Itu tempat di mana mereka akan mempertaruhkan segalanya.

Haneen mengepalkan tangannya. Dia merasakan tekstur kulitnya sendiri. Dia masih hidup. Dia masih bisa berjuang.

"Ayo," kata Haneen. Dia mulai berjalan lebih cepat.

Yan Ling mengikuti di belakangnya. Langkah mereka mantap. Tidak ada keraguan lagi.

Angin pagi menerpa jubah mereka, seolah-olah mendorong mereka maju. Dunia mungkin melawan mereka. Tapi mereka tidak akan mundur.

Perjalanan menuju Ibu Kota baru saja dimulai. Dan Haneen tahu, setiap langkah di jalan itu akan dibayar dengan darah. Tapi dia siap membayarnya.

Karena kadang, satu kebenaran memang lebih berharga daripada seribu nyawa. Haneen bertekad memastikan kebenaran itu terdengar oleh semua orang, bahkan jika itu menjadi hal terakhir yang dilakukannya di dunia ini. Dia menoleh sekilas pada Yan Ling yang berjalan disampingnya. Dia tidak berjalan sendiri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Bersambung…...

Jangan lupa like, komen dan share 😄

Jangan lupa hadiahnya juga😁

1
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
huh ... thor serasa ikut dalam cerita...👍👍
Mbu'y Fahmi
deg² thor takut ketauan😄
Ahyar Alkautsar Rizky
keren thor😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Mbu'y Fahmi
lanjut thor... makin seru cerita nya
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor 🔥
Ara putri
semangat kak. jgn lupa mampir juga keceritaku PENJELAJAH WAKTU HIDUP DIZAMAN AJAIB
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor🔥
Ahyar Alkautsar Rizky
izin save gambarnya ya thor 🙏
Fajar Fahri
ikut kedalam cerita
Fajar Fahri
visualnya kerenn 👍
Intan21
😍
Intan21
good
Saskia Natasya
alur cerita nya bagus
Ahyar Alkautsar Rizky
seru kali thor 😍
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor
Ahyar Alkautsar Rizky
lanjut thor please
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!