Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Jeff yang dibawa paksa oleh polisi membuat JJ panik, Ia berusaha bangun dari ranjang meski tubuhnya masih sangat lemah.
“Pa… Pa!” seru JJ dengan suara parau.
Jeff menoleh ke arah putranya yang berusaha turun dari tempat tidur.
“JJ, jangan khawatirkan Papa,” kata Jeff sambil berusaha tetap tenang meski kedua tangannya sudah dipegang petugas. “Papa tidak apa-apa. Papa tidak bersalah.”
Polisi kemudian membawa Jeff keluar dari ruangan.
Pintu kamar tertutup.
JJ yang memaksakan diri berdiri akhirnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya langsung jatuh ke lantai.
Bruk!
Suara itu membuat seorang suster yang berada di luar ruangan segera masuk karena mendengar keributan.
Ia melihat JJ sudah terjatuh di lantai.
“Tuan Zhou!” seru suster itu kaget sambil segera menghampiri pasiennya.
JJ bernapas berat, wajahnya pucat karena kelelahan. Dengan susah payah ia berkata,
“Tolong… hubungi pengacara.”
***
Kantor Ketua Pengadilan siang itu terasa tegang.
Di luar ruangan, beberapa staf berbisik membicarakan berita yang sedang menggemparkan kota—penangkapan keluarga Zhou atas perintah Hakim Li.
Di dalam ruangan, Adrian berdiri tegak di depan meja besar.
Seorang pria paruh baya duduk di kursinya sambil menatap Adrian dengan wajah tidak senang.
“Hakim Li,” ucap pria itu dengan nada berat. “Apa yang sebenarnya kau lakukan?”
Adrian tetap berdiri tenang.
“Saya hanya menjalankan penyelidikan, Tuan.”
Ketua pengadilan langsung menepuk meja pelan. “Penyelidikan?” katanya dengan nada tajam. “Kau memerintahkan polisi menahan tiga anggota keluarga Zhou tanpa bukti yang cukup! Kota ini sudah gempar!”
Adrian tidak menunjukkan ekspresi takut.
“Justru karena itu saya melakukannya.”
“Ini bukan permainan!” bentak atasannya. “Sebagai hakim, kau tahu betul prosedur hukum. Penangkapan harus berdasarkan bukti dan saksi!”
Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab dengan tenang.
“Jika kita menunggu bukti muncul dengan sendirinya, pelaku sebenarnya mungkin sudah menghilangkan semua jejaknya.”
Ketua pengadilan menatap Adrian dengan tajam. “Kau mempertaruhkan reputasi pengadilan… hanya karena firasatmu?”
Adrian mengangkat pandangannya.
“Bukan firasat,” katanya singkat. “Perangkap.”
Ruangan itu langsung hening.
Ketua pengadilan menyipitkan mata.
“Hakim Li,” katanya pelan namun tegas. “Jika ini gagal, bukan hanya kariermu yang hancur. Nama pengadilan juga akan tercemar.”
Adrian tidak bergeming.
“Saya siap menanggung risikonya.”
Pria itu menatap Adrian lama sebelum akhirnya menghela napas berat.
“Kau benar-benar hakim paling gila yang pernah aku lihat.”
Adrian hanya menjawab singkat.
“Selama pelaku sebenarnya tertangkap… saya tidak keberatan disebut gila.”
Ketua pengadilan menatap Adrian dengan wajah keras.
“Hakim Li, aku tidak ingin rencanamu yang tidak jelas itu merusak nama baik pengadilan,” katanya dengan nada tegas. “Segera lepaskan mereka sekarang juga.”
“Karena saya sudah memulai rencana ini, maka saya akan menyelesaikannya sampai tuntas,” jawab Adrian dengan tenang. “Apa pun risikonya, saya sendiri yang akan menanggungnya. Di persidangan nanti semuanya akan terjawab.”
“Hakim Li, apakah kau tidak peduli dengan nama baik pengadilan? Jangan sampai karena ulahmu, reputasi yang kita jaga selama ini menjadi tercemar.”
“Ketua, justru jika kita tidak bertindak dan membiarkan kasus ini begitu saja, nama baik pengadilanlah yang akan benar-benar tercemar,” kata Adrian.
“Dua nyawa melayang tanpa keadilan. Putri mereka dituduh sebagai pembunuh, bahkan diberi obat untuk menghapus ingatannya. Sementara pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Jika kita tidak menggunakan jebakan ini, dia bisa saja segera pergi ke luar negeri. Pada saat itu, siapa yang akan bertanggung jawab?” lanjut Adrian.
Tatapan Adrian semakin tajam.
“Pelakunya selama ini berada di sekitar kita. Hanya tergantung pada kita—apakah kita memilih diam… atau bertindak. Seorang gadis yang tidak bersalah harus menanggung beban yang begitu berat. Kehilangan kedua orang tuanya… lalu dituduh sebagai pembunuh yang hampir dihukum mati.”
Ketua pengadilan terdiam.
“Bahkan Hakim Chen hingga saat ini masih belum ditemukan,” katanya. “Padahal dia satu-satunya saksi mata. Hanya dia yang tahu… siapa orang itu sebenarnya.”
“Hakim Li…!” ucap ketua pengadilan itu dengan nada kesal.
Adrian tetap tidak berubah ekspresi.
“Tuan, beri saya waktu,” katanya. “Saya hanya butuh satu persidangan untuk mengungkap pelaku sebenarnya. Jika saya gagal, saya akan meminta maaf kepada publik dan mengundurkan diri.”
Setelah mengatakan itu, Adrian langsung berbalik dan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Pintu ruangan tertutup.
Ketua pengadilan itu menatap pintu beberapa detik sebelum akhirnya melempar dokumen di tangannya ke atas meja dengan keras.
Brak!
“Adrian… kau benar-benar membuatku gila!” gerutunya kesal sambil menarik dasinya dengan kasar.
Adrian kembali ke kantornya.
Begitu pintu terbuka, ia melihat Jaksa Wu sudah berada di dalam ruangan. Pria itu duduk di sofa sambil membaca beberapa berkas.
Melihat Adrian masuk, Jaksa Wu segera berdiri.
“Hakim Li, Anda sudah kembali,” katanya. “Di luar ada banyak reporter yang ingin bertemu dengan Anda.”
Adrian berjalan tenang menuju mejanya.
“Sampaikan kepada mereka bahwa persidangan akan digelar dua hari lagi,” katanya singkat.
Jaksa Wu sedikit terkejut.
“Secepat itu?” tanyanya.
Adrian berhenti sejenak sebelum duduk di kursinya.“Sudah cukup lama sejak kedua korban meninggal,” jawabnya sambil membuka beberapa dokumen di atas meja. “Aku tidak ingin menunda lagi.”
Jaksa Wu mengangguk pelan.
“Baiklah,” katanya. “Ada satu hal lagi.”
Adrian mengangkat pandangannya.
“Semalam Holdie Fu datang ke sini,” lanjut Jaksa Wu. “Dia menunggu Anda cukup lama, tetapi Anda tidak kembali. Akhirnya dia pergi.”
Adrian tidak menunjukkan reaksi apa pun.
“Dia meninggalkan pesan,” tambah Jaksa Wu.
“Apa pesannya?” tanya Adrian singkat.
“Dia bilang… dia akan datang lagi.”