sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selingkuh
saatnya wasit mengumumkan siapa pemenangnya dan suaranya terdengar menggema, "Para hadirin sekalian marilah kita sambut juara kita kali ini, juara kedua di raih oleh seorang wanita gagah perkasa yang kekuatannya mampu menggemparkan jagat raya kita sambut Miss Brownies, dan untuk juara satu kita sambut wanita yang benar benar multi talenta, ksatria sejati tiada tanding untuk saat ini ,ini dia LK, silahkan keduanya naik ke panggung". Suara menggema dari MC mengaung di ruangan itu, ruangan mewah tersembunyi khusus buat para pecinta olah raga ini, dan tentunya mereka yang hadir adalah para undangan khusus, bukan untuk umum.
Elke alias Laluna Khairunisa bersama Miss Brownies alias Mbak Mariati naik keatas panggung, si Luna yang kini tak memakai helm tetapi berganti dengan hijab segi empat warna hitamnya tentu saja wajahnya terpampang dengan jelas di hadapan para pemirsa, dan di dalam ruangan khusus yang di sediakan , Fadli dan Hasan melongo hampir tak percaya, keduanya terkesima dengan kehebatan Laluna yang mereka anggap sebagai pahlawan dalam keluarganya.
"Kita temui setelah pertandingan selesai". Perintah Fadli singkat dan padat, Hasan yang sebenarnya juga menaruh hati pada gadis itu hanya mengangguk singkat, mana bisa dia menang dari bosnya, dia sadar diri jika tetap maju dia sudah pasti kalah dalam segalanya.
Setelah pertandingan usai dengan tatapan kedengkian dari Alina, Luna melenggang dengan santai di buntuti Dandy di belakangnya.
"Sorry tadi enggak sengaja gue mendorong lu, habisnya risih gue nya u peluk peluk, reflek saja sampai lu terjengkang". Luna memohon maaf dengan santai, sementara Dandy yang ingin ngomel di bungkam oleh Luna dengan sogokan mematikan hingga membuat Dandy senyum simpul menahan bahagia yang luar biasa."kamu mau Hermes atau Louise Vuitton". Tanya Luna singkat Dandi sudah membayangkan tas selempang Louis Vuitton yang kemarin dilihatnya, tas uniseks yang bisa dipake cowok dan cewek dengan harga enam ratus juta ada dimatanya, sementara Hermes yang di tawarkan Luna kemarin hanya cocok untuk wanita, meski mahal yang di tawar Luna , Dandy lebih milih pilihannya sendiri.
Ketika sudah hampir sampai di parkiran Hasan nyamperin keduanya dengan mengundangnya untuk makan malam, Luna sudah menduga tentu saja Fadli dibelakang undangan ini, asisten nya hanya menjalankan perintah, sementara dokter Najwa sudah menunggu diatas mobil, "okey bang Hasan tunggu sebentar aku samperin temanku itu ya, nanti kami akan menyusul tinggal dimana kita bertemu nanti, boleh kan kalau aku bawa teman satu lagi?" jawab Luna sekaligus mengajukan sebuah pertanyaan.
"Boleh, tentu saja boleh ,silahkan dengan senang hati, kalau begitu aku pamit dulu ya Mbak, sampai ketemu". Jawab Hasan dengan sopan.
"Hai Luna selamat ya atas kemenangannya lagi dan lagi". Dokter Najwa memberikan ucapan selamat, setelah memberi ucapan selamat dokter Najwa mencium pipi kanan dan kiri Dandy, mereka kan sepupuan
"kali ini nggak ada luka yang serius mbak Najwa, jadi nggak perlu pengobatan, ikut aku saja yuk diundang makan malam oleh boss besar". Ajak Laluna.
dokter Najwa menangis Laluna dan Dandy jadi heran melihatnya, apakah ada yang salah dengan ajakannya?
"kok malah nangis kak". Tanya Dandy memeluk kakaknya ,Najwa memeluk kembali Dandy dengan menangis sesenggukan di pelukan sepupunya itu, Laluna yang sedang mengemudikan mobil meminggirkan mobilnya berhenti di pinggir jalan.
"ada apa mbak, apa yang terjadi". Tanya Luna dari balik kemudi.
"kemal selingkuh dengan salah satu suster di tempatnya kerja, tadi aku memergoki mereka masuk hotel ". Jawab Najwa sambil masih sesenggukan.
"Jangan dulu menyimpulkan, siapa tahu hanya urusan pekerjaan". Hibur Luna.
"Sudah lama aku curiga Lun, sering menangkap basah mereka bertatapan mesra kadang bergandengan tangan, apa itu urusan kerja? Dan barusan tadi aku melihatnya memasuki hotel meski didalam mobil aku tahu dan melihat dengan mata kepala ku sendiri mereka saling berciuman". Isaknya.
"Sudahlah kalau begitu kita cari hiburan saja untuk melupakan masalah ini, lupakan sejenak sambil kita cari solusi di lain hari Mbak". Lanjut Luna dan Najwa meng iyakan.
Laluna membawa kedua sahabatnya itu ke sebuah restoran terbesar di kota ini, di sana dua orang pria telah menunggunya, Luna segera meminta maaf atas keterlambatannya.
"Maaf bang Fadli mas Hasan, maaf kami terlambat, kenalkan ini teman teman aku, Najwa dan Dandy ". Laluna memperkenalkan dua sahabatnya.
Najwa dan Hasan saling pandang dan seperti nya mereka mengingat sesuatu.
"kamu Najwa" teriak Hasan.
"Dan kamu Hasan kan". Tanya balik dokter Najwa.
"ya ampun Najwa, apa kabar sudah lama banget kita nggak ketemu, semenjak lulus SMA, anakmu sudah berapa?" tanya Hasan antusias seperti ibu ibu kepo kalau ketemu seseorang yang ditanyakan pasti anak, padahal dianya sendiri masih betah melajang.
Najwa menunduk, "aku belum punya anak, tapi sudah tujuh tahun menikah, dan kata dokter kami berdua baik baik saja". Jawab Najwa membuat Hasan tak enak hati karena pertanyaan kepo nya.
"maafkan aku jika pertanyaan ku nggak enak di dengar ". Ralat Hasan atas pertanyaan kepo nya.
Kemudian mereka memilih menu masing masing, Fadli dari tadi tak lepas pandangan dari Laluna, " sejak kapan Luna ikut pertandingan macam ini". Tanya Fadli.
"Sejak SMP saya sudah suka ikut pertandingan bang, tapi waktu itu di larang oleh orang tua, tapi sekarang aku bebas dari mereka jadi aku bisa menentukan hidupku sendiri ". Jawab Luna jujur tanpa sengaja menceritakan hubungannya dengan orang tuanya.
Fadli tersentak, dia menganggap Laluna sudah yatim piatu, atau Laluna adalah anak durhaka yang minggat demi kebebasan? Fadli bingung atas dugaannya sendiri.
"Jadi orang tuamu kemana Luna?". Tanya Fadli, dan Laluna memandang kedua sahabatnya yang mereka juga memandang Luna bersamaan ketiganya saling pandang.
"Ada bang, lain kali aku cerita nggak enak kalau langsung cerita kehidupanku yang kacau balau, ku ceritakan pun alasannya pasti Abang jadi orang modern tidak akan percaya". Jawab Luna dan begitu juga Fadli merasa sama dengan Hasan yang telah memberi pertanyaan kepo pada kedua wanita di hadapannya keduanya merasa nggak enak hati.
Najwa dan Hasan saling cerita tentang pengalaman hidupnya, mereka dulunya teman sekelas tentunya usia pun sepantaran, di samping itu memang dulu Hasan pernah naksir sama Najwa karena Hasan adalah tipe laki-laki yang minder dan nggak pede, perasaan itu disimpan sampai batas waktu tak tentu, apalagi saat itu Najwa adalah bunga kelas yang naksir orang orang top di kelasnya,
Selama makan mereka saling ngobrol bersama, obrolan dan joke yang membuat suasana semakin bahagia, Najwa seketika melupakan sejenak suaminya yang saat ini sedang bergumul di ranjang hotel, ternyata bukan hanya orang awam yang selingkuh, pak dokter yang kalem lemah lembut dan sopan itu juga menyimpang dengan mengkhianati pernikahannya berselingkuh dengan bawahannya.
"Terimakasih makan malamnya bang Fadli, mas Hasan!" ucap Luna kepada kedua laki laki tampan itu.
"iya sama sama, lain kali kalau berkenan kami undang lagi ya". Jawab Fadli.
"Oh iya ,Luna belum menggunakan kartu yang di berikan Hasan dulu itu, kok tidak ada laporan masuk ke aku?" tanya Fadli dengan hati-hati.
"Kartu? Kartu apa bang?" tanya Luna sambil membuka dompetnya tempat menyelipkan kartu yang di berikan Hasan dulu, dan Luna benar mendapati dua kartu di dompet nya.
"golden card?" gumam Luna.
"itu isinya unlimited, kamu boleh menggunakan sesuka mu beli apapun yang kamu mau asal berguna bagimu". Jawab Fadli lagi.
"Nggak usahlah bang, terimakasih ini terlalu berlebihan bagiku". tolak Luna
Laluna berniat mengembalikan kartu itu, karena menurutnya itu sama sekali tak perlu, Laluna bukanlah gadis aji mumpung yang gila uang, dia bisa berdiri sendiri diatas kakinya, tapi Hasan menolak ketika Laluna mengembalikan kartu itu.
"Sudah simpan saja siapa tahu di lain waktu kamu membutuh kannya". saran Fadli dan karena tidak enak dikira menolak dan takut membuat Fadli tersinggung Luna memasukkan kembali kartu itu ke dalam dompetnya.
@@&@@