Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ar-Rahman di bibir badai
Pesantren Al-Fatih mendadak terasa lebih dingin bagi Zayna, namun bukan karena hujan yang enggan beranjak, melainkan karena tatapan sinis dari kelompok Najwa yang masih menyisakan bara api fitnah. Zayna menyadari satu hal: di sini, kata-kata saja tidak cukup untuk memenangkan hati. Ia butuh sebuah persembahan jiwa.
"Zoy," panggil Zayna di suatu sepertiga malam yang sunyi, saat embun masih betah memeluk daun kamboja. "Ajari aku menghafal Ar-Rahman. Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa. Aku ingin ini menjadi rahasia antara aku, kamu, dan Pemilik Langit."
Zoya menatap Zayna dengan mata yang berkaca-kaca. "Mbak Zay serius? Itu surat yang sangat indah, surat tentang nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan kita dustakan."
"Iya, Zoy. Karena selama ini aku terlalu banyak mendustakan nikmat-Nya dengan keluhan. Aku ingin mengeja cinta-Nya, agar aku pantas bersanding dengan hamba-Nya yang paling sabar itu," ucap Zayna sambil mendekap mushaf kecil berwarna merah hati ke dadanya.
Hari-hari berikutnya menjadi medan juang yang sunyi bagi Zayna. Di saat santriwati lain beristirahat, ia bersembunyi di sudut perpustakaan tua yang berdebu, mengeja tiap ayat dengan lidahnya yang masih kaku.
“Fabiayyi ala-i rabbikuma tukazziban...”
Suaranya bergetar, terkadang ia menangis karena lidahnya sulit melafalkan huruf Kho atau Dhad dengan benar. Namun setiap kali ia hendak menyerah, bayangan punggung Gus Haidar yang berdiri sebagai tameng di aula tempo hari kembali muncul, memberinya kekuatan laksana akar yang menembus bebatuan.
Namun, Najwa tidak tinggal diam. Ia adalah penguasa di asrama itu, dan ia merasa otoritasnya terancam. Suatu sore, saat Zayna sedang khusyuk mengulang hafalannya di balik rak buku, Najwa muncul dengan langkah yang sengaja tidak bersuara.
"Mengeja Ar-Rahman tidak akan menghapus dosa masa lalumu yang berisik, Zayna," bisik Najwa, tepat di telinga Zayna.
Zayna tersentak, menutup mushafnya dengan cepat. "Hafalan itu urusanku dengan Tuhan, Najwa. Kenapa kamu sewot banget? Apa surga sudah penuh sampai kamu takut aku masuk ke sana?"
Najwa tersenyum meremehkan. "Surga itu luas, tapi kursi di samping Gus Haidar sangat sempit. Hanya ada tempat untuk wanita yang lisannya basah oleh zikir, bukan wanita yang bibirnya masih terasa aroma lipstik mahal kota."
Najwa kemudian menjatuhkan sebuah berita yang membuat jantung Zayna seolah berhenti berdetak. "Oh, sekadar informasi. Minggu depan akan ada Imtihan (ujian terbuka). Gus Haidar meminta satu santriwati untuk membacakan Ar-Rahman di depan seluruh jamaah sebagai pembukaan. Dan tebak siapa yang beliau tunjuk? Beliau menunjukku. Karena bagi beliau, suara adalah aurat yang harus dijaga oleh kualitas ilmu, bukan sekadar gaya."
Zayna terdiam. Ada rasa sakit yang menusuk tepat di ulu hatinya. Gus Haidar menunjuk Najwa? Apa dia benar-benar menganggapku tidak mampu?
Malam harinya, Zayna melihat Gus Haidar sedang berjalan menuju masjid. Tanpa pikir panjang, Zayna mencegatnya di bawah pohon tanjung yang bunganya sedang berguguran, menaburkan aroma harum yang getir.
"Gus!" panggil Zayna.
Haidar berhenti, tetap menjaga pandangannya pada akar pohon. "Ya, Mbak Zayna? Belum istirahat?"
"Apa benar Gus menyuruh Najwa membacakan Ar-Rahman di acara Imtihan nanti?" tanya Zayna dengan suara tertahan.
Haidar terdiam sesaat, seolah sedang menimbang beratnya udara malam. "Benar. Najwa memiliki makhraj yang sempurna dan nafas yang panjang. Itu acara penting, Zayna. Saya tidak ingin ada kesalahan."
Zayna tertawa getir, air matanya jatuh tanpa permisi. "Jadi benar... Gus cuma melihat saya sebagai 'proyek gagal' yang harus dikasihani, tapi untuk urusan kehormatan, Gus tetap memilih dia? Gus pikir saya nggak bisa? Gus pikir saya nggak punya hati untuk belajar?!"
"Bukan begitu, Zayna—"
"Cukup, Gus! Saya tahu diri sekarang. Ternyata 'Janji Lama' itu cuma soal tanggung jawab, bukan soal kepercayaan."
Zayna berbalik dan berlari sekuat tenaga, mengabaikan panggilan Haidar yang terdengar lirih memanggil namanya. Ia masuk ke kamar, membanting pintu, dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Zoya.
Namun, di dalam kegelapan itu, Zayna tidak menyerah. Ia justru semakin gila menghafal. Jika Haidar tidak memberinya panggung di dunia, maka ia akan meminta panggung di langit.
Hari yang dinanti tiba. Aula besar pesantren sudah penuh dengan ribuan jamaah dan wali santri. Najwa berdiri dengan angkuh di barisan depan, siap menunjukkan "kesempurnaannya".
Namun, takdir adalah penulis skenario yang paling jenius. Tepat sepuluh menit sebelum acara dimulai, Najwa mendadak kehilangan suaranya. Ia terserang radang tenggorokan akut yang membuatnya hanya bisa mengeluarkan suara serak yang menyakitkan. Kepanikan melanda panitia.
Gus Haidar berdiri di belakang panggung dengan wajah tenang namun penuh teka-teki. Ia menoleh ke arah barisan santriwati, matanya mencari satu sosok yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar.
"Zayna Almeera," panggil Haidar, suaranya terdengar lewat speaker kecil di bagian putri.
Zayna mendongak, matanya membelalak.
"Naiklah ke mimbar. Bacakan apa yang selama ini kamu bisikkan di balik rak buku perpustakaan setiap malam," ucap Haidar.
Zayna gemetar. "Tapi Gus... saya nggak siap... saya takut salah..."
"Langkahkan kakimu dengan bismillah, Zayna. Saya tidak butuh makhraj yang sempurna dari seorang ahli, saya butuh getaran hati yang jujur dari seorang hamba yang sedang rindu pada Tuhannya. Majulah, dan tunjukkan pada dunia bahwa kamu bukan kerikil, melainkan permata yang sedang saya asah."
Zayna melangkah naik dengan kaki yang terasa berat. Saat ia duduk di depan mikrofon, ribuan orang terdiam. Ia melihat Gus Haidar di kejauhan, menundukkan kepala, namun tangannya memegang tasbih dengan sangat cepat.
Zayna memejamkan mata. Ia membayangkan hanya ada dia dan Haidar di bawah pohon tanjung. Ia menarik napas dalam, dan mulailah ia melantunkan ayat demi ayat.
“Ar-Rahman... Allamal Qur'an...”
Suara Zayna tidak sekeras Najwa, namun suaranya membawa rasa pedih, rindu, dan ketulusan yang luar biasa. Setiap ayat yang keluar seperti tetesan air di padang pasir. jamaah mulai terisak. Bahkan Kyai sepuh meneteskan air mata mendengar betapa jujurnya suara itu.
Saat ia sampai pada ayat “Fabiayyi ala-i rabbikuma tukazziban”, suara Zayna sedikit serak karena ia membacanya sambil terisak. Ia menyadari betapa banyaknya nikmat Tuhan—termasuk dipertemukan dengan pria seteguh Haidar.
Setelah selesai, keheningan panjang menyelimuti aula sebelum akhirnya gumaman subhanallah terdengar dari segala penjuru. Zayna turun dengan lemas. Di bawah panggung, ia berpapasan dengan Haidar.
Haidar tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberikan sebuah botol air mineral yang masih segel, lalu ia berbisik sangat pelan, namun sanggup membuat Zayna merasa terbang ke langit ketujuh.
"Kamu tahu kenapa saya menunjuk Najwa di awal?"
Zayna menggeleng.
"Agar kamu merasa cemburu. Karena hanya dengan cemburu, kamu akan membuktikan bahwa cintamu pada Al-Qur'an dan pada saya bukanlah sekadar main-main. Dan hari ini, kamu baru saja memenangkan perang terbesar dalam hidupmu: mengalahkan rasa takutmu sendiri."
"Zayna tersenyum di balik cadar tipis yang ia kenakan. Ia menyadari bahwa Haidar adalah guru terbaik yang pernah dikirim Tuhan untuknya. Namun, di sudut ruangan, Najwa menatap Zayna dengan tatapan yang lebih gelap dari malam. Ia kehilangan panggungnya, dan bagi wanita seperti Najwa, kehilangan panggung adalah awal dari sebuah dendam yang lebih mengerikan."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp