NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 : Last day

Hari pertama Ujian Satuan Pendidikan (USP) dimulai. Aku memusatkan fokusku seratus persen. Tidak ada ruang untuk keraguan, tidak ada celah untuk kegagalan. Di dalam kepalaku, hanya ada satu tekad yang bergema layaknya mantra: aku harus keluar dari sekolah ini, aku harus keluar dari rumah ini. Aku ingin membuktikan bahwa Nur Hanie, anak yang mereka labeli "bodoh" dan sering mereka kerdilkan, sebenarnya mampu berdiri di puncak. Aku bisa sukses, dan aku akan sukses dengan caraku sendiri.

Suasana sekolah hari itu terasa mencekam, dipenuhi aroma kertas ujian dan ketegangan yang menggantung di udara koridor. Setelah bergelut dengan soal-soal Sejarah yang menguras otak, aku melangkah keluar dari kelas dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Langkahku membawaku melewati area taman sekolah, menuju gerbang untuk segera pulang.

Di sana, di sebuah gazebo kayu yang biasa digunakan untuk area baca, aku melihat Azka. Dia duduk sendirian, membelakangiku. Tangannya sibuk membolak-balik tumpukan catatan yang tampak sudah lusuh karena terlalu sering dibaca. Wajahnya terlihat sangat serius, keningnya berkerut dalam, seolah sedang bertarung dengan konsep-konsep sosiologi atau ekonomi yang ada di depannya.

Azka memang nakal—semua orang tahu itu. Dia adalah definisi dari masalah di mata para guru. Namun, di balik semua aksi pemberontakannya, aku tahu ada sisi lain dari dirinya yang jarang diperlihatkan kepada dunia. Aku tahu dia sedang berusaha keras untuk menjadi pintar, meski dia menutupinya dengan tawa keras dan sikap acuh tak acuh.

Aku mencoba berjalan melewatinya dengan langkah yang tenang, berharap kehadiran personaku yang tidak berarti ini tidak mengusik ketenangannya. Namun, tepat saat aku berada beberapa langkah di sampingnya, sebuah suara menghentikan duniaku.

"Nur..."

Langkahku terhenti seketika. Aku mematung. Dia memanggilku "Nur". Bukan "Hanie", bukan sebutan mengejek "anak Indo" yang biasa dilontarkan teman-temannya yang lain. Suaranya terdengar sangat lembut, begitu asing di telingaku hingga membuatku merasa aneh. Tidak ada debaran jantung yang romantis layaknya di novel-novel picisan; yang ada hanyalah rasa heran yang menusuk. Sejak kapan Azka bicara selembut itu?

Aku menoleh perlahan. Azka sedang menatapku. Sinar matahari sore yang mulai menguning jatuh tepat di wajahnya, membuat mata hazel miliknya tampak redup dan dalam. Ada pancaran emosi yang sulit aku definisikan di sana—dia tampak sangat serba salah, sangat malu, seolah beban dunia sedang menekan pundaknya. Aku bisa melihat rasa bersalah itu mengalir di bola matanya yang jernih. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, bibirnya sedikit terbuka, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Dia tampak sangat menderita dengan kebisuannya sendiri. Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sesuatu yang ingin dia sampaikan untuk memperbaiki segala kekacauan yang pernah terjadi di antara kami.

Namun, belum sempat dia mengeluarkan satu kata pun, sebuah teriakan melengking memecah keheningan di antara kami.

"Azka! Woii, sini!" Arif menjerit dari kejauhan, melambai-lambaikan tangannya dengan kasar.

Azka tersentak, bahunya menegang seketika. Keberanian yang baru saja ia kumpulkan seolah menguap begitu saja ke udara panas sore itu. Dengan gerakan kaku, dia segera membuang muka, kembali menunduk ke arah catatannya. Dia berpura-pura tidak melihatku, berpura-pura seolah interaksi singkat tadi tidak pernah terjadi. Dia kembali menjadi Azka yang "aman" di hadapan teman-temannya.

Aku menatap punggungnya dengan tatapan dingin, lalu sebuah senyuman tawar tersungging di bibirku. Senyum yang penuh dengan rasa kecewa yang sudah mengkristal.

"Kamu memang pengecut, Azka," bisikku lirih, namun aku yakin dia bisa mendengarnya. "Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi pengecut yang bersembunyi di balik mata hazelmu itu."

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku tidak peduli lagi apakah dia merasa terluka atau tidak. Aku melanjutkan langkahku, meninggalkan area gazebo itu tanpa menoleh lagi. Biarlah dia tetap berada di dunianya yang penuh kepura-puraan, dan aku akan tetap di duniaku yang penuh perjuangan sunyi.

Aku terus berjalan menuju gerbang sekolah, membiarkan angin sore menerpa wajahku. Aku tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu bahwa saat itu, di belakangku, Azka sebenarnya sedang menggenggam pulpennya begitu kuat hingga jemarinya memutih. Dia sedang bertarung dengan kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya. Bukan marah kepadaku, melainkan marah pada dirinya sendiri. Dia benci betapa lemahnya dia, benci betapa pecundang dirinya karena bahkan untuk membelaku di depan teman-temannya atau sekadar menyelesaikan kalimat maafnya saja, dia tidak mampu.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!