Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Duel Part 1 —
Setelah bersusah payah menerobos kerumunan, akhirnya aku bisa masuk ke dalam ruang klub permainan... meski awalnya sempat ditolak karena mereka tidak percaya padaku.
Untungnya, Elena menyuruh mereka untuk mempersilakanku masuk. Padahal jelas-jelas aku ini pasangannya, tapi mereka malah meragukanku.
Mereka pun secara terpaksa membukakan pintu hanya untukku. Keadaan di dalam ruangan sama-sama tidak begitu kondusif, hanya saja di luar jelas lebih parah.
Ruangan ini cukup luas untuk sebuah klub. Ada begitu banyak meja dan kursi yang saling berhadapan. Tidak hanya itu, ada beberapa alat dan papan permainan seperti rubik, shogi, kartu, catur, dan masih banyak lagi.
Pandanganku langsung terpaku pada Elena begitu tiba di sini. Dia duduk berhadapan dengan Sera Nanashi, dengan papan catur yang menjadi penengah di antara mereka.
Elena menghadap bidak hitam. Kelihatannya dia baik-baik saja, tapi anehnya aku yang malah merasa gelisah. Jantungku berdetak kencang, dan dahiku mulai berkeringat.
Aku berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang.
Kemudian, aku mengabaikan Satoshi Akanji yang berdiri dengan posisi tangan menyilang. Dan tentunya aku juga hanya menatap Sera Nanashi sekilas.
Selain itu, ada beberapa anggota klub permainan yang menatap intens ke arah sini sambil berbisik-bisik.
Aku menutup telingaku sepenuhnya. Tidak ada yang menjadi perhatianku lagi selain Elena.
Tak lama kemudian, seseorang mendekat menengahi. Dia seorang gadis dengan rambut hitam berkepang dua.
"Kalian sudah siap, kan?"
Suaranya terdengar tegas. Dia ingin memastikan sesuatu sebelum duelnya dimulai.
"Ya, aku sangat siap."
"..."
Sementara Sera Nanashi bersuara dengan lantang, Elena hanya diam mengangguk.
"Baiklah, kita mulai duelnya!"
Lalu, layar hologram mengambang di antara mereka berdua.
[Duel Catur Dimulai!]
[Elena Miyazaki vs Sera Nanashi]
[Skor Sementara (Menang/Imbang/Kalah):
- Elena Miyazaki (0/0/0)
- Sera Nanashi (0/0/0)]
[Total Pertandingan: 5 Babak]
[Taruhan: 100 Poin Pasangan]
Rupanya hanya ada satu taruhan yang tertulis. Itu berarti, mereka sebenarnya tidak saling tampar secara fisik. Maksudku tamparannya hanya berlaku sepihak di Sera Nanashi, sementara Elena jelas tidak menginginkannya.
Aku jadi dapat satu informasi penting mengenai duel dari sistem. Mungkin lain kali aku akan mencobanya juga.
Sekarang, fokusku sepenuhnya ada pada permainan yang sudah berlangsung.
Sera Nanashi yang memegang bidak putih langsung berusaha bermain menguasai petak tengah. Pionnya maju dua petak. Mungkin dia ingin bermain Italian Game.
Sementara itu, Elena memulai langkah Caro-kann. Langkahnya sama persis dengan apa yang kulakukan saat kami pertama kali bermain.
Seiring berjalannya permainan, aku bisa mendengar suara bisik-bisik yang entah kenapa terdengar mencurigakan.
"Bagaimana ini? Nanashi-san bisa kalah kalau terus-terusan ditekan!"
"Tidak ada yang menyangka kalau lawannya sangat tangguh. Pantas saja dia ing—"
"Sttt... jangan terlalu nyaring, nanti pasangan gadis itu mendengarnya!"
Astaga, telingaku sensitif di saat yang tepat. Satu-satunya hal yang membuatku sedikit lega adalah fakta bahwa perkataan Umi Shiina benar.
Kemungkinan beberapa orang di klub permainan ini memang bersekutu dengan Sera Nanashi. Walau aku tidak tahu bagaimana caranya, kuharap Elena bisa lebih waspada.
Apalagi kalau dilihat-lihat, babak pertama akan dimenangkan oleh Elena dengan mudah. Tentu saja ini semakin mencurigakan.
"Skak!"
Posisi bidak Sera Nanashi ada di posisi yang tidak menguntungkan. Rajanya terus diserang. Sampai akhirnya...
"Aku kalah."
Tak butuh waktu lama baginya untuk mengakui kekalahan. Suaranya tenang. Dia bahkan tersenyum dan menerimanya dengan lapang dada, seolah sudah merencanakan itu.
[Elena Miyazaki vs Sera Nanashi]
[Skor Sementara (Menang/Imbang/Kalah):
- Elena Miyazaki (1/0/0)
- Sera Nanashi (0/0/1)]
Tersisa empat babak lagi. Mereka bertukar papan, dan Elena memegang bidak putih sekarang.
Pertandingan pun berlanjut seperti sebelumnya.
Kali ini Elena yang berusaha menguasai petak tengah. Pion putihnya maju dua langsung di bagian kiri tengah. Langkahnya seperti sedang memainkan Alien Gambit.
Sementara itu, Sera Nanashi merespons dengan memajukan dua langkah pion. Bukan di tengah, tapi samping kanan tengah.
Siapa sangka gadis itu memainkan pembukaan Sicilian Defense, dan tentunya Elena harus mengubah rencana. Alien Gambit jelas tidak efektif lagi.
Aku bisa melihat wajah serius Elena saat sedang berduel. Dia memang kelihatan tenang, tapi juga begitu fokus. Tatapannya begitu tajam ke papan catur, dan tangannya selalu bersiap untuk menekan timer waktu.
Di tengah permainan, lagi-lagi aku mendengar suara bisik-bisik yang sangat tidak mengenakkan.
"Dia terdesak lagi. Tapi, bukankah Nanashi-san sengaja kalah di dua babak awal?"
"Oh, iya. Aku baru ingat."
"Dia bahkan belum mengeluarkan sesuatu."
"Kau benar, lawannya akan habis jika Nanashi-san sudah serius."
Mereka kedengarannya begitu yakin kalau Sera Nanashi akan menang. Apa yang mereka rencanakan?
Kuharap Elena tidak mendengarnya dan tetap fokus bermain.
Aku tidak bisa banyak menatapnya karena takut perhatiannya ke papan catur akan goyah, jadi mataku juga fokus ke permainan.
Babak kedua sudah hampir berada di penghujung. Elena jauh lebih unggul ketimbang Sera Nanashi, tapi rasa gelisahku semakin menjadi-jadi.
Sebenarnya, kenapa aku malah begini? Padahal Elena jelas bisa menang. Masalahnya di mana?
Sembari terus menyeka keringat di dahiku yang tak terkontrol, otakku bekerja keras untuk dua hal. Pertama permainan yang sedang berlangsung, dan kedua bagaimana Sera Nanashi akan curang.
"Skak mat!"
Beberapa saat kemudian, suara Elena terdengar menekan. Dia berhasil menang lagi setelah melakukan skak dengan gajahnya di petak putih.
"Hahaha... hebat, Miyazaki-san! Karena kau terlalu serius, aku jadi ingin serius juga."
Sera Nanashi tertawa keras, jelas sekali bahwa itu bukan tawa frustasi. Ada sesuatu yang seperti sudah ditunggu-tunggu olehnya.
"Aku tidak menerima alasan apa pun. Jadi, jangan bilang kalau kau hanya memberiku kemenangan dengan mudah!"
"Alasan, ya? Kau akan menyesal bilang begitu setelah ini."
"Apa maksudmu? Aku hanya perlu menang sekali lagi."
"Kau benar. Tapi, apa kau bisa melakukannya?"
Dia menatap Elena lekat-lekat sembari mengeluarkan seringai licik, lalu tangannya bergerak mengeluarkan sesuatu dari kantong seragamnya.
"Eh?!"
Bahu Elena tersentak begitu melihat sesuatu yang dikeluarkan oleh Sera Nanashi.
Sama halnya dengan dirinya, aku juga terkejut bukan main. Dadaku naik turun, rasanya sesuatu yang gawat akan terjadi.
"Itu dia, akhirnya keluar juga!"
"Sudah kuduga Nanashi-san sengaja mengalah!"
Ah, sial. Bagaimana ini?
Aku harus melakukan sesuatu. Sebentar saja, selama Elena bisa menenangkan diri.
"Tu-tunggu dulu! Apakah boleh berduel sambil memainkan ponsel?"
Akhirnya aku membuka mulut, merespons apa yang telah dilakukan Sera Nanashi.
"Secara aturan boleh-boleh saja."
Gadis kepang dua ini menjawab dengan begitu santai.
"Tapi, itu jelas tidak adil!"
"Memangnya kenapa? Aturan ya aturan."
Aku berusaha untuk tetap mengajukan protes, meski aku tahu hasilnya tidak akan berubah.
Sera Nanashi tidak mungkin didiskualifikasi karena curang atau semacamnya. Jadi, mungkin inilah maksud keberpihakan klub permainan sesuai kata Umi Shiina.
"Kalau begitu, haruskah kita mulai babak ketiga?"
Masih menampilkan seringai liciknya, Sera Nanashi memainkan ponselnya sambil tetap fokus ke papan catur.
Babak ketiga dimulai dengan semua orang yang hampir menutup mata. Bukan secara harfiah, tapi secara makna.