Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 : Apakah ini penyesalan?
Malam itu, di asrama laki-laki, kesunyian menjadi musuh terbesar bagi Devian Azka. Di saat teman-temannya yang lain sudah terbuai dalam mimpi, Azka justru terjaga, berperang dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia terus mengubah posisi tidurnya, namun tak ada satu pun posisi yang mampu memberikan ketenangan.
Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Hanie yang hancur seketika muncul. Ia seolah bisa melihat kembali jemari Hanie yang gemetar hebat saat menggenggam cermin kecil yang bahkan tampak retak dan hancur.Satu-satunya benda yang tampaknya menjadi pegangan hidup gadis itu. Dan yang paling menyiksanya adalah tatapan terakhir Hanie sebuah tatapan yang tidak lagi berisi ketakutan, melainkan kebencian dan kemuakkan.
Azka bangkit dan duduk di tepi ranjangnya, membiarkan kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia meraup wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir rasa sesak yang kian menghimpit.
"Kenapa aku sejahat itu?" bisiknya lirih, suaranya hilang ditelan kegelapan kamar.
Mata hazelnya yang biasanya berkilat penuh kemenangan, kini meredup, dipenuhi oleh refleksi rasa bersalah yang amat dalam. Ia merasa seperti pecundang paling hina. Ia tahu tindakannya sudah melewati batas kemanusiaan. Menjadikan masalah keluarga Hanie sebagai bahan ejekan adalah perbuatan yang sangat rendah. Ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pertahanan Hanie runtuh saat Syasya membongkar rahasia tentang ibunya, namun alih-alih mengulurkan tangan, Azka justru memilih untuk memberikan "luka baru" hanya karena ia terlalu takut terlihat lemah di depan Arif.
Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia teringat kembali pada senyuman serba salah yang sempat ia berikan pada Hanie di koridor tempo hari. Saat itu, sebenarnya ada secercah keinginan tulus untuk berhenti menyakiti gadis itu, namun egonya sebagai penguasa sekolah selalu berhasil memenangkan pertarungan.
"Kamu benar-benar pengecut, Azka. Kamu hanya berani menindas gadis malang yang tidak memiliki siapa pun untuk membelanya," maki Azka pada dirinya sendiri.
Pikirannya terus berputar pada setiap kata makian dari ibu Hanie yang diceritakan Syasya dengan penuh kebencian tadi. Ia tidak menyangka bahwa hidup Hanie serumit dan sepahit itu. Di sekolah dirundung habis-habisan, dan di rumah pun ia dianggap sebagai beban. Fakta bahwa ia, orang yang mengetahui penderitaan itu, tetap memilih untuk menjadi salah satu algojo bagi Hanie, membuat dadanya terasa sangat sesak. Penyesalan itu mulai menggerogoti nuraninya, meninggalkan rasa perih yang tak kasat mata namun sangat nyata.
Keesokan paginya, Azka cuba untuk mendekati Hanie di perpustakaan. Dia nampak Hanie sedang duduk menyendiri di sudut paling belakang, dikelilingi oleh buku-buku tebal. Azka berjalan perlahan, tangannya memegang sebotol air mineral dan sekeping coklat,niatnya mahu memberi sebagai tanda maaf yang tidak terucap.
Namun, sebaik sahaja Hanie perasan kehadiran Azka, dia terus mengemas barang-barangnya dengan kasar.
"Hanie, tunggu sekejap... gue mau ngomong..." suara Azka tersekat.
Hanie berdiri dan memandang tepat ke mata hazel Azka. Kali ini, tak ada setitik pun air mata. Yang ada cuma kedinginan yang mampu menggerunkan sesiapa saja yang melihat.
"Jangan dekat dengan aku, Azka. Aku dah cukup muak dengan drama mu. Depan orang Arif, dan sekarang malah berpura baik? Simpan sajalah 'belas kasihan' palsu kau tu. Kau dengan Arif, enggak ada bedanya. Dua-duanya tiada erti apapun di kehidupanku," kata Hanie dengan nada yang sangat tenang tapi tajam.
Hanie terus berjalan melepasi Azka tanpa menoleh lagi. Azka kaku di situ. Botol air di tangannya terasa sangat berat. Dia sedar, pintu maaf daripada Hanie mungkin sudah tertutup rapat, dan cermin yang dia pecahkan dulu bukan sekadar kaca, tapi adalah kepercayaan Hanie terhadap manusia yang sudah hancur berkeping-keping.
Azka merenyukkan bungkusan coklat di tangannya. Dia tahu, dia perlu buat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar coklat untuk menebus dosa-dosanya. Tapi mampukah dia melawan Arif? Mampukah dia berdiri di sebelah Hanie bila seluruh sekolah menentang gadis itu?
Adakah Azka akan terus menjadi pengecut, atau dia akan mula bertindak secara rahsia untuk melindungi Hanie daripada rancangan jahat Arif yang seterusnya?