NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung neraka di jakarta

Mobil SUV itu meluncur membelah kegelapan jalan tol menuju Jakarta, meninggalkan siluet api yang masih melahap sisa-sisa vila di pesisir. Di dalam kabin, suasana terasa mencekam. Bhanu sedang mengatupkan rahangnya, menahan rasa sakit saat Dahayu mencoba menjahit luka di bahunya dengan peralatan medis darurat. Tidak ada erangan, hanya suara napas berat yang beradu dengan deru mesin.

Selena duduk di pojok, menatap keluar jendela. Refleksi wajahnya di kaca tampak berbeda; matanya yang dulu penuh binar keraguan kini tampak seperti air danau yang membeku. Ia tidak lagi gemetar. Pengkhianatan ayahnya telah membunuh "Selena si Putri Kecil" dan melahirkan sosok baru yang lebih keras dari beton.

"Renggana," suara Bhanu memecah keheningan, rendah dan mengancam. "Kenapa sinyal satelit kita tidak kunjung pulih? Dahayu butuh akses ke sistem pusat."

Renggana yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah spion tengah. "Frekuensi di sekitar Jakarta dikacaukan oleh alat jammer tingkat militer, Bhanu. Alya benar-benar mempersiapkan ini. Kita bergerak buta."

Selena memperhatikan tangan Renggana. Pria itu terus mengetuk-ngetukkan jarinya ke kemudi dengan ritme tertentu—seolah sedang mengirimkan kode morse—sambil sesekali melirik ponsel di pangkuannya yang layarnya redup. Curiga, Selena sengaja menjatuhkan pemotong kertas yang masih ia pegang ke arah kaki Renggana.

"Maaf," ucap Selena sambil membungkuk. Saat itulah ia melihat layar ponsel Renggana menyala sekilas. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama: 'Target dalam jangkauan. Bawa dia ke titik temu.'

Darah Selena mendingin, namun ia tidak berteriak. Ia duduk kembali dengan tenang, otaknya bekerja cepat. Jika ia memberi tahu Bhanu sekarang, Renggana bisa saja menabrakkan mobil ini dan membunuh mereka semua. Ia butuh momen yang tepat.

Saat mereka memasuki pinggiran Jakarta, pemandangan kota tampak mengerikan. Markas besar Vandana, sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca gelap, tampak dikepung oleh kendaraan-kendaraan taktis. Asap hitam mengepul dari lantai atas.

"Kita tidak bisa masuk lewat pintu depan," ucap Dahayu sambil menutup laptopnya. "Bhanu, kita harus gunakan terowongan suplai di bawah stasiun MRT."

"Bawa kita ke sana, Renggana," perintah Bhanu.

Namun, Renggana tidak berbelok ke arah stasiun. Ia justru memacu mobil menuju sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan yang sepi.

"Renggana, kau salah jalan!" teriak Dahayu.

Renggana tidak menjawab. Ia menginjak rem dengan mendadak hingga mobil berdecit hebat dan berhenti di tengah gudang yang dikelilingi pria bersenjata. Bhanu langsung menarik pistolnya, namun Renggana lebih cepat. Ia menodongkan senjata ke arah kepala Bhanu.

"Jangan bergerak, Sahabatku," ucap Renggana, suaranya kini kehilangan nada santainya. "Aku tidak ingin mengotori interior mobil ini dengan otakmu."

"Kau... bangsat!" geram Bhanu, matanya berkilat penuh murka. "Setelah semua yang keluarga kami berikan padamu?"

"Vandana memberikan kekuasaan, tapi Alya menawarkan sesuatu yang lebih pribadi: kebenaran tentang bagaimana ayahku 'dihilangkan' oleh kakekmu," balas Renggana dingin. Ia menoleh ke arah Selena. "Keluar, Selena. Seseorang sudah menunggumu."

Selena keluar dari mobil dengan perlahan. Di depan gudang, seorang wanita berdiri dengan anggun di bawah lampu merkuri yang berkedip. Alya Cendana. Ia tampak cantik dalam balutan gaun merah darah, menggenggam sebuah tablet perak.

"Selena Arunika," ucap Alya, suaranya lembut namun berbisa. "Terima kasih sudah datang. Maafkan drama kecil ini, tapi mengundang seorang Vandana memang selalu butuh sedikit kekerasan."

Alya berjalan mendekat, menatap Selena dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Berikan akses biometrikmu sekarang, dan aku berjanji akan membiarkan Bhanu dan Dahayu hidup sebagai pecundang di jalanan."

Selena menatap Bhanu yang masih ditodong Renggana di dalam mobil, lalu menatap Dahayu yang tampak tenang namun waspada. Selena kemudian menatap Alya dengan senyum yang tidak terduga—senyum yang membuat Alya sedikit mundur.

"Kau pikir kau sudah menang, Alya?" tanya Selena. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan moncong senjata para penjaga Alya. "Kau menginginkan sandi itu karena kau pikir itu adalah kunci kekayaan. Tapi Dahayu memberitahuku rahasianya. Sandi itu bukan kunci aset... sandi itu adalah protokol penghancuran diri (Self-Destruct) untuk seluruh server Vandana dan Arunika."

Alya mengernyit. "Kau bohong!"

"Coba saja," tantang Selena. Ia menarik tangan Alya dan meletakkannya di pergelangan tangannya sendiri, di mana sebuah denyut nadi terasa sangat kuat. "Biometrikku terhubung dengan detak jantungku. Jika jantungku berhenti, atau jika aku memberikan kode yang salah, seluruh data yang kau incar akan menguap dalam satu detik. Kau akan mendapatkan perusahaan yang kosong dan hutang yang menggunung."

Bhanu menatap Selena dengan tatapan tidak percaya. Ia tahu Selena sedang menggertak—atau mungkin tidak. Dahayu menyadari apa yang dilakukan Selena: ia sedang mengambil alih papan catur.

"Sekarang," Selena melanjutkan, suaranya sangat stabil, "suruh Renggana menurunkan senjatanya, atau kita semua akan hancur dalam kemiskinan malam ini juga. Pilihannya ada padamu, Nona Cendana. Kau ingin menjadi penguasa, atau sekadar bangkai yang memegang rahasia tak berguna?"

Di dalam mobil, Bhanu melihat sebuah celah. Selena telah mengalihkan perhatian semua orang. Ia melirik Dahayu, dan dalam satu komunikasi tanpa kata khas si kembar, mereka bersiap untuk melakukan serangan balik yang mematikan.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!