Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Rangga tidak membiarkan Linggar berjalan lebih jauh.
Dengan sigap, ia menggendong Linggar ala bridal style menuju ruang kesehatan yang terletak di lorong sunyi dekat ballroom.
Wajah Linggar berada di dada Rangga, menyembunyikan rasa malu sekaligus rasa sakit yang luar biasa di pergelangan kakinya.
Begitu sampai di dalam, Rangga mendudukkan Linggar di atas ranjang periksa.
Di sana tidak ada petugas medis di sana karena sedang bertugas di area depan, sehingga Rangga memutuskan untuk menanganinya sendiri.
Ia lekas mengambil balsem otot untuk kaki Linggar.
"Tahan sebentar, ini pasti akan sedikit sakit karena harus ditarik posisinya," ucap Rangga sambil memegang pergelangan kaki Linggar yang mulai membengkak.
"Ahhhh! Sakit, Rangga!" teriak Linggar spontan saat tangan kekar Rangga mulai menekan titik syaraf yang kaku.
"Diamlah, kalau tidak ditarik sekarang, besok kamu tidak akan bisa jalan," balas Rangga sambil mengerahkan tenaga untuk mengembalikan posisi uratnya.
"Pelan-pelan, Ngga! Aahhhhh! Sakit sekali! Lebih pelan, Rangga!" rintih Linggar lagi dengan nada yang melengking dan terputus-putus.
Rangga menarik napas panjang, dan berusaha fokus.
"Sedikit lagi, Linggar. Tahaan sebentar, nah, ini dia. Sedikit lagi.,ya,"
"Ahhhhhhh, Rangga! Pelan, Ngga! Aahhh!" Linggar meremas seprai tempat tidur, suaranya terdengar sangat dramatis memenuhi ruangan yang kedap suara namun memiliki celah di bawah pintunya.
Sementara itu, di lorong luar, beberapa tamu undangan yang kebetulan lewat untuk menuju toilet mendadak menghentikan langkah mereka.
Mereka saling berpandangan dengan mata membelalak saat mendengar suara rintihan dan teriakan Linggar yang bersahutan dengan suara berat Rangga dari dalam ruang kesehatan.
"Ya ampun, anak muda zaman sekarang," bisik seorang wanita sosialita sambil menutupi mulutnya dengan kipas.
"Bagaimana bisa mereka berdua melakukannya hal itu di ruang kesehatan?" gumam salah satu tamu.
"Bukankah itu CEO Steward yang baru itu? Ternyata dia sangat agresif," timpal pria di sebelahnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Gosip mulai menyebar secepat kilat di antara para tamu yang lewat.
Mereka salah paham, mengira suara teriakan kesakitan Linggar adalah suara dari aktivitas lain yang tidak pantas dilakukan di acara formal seperti ini.
Di dalam ruangan, Rangga akhirnya berhasil memijat kaki Linggar.
Ia menghela napas lega dan menyeka keringat di dahinya.
"Selesai. Lihat? Sudah tidak terlalu sakit, kan?"
Linggar masih terengah-engah, wajahnya merah padam.
"Kamu kasar sekali, Rangga."
Rangga hanya terkekeh pelan tanpa menyadari bahwa reputasi mereka di luar pintu sedang dipertaruhkan karena suara-suara ambigu yang mereka timbulkan.
Kemudian Rangga membantu Linggar berjalan dengan merangkul pinggangnya secara protektif saat mereka keluar dari ruang kesehatan.
Linggar masih sedikit meringis, sesekali bertumpu pada bahu Rangga yang kokoh. Namun, begitu mereka melangkah kembali ke area koridor utama yang menuju ballroom, langkah mereka tertahan.
Di sana, Tuan Bayu berdiri bersama beberapa kolega penting lainnya.
Bukannya bertanya tentang keadaan kaki Linggar, mereka justru melemparkan senyuman yang sangat aneh.
Sebuah senyum simpul yang penuh arti, seolah-olah mereka baru saja memergoki rahasia besar.
"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" bisik Linggar dengan nada gelisah, wajahnya yang tadi pucat karena sakit kini kembali memerah karena bingung.
Rangga memperhatikan raut wajah para kolega itu.
Sebagai pria, ia mulai menangkap arah pikiran mereka yang sedikit 'liar' akibat suara rintihan Linggar tadi, namun ia memilih untuk tetap tenang.
"Entahlah, abaikan saja mereka." jawab Rangga singkat dengan ekspresi datar yang tidak terbaca.
Tuan Bayu kemudian melangkah maju, menjabat tangan Rangga dengan genggaman yang sangat erat, seolah memberikan selamat untuk sesuatu yang bukan soal bisnis.
"Luar biasa, Rangga. Kamu memang penuh kejutan dan tenaga," ucap Tuan Bayu sambil terkekeh kecil, membuat Linggar semakin mengerutkan kening.
"Tapi, mari kita selesaikan urusan yang membawa kita ke sini. Saya sudah menyiapkan dokumennya di meja bundar sebelah sana."
Tuan Bayu mengajak mereka ke sebuah sudut yang lebih tenang di dalam ballroom.
Di atas meja kayu mahoni yang mewah, sudah tersedia beberapa map dokumen kerja sama besar yang telah mereka diskusikan berbulan-bulan.
"Silakan, Rangga. Tanda tangan di sini, dan proyek pengembangan di Bandung resmi menjadi milik Steward's Group," ujar Tuan Bayu.
Rangga menarik kursi untuk Linggar terlebih dahulu sebelum ia sendiri duduk.
Dengan gaya yang sangat profesional, Rangga meninjau poin-poin kontrak tersebut sekali lagi.
Linggar berdiri di samping Rangga, meskipun kakinya masih berdenyut, segera kembali ke mode sekretaris andal.
Ia mengeluarkan pena premium miliknya dan memberikannya kepada Rangga dengan gerakan yang anggun.
Sret... sret... sret...
Tanda tangan Rangga terukir dengan tegas di atas materai dan kesepakatan besar itu pun akhirnya sah.
"Senang berbisnis denganmu, Tuan Bayu," ucap Rangga sambil berdiri dan bersalaman.
"Sama-sama. Oh, dan satu lagi," Tuan Bayu berbisik namun masih bisa didengar Linggar.
"Lain kali, jika ingin 'mengobati' sekretarismu, pastikan pintunya benar-benar kedap suara, Rangga. Suaranya cukup membuat para tamu tua di sini terkenang masa muda."
Linggar yang mendengarnya langsung membelalakan matanya.
Ia baru sadar apa yang sebenarnya dipikirkan semua orang.
Ia menoleh ke arah Rangga dengan wajah yang sudah matang seperti kepiting rebus, ingin rasanya ia masuk ke dalam bumi saat itu juga.
Setelah itu Rangga meminta ijin untuk kembali ke kamarnya.
Pintu kamar Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh kebisingan pesta di luar.
Begitu suasana menjadi sunyi, rasa malu yang ditahan Linggar sejak di ballroom tadi meledak seketika.
Ia berjalan tertatih menuju sofa, wajahnya masih terasa panas membara.
"Rangga, soal Tuan Bayu dan orang-orang itu. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud.l, maksudku, suaraku tadi itu murni karena sakit! Aku tidak bermaksud 'mendesah' atau membuat orang berpikiran kotor seperti itu. Aku benar-benar malu!"
Rangga meletakkan kunci di atas meja dan mulai membuka kancing tuxedo-nya satu per satu dengan gerakan yang sangat santai.
Ia melirik Linggar yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Lalu?" tanya Rangga pendek, suaranya terdengar jauh lebih rendah di dalam kamar yang tenang ini.
"Lalu? Reputasi kamu bisa hancur, Rangga! Mereka pikir kita melakukan hal yang tidak-tidak di ruang kesehatan!" seru Linggar frustrasi.
Rangga justru berjalan mendekati Linggar. Ia duduk di pinggir meja tepat di depan sofa tempat Linggar berada, menatap sekretarisnya dengan tatapan jahil yang jarang ia tunjukkan. Tiba-tiba, Rangga menirukan suara rintihan Linggar tadi dengan nada yang sangat mirip namun dibuat-buat.
"Ahhh, sakit, Rangga. Pelan-pelan, Rangga..." goda Rangga dengan nada yang sengaja dibuat sensual.
"RANGGA!!" teriak Linggar sambil memukul pelan lengan Rangga.
Wajahnya kini tidak hanya merah, tapi benar-benar terasa seperti mau meledak.
"Berhenti menggodaku! Itu sama sekali tidak lucu!"
Rangga tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang sangat jarang Linggar dengar.
Tawanya terdengar begitu tulus hingga membuat Linggar terpaku sejenak.
"Kenapa harus malu? Biarkan saja mereka berimajinasi," ucap Rangga setelah tawanya mereda.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Linggar, membuat jarak di antara mereka terkikis.
"Lagipula, suara rintihanmu memang cukup, berbahaya untuk pendengaran pria normal, Linggar."
Linggar menahan napas panjang sampai jantungnya kembali berdegup kencang.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang, berbaringlah. Aku akan mengambilkan kompres air hangat agar bengkaknya tidak semakin parah besok pagi," ucap Rangga kembali menjadi perhatian, meski sisa-sisa senyum godaan masih tertinggal di sudut bibirnya.
Linggar hanya bisa terdiam, hatinya terasa campur aduk.
Di satu sisi ia kesal, namun di sisi lain, ia merasa Rangga jauh lebih dekat dengannya malam ini dibandingkan saat mereka hanya berkirim pesan melalui ponsel rahasia itu.