NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Deadline dan Caci Maki

​Sepuluh menit berlalu, namun Adelia tidak benar-benar pergi. Ia berdiri di lorong gelap di balik set, menempelkan plester ke jempolnya yang terluka. Ia mengatur napasnya yang memburu. Di dalam studio, ia bisa mendengar suara Arlan yang kembali membentak, tapi kali ini terdengar lebih frustrasi daripada berwibawa.

​"Editor mana?! Kenapa file mentah dari adegan tadi pagi belum masuk ke folder preview?!" teriakan Arlan menembus dinding.

​Adelia tahu editor mereka, Bayu, sedang mengalami masalah dengan hard drive-nya.

Bayu adalah tipe orang yang mudah gugup, dan diteriaki Arlan hanya akan membuatnya semakin kacau. Adelia menghela napas, menyeka sisa air mata yang belum sempat jatuh, lalu melangkah kembali ke dalam studio.

​Ia tidak langsung menghampiri Arlan. Ia menuju meja editing di pojok ruangan.

​"Bay, tenang. Mana yang belum masuk?" bisik Adelia.

​"Adel... hard drive-nya corrupt. Saya nggak tahu harus bilang apa ke Pak Arlan. Dia bakal bunuh saya," bisik Bayu dengan wajah pucat pasi.

​Adelia melihat ke arah Arlan yang sedang berjalan cepat menuju mereka. Wajah sutradara itu seperti mendung yang siap menumpahkan badai petir.

​"Mana laporannya?!" Arlan menggebrak meja editing. "Kalian tahu kita punya waktu kurang dari enam jam sebelum klien datang untuk preview pertama? Kalau file-nya hilang, kalian berdua yang saya tendang dari industri ini!"

​"Pak, itu... anu..." Bayu terbata-bata.

​"Anu apa?! Bicara yang jelas!"

​Adelia berdiri di antara Bayu dan Arlan. Ia mengambil posisi melindungi. "Pak Arlan, ada kendala teknis pada drive utama. Bayu sedang melakukan recovery. Beri kami waktu tiga puluh menit."

​Arlan tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Tiga puluh menit? Kamu pikir ini sulap? Kamu asisten produksi, bukan teknisi IT. Dan kamu," Arlan menunjuk Bayu, "kamu itu dibayar mahal untuk profesional, bukan untuk merusak data!"

​Caci maki Arlan mulai meluber ke hal-hal personal. Ia mulai menghina etos kerja semua orang di ruangan itu. Suasana studio mencekam. Beberapa kru menunduk, tidak berani bernapas.

​"Cukup, Pak," suara Adelia tenang namun mematikan.

​Arlan terhenti. Ia menatap Adelia dengan mata menyipit. "Apa kamu bilang?"

​"Saya bilang cukup. Anda boleh marah soal pekerjaan, tapi Anda tidak punya hak untuk menghina pribadi kami," Adelia melangkah maju satu tindak, memperpendek jarak. "Data itu sedang diusahakan. Teriak-teriak tidak akan mempercepat proses transfer data satu kilobyte pun. Justru Anda membuang waktu tiga menit hanya untuk memaki."

​"Kamu berani menceramahi saya di depan kru saya sendiri?" Arlan mendekatkan wajahnya, suaranya kini berupa bisikan yang bergetar karena amarah yang tertahan.

​"Saya membela tim yang bekerja untuk kesuksesan Anda," balas Adelia tanpa berkedip. "Sekarang, silakan duduk di kursi Anda. Minum air putih. Biarkan Bayu bekerja. Kalau dalam tiga puluh menit data ini tidak kembali, Anda boleh memecat saya. Bukan Bayu, tapi saya."

​Arlan terdiam. Seluruh kru di studio itu seolah berhenti bernapas. Belum pernah ada yang berani menantang Arlan sedemikian rupa, apalagi seorang asisten baru.

​Arlan menatap jempol Adelia yang dibalut plester yang mulai memerah karena darah merembes. Ia melihat keberanian di mata cokelat gadis itu—sebuah api yang jarang ia temukan pada orang-orang yang hanya tahu cara menjilatnya.

​Tanpa sepatah kata pun, Arlan berbalik. Ia berjalan menuju kursinya, membanting tubuhnya di sana, dan menyalakan rokok elektriknya dengan kasar. "Dua puluh sembilan menit lagi," gumamnya ketus.

​Adelia segera berbalik membantu Bayu. Ia menggunakan laptop pribadinya untuk memancing data dari cache kamera. Jarinya bergerak lincah. Selama dua puluh menit yang terasa seperti selamanya, hanya suara detak jam dan ketikan kibor yang terdengar.

​"Dapat!" bisik Bayu lega.

​Data berhasil dipindahkan. Adelia segera membawa tablet preview ke hadapan Arlan.

​Arlan mengambil tablet itu tanpa melihat Adelia. Ia memeriksa hasil editannya.

Gerakan jatuh botol parfum itu terlihat sempurna, percikan airnya tertangkap dengan detail yang luar biasa berkat bantuan cahaya yang tadi disarankan Adelia.

​Arlan terdiam cukup lama menatap layar. Kemarahannya perlahan surut, digantikan oleh kekaguman profesional yang enggan ia akui.

​"Klien akan suka ini," gumam Arlan hampir tak terdengar.

​Ia melirik Adelia yang masih berdiri di sampingnya, menanti putusan. Adelia terlihat sangat lelah; rambutnya yang tadi rapi kini berantakan, dan ada noda debu di pipinya.

​"Pergi ke ruang medis. Obati tanganmu," perintah Arlan tanpa menatapnya.

​"Setelah ini selesai, Pak—"

​"Ini perintah, Adelia. Bukan permintaan." Arlan menutup tabletnya dan berdiri. "Dan... suruh katering sediakan makanan yang lebih layak untuk tim malam ini. Pakai kartu kredit saya. Bilang pada mereka ini kompensasi karena saya sudah 'membuang waktu tiga menit' tadi."

​Adelia tertegun. Apakah itu tadi sebuah permintaan maaf terselubung?

​"Baik, Pak. Terima kasih," ujar Adelia dengan senyum tipis yang mulai muncul kembali.

​Saat Adelia berjalan menjauh, Arlan memperhatikannya dari belakang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang "Naga" merasa bahwa di balik layar syuting yang penuh kepalsuan ini, ia akhirnya menemukan sesuatu yang nyata. Sesuatu yang sangat keras kepala, berani, dan... menyebalkan dengan cara yang menarik.

​Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Sebuah panggilan masuk di ponsel Arlan. Nama di layarnya membuat raut wajahnya kembali mengeras.

​"Ya, Ma? ... Tidak, aku tidak akan pulang. Aku punya pekerjaan. ... Jangan bahas soal perjodohan itu lagi atau aku akan mematikan telepon ini."

​Adelia yang belum jauh, sempat mendengar potongan percakapan itu. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Arlan yang kini tampak begitu kesepian di tengah kemegahan studio. Mungkin, pikir Adelia, si tukang marah ini punya luka yang lebih dalam daripada yang ia perlihatkan.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!