NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - MEMBACA ORANG

Lily tidak membalas pesan Dimas malam itu. Bukan karena tidak tahu harus bilang apa, tapi karena waktu yang tepat untuk menjawab pesan seperti itu bukan waktu dia baru keluar dari kantor pengacara dengan kepala penuh informasi yang belum selesai diproses. Menjawab sekarang artinya menjawab dari posisi yang belum siap. Dan Lily sudah cukup banyak melakukan sesuatu dari posisi yang belum siap sepanjang hidupnya.

Dia harus pulang dulu, lalu menghadapi pertanyaan Tante Sari tentang ke mana tadi dengan jawaban yang sudah disiapkan sejak di angkutan. Ke apotek, obat habis, antri lama dan malam itu berjalan seperti malam-malam lain di rumah itu. Makan malam, bereskan meja, cuci piring, masuk kamar.

Tapi di kamarnya, setelah pintu tertutup, Lily duduk di tepi kasur dan melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan secara sistematis sebelumnya.

Dia mulai menulis.

Bukan diary, bukan curahan perasaan. Lebih seperti peta. Nama-nama di satu sisi, garis-garis penghubung di tengah, tanda tanya di tempat yang masih kosong. Ditulis di balik kertas amplop bekas yang tidak ada yang akan mencarinya, dengan tulisan yang cukup kecil untuk tidak terbaca dari jarak normal.

Di tengah peta itu ada satu nama yang dia tulis. Wulan...

Di sekeliling Mama ada Hendra, Pak Syarif, Bibi Rah.

Di sisi yang lain ada Ayah, Tante Sari, Nindi dan Dimas.

Dan di antara dua sisi itu, satu kotak kosong yang belum ada namanya. Yang akan diisi oleh orang yang dimaksud Bibi Rah dengan dia tidak sendiri.

Lily menatap kotak kosong itu lama.

Lalu dia masuk ke gudang.

Ruang rahasia malam ini terasa berbeda. Bukan di suhu atau cahaya, keduanya sama seperti biasanya. Tapi ada semacam kepadatan di udara ruangan itu, seperti sebelum hujan deras, seperti sesuatu sedang menahan diri untuk tidak keluar terlalu cepat.

Lily duduk di kursi kayunya. Meletakkan kertas petanya di meja, di samping cermin yang masih gelap.

"Aku perlu belajar membaca orang," katanya. "Bukan dari buku, tapi dari mereka langsung. Membaca cara mereka menyembunyikan sesuatu, cara mereka bereaksi waktu mereka tidak siap."

Cermin beriak.

Yang muncul bukan gambar dulu, tapi kalimat yang ditulis perlahan seperti biasanya.

Kamu sudah bisa. Kamu hanya belum percaya pada apa yang kamu lihat.

Lily menatap kalimat itu.

"Contohnya."

Gambar muncul... bukan orang asing, tapi orang-orang yang sudah Lily kenal. Potongan-potongan momen dari beberapa hari terakhir yang ditampilkan ulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, seperti footage yang sama diputar dengan kamera yang lebih stabil.

Tante Sari di meja makan, tangan di ponsel, rahang sedikit tegang. Nindi yang bicara kalau dia sudah masuk ke keluarga secara resmi lalu menghentikan dirinya sendiri. Dimas dengan jempolnya yang menggesek sisi jari berulang-ulang waktu minta maaf. Ayahnya di pintu gudang dengan kemeja yang kusut di bagian lengan.

Gambar berhenti.

Kalimat baru muncul di cermin.

Apa yang sama dari semua itu?

Lily memikirkannya.

"Mereka semua menahan sesuatu," katanya akhirnya. "Tapi cara menahannya berbeda. Tante Sari menahan dengan kontrol, semuanya terukur, terencana. Nindi menahan dengan menghentikan kalimat di tengah, dia bicara lebih banyak dari yang dia maksud waktu dia capek atau stres. Dimas menahan dengan tubuhnya, tangannya bergerak waktu mulutnya berbohong."

Lily berhenti.

"Ayahku menahan dengan menghindari tempat yang memaksanya harus memilih."

Gambar di cermin menghilang, hanya permukaan bening yang memantulkan wajah Lily sendiri.

Sekarang kamu percaya pada apa yang kamu lihat.

Lily keluar dari gudang lebih awal dari biasanya malam itu jam sebelas, masih ada waktu sebelum tengah malam. Dia kembali ke kamarnya, berbaring di kasur, dan berpikir tentang Dimas.

Pesan itu masih belum dibalas.

Soal hal lain. Yang kamu belum tahu tapi perlu kamu tahu.

Ada dua kemungkinan. Pertama, Dimas genuinely mau memberikan informasi yang berguna. Mungkin karena mulai tidak nyaman dengan posisinya, mungkin karena ada bagian kecil dari dirinya yang masih merasa berhutang sesuatu ke Lily. Kedua, seseorang menyuruh Dimas mengirim pesan itu untuk mengukur reaksi Lily. Seberapa banyak yang dia tahu, seberapa siap dia, apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Kemungkinan pertama dan kedua tidak saling mengecualikan. Dimas bisa saja genuinely mau bicara tapi di saat yang sama dimanfaatkan oleh orang lain yang mau memantau hasilnya.

Cara paling aman yakni membalas pesan, tapi dengan cara yang tidak memberikan informasi lebih dari yang diperlukan.

Lily mengambil ponselnya dan mengetik. [Kapan dan di mana?]

Tiga kata. Tidak lebih.

Balasan datang dalam dua menit, terlihat Dimas jelas sedang menunggu. [Besok siang. Tempat biasa kita dulu. Jam dua belas.]

Tempat biasa. Warung kopi dengan bangku plastik dan wifi yang sering mati. Tempat yang tidak ada hubungannya dengan rumah Lily, tidak ada hubungannya dengan keluarga Dimas, tidak ada yang akan memperhatikan dua orang duduk di sana.

Pilihan tempat yang aman atau pilihan yang ingin terlihat aman.

Lily meletakkan ponselnya.

Besok. Setelah itu, Lily akan tahu masuk ke kategori mana Dimas Arya.

Minggu pagi, rumah lebih sepi dari biasanya.

Ayahnya pergi pagi-pagi dengan tas kerja ... hari Minggu, tapi Lily tidak bertanya ke mana karena tidak akan dijawab. Tante Sari keluar belakangan dengan alasan arisan yang berbeda dari yang kemarin. Nindi masih di kamar, kondisinya membaik tapi belum keluar.

Lily menggunakan ketenangan itu untuk mengamati Bibi Rah.

Bukan secara terang-terangan, tapi sambil mengupas kentang di dapur, sambil menyapu teras, sambil memindahkan cucian dari ember ke ember. Mengamati sambil melakukan hal lain adalah kemampuan yang sudah Lily asah tanpa sadar selama bertahun-tahun karena di rumah ini kamu belajar cepat bahwa memperhatikan secara terbuka artinya memperlihatkan bahwa kamu peduli, dan memperlihatkan bahwa kamu peduli artinya memberikan pegangan ke orang yang mau mengontrolmu.

Bibi Rah pagi ini bergerak dengan ritme yang sedikit berbeda.

Tidak kelihatan kalau kamu tidak sedang mencari, tapi gerakan perempuan tua itu lebih efisien dari biasanya. Seperti orang yang sedang menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang terukur. Sekali, waktu mereka berpapasan di lorong dekat dapur, Bibi Rah menyentuh lengan Lily sebentar ... satu detik, seperti tidak sengaja tapi di telapak tangannya ada sesuatu yang dia selipkan ke lengan baju Lily.

Kertas kecil.

Lily tidak bereaksi. Melanjutkan langkahnya ke belakang, baru membuka kertas itu di gudang. Bukan di ruang rahasia, hanya di dalam gudang dengan pintu yang ditutup.

Tulisan Bibi Rah lebih terburu-buru dari yang pertama.

Ada orang datang kemarin malam waktu kamu tidur. Masuk lewat pintu samping, Pak Harto yang buka. Aku lihat dari kamarku seorang perempuan, tinggi, rambut pendek. Bukan Ibu Sari, aku tidak kenal. Keluar lagi setengah jam kemudian membawa amplop.

Lily membaca dua kali.

Perempuan yang tidak Bibi Rah kenal. Datang malam, lewat pintu samping, pergi dengan amplop.

Kotak kosong di peta Lily semalam. Nama yang belum ada.

S.

Nomor enam belas digit yang Lily temukan di balik foto di ruang kerja ayahnya. Satu huruf yang bisa jadi inisial.

Bukan Sari, karena Bibi Rah pasti kenal Tante Sari.

Tapi seseorang yang cukup dekat dengan ayahnya untuk datang malam-malam dan pergi dengan amplop.

Lily melipat kertas itu dan menyimpannya di kantong celemek.

Jam menunjukkan setengah sebelas. Dia punya satu setengah jam sebelum harus keluar untuk ketemu Dimas.

Di dalam pikirannya, satu nama mulai terbentuk di kotak kosong itu ... belum lengkap, belum bisa diverifikasi. Tapi ada.

Dan nama yang setengah terbentuk itu lebih berbahaya dari nama yang sudah Lily kenal, justru karena dia belum tahu siapanya.

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!