Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~14
"Jadi nak Marni kerja di cafe?" ucap pak Lurah setelah mereka selesai membagi semua paket sembakonya.
"Benar pak Lurah." sahut Marni yang tiba-tiba merasa bersalah karena harus berbohong, bahkan saat berpuasa pun ia tetap membuat dosa.
"Astagfirullahaladzim, maafkan aku ya Allah." imbuhnya dalam hati.
"Panggil saja abi atau bapak, baiklah abi harus kembali karena masih ada kerjaan lain oh ya Firman setelah ini segera pulang tidak enak jika warga melihat kalian berduaan." tukas pak Lurah mengingatkan lantas segera bersiap-siap pulang dengan motor bebeknya, meskipun orang kaya tapi pria paruh baya tersebut terlihat sederhana.
"Maaf ya nak Marni bukannya kenapa tapi kalian kan bukan muhrim takut menimbulkan fitnah," imbuhnya menatap wanita itu sebelum benar-benar pergi.
Marni mengangguk mengerti dan setelah ayahnya pergi Firman pun terseyum menatap wanita itu. "Maafkan abi ya dia tidak bermaksud apa-apa," ucapnya berharap wanita pujaan hatinya itu tidak tersinggung atas perkataan sang ayah yang memang tidak pernah mendukung sebuah 'pacaran' karena lebih banyak mudharatnya daripada kebaikannya.
"Tidak apa-apa mas itu tandanya abi mas sedang menjaga marwah kita, baiklah ayo pulang!" Marni sedikit pun tak keberatan kemudian mereka segera meninggalkan balai desa tersebut.
Sepanjang perjalanan keduanya nampak sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai Firman menghentikan mobilnya di tempat yang sedikit sepi.
"Mas harap, Marni segera memberikan jawaban." ucapnya dengan penuh harap.
Marni pun nampak terdiam sejenak kemudian langsung menatapnya. "Ku mohon berikan aku waktu mas, karena pernikahan itu ibadah terpanjang dan harus dipikirkan dengan matang." mohon wanita itu meskipun itu hanya cara untuk menghindari pria itu sampai ia memiliki keberanian untuk mengatakan yang sesungguhnya apa pekerjaannya meskipun saat itu tiba keduanya akan sama-sama kecewa.
"Aku tahu Marni, tapi setahun ini aku sudah berusaha keras menyiapkan semuanya untuk meminangmu bahkan jika ummi dan abi tidak setuju sekalipun aku akan tetap maju." Firman menatapnya dengan serius, ia mengingat sejak wanita itu menolaknya setahun yang lalu dan memilih pergi bekerja di kota ia pun mulai membangun usahanya sendiri tak hanya satu tapi beberapa usaha ia coba tak perduli harus jatuh bangun demi ia bisa berdiri di kakinya sendiri tanpa embel-embel orang tuanya.
"Akan ku pastikan kamu dan anak-anak kita takkan kekurangan sedikit pun tanpa bantuan orang tuaku," imbuhnya lagi namun Marni nampak menggeleng kecil.
"Aku tidak mau jika menikah tanpa persetujuan orang tuamu mas bagaimana pun juga menikah tidak hanya tentang kita berdua melainkan bagaimana menyatukan dua keluarga menjadi satu lagipula kamu tidak benar-benar mengetahui siapa aku, bagaimana sikapku dan juga keburukanku." potong wanita itu mengutarakan pendapatnya, ia tidak ingin pernikahannya di awali oleh sebuah kesalahan karena hal itu akan menjadi bumerang pada rumah tangga mereka kelak.
Firman mengangguk kecil. "Baiklah aku akan berusaha untuk meyakinkan ummi dan Abi karena aku yakin cuma kamu yang terbaik bagiku tak perduli bagaimana keburukanmu aku akan menerimanya dan mari kita lalui ini semua bersama-sama ya." mohonnya mencoba meyakinkan wanita itu.
Marni pun terseyum tipis menatapnya, setelah kedua orang tua pria itu setuju ia akan mengatakan yang sebenarnya apa pekerjaannya dan ia siap untuk kecewa jika Firman tidak bisa menerima keadaannya karena ia yakin pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus takkan melihat kekurangannya.
Akhirnya setelah bicara dari hati ke hati keduanya nampak lebih semangat menjalani hidup demi sebuah tujuan yaitu pernikahan, Firman mulai merasa tenang jika pada akhirnya mereka akan bersama dan Marni pun mulai meyakinkan dirinya jika ia juga layak untuk dicintai tak perduli apapun masa lalunya.
Kini Marni pun di turunkan oleh Firman tepat di depan rumahnya dan Astuti yang tak sengaja melihatnya dari jendela rumahnya langsung berlalu keluar untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah.
"Wah mbak Marni diantar mas Firman?" ucap Marwan yang kebetulan sedang berada di halaman rumahnya bersama motor kesayangannya, kemudian pria itu pun bergegas mendekati mereka.
"Mas Firman." ucapnya menyapa pria itu, bisa untung beliung kalau kakak iparnya adalah pria terkaya di kampungnya pikirnya.
"Lagi apa Marwan?" ucap Firman setelah pemuda itu salim padanya.
"Cek motor mas," sahut Marwan seraya menunjuk ke arah motornya.
Firman tersenyum tipis. "Ku lihat kamu sudah jarang ke mushola Marwan, jika ada waktu ikut kumpul bersama para pemuda disini ya hitung-hitung cari pahala." ujarnya memberikan nasihat.
Marwan hanya tersenyum canggung, sial pagi-pagi sudah diceramahi persis sama seperti kakak perempuannya itu jika tidak kaya mungkin sudah ia ajak duel satu lawan satu.
"I-iya mas," sahutnya pada akhirnya.
"Baiklah mas pergi dulu, aku pulang ya Marni sampai ketemu nanti." tukas Firman sembari menatap wanita pujaan hatinya itu lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
Setelah pria itu pergi Marni pun langsung dicecar oleh sang adik. "Jadi ini alasan mbak Marni menolak semua pria yang ku kenalkan karena sudah memilih mas Firman?" ucapnya ingin tahu, seluruh kampung akan heboh jika mereka tahu kakaknya pacaran dengan orang paling kaya di kampungnya dan sebagai adiknya tentu saja ia akan kecipratan keuntungannya juga paling tidak dalam pergaulannya ia takkan dipandang sebelah mata lagi.
"Apaan sih dek jangan membuat gosip deh, kami hanya berteman biasa dan barusan mbak membantunya membagi paket sembako di kelurahan tidak ada yang lain." Marni pun langsung menggetok kepala adiknya tersebut, bisa gawat jika dalam proses pendekatan mereka di ikut campuri adiknya yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain itu.
Kemudian Marni pun segera berlalu masuk ke dalam rumahnya namun tiba-tiba Astuti kembali mencibirnya. "Marni-Marni sudah ku duga kamu memang punya bakat pelakor sudah tahu Firman ada yang punya masih saja kamu goda, eling Marni eling kalian itu berbeda dari segi mana pun jadi orang ya mbok sadar diri, jangan mimpi terlalu tinggi kalau hanya cuma seekor katak." ucap wanita itu mengingatkan meskipun terdengar seperti merendahkan wanita itu.
Marni hanya tersenyum menatapnya. "Sudah mbak bicaranya? tolong jangan ikut campur urusanku sedangkan mbak sendiri mungkin juga akan menghadapi masalah besar jadi lebih baik introspeksi diri dan banyak istighfar mbak dan perihal aku maupun mas Firman kami itu berteman tidak seperti yang mbak pikirkan karena tanpa mbak ingatkan aku juga cukup sadar diri." tukasnya lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya tak perduli wanita itu masih ingin membalas ucapannya, sebenarnya Marni sangat malas menanggapi wanita itu namun sesekali ia juga harus menjaga kehormatan keluarganya lagipula pada kenyataannya ia dan Firman memang tak memiliki hubungan apapun, mereka memutuskan untuk tidak pacaran dalam proses pendekatan dan jika memang cocok akan langsung menikah saja.
Bukankah pacaran setelah menikah itu jauh lebih baik karena terjaga dari dosa?
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu