Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Marcus baru saja hendak berdiri untuk melarikan diri, namun suara itu menahannya.
"Mau kemana kau?" tanya Darius, suaranya sedingin es yang membeku di puncak gunung.
"A-aku... tentu saja mau kembali ke kamarku," jawab Marcus dengan nada agak gemetar.
"Duduk." Satu kata dari Darius, tapi kekuatannya membuat kaki Marcus terasa lemas dan ia langsung terduduk kembali secara otomatis.
Marcus menelan ludah dengan susah payah. Ada apa ini? Apa dia murka karena aku membatalkan pertunangan tadi? batinnya cemas. Ia melirik ketiga saudaranya yang hanya berdecih dan melempar senyum sinis ke arahnya.
Darius menatap mereka satu per satu. "Kalian tahu bahwa Akademi Asterlyn sedang menerima murid baru. Kuotanya hanya satu orang dari setiap keluarga bangsawan."
Darius menjeda, tatapannya menyapu anak-anaknya. "Jadi, Adrian... Dante..." Matanya sempat melirik Leon sebentar, namun ia segera mengalihkan pandangan tanpa menyebutkan namanya, seolah Leon memang tidak pernah ada dalam daftar.
"Kalian bersiaplah untuk pertarungan keluarga. Siapa pun yang menang, dia yang akan masuk ke akademi tahun ini."
"Baik, Ayahanda!" jawab Adrian, dan Dante serempak dengan nada penuh ambisi.
"Cukup. Kalian bertiga keluarlah. Kecuali kau, Leon," perintah Darius dingin.
Ketiga saudaranya berdiri. Sebelum keluar, Dante sempat sengaja memegang bahu Marcus dengan keras sambil membisikkan tawa sinis, seolah mengejek nasib Leon yang tertinggal sendirian.
Kini, aula besar itu hanya menyisakan Leon dan Darius. Hawa di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin dan menekan, membuat Marcus merasa sulit untuk sekadar bernapas normal.
Darius berdiri dari kursinya, auranya yang mengintimidasi memenuhi ruangan. Marcus hanya bisa memaku di kursinya, tidak berani melakukan gerakan tambahan.
"Leon," panggil Darius tanpa menoleh. "Aku dengar tadi siang, kau baru saja menggerakkan tiga gerakan pedang lalu jatuh pingsan. Apa itu benar?"
Marcus memejamkan mata sesaat. Sial, si lemah ini benar-benar menambah masalah padaku! "Ya, benar. Maafkan aku," jawab Marcus pasrah.
"Aku tidak membutuhkan permintaan maaf darimu," sahut Darius datar.
Marcus tersentak. Ingatannya sebagai pembaca novel tiba-tiba berputar. Haha, sial! Aku melupakan scene ini!
Darius berbalik, menatap Marcus dengan tatapan yang sulit dibaca. "Mulai besok, pergilah ke Desa Oakhaven. Tinggallah di sana."
"Jadilah petani, atau apa pun yang kau inginkan di sana. Jangan pernah kembali ke mansion ini tanpa izin," lanjut Darius.
Marcus tertegun. Sama persis seperti di novel, batinnya. Ini adalah momen di mana Leon diusir secara halus dari keluarga karena dianggap tidak berguna.
Namun di novel aslinya, Leon akan memelas dan berhasil membatalkan pengusiran ini.
Namun kali ini… ceritanya jelas tidak berjalan ke arah yang sama.
"Baiklah, Ayahanda. Sesuai kemauanmu," jawab Marcus dengan nada tenang yang tidak terduga.
Darius sedikit mengerutkan kening. Ia tampak tak menyangka anak bungsunya yang biasanya akan mengamuk, menangis, atau memohon saat diusir, anak yang hanya tahu poya-poya, wanita, dan mabuk, menerima perintahnya dengan begitu tenang.
"Kalau begitu, saya permisi," ucap Marcus sambil berdiri dan membungkuk hormat.
Sambil melangkah keluar, Marcus bergumam dalam hati dengan lega, Daripada tetap berada bersama orang-orang mengerikan ini, lebih baik aku tinggal di desa saja. Jauh dari konflik, jauh dari maut.
Keesokan harinya, di dalam kereta kuda yang berguncang pelan melewati jalanan berbatu.
Marcus mengembuskan napas panjang sambil menatap keluar jendela. Mulai sekarang, ia harus menerima kenyataan pahit, identitas Marcus sudah mati, dan ia adalah Leon Von Anhart sepenuhnya.
"Ah, benar juga. Bagaimana cara memunculkan kotak biru itu?" gumamnya sambil menaruh tangan di dagu, berpikir keras.
"Ekhem. Halo?"
"Permisi?"
"Munculah!"
...[ STATUS KARAKTER ]...
...Nama : Leon von Anhart | Umur : 19 Tahun...
...Class : Swordsman Lv.1 | Rank : F...
...HP : 150 / 150 | MP : 0 / 0...
...Stamina : 45 / 45 [+] | Vitalitas : 12 [+]...
...Kekuatan : 8 [+] | Ketahanan : 10 [+]...
...Kelincahan : 7 [+] | Keberuntungan : 4...
...KONDISI KHUSUS : Gagal Jantung Kronis...
...Sisa Umur : 364 Hari...
...Atribut Khusus : [????] (Memerlukan kondisi tertentu)...
...Poin : -15...
"Buset, minus lima belas?!" Leon melotot. "Gede banget! Apa yang harus aku lakukan dengan poin segini?. Akh, aku frustrasi sekali!"
Namun, matanya menangkap sebuah titik merah yang berkedip di ikon pesan. Dengan ragu, ia menyentuh ikon itu. Begitu membacanya, Leon berteriak histeris.
"APA-APAAN INI?!"
Sret!
Masinis menarik tali kekang kuda dengan mendadak hingga kereta berhenti di tengah jalan. "Tuan Muda? Anda baik-baik saja?" tanyanya cemas dari luar.
Leon hanya melongo, menatap layar transparan itu dengan wajah pucat. Masinis itu kembali melihat ke depan dan menggelengkan kepalanya pelan.
Kasihan sekali, pasti dia sangat frustrasi karena diusir dari keluarga, pikirnya sambil menjalankan kembali kereta kudanya.
"Hiyaaa!"
...[ MISI KEJUTAN ]...
...Tujuan: Ikuti seleksi keluarga dan masuk ke Akademi Asterlyn....
...Hukuman: Hidup jika mengikuti, MATI jika tidak mengikuti....
...Reward : [+150]&[???]...
...[Durasi 4 hari 15 jam 43 mnt]...
"Brengsek! Misi kejutan pantatmu! Kenapa tidak muncul dari kemarin?!" umpat Leon habis-habisan.
Ia menoleh ke belakang, melihat bangunan mansion yang sudah jauh tertinggal. Kembali ke sana bukan pilihan mudah. Tapi jika ikut seleksi, memangnya dia bisa apa dengan tubuh penyakitan ini?
"ARGHHH! BAGAIMANA INI?!" teriaknya lagi.
Si masinis hanya bisa mengelus dada, merasa semakin iba. Ia yakin tuan mudanya sudah benar-benar kehilangan akal sehat karena depresi.
Kereta berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan batu. Jauh dari kemewahan Ibu Kota.
"Tuan Muda, semoga harimu selalu baik," ucap masinis itu sambil menurunkan barang-barang.
"Kurasa hariku takkan pernah baik," batin Leon getir.
Ia melangkah masuk melewati pintu kayu yang berderit. Di dalam ruangan, terlihat seorang gadis yang umurnya sedikit di bawah Leon.
Gadis itu tampak cantik dengan rambut yang diikat sederhana, sedang sibuk menyapu lantai.
Mendengar langkah kaki, gadis itu menoleh. "Tuan... Anhart?"
"Hm. Siapa kau?" tanya Leon datar.
Gadis itu tersentak, wajahnya pucat pasi. Ia refleks mendekat lalu menunduk dalam, tubuhnya sedikit gemetar. "Aku Eiryn, pelayan yang diutus Duke untuk merawat Anda."
Leon membuang napas kasar. "Tidak perlu. Sebaiknya kau pergi saja."
"Ah, maaf... itu tidak bisa, Tuan."
"Kau tahu kan siapa aku?"
"Aku... aku..." Eiryn tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Jika kau takut terjadi apa-apa padamu, pergilah," ucap Leon dingin. Ia berjalan melewati Eiryn menuju lantai dua. Namun, saat kakinya menginjak anak tangga pertama, ia menoleh sebentar.
Gadis itu masih berdiri mematung. Leon tahu Eiryn ketakutan setengah mati, namun berusaha keras untuk tetap menjalankan tugasnya.
Leon, apa yang sebenarnya telah kau perbuat sampai seorang gadis pun gemetaran berada di dekatmu? batinnya miris.
Ia naik ke kamar, menutup pintu, dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang yang terasa keras.
"Hah... persetanlah. Aku jalani saja sisa 4 hari ini. Toh dari awal seharusnya aku sudah mati," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar yang kusam.
Sore hari di Desa Oakhaven terasa sunyi. Eiryn berdiri di depan pintu kamar Leon dengan tangan yang ragu untuk mengetuk.
"Bagaimana ini... apakah Tuan sedang tidur? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Eiryn cemas. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Ayo, Eiryn! Kau harus berani, kau harus jadi pelayan yang berkompeten!"
Namun, tepat saat jemarinya hendak menyentuh kayu pintu, pintu itu mendadak terbuka lebar.
"KYAAA!" Eiryn sontak berteriak, kaget bukan main. Ia langsung berjongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Character Visual:
...Eiryn...
...Duke Darius von anhart...
...