Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Tepat pukul 15.00, bel pulang berdering. Aku sengaja menunggu kelas benar-benar kosong agar tidak ada yang curiga, terutama Tasya yang radarnya sangat tajam soal urusan asmaraku—yang sebenarnya bukan asmara juga.
Aku berjalan mengendap-endap menuju gerbang belakang, area yang biasanya sepi karena hanya digunakan oleh staf kebersihan. Di sana, motor hitam besar Arkan sudah terparkir. Pengendaranya menyandar di tembok sambil memainkan kunci motor dengan jari panjangnya. Begitu melihatku, ia langsung menegakkan badan dan menyodorkan helm.
"Nggak ada yang ngikutin, kan?" godanya sambil membantu memasangkan helm ke kepalaku—kebiasaan baru yang mulai membuatku tidak enak hati sekaligus nyaman.
"Gue bukan buronan, Arkan," sahutku ketus, menutupi rasa gugup.
"Buat gue, lo itu buronan paling dicari di sekolah ini, Ra," balasnya santai sambil menyalakan mesin motor.
Motor melaju meninggalkan area sekolah. Arkan tidak membawaku ke mal atau kafe estetik yang biasa dikunjungi anak SMA Garuda. Ia justru memacu motornya ke arah pinggiran kota, melewati deretan ruko tua hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan satu lantai dengan cat dinding yang sudah mengelupas di sana-sini. Tidak ada papan nama, hanya ada coretan grafiti artistik di pintunya.
"Ini tempatnya?" tanyaku ragu setelah turun dari motor.
"Selamat datang di markas rahasia gue," Arkan membuka pintu besi yang berderit.
Begitu masuk, aku terpaku. Ruangan itu luas dan beraroma campuran cat minyak, kayu, dan besi. Di satu sudut, terdapat tumpukan kanvas besar yang ditutupi kain putih. Di sudut lain, ada motor tua yang sedang dibongkar mesinnya. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah sebuah meja besar yang penuh dengan sketsa bangunan yang sangat detail.
"Gue kira lo cuma jago masukin bola ke ring," gumamku sambil mendekati meja sketsa itu.
Arkan melepas jaketnya, menyisakan kaus putih yang kini sedikit terkena noda cat. "Bokap mau gue jadi tentara, Nyokap mau gue jadi dokter. Tapi di sini... gue cuma Arkan yang pengen jadi arsitek."
Ia menarik salah satu kain penutup kanvas, memperlihatkan sebuah lukisan abstrak dengan warna-warna gelap yang beradu dengan garis kuning terang yang tegas. "Ini cara gue bayar 'pajak' gue sendiri, Ra. Kalau di luar gue harus selalu kelihatan sempurna dan ceria, di sini gue boleh berantakan."
Aku menatap lukisan itu, lalu beralih menatap Arkan. Tiba-tiba saja, jarak di antara kami terasa berbeda. Arkan baru saja meruntuhkan dinding besarnya sendiri di depanku—orang yang justru paling ahli membangun dinding.
"Kenapa lo kasih tahu gue?" tanyaku lirih.
Arkan berjalan mendekat, jaraknya kini hanya satu langkah dariku. "Karena lo bilang bahagia itu jebakan. Gue mau lo lihat, kalau hancur pun nggak apa-apa, asal lo punya tempat buat ngerapiin puing-puingnya lagi. Dan tempat ini... sekarang jadi milik lo juga kalau lo butuh tempat lari."
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak oleh perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Arkan tidak sedang merayuku; dia sedang berbagi luka yang sama denganku.
"Arkan..."
"Jangan nangis," potongnya cepat sambil tertawa kecil, meski matanya terlihat serius. "Nanti Kak Pandu beneran nyabut jabatan kapten gue kalau tahu lo berkaca-kaca di sini."
Aku tertawa—tawa kecil yang tulus tanpa paksaan. Arkan benar. Di sini, di antara debu dan aroma cat, aku merasa beban di pundakku sedikit lebih ringan.
Sore itu, di bawah cahaya matahari yang menembus ventilasi bangunan tua, aku menyadari bahwa Arkan Pradipta bukan lagi sekadar anomali. Dia adalah orang pertama yang berani masuk ke dalam retakan hatiku dan menawarkan diri untuk menjadi semen yang menyatukannya kembali.
Aku berjalan perlahan mengelilingi ruangan itu, menyentuh pinggiran meja kayu yang penuh dengan serutan pensil. Ada kedamaian yang aneh di sini. Jauh dari hingar-bingar kantin atau sorak-sorai lapangan basket yang biasanya menjadi latar belakang sosok Arkan.
"Berapa lama lo punya tempat ini?" tanyaku, berhenti di depan sebuah maket bangunan kecil yang terbuat dari stik es krim dan karton tebal.
"Hampir setahun," Arkan menarik sebuah kursi kayu tua dan mempersilakan aku duduk. "Dulu ini gudang punya paman gue. Beliau satu-satunya orang di keluarga yang tahu kalau gue lebih suka megang penggaris siku daripada pegang senjata atau stetoskop."
Ia mengambil sebuah buku sketsa dari laci meja dan menyodorkannya padaku. Saat aku membukanya, mataku membelalak. Isinya bukan hanya gambar bangunan, tapi sketsa wajah-wajah orang di pasar, siluet pohon di taman kota, dan... di halaman terakhir yang masih basah oleh guratan pensil, ada sebuah sketsa seorang gadis yang sedang menatap tumpukan buku Kimia dengan dahi berkerut.
Itu aku.
"Arkan, ini..." suaraku tertahan di tenggorokan.
Arkan berdeham, mendadak terlihat salah tingkah. Ia buru-buru mengambil kembali buku itu. "Yah, lo itu objek yang menarik buat digambar, Ra. Garis muka lo itu... apa ya? Keras, tapi rapuh di saat yang sama. Arsitek suka struktur yang kayak gitu."
Aku menunduk, menyembunyikan senyum yang sialnya tidak bisa kutahan. "Gombalan lo makin teknis ya, pakai bawa-bawa struktur segala."
Arkan tertawa, kali ini suaranya memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding bata ekspos. Ia kemudian berjalan ke arah pojok ruangan, menyalakan sebuah pemutar kaset tua. Alunan musik jazz instrumental yang lembut mulai mengalun, mengisi celah-celah kosong di antara kami.
"Nara," panggilnya, kini suaranya kembali rendah. "Lo nggak perlu takut kalau suatu saat gue berubah jadi kayak orang-orang di masa lalu lo. Gue nggak minta lo buat langsung percaya. Gue cuma minta... jangan tutup pintunya dulu. Biarin gue ngetuk sesekali, bawa susu cokelat atau sekadar sketsa bangunan yang mungkin suatu hari nanti bakal gue bangun buat kita."
Kalimat terakhirnya membuat napas seolah berhenti sedetik. Buat kita.
Aku berdiri, berjalan mendekatinya, lalu tanpa sadar tanganku terulur menyentuh noda cat di kaus putihnya. "Kaus lo kotor, Arkan. Lo selalu ceroboh soal hal-hal kecil."
"Karena gue terlalu fokus sama hal-hal besar," ia menangkap jemariku yang masih menyentuh kausnya. Genggamannya hangat dan kokoh. "Kayak lo. Lo itu hal besar yang lagi gue perjuangkan sekarang."
Aku menarik tanganku pelan, bukan karena tidak suka, tapi karena jantungku sudah berdetak terlalu keras hingga rasanya menyakitkan. "Udah jam lima kurang lima belas. Gue harus pulang sebelum Kak Pandu berubah jadi detektif."
Arkan mengangguk, ia mengambil jaketnya dan kembali mengenakannya. "Ayo. Tapi janji satu hal, Ra."
"Apa?"
"Besok, pas di sekolah, jangan balik jadi 'Gadis Es' lagi ya? Minimal, kasih gue satu senyum pas kita papasan di koridor. Itu udah cukup buat bikin gue menang lawan tim mana pun di lapangan."
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya berjalan mendahuluinya menuju pintu besi, tapi tepat saat aku melewatinya, aku menyenggol lengannya pelan. Sebuah isyarat yang, bagi orang seperti aku, setara dengan sebuah pernyataan bahwa aku tidak keberatan jika dia terus mengetuk pintu hatiku.
Di atas motor, dalam perjalanan pulang, aku tidak lagi memegang ujung jaketnya. Aku melingkarkan tanganku sedikit lebih erat di pinggangnya, menyandarkan daguku di bahunya saat angin sore menerpa wajah kami. Arkan tidak bicara, tapi aku bisa merasakan ia menarik napas panjang, seolah sedang merekam momen ini baik-baik dalam ingatannya.