NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Kerajaan Pasir

“Kau benar-benar anak yang tidak tahu berterima kasih, Isaac,” desis Tuan Waren. Suaranya kini serak dan rendah, kehilangan wibawa yang selama ini ia banggakan. “Semua yang kulakukan adalah untuk masa depanmu. Untuk nama besar Waren!”

“Nama besar yang dibangun di atas darah dan air mata orang lain tidak layak dipertahankan, Ayah,” jawab Isaac dengan nada dingin dan final. “Sekarang ambil penamu. Tanda tangani surat pengunduran diri itu, atau aku sendiri yang akan mengantar polisi ke ruangan ini.”

Tuan Waren menatap surat di atas meja dengan tangan gemetar. Di bawah tatapan tajam para direksi yang mulai berbisik-bisik, ia akhirnya menyadari bahwa kekuasaannya benar-benar runtuh. Dengan satu goresan pena yang kasar, ia menandatangani surat itu—menyerahkan takhta yang selama ini ia pertahankan dengan segala cara kotornya.

“Kalian akan menyesal,” gumamnya pelan sebelum berdiri dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Pundaknya yang dulu tegap kini tampak bungkuk, memanggul kekalahan yang mutlak.

Setelah pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruang rapat. Luna merasa seluruh energinya terkuras habis. Tubuhnya hampir goyah jika Isaac tidak segera menangkap pinggangnya.

“Luna… kau luar biasa,” bisik Isaac, membenamkan wajahnya di rambut Luna. “Tapi dari mana kau mendapatkan bukti soal dana ke Clara? Hendra tidak pernah memberitahuku.”

Luna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu. “Aku menggertaknya, Isaac. Aku tidak punya bukti transfer itu secara fisik. Aku hanya tahu dari Hendra ada aliran dana mencurigakan ke rekening luar negeri, lalu aku menghubungkannya dengan Clara. Ayahmu terlalu panik, jadi dia mengira aku benar-benar memegang buktinya.”

Isaac tertegun, lalu tertawa pelan tak percaya. “Kau mempertaruhkan nyawaku dan namaku hanya dengan sebuah gertakan?”

“Aku bertaruh karena aku tahu ayahmu pengecut di balik topeng kekuasaannya,” balas Luna, menatap Isaac dalam. “Tapi masalahmu belum selesai. Kau tetap harus menghadapi pihak berwenang soal dokumen di London. Kita harus membersihkan namamu sebelum kau mengambil alih perusahaan.”

“Aku tahu,” jawab Isaac, rahangnya mengeras oleh tekad. “Aku akan menyerahkan diri sebagai saksi kunci. Apa pun risikonya, aku ingin kita memulai hidup yang benar-benar bersih. Tanpa bayang-bayang Ayah. Tanpa rahasia.”

Namun momen haru itu terpotong oleh getaran ponsel Luna. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Kau pikir memenjarakan ayah dan anak itu sudah cukup? Perang yang sebenarnya baru saja dimulai, Luna. Kau baru saja menghancurkan kesepakatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kau bayangkan.

Bulu kuduk Luna meremang. Ia menyadari Tuan Waren mungkin hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar.

Isaac yang melihat perubahan wajahnya segera mengambil ponsel itu. Matanya menyipit membaca ancaman tersebut. “Siapa ini?”

“Aku tidak tahu,” bisik Luna. “Tapi nadanya… seolah dia tahu bahwa masalah Waren Group bukan hanya soal pencucian uang. Ada sesuatu yang lebih sistematis.”

Isaac langsung menghubungi Hendra. “Lacak nomor ini sekarang. Dan pastikan pengamanan apartemen Luna diperketat. Kita tidak tahu siapa lagi yang bersembunyi di balik bayang-bayang Ayah.”

Belum sempat mereka meninggalkan gedung kantor, sebuah mobil hitam mewah—bukan milik keluarga Waren—berhenti tepat di depan lobi. Seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu rapi turun dari sana. Ia adalah Tuan Aris, salah satu menteri sekaligus rekan lama mendiang kakek Luna.

“Luna, Isaac,” panggilnya dengan nada formal namun sarat kecemasan. “Aku dengar apa yang terjadi di dalam tadi. Kalian benar-benar nekat.”

“Kami hanya melakukan apa yang benar, Tuan Aris,” jawab Luna dengan dagu terangkat.

Tuan Aris menghela napas dan memberi isyarat agar mereka menjauh dari kerumunan staf. “Apa yang kalian anggap benar telah mengganggu stabilitas banyak pihak. Tuan Waren bukan hanya mencuci uang pribadinya. Dia menampung dana dari konsorsium besar untuk proyek infrastruktur nasional yang seharusnya dirahasiakan.”

Isaac tersentak. “Maksud Anda… Ayah bekerja untuk orang-orang di pemerintahan?”

“Lebih dari itu,” jawab Tuan Aris pelan, menatap Luna penuh arti. “Ayahmu dulu, Luna—sebelum meninggal—adalah orang pertama yang menolak masuk ke konsorsium ini. Itulah sebabnya Tuan Waren sangat terobsesi dengan perjodohan kalian. Dia membutuhkan koneksi keluargamu untuk melegitimasi dana-dana gelap itu agar terlihat sebagai investasi keluarga yang sah.”

Dunia Luna kembali terasa berguncang. Benang merah antara kematian ayahnya, tekanan bertahun-tahun, dan pernikahannya kini terlihat semakin jelas—dan semakin mengerikan.

“Jadi pesan ini…” Luna menunjukkan layar ponselnya.

Tuan Aris mengangguk pelan. “Itu dari pihak konsorsium. Dengan menjatuhkan Tuan Waren secara terbuka, kalian telah membekukan aliran dana mereka. Mereka tidak akan tinggal diam. Isaac, jika kau ingin melindungi istrimu, kau tidak bisa hanya menjadi CEO. Kau harus masuk ke dalam lingkaran itu—dan menutupnya dari dalam.”

Isaac menggenggam tangan Luna erat, seolah menyampaikan janji tanpa kata. “Aku tidak peduli seberapa besar konsorsium itu. Jika mereka berani menyentuh Luna atau mencemari kenangan ayahnya, aku akan memastikan mereka ikut hancur bersama rahasia mereka.”

Di kejauhan, dari balik kaca gelap mobil lain yang terparkir, seseorang mengangkat kamera dan memotret keberadaan mereka.

Perang melawan Tuan Waren telah berakhir. Namun perang untuk mengungkap kebenaran di balik kematian ayah Luna—dan jaringan kekuasaan yang tersembunyi di baliknya—baru saja dimulai.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!