Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang Terlalu Nyata
"Lauren... kau tidak bisa lari dari rumahmu sendiri..."
Bisikan itu mendarat tepat di tengkuk Lauren, mengirimkan gelombang dingin yang seolah membekukan darahnya. Lauren mencengkeram gagang pintu kamar yang mengunci rapat, memutar dan menariknya sekuat tenaga, namun kayu itu tetap bergeming seperti bagian dari tembok beton. Pintu lemari di belakangnya masih berayun pelan, mengeluarkan aroma tanah basah dan kain lapuk yang menyesakkan.
Cahaya bulan yang masuk lewat celah gorden mendadak meredup, seolah tertelan oleh kabut hitam yang merayap dari sudut ruangan. Lauren memejamkan mata erat-erat. Ia tidak ingin melihat wajah pemilik suara itu. Ia tidak ingin melihat kuku hitam yang baru saja menyentuhnya.
"Pergi! Aku benci kalian! Pergi!" teriaknya parau.
Dalam sekejap, sensasi tarikan yang kuat menghantam ulu hatinya. Lantai di bawah kakinya seolah lenyap. Lauren merasa dirinya jatuh ke dalam lubang tanpa dasar, berputar di antara pusaran angin dingin yang melolong. Suara gedoran pintu dari ayahnya menjauh, memudar, hingga akhirnya digantikan oleh suara gemeretak kayu yang terbakar.
Saat Lauren membuka mata, ia tidak lagi berada di kamarnya.
Udara di sekelilingnya terasa panas dan menyesakkan. Asap hitam tebal membumbung tinggi, menutupi langit yang berwarna merah jingga. Lauren berdiri di tengah sebuah lorong rumah tua yang megah namun sedang dilalap api. Wallpaper bermotif bunga yang indah kini menghitam dan mengelupas.
"Tolong! Siapa pun, tolong!" sebuah teriakan melengking terdengar dari balik pintu besar di ujung lorong.
Lauren mengenali suara itu. Itu adalah wanita bergaun putih kusam yang sering ia lihat di taman. Namun di sini, wanita itu tampak muda dan cantik, dengan gaun sutra yang bersih, meski wajahnya dipenuhi ketakutan yang murni.
"Jangan ke sana!" Lauren mencoba berteriak, namun suaranya tertelan oleh suara dentuman atap yang runtuh.
Tiba-tiba, sesosok bayangan hitam tinggi—sosok yang sama yang selalu mengawasinya di taman—muncul dari balik kobaran api. Sosok itu tidak terbakar. Ia melangkah tenang melewati lidah api yang menjilat-jilat, menuju ke arah wanita itu. Tangannya yang panjang terjulur, bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk mencengkeram leher sang wanita.
"Lepaskan dia!" Lauren berlari, mencoba menghentikan sosok itu.
Namun, sebelum Lauren sampai, sosok bayangan itu menoleh. Wajahnya tetap tidak terlihat, hanya ada kegelapan pekat di balik tudungnya. Ia mengulurkan tangan yang lain ke arah Lauren. Seketika, tubuh Lauren terangkat ke udara. Lehernya terasa seperti dilingkari rantai besi yang membara.
Lauren meronta. Ia memukul-mukul tangan tak kasatmata yang mencekiknya. Rasa sakitnya begitu nyata. Panas api yang menjilat kulitnya terasa pedih, dan sesak napas yang dialaminya bukan lagi sekadar mimpi. Ia bisa merasakan kuku tajam sosok itu merobek kulit di pergelangan tangannya saat ia mencoba melepaskan diri.
"Kau adalah kunci, Lauren," bisik sosok itu di dalam kepalanya.
"Kunci yang akan membuka gerbang kami."
"Tidak... tidak mau..." Lauren terengah-engah. Kesadarannya mulai menipis.
Tepat sebelum semuanya menjadi hitam, Lauren melihat wanita itu terbakar habis, menjadi debu di hadapannya. Bayangan hitam itu mendekatkan wajahnya ke arah Lauren, dan untuk sesaat, Lauren melihat sepasang mata merah besar yang berkilat penuh kemenangan.
Brak!
Lauren tersentak bangun. Ia tersungkur di lantai kamarnya sendiri dengan napas yang memburu. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Lampu kamar sudah menyala terang, dan wajah Bram serta Maria yang pucat pasi berada tepat di depannya.
"Lauren! Ya Tuhan, Lauren!" Maria langsung merengkuh putrinya, menangis histeris.
Bram berdiri di samping pintu yang kini sudah hancur di bagian engselnya. Ia masih memegang palu besar di tangannya, napasnya terengah karena baru saja mendobrak pintu itu secara paksa.
"Dia pingsan di depan pintu, Bram. Dia tidak bernapas selama beberapa detik!" isak Maria.
Lauren masih mencoba mengatur napasnya. Kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa seolah jiwanya baru saja ditarik kembali ke dalam tubuh dengan kasar. Saat ia mencoba bangkit, ia merasakan perih yang tajam di pergelangan tangan dan lehernya.
"Sakit, Ma..." bisik Lauren lemah.
Maria melepaskan pelukannya sebentar untuk memeriksa kondisi Lauren. Saat lampu kamar yang terang menyinari tubuh putrinya, Maria menjerit tertahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak ngeri.
"Bram... lihat ini," bisik Maria dengan suara bergetar.
Bram mendekat, meletakkan palunya. Ia berlutut di samping Lauren. Logika rasional yang selama ini ia agung-agungkan runtuh seketika. Di pergelangan tangan Lauren yang putih, terdapat bekas memar merah keunguan yang membentuk pola jari-jari tangan besar yang kuat. Bukan tangan anak kecil, melainkan tangan dewasa yang kasar.
Lebih mengerikan lagi, di leher Lauren terdapat gurat merah panjang seperti bekas cekikan, dan ada luka goresan kecil yang masih mengeluarkan darah segar.
"Bagaimana mungkin?" suara Bram tercekat di tenggorokan.
"Pintu ini terkunci dari dalam. Tidak ada orang lain di kamar ini."
"Dia menyerangku di sana, Pa," suara Lauren terdengar datar, namun penuh dengan kepedihan.
"Wanita itu... dia mati terbakar. Dia teriak minta tolong, tapi bayangan itu mencekikku."
"Lauren, kamu cuma mimpi buruk, Nak. Kamu jatuh dan..." Bram mencoba mencari penjelasan logis, namun matanya terus terpaku pada bekas memar yang sangat jelas itu. Memar itu tidak mungkin muncul akibat jatuh. Itu adalah bekas serangan fisik yang nyata.
"Ini bukan mimpi, Bram!" teriak Maria marah.
"Lihat lukanya! Darahnya nyata! Anak kita bertarung di dalam tidurnya dan sesuatu di sana benar-benar menyakitinya!"
Lauren mulai menggigil hebat. Ia memeluk dirinya sendiri, menolak untuk melihat ke arah lemari atau sudut-sudut kamar yang kini tampak mengancam meski lampu menyala terang. Baginya, kegelapan bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya. Kegelapan adalah pintu. Kegelapan adalah rumah bagi mereka yang ingin mengambil alih hidupnya.
"Aku takut, Ma," isak Lauren.
"Dia bilang aku kunci. Dia mau aku membuka gerbang."
Maria menggendong Lauren, membawanya keluar dari kamar itu. Mereka menuju ke ruang tengah yang lebih luas dan terang. Bram mengikuti dari belakang, wajahnya tampak sangat tua dan lelah dalam sekejap. Ia mulai menyadari bahwa musuh yang dihadapi putrinya bukanlah imajinasi, melainkan sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan palu atau logika.
Lauren duduk di sofa, dibalut selimut tebal. Maria membersihkan luka di tangan Lauren dengan kapas dan alkohol. Setiap kali kapas itu menyentuh kulitnya, Lauren terjingkat, teringat kembali pada cengkeraman panas di dalam mimpinya tadi.
"Kita harus pindah, Bram. Kita tidak bisa tinggal di sini lagi," bisik Maria tanpa menoleh.
"Pindah ke mana pun tidak akan mengubah apa yang ada di dalam dirinya, Maria," jawab Bram pelan. Ia duduk di kursi seberang Lauren, menatap putrinya dengan pandangan yang kini penuh dengan rasa bersalah.
"Apa yang dikatakan Mbah Minto itu benar. Ini adalah takdirnya."
Lauren menatap kedua orang tuanya bergantian. Ia merasa lelah. Sangat lelah. Bahkan saat matanya terbuka, ia masih bisa merasakan aura dingin yang mengintai di balik bayangan furnitur rumah mereka. Baginya, istirahat adalah kemewahan yang kini terasa mustahil. Jika di dunia mimpi saja ia tidak aman, lantas di mana ia bisa bersembunyi?
"Pa, Ma," panggil Lauren pelan.
"Iya, Sayang?" Maria mengelus pipi Lauren.
Lauren menatap lampu gantung di ruang tengah yang bersinar terang. Matanya yang besar memancarkan ketakutan yang begitu mendalam, ketakutan yang akan mengubah seluruh kebiasaan hidupnya mulai detik ini.
"Lauren tidak mau tidur di kamar itu lagi," katanya dengan suara bergetar.
"Iya, Nak. Kamu tidur sama Mama dan Papa malam ini," sahut Maria menenangkan.
Lauren menggeleng pelan. Ia mencengkeram ujung selimutnya erat-erat, air mata kembali menetes melewati luka cekikan di lehernya.
"Bukan cuma malam ini. Lauren tidak mau tidur dalam gelap lagi. Tolong, jangan pernah matikan lampunya. Lauren mohon... biarkan lampunya menyala selamanya."
Keheningan yang mencekam jatuh di ruangan itu. Bram dan Maria saling pandang, menyadari bahwa trauma ini telah meresap jauh ke dalam jiwa putri mereka. Di luar sana, angin malam berhembus kencang, menabrak kaca jendela dengan suara yang terdengar seperti tawa parau yang tertahan. Lauren meringkuk lebih dalam, matanya terus terpaku pada cahaya lampu, seolah-olah itu adalah satu-satunya benteng terakhir yang melindunginya dari cengkeraman mata merah yang menunggunya di balik setiap bayangan.